SIAPAKAH Vicenzo Peruggia Pamungkas? Apakah nama tersebut mengingatkan kalian pada sesuatu? Mengapa kira-kira nama itu menjadi judul tulisan ini?

Hmmm sabar, sabar mari kita lupakan sejenak nama di atas. Saya akan memulai tulisan ini dengan menceritakan sebuah kisah menarik yang terjadi di Paris, kira-kira 109 tahun yang lalu. Pada saatnya nanti kita akan kembali pada sosok Vicenzo Peruggia Pamungkas, dan mengapa nama tersebut saya jadikan judul tulisan ini.

Baik kita mulai saja;

Senin pagi itu, 21 Agustus 1911, tiga pria berperawakan sedang dengan muka yang nampak lusuh keluar dari salah satu museum paling terkenal di Paris, museum Louvre namanya. Tiga orang tersebut berjalan sambil menenteng sebuah benda yang ditutup selimut berwarna gelap. Seandainya ada yang menyaksikannya, niscaya orang itu bakal curiga. Gerak-gerik mereka tak biasa, cukup mencurigakan.

"Minggu malam adalah saatnya pesta pora bagi warga Paris. Budaya tersebut membuat banyak warga Paris akan mengalami hungover di senin pagi“, demikian kata sejarawan James Zug seperti dikutip dari situs NPR.

Tiga orang pria tersebut berjalan biasa, menandakan jika mereka tidak sedang mabuk semalam. Mereka menghabiskan malam di ruang penyimpanan barang di museum Louvre, sebelum mencopot salah satu lukisan di dinding saat musem sudah tutup di malam hari. Mereka berjalan terburu-buru menuju Stasiun Quai d'Orsay, dan segera meninggalkan Paris.

Lukisan yang mereka bawa adalah Mona Lisa, maha karya misterius dari Leonardo di ser Piero da Vinci, atau lebih kita kenal dengan nama Leonardo da Vinci, maestro aliran Klasikisme Renaisance asal Italia.

Lenyapnya Mona Lisa sendiri baru disadari 28 jam kemudian, saat seorang seniman yang sedang melukis di galery museum merasakan sebuah kejanggalan. Ia tidak melihat penampakan Mona Lisa di tempat biasa lukisan itu berada. Ia pun bertanya kepada petugas tentang keberadaan lukisan Mona Lisa. Dari sana petugas pun baru sadar, jika ternyata Mona Lisa telah raib dari Museum Louvre.

"Sebanyak 60 detektif diterjunkan untuk mencari Mona Lisa yang hilang, publik Perancis marah besar," tulis New York Times seperti dilansir CNN.

Sebelum insiden pencurian tersebut, lukisan yang dibuat Leonardo da Vinci pada tahun 1507 tersebut tidaklah terlalu dikenal luas di luar dunia seni. Pamor Mona Lisa masih kalah dengan Self-portrait karya Van Goch, The Scream karya Edvard Munch, atau lukisan-lukisan karya Leonardo da Vinci yang lain seperti Last Supper, atau Head of a Woman.

Selang dua tahun kemudian, tepatnya pada Desember 1913, seorang penjual barang-barang seni asal Italia bernama Alfredo Geri, mendapatkan surat dari seseorang yang menyebut dirinya Leonardo. Dalam surat itu, Leonardo meyampaikan jika Mona Lisa berada di Florence, dan akan dikembalikan ke pihak museum jika ditebus dengan jumlah yang pas (baca: besar)

Pihak museum dan kepolisian pun mengatur strategi untuk menjebak Leonardo, mereka menyepakati besaran angka tebusan yang diminta. Akhirnya Leonardo pun ditangkap beserta dengan lukisan Mona Lisa yang dianggap sebagai mahakarya lukisan era Renaisance tersebut.

Pria yang mengaku sebagai "Leonardo" itu adalah salah satu dari tiga pria yang keluar dari Museum Louvre, pada Senin pagi 21 Agustus 1911. Pria asal Italia yang pernah bekerja di museum Louvre tersebut bernama Vincenzo Perugia.

Lha terus apa hubungannya dengan saya, kok tiba-tiba ada Pamungkas di belakang nama Vicenzo Peruggia?

Begini, begini saya belum selesai bercerita. Masih ada satu kisah lagi yang ingin saya ceritakan. Langsung saja kita lanjutkan.

Pada suatu siang di tahun yang lalu (baca: 2019). Saya menemani Dewi untuk membeli sesuatu di sebuah mall di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Katakanlah namanya Lippo Mall Kemang Village. Tujuan kami ketika itu adalah membeli sebuah karpet untuk salah satu kamar di rumah kami. Dan karena alasan keterbatasan waktu maka kami pun berbagi tugas. Dewi turun di lobby mall untuk langsung ke toko karpet, sedang saya memarkir mobil terlebih dahulu di basement.

Siang itu kondisi mall terbilang cukup ramai, butuh waktu yang lumayan lama untuk sekadar mendapatkan parkir. Sesaat setelah saya memarkir mobil sebuah telefon masuk dari Dewi, “Cin karpet sudah aku pilih ya, barangnya ada di kasir, bilang saja yang atas nama Dewi. Aku ke super market mahu beli ayam sama daging”, ujar Dewi di ujung telefon. “Ok”, jawab saya singkat.

Maka saya pun bergegas menuju toko perlengkapan rumah di mall tersebut, katakanlah namanya Informa. Dengan tenang seperti biasa, saya pun langsung menuju kasir seperti apa yang diinstruksikan. Terdapat dua orang yang tengah mengantri, maka saya pun mengambil posisi berdiri tepat di belakang orang kedua di antrian. Semuanya berjalan normal, alunan musik terdengar perlahan menemani segala aktivitas di tempat ini, tidak ada yang janggal.

Orang pertama selesai dilayani, tak lama berselang orang kedua pun selesai dilayani, dan kemudian tibalah giliran saya. “Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu”, ujar petugas yang melihat saya datang tidak membawa apa-apa. “Saya mahu mengambil karpet atas nama Ibu Dewi, keliatannya yang itu”, jawab saya sambil menunjuk ke sebuah karpet yang tersandar persis di belakang petugas tersebut.

“Atas nama Ibu Dewi ya, sebentar ya Pak”, jawab petugas tadi sambil memeriksa tulisan di karpet tersebut. Saya hanya mengangguk sambil tersenyum. “Oh benar ini Pak, ini barangnya”, ujar petugas tersebut diikuti dengan menyodorkan karpet tersebut kepada saya. Saya pun segera menerima karpet tersebut, setelah menerima karpet saya pun mengucapkan terima kasih sambil tersenyum, dan segera meninggalkan kasir untuk kembali ke mobil.

Dalam perjalanan keluar dari toko tersebut, sambil memanggul karpet saya sempat melihat-lihat beberapa koleksi konsul yang menurut saya cukup menarik. Beberapa petugas yang berpapasan dengan saya pun menyapa dengan ramah sambil tersenyum, rasanya itu memang sudah menjadi prosedur mereka saat bertemu tamu. Saya pun membalas dengan senyuman. Semua masih berjalan normal, beberapa petugas nampak menjelaskan kelebihan beberapa berang yang dijual kepada para pengunjung, tidak ada yang aneh.

Sesampainya di mobil, saya pun segera meletakkan karpet di bagasi. Tak lama berselang saya menelefon Dewi yang masih berada di super market, “Cin aku sudah di mobil ya, kalau sudah selesai kabarin saja, ntar aku jemput di pintu hypermart”. “Ok Cin ini sudah selesai kok, lagi bayar, jemput sekarang saja”, jawab Dewi. “Orait”, ujar saya singkat.

Dewi pun memasuki mobil. Semua masih berjalan normal, tiga mobil nampak berurutan menunggu giliran men-scan tiket keluar, tidak ada yang ganjil. Saat kami sampai pada mesin pembayaran parkir, di sini lah permasalahan di mulai.

Sesaat setelah palang terbuka dan mobil melewati palang, Dewi bertanya kepada saya “Cin tadi bayarnya pake apa kes apa atm?”. “Lho ini karpet belom kamu bayar?” jawab saya kaget. “Lah gimana sih Cin. Maksudnya aku tadi itu aku sudah pilih karpetnya, kamu tinggal bayar di kasir”, jawab Dewi tak kalah kaget.

Waduh, lagian petugas kasirnya kok pada diam saja waktu aku ngambil karpetnya. Harusnya kan mereka ngasih tahu ya kalau barangnya belum dibayar”, ujar saya merasa aneh. “Wah ngawur kamu Cin. Turunin aku di depan lobby lagi deh, aku bayar dulu”, Dewi pun ngedumel. “Ngga ada seorang petugas pun yang negur lho Cin, semua malah pada senyum-senyum pas aku jalan dari kasir keluar sambil manggul karpet”, saya masih coba membela diri.

Dewi pun kembali turun di lobby dan bergegas menuju toko perlengkapan rumah Informa, untuk melakukan pembayaran. Sambil menunggu saya memilih mencari parkiran di sebuah area kosong di ujung mall. Saya masih terheran-heran, jika belum dibayar mengapa para petugas tadi memperbolehkan saya membawa karpet tersebut ya? Kan seharusnya di antara mereka atau minimal kasirnya lah yang memberi tahu saya jika karpet tersebut belum dibayar. Dalam hal ini saya masih merasa tidak bersalah.

Kira-kira 10 menit berselang Dewi meminta saya menjemputnya kembali di Lobby mall. Begitu Dewi masuk mobil rasa penasaran saya yang mengepul membuat saya kemudian bertanya, “Gimana jadinya? apa kata mereka?”. “Ya ngga kenapa-napa, mereka juga bingung kamu main ambil saja, terus pamit pergi”, jawab Dewi. “Lah lebih bingung lagi aku dong, masak barang belum dibayar dibawa pergi mereka diam saja", timpal saya.

“Parah kamu Cin, gimana coba kalau mereka pada bilang masak Bambang Pamungkas bawa kabur karpet dari Informa”, kata Dewi kemudian. “Lah di sini yang salah siapa? Tugas mereka kan menjual dan melindungi barang dagangannya, masak barang dagangannya dibawa tanpa dibayar mereka diam saja?”, jawab saya masih merasa tidak bersalah.

"Mereka kaget kali ya, lihat yang ambil barang orang yang sering mereka lihat di TV, semacam starstruck gitu Cin?", lanjut saya samblil tersenyum. "Lah emang kamu siapa Cin? Pemain cadangan aja sombong", jawab Dewi sambil nyengir. Dan saya pun tertawa.

Dalam skala yang tentu jauh berbeda, cerita karpet Informa tersebut membuat saya seakan-akan menjadi seorang pencuri yang cerdik dan berpengalaman. Berhasil membawa barang curian di siang bolong tanpa ada satu pun orang yang menyadari (baca: berani menegur), persis seperti aksi Vicenzo Peruggia berserta dua temannya pada Senin pagi, 21 Agustus 1911, saat membawa Mona Lisa dari Museum Louvre, Paris.

"Hehehe Vicenzo Peruggia Pamungkas", ujar saya lirih sambil tersenyum.

Tetap Semangat dan Sukses Selalu.

Selesai....