KIRA-KIRA semingguan sebelum gelaran Piala Dunia Qatar 2022, sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Pesan dari salah seorang (tidak perlu saya sebut namanya) yang berkerja di salah satu divisi dalam organisasi federasi sepak bola tertinggi di dunia (FIFA). Ya katakanlah bagian humas lah, biar gampang.

Pesan tersebut berisi sebuah undangan, iya sesederhana itu sebenarnya. Menjadi tak sederhana, ketika undangan tersebut terkait dengan sebuah hajatan yang teramat sangat besar. Terlebih lagi status saya dalam undangan tersebut yang seketika akan membuat siapa pun yang membacanya tersenyum kecut dan mengernyitkan dahi, itu pun masih akan diikuti dengan geleng-geleng kepala.

Pesan tersebut kurang lebih begini:

“Bambang, dalam rangka memeriahkan sekaligus apresiasi kepada para legenda sepak bola dunia, FIFA akan menyelenggarakan pertandingan eksebisi bertajuk “FIFA Legends Cup”. Akan dilaksanakan di Khalifa International Tennis and Squash Complex, Doha, pada tanggal 15 dan 16 Desember 2022 menjelang Final Piala Dunia. Apakah kamu bersedia untuk hadir dan berpartisipasi?”.

Kira-kira bagaimana perasaan kalian, seandainya mendapatkan undangan seperti itu? Meriang ndak?

Jujur, ini memang bukan komunikasi pertama saya dengan FIFA (si humas tadi). Sudah beberapa kali kami berkomunikasi terkait dengan beberapa aktivitas kampanye global yang dilakukan oleh FIFA. Seperti misalnya kampanye tentang isu rasisme, stop kekerasan dalam sepak bola, football unites the world, dan juga football for school.

Bahkan jika ditarik sedikit lebih jauh ke belakang, pada masa-masa kisruh dualisme sepak bola Indonesia, saya juga pernah ditunjuk oleh FIFA (mewakili pemain) sebagai salah satu anggota tim adhoc FIFA, dalam mencari formula penyelesaian konflik sepak bola yang terjadi di Indonesia. Artinya, kaget seharusnya bukan lah menjadi salah satu opsi dalam menanggapi pesan tersebut.

Namun, jika kita memperhatikan substansi dari apa yang disampaikan, rasanya reaksi saya tersebut tidak lah menjadi sesuatu yang berebihan. Bahkan masih harus ditambahi lagi dengan gerakan menampar pipi sendiri (bukti bahwa saya tidak sedang bermimpi). Bayangkan saja, saya ini siapa, kok tiba-tiba diundang oleh FIFA untuk berpartisipasi dalam sebuah turnamen eksebisi bertajuk “FIFA Legends Cup”, bersama dengan sekitar 80an legenda sepak bola dari berbagai belahan di dunia.

Itu saja tidak cukup, kami juga diundang untuk menyaksikan secara langsung 2 laga semifinal dan laga final Piala Dunia Qatar 2022. Lha dallah, ada gila-gilanya kali?

Saking tidak percayanya, saya pun meminta pendapat Dewi, “Cin, ini kira-kira maksudnya apa ya? Apa jangan-jangan ini salah kirim?”. Dewi yang kemudian turut membaca pesan tersebut pun, tidak kalah bingung. Namun kemudian ia berpendapat, “Keliatannya ngga salah deh, soalnya dia nyebut nama. Coba aja dibales”. “Oh iya juga ya, kalo salah kirim masak dia nyebut nama”, gumam saya.

Saya pun memutuskan untuk menjawab pesan tersebut, dan singkat cerita terjadilah obrolah yang lumayan panjang namun tidak lebar. Inti dari jawaban saya, sudah barang tentu bersedia untuk hadir dan berpartisipasi. Siapa juga yang ndak mau, ya kan?. Namun saya juga meminta waktu barang sehari-dua untuk melakukan konfirmasi. Karena saya sudah terlanjur menyepakati kerja sama dengan stasiun TV Indosiar, untuk menjadi komentator di Piala Dunia Qatar 2022 ini.

Long story short, saya sangat bersyukur ketika kemudian pihak Indosiar berkenan untuk menukar jadwal siaran, dan mengijinkan saya terbang ke Qatar guna menghadiri undangan FIFA tersebut. “Cocok”, sorak saya dalam hati.

 

Dunia Yang Berbeda

Saya pun segera melakukan konfirmasi kepada orang yang menghubungi saya kemarin. Pertanyaan saya kepada si Humas tersebut adalah, “Apa yang harus saya persiapkan?”. Dan jawaban yang saya terima sangat lah singkat dan padat, walau pun bagi saya tidak terlalu jelas. “Kamu hanya cukup membawa sepatu bola saja, sisanya kami yang urus”. Kemudian dia meminta foto paspor dan alamat email saya dan Dewi. "Selanjutnya komunikasi secara otomatis, akan dilakukan by system melalui email", tutup si Humas.

Nah lho, by system, maksudnya gimana coba? Namun, karena tidak ingin memberi kesan ribet dan ndesit (kampungan), ya hanya kalimat “Ok” yang mampu saya ketik. Walaupun, saya sama sekali ndak paham dengan maksud dari kalimat by system yang disampaikan.

Benar saja, keesokkan hari sebuah email masuk dari Guest Management FIFA. Dalam surat elektronik tersebut, terlampir sebuah tautan untuk mendownload sebuah aplikasi. Di mana saya dan Dewi diminta untuk memasukkan data-data yang diperlukan seperti foto diri, data vaksin, riwayat kesehatan, riwayat bepergian dalam setahun terakhir, dan pilihan jadwal penerbangan yang diinginkan.

Kami juga diminta untuk mengisi (men-centang) kira-kira pertandingan mana saja dari 3 pertandingan (semifinal 1, semifinal 2, dan final) yang kami tertarik untuk nonton langsung di stadion (yang sudah pasti kami centang semuanya). Setelah selesai, semua data pun kami submit.

Seminggu pun berlalu, sejak saya mengirim data-data yang diperlukan. Mulai lah muncul pertanyaan dalam hati, “Kira-kira ini kelanjutannya gimana ya?”. Ingin rasanya menanyakan kelanjutan proses yang sudah kami lakukan kepada si Humas. Apakah ada yang salah? Apakah ada yang kurang? Kok ndak ada konfirmasi apa pun? Tapi rasa sungkan yang lebih besar, mengubur rasa penasaran dan keingintahuan saya.

Dua minggu terlewat, dan masih tidak ada update apa pun. Entah berapa puluh kali saya me-refresh aplikasi email di ponsel saya, hanya untuk memastikan jika tidak ada email yang tersangkut di folder spam atau belum terbuka. Kalo saja aplikasi tersebut bisa berteriak, mungkin ia sudah meminta pertolongan. Rasa penasaran atau lebih tepatnya kekhawatiran saya pun memuncak, dan akhirnya saya memberanikan diri untuk menanyakan bagaimana kelanjutan proses yang sudah kami kirimkan.

Jawaban si Humas kurang lebih begini, “Bambang, jangan khawatir, kami tengah mengurus semuanya. Nanti akan ada pemberitahuan melalui email”. "Email lagi-email lagi", gerutu saya dalam hati. Kembali, saya hanya bisa menjawab "Ok". Jawaban yang jujur tidak memuaskan keingintahuan saya, malah membuat saya semakin bimbang atau lebih tepatnya pesimis.

Hari-hari berikutnya masih tidak ada perkembangan apa pun. Perlahan-lahan saya pun mulai menyiapkan diri, berjaga-jaga seandainya rencana untuk bermain bola, sekaligus nonton final Piala Dunia Qatar 2022 ini tidak akan terlaksana. Mengapa? Ya karena sampai dengan 10 hari menjelang jadwal keberangkatan, belum satu konfirmasipun yang saya terima. Baik tiket pesawat, tiket pertandingan, akomodasi, maupun visa Qatar (Hayya Card).

Apalagi banyak tersebar kabar di luar, jika beberapa orang terpaksa batal terbang ke Qatar, karena sampai di hari dan jam keberangkatan Hayya Card mereka belum juga keluar atau diapprove. Pihak maskapai tidak berani mengijinkan mereka yang tidak memiliki visa untuk terbang. Padahal mereka sudah memiliki tiket pesawat, akomodasi, dan juga tiket pertandingan. Lha terus apa kabar kami?

“Yasudah lah, lagian mimpi apa saya bisa main bola sama legenda-legenda dunia itu”, lirih saya pasrah.

Saya pun memutuskan untuk tidak lagi bertanya kepada si Humas. Ada 2 alasan yang mendasari. Pertama, saya yakin mereka semua (para pegawai FIFA) tengah sibuk luar biasa dalam mengurus gelaran Piala Dunia Qatar ini. Kedua, saya ndak mau dianggap susah dikasih tau (kok ndak paham-paham) terkait dengan komunikasi by system seperti yang sudah disampaikan. Sekali lagi saya pasrah dan sadar diri.

Namun, kurang lebih 7 hari menjelang hari keberangkatan, akhirnya mandarat dengan selamat lah sebuah email dari Guest Management FIFA yang saya tunggu-tunggu. Surat elektronik yang berisi konfirmasi, jika semua dokumen dan akomodasi yang diperlukan untuk perjalanan ke Qatar sudah selesai, dan siap digunakan. Semua yang saya maksud di sini, ya literally semuanya.

Dari mulai tiket pesawat, visa yang sudah di-approved (sudah otomatis terkoneksi dengan aplikasi Ticketing FIFA, Hayya, dan FIFA Plus), konfirmasi hotel tempat kami akan menginap (Fairmont Hotel, Doha), nama dan nomer telefon PIC (person in charge dari Qatar Airways) yang akan menjemput dan memandu saat mendarat di bandara Internasional Hamad Doha, dan bahkan nama sopir dan merek mobil (lengkap dengan plat nomernya) yang akan mengantar dari bandara menuju ke hotel pun sudah terkonfirmasi. Gila, se-detail itu.

Hell yeah, now we talkin’.

Saya baru sadar, bahwa saya tengah berurusan dengan dunia yang berbeda. Yang saya maksud dunia yang berbeda adalah level manajemen organisasi yang benar-benar jauh berbeda. Saya mengalami culture shock. Di mana di tempat saya berasal, dalam banyak hal, saya masih harus terbiasa dengan ketidakpastian. Sehingga berperan aktif untuk selalu mencari tau atau melakukan cross-check menjadi hal yang sangat penting. Kemudian, tiba-tiba saya harus mencerna maksud dari sebuah kalimat sakti “Komunikasi otomatis by system”. Bagi mereka ini tentu menjadi sesuatu yang normal, tapi bagi saya ya jelas tidak.

Dan kegembiraan pun belum selesai sampai di situ. Keesokan harinya, masuk sebuah undangan grup WhatsApp dengan nama “FIFA Legends Cup 2022”, di mana grup tersebut berisi seluruh mantan pemain yang akan berpartisipasi dalam turnamen eksebisi nanti. Di grup ini lah segala pengumuman, jadwal, dan kegiatan harian selama kami berada di Qatar akan di-update. Seketika notifikasi WhatsApp pun ramai, satu per satu anggota mengucapkan salam dan menyapa anggota lain, yang mungkin atau sudah barang tentu sohib-sohib mereka juga.

Bagi kalian generasi penikmat bola tahun 90an (seperti saya), ini jelas menjadi sebuah hal yang sangat menyenangkan. Membaca chat saling bersahutan dengan nada riang penuh bercanda antar mantan-mantan pemain seperti Roberto Carlos, Peter Schmeichel, Rene Higuita, Jorge Campos, Luis Hernandez, Clarence Seedorf, Marcos Cafu, Alexi Lalas, Christian Karembeu, Pedrag Mijatovic, Javier Zaneti, Nuno Gomes, Hristo Stoichkov, Youri DjorKaeff, Claude Makelele, Alessandro del Piero, Dmetrio Albertini, Iker Casillas, Zvonimir Boban, Ivan Zamorano dan masih banyak lagi jelas membuat saya girang bukan kepalang. Walau pun tidak semua percakapan dapat saya pahami, karena beberapa dilakukan dalam bahasa Prancis dan juga Spanyol.

Ingatan saya pun terbang jauh menerawang ke masa-masa SMP atau SMA. Saat saya rutin menyaksikan orang-orang tersebut tampil di layar kaca, di setiap hari sabtu atau minggu malam. Dalam acara siaran langsung liga sepak bola dunia yang biasanya dipandu oleh Bung Oland Fatah, Bung Rayana Djaka Surya, Bung Kusnaeni, Bung Gita Suwondo, Bung Tris Irawan, dan juga Bung Ricky Jo (alm).

Dan sebagai salah satu anggota di grup tersebut, sudah barang tentu saya pun tidak mau ketinggalan untuk turut menyampaikan salam, atau setidaknya menyapa. Butuh waktu sekitar 5 menit bagi saya, untuk menyusun dengan penuh kehati-hatian sebuah frasa dalam bahasa Inggris. Sebelum akhirnya saya hapus kembali, karena merasa tidak cukup percaya diri untuk menekan tombol panah (kirim) pada ponsel saya. Tapi tidak mungkin juga kan saya diam saja, ndak sopan namanya, ya walau pun sebenarnya siapa juga yang peduli.

Dan setelah melewati beberapa kali proses susun hapus-susun hapus, akhirnya saya pun berhasil mem-posting sesuatu ke dalam grup tersebut. Dan kalimat yang saya kirim adalah kata “Thank you” yang diikuti dengan nama si Humas yang juga merupakan admin grup, dan kemudian diakhiri dengan emotikon tangan, tanda salam atau terima kasih. Ternyata hanya sebatas itu saja nyali saya hehehe.

Bersambung….

 

NB: Itulah mengapa, berdasarkan pengalaman tersebut di atas, ketika saya mendapatkan kabar untuk ambil bagian dalam drawing pembagian grup Piala Dunia U20 bersama dengan Juan Pablo Sorin (Argentina), saya tidak melakukan konfirmasi apa pun. Toh sudah pasti semuanya akan secara otomatis diurus by system. Walau pun, pada akhirnya konfirmasi yang saya terima adalah pembatalan, karena Indonesia juga dipastikan batal menjadi tuan rumah Piala Dunia U20 2023.