Jakarta, 22 Desember 2019.

Hallo Chil, bagaimana kabarmu? Sudah cukup lama rasanya aku tak menulis surat untukmu. Semoga kowe dalam keadaan sehat, dan tak kurang suatu apa. Sore ini saat menulis surat ini, aku sedang menikmati secangkir teh panas tanpa gula di teras belakang. Jarang-jarang kan bisa ngeteh di rumah sore-sore begini. Oh iya, teman teh ku kali ini rondo royal (tape goreng) Chil, salah satu cemilan kesukaanmu.

Chil, melalui surat ini aku ingin mengabarkan sesuatu, yang kalau dibilang penting ya sebenarnya ndak begitu penting. Tapi kalau dibilang ndak penting, ya boleh dikatakan lumayan penting. Tapi intinya begini Chil, terlepas dari penting atau ndak pentingnya masalah ini, rasanya kowe berhak tahu. Dan atas dasar hubungan baik (walau sering ndak harmonis), rasanya harus aku sendiri yang memberi tahu kowe secara langsung.

Hmmm begini Chil, tak terasa perjalanan panjangku sebagai pesepak bola, sudah sampai di garis penghujung. Kemarin (21 Desember 2019) adalah hari terakhirku menjadi seorang pesepak bola profesional. Seperti diskusi kita beberapa bulan lalu, rasanya sekarang memang waktu yang tepat. Karena seperti yang aku pernah keluhkan juga, tubuhku sudah ndak lagi merespon dengan baik. Sakit di sana sini, membuat perlahan-lahan aku mulai limbung.

Cepat atau lambat waktunya memang pasti datang, dan rasanya saat ini baik kowe maupun aku sudah sangat bisa menerima dengan lapang dada, entah dengan mereka.

Tiga puluh satu tahun mengenal sepak bola, dua puluh tahun di antaranya menjadi profesional tentu bukan waktu yang sebentar. Banyak cerita yang sudah kita lalui bersama, baik suka maupun duka. Padahal rasanya baru kemarin kowe mendapat hadiah sepatu foxy seharga 17.500 dari Bapak. Ah waktu memang begitu cepat berlalu.

Chil masih ingatkah kowe, ketika menyaksikan final Piala Eropa 1988 di TVRI, sambil sesekali meringis menahan rasa ngilu dari luka menganga di kepala, akibat terjatuh dari pohon beringin saat berburu burung? Kesukaanmu terhadap sepak bola, mengalahkan rasa sakit akibat kesalahan bidan memasang alumunium pencepit luka, yang ternyata malah dipasang di tengah luka. Biyuh luka yang tak pernah sepenuhnya pulih, dan meninggalkan bekas pitak hingga kini. Rasanya sifat keras kepalaku ini berawal dari situ.

Masih ingatkan kowe, ketika tas latihan yang kau pakai sekolah dibongkar, dan dihambur-hamburkan isinya oleh teman-teman sekelasmu? Hingga sepatu bola, kaos kaki, celana dalam, skin guard, dan handukmu bertebaran di mana-mana? Bercandaan yang ndak lucu sama sekali. Namun tak ada sedikitpun luka di sana. Dengan tawa sesekali kowe pungut satu-satu perlengkapanmu, layaknya memungut keping demi keping harapan untuk masa depan yang lebih baik. Rasanya sifat masa bodohku ini sudah mulai ada sejak itu.

Masih ingatkah kowe, ketika kau bongkar celengan bambu di salah satu tiang penyangga kandang ayam Bapak? Tiga ribu lima ratus rupiah isinya. Dengan senyum lebar kau berkata, “Ah dua kali aku bisa berlatih ke Ungaran (SSB Ungaran Serasi) minggu ini. Minggu depan giliran jual kelapa untuk ongkos latihan. Minggu depannya lagi pasti ada jalan lain”. Pikiran positif yang selalu mendarahi setiap langkahku hingga kini.

Masih ingatkan kowe, ketika kowe bersimbah darah terlanggar sepeda motor di jalan raya, saat mengerjakan pekerjaan rumah dari Bapak lari 5 kilo meter setiap hari? Luka menganga di kepala dan pantat itu membuat dua minggu kowe terkapar tak berdaya di tempat tidur. Hmmm aku curiga kowe mengalami gegar otak ringan ketika itu. Bisa jadi prilaku usilku selama ini dikarenakan goncangan itu.

Masih ingatkah kowe, ketika untuk kedua kalinya kowe ditolak masuk seleksi Diklat Salatiga, karena tinggimu kurang satu setengah senti? Di pojokan mushola Diklat Salatiga kowe berkata, “Tidak diterima di Diklat tidak akan menggagalkan mimpiku untuk menjadi pemain nasional”. Enam bulan kemudian kowe malah diterima tanpa tes di Diklat, karena menjadi pemain terbaik Piala Haornas. Optimisme yang terbawa sampai sekarang.

Atau ingatkah kowe, ketika tulang tibia ankle kiri bagian dalammu patah? Enam bulan kowe harus menepi dari lapangan hijau. Ketika itu kowe menulis, “I’ll Be Back” di kruk penyanggamu. Saat semua orang khawatir, kowe malah yakin jika cedera itu akan membuatmu semakin kuat. Rasa percaya diri yang melekat sampai sekarang.

Berbekal talenta yang serba pas-pasan, rasanya memang hanya percaya diri lah yang membawa kita sampai di titik di mana kita berdiri saat ini.

Terlepas dari adanya kekurangan atau ke-tidak maksimal-an di sana-sini, rasanya kita layak bangga dengan apa yang sudah kita lalui Chil. Ini bukan tentang pencapaian, apalagi piala. Tapi lebih kepada selama menjalani karir sebagai pesepak bola (baik ketika aku masih menjadi kowe, atau kowe sudah menjadi aku), kita mampu menjaga esensi dan menempatkan profesi pesepak bola profesional dengan sebagaimana mestinya.

Kita menjadi orang yang merdeka, baik secara pribadi maupun pemikiran. Ini penting, karena memang begitulah Bapak mendidik kita.

Iya aku paham, memang tidak semua pertempuran dapat kita menangkan. Namun setidaknya kowe dan aku sama-sama tahu, jika semua itu memang layak untuk diperjuangkan. Lagi pula kita sudah melakukan yang terbaik yang kita mampu, untuk coba memenangkannya. Berani berjuang dengan apapun hasil dari perjuangan adalah dua hal yang berbeda, jadi jangan kowe debatkan lagi masalah itu.

Chil, seperti yang pernah aku katakan kepadamu suatu ketika dulu. Jika memainkan sepak bola itu jauh lebih menyenangkan ketika aku masih menjadi kowe. Ndak ada beban, semua lepas, yang ada hanya kegembiraan. Semakin banyak aku tahu, ternyata membuat sepak bola menjadi semakin rumit dan sulit. Ndak hanya di dalam lapangan, lebih-lebih di luar lapangan.

Ya ya ya aku mengerti, aku memang memang keras kepala. Iya aku tahu, aku juga ndak jarang egois, iya aku akui itu. Kowe boleh berkata jika dalam banyak hal aku terlalu keras kepala, atau egois. Namun jangan pernah beranggapan, jika peristiwa tahun 2004 dan 2012 termasuk di dalamnya. No, no, no Chil. Kita sama-sama sepakat sejak awal, jika dua peritiwa itu dengan segala konsekuensinya adalah sebuah prinsip, bukan keras kepala apalagi sekadar ego.

Chil, melalui surat ini aku ingin berterima kasih, sekaligus meminta maaf ke kowe. Terima kasih karena telah memberi kekuatan pada setiap urat nadi perjuanganku, walaupun pada akhirnya tidak semua mimpi-mimpimu dapat aku wujudkan. Dan untuk itu aku meminta maaf.

Mulai sekarang kita akan memulai sebuah lembaran baru. Babak baru yang aku yakin ndak akan kalah menantang dari apa yang sudah kita lalui selama ini. Seperti yang sudah-sudah, aku ndak dapat menjamin jika semua akan berjalan baik-baik saja. Aku juga ndak dapat menjanjikan, jika matahari akan terus bersinar di sepanjang perjalanan. Hujan, dan badai sesekali pasti hadir.

Hanya satu yang dapat aku pastikan Chil, apapun yang terjadi di sepanjang perjalanan nanti, kita akan lalui bersama-sama, dan kali ini rasanya kita akan lebih sering berdiskusi, melibatkan Dewi dan juga anak-anak tentunya.

Satu permintaanku Chil. Tetaplah bersamaku, tetaplah menjadi bagian dari pertempuran-pertempuranku, dan tetaplah menjadi buih dalam setiap debur ombak semangatku.

Aku memang tak menangis saat mengucapkan selamat tinggal di Stadion Gelora Bung Karno. Aku juga tersenyum saat para kolega menahan tangis, saat memberi ucapan perpisahan di ruang ganti. Bahkan saat mereka bersama-sama menyanyikan lagu "Kemesraan" di partai terakhir pun, aku masih tertawa.

Namun akhirnya aku merasakan kesedihan yang luar biasa, saat harus membereskan dan membawa pulang sepatu-sepatu bolaku yang ada di ruang sepatu mes Halim. Tanpa ada orang tahu, aku tersandar ke tembok, mataku berkaca-kaca.

Melalui surat ini, aku juga ingin mengajak kowe untuk mengucap syukur dan berterima kasih kepada mereka yang telah berjasa dalam karir kita.

Pertama-tama, tentu puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas anugerah yang tak terhingga di antaranya dapat memainkan, dan mencintai olah raga ini (sepak bola).

Terima kasih kepada bapak dan ibu, H. Misranto dan Hj. Suriptinah untuk bimbingan dan kasih sayangnya yang tak pernah putus. Juga Papa Bambang Roedjito dan Mami Herli untuk doa, dan restunya.

Terima kasih untuk Dewi istriku tercinta, yang dengan penuh keihklasan merelakan separuh raga suaminya menjadi milik masyarakat. Namun yakinlah Cin, jika hati dan jiwa ini hanyalah milikmu. Menjadi Bambang Pamungkas itu ndak mudah, terlebih lagi menjadi istri Bambang Pamungkas. Terima kasih untuk kesabaran yang luar biasa.

Terima kasih untuk anak-anakku Salsa, Abell, dan Syaura yang dalam banyak kesempatan kehilangan sosok ayah, karena kesibukan saya dalam berkarir sebagai pesepak bola. Popularitas memang tidak selamanya baik bagi keluarga, maaf karena sering mendapatkan imbas negatif dari karir Pipi di lapangan.

Terima kasih untuk keluarga besar Salatiga Mas Agus, Mas Seno, Mas Agus Tri, Mba Eny, Mba Nanik, Erna, dan semua keponakan untuk doa, dan dukungannya.

Terima kasih untuk keluarga Purwa. Papa Babang, Mama Iya, Dimas, Reny, Iin, Rama, Uti, Jawir, Donny, Diday, Embo, Akbar, Nces dan lain-lainnya untuk support, dan ujian mentalnya.

Terima kasih untuk para pelaku sepak bola Indonesia (pengurus, pelatih, menejer, pemain, wasit, perangkat pertandingan, dan rekan-rekan media) dari generasi 90an, 2000an, dan 2010an yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, untuk kerja samanya yang luar biasa baik secara langsung, maupun tidak langsung.

Dan tak lupa, terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pecinta dan masyarakat sepak bola Indonesia. Yang telah mendukung, mengkritik, memberi saran, serta menjadi saksi dalam perlanan karir saya sebagai pesepak bola. Saya sadar, jika saya tidak mampu memberi banyak bagi sepak bola Indonesia. Namun saya berharap, dari yang sedikit tersebut dapat memberikan kesan yang baik di hati kalian semua.

Melihat begitu banyaknya pesan dan kesan yang masuk baik melalui instagram, twitter, whatsApp, maupun email membuat saya begitu tersanjung, dan merasa bahwa dua puluh tahun waktu saya tidak lah terbuang sia-sia.

Bambang Pamungkas hanyalah kisah kecil dari sebuah cerita panjang sepak bola Indonesia. Kisah saya sebagai pesepak bola profesional mungkin telah usai, namun cerita tentang sepak bola Indonesia akan terus berlanjut, dan akan terus menghasilkan kisah-kisah lain yang menarik, dan inspiratif.

Jangan pernah lelah untuk terus merajut harapan, bagi sepak bola Indonesia yang lebih baik, dan lebih bermartabat.

Akhir sekali, saya sadar jika cepat atau lambat saya akan merindukan kalian semua. Namun satu hal yang saya juga yakini, jika kalian semua akan lebih merindukan saya.

Tetap Semangat dan Sukses Selalu....

Salam hangat,

- Bambang Pamungkas -