“Tidak ada satu pun pemain Persija (saat ini maupun di masa lalu) yang lebih besar dari klub”.


Halo apa kabar semua?

Ok, kita langsung melanjutkan pembahasan yang kemarin aja ya.

Sampai di mana kita kemarin? Oh iya, sampai dengan dilepasnya 4 pemain (Heri Susanto, Sandi Sute, Marc Klok, dan Alfath Faathier) setelah menjuarai Piala Menpora 2021.

Baik, jadi begini.

Sedikit menyegarkan ingatan kita, jika setelah berakhirnya Piala Menpora 2021, kelanjutan kompetisi sepak bola di Indonesia kembali menjadi tanda tanya besar. Lonjakan kasus positif covid-19 paska libur lebaran membuat kompetisi yang seyogyanya digelar pada bulan Juni atau Juli pun kembali mengalami kendala perijinan. Walau pun secara lisan baik PSSI, PT LIB maupun pihak kepolisian menjamin jika kompetisi musim 2021 akan digelar, namun tanggal pasti bergulirnya Liga 1 masih belum dapat dipastikan. Semua sangat bergantung pada kondisi penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Pengalaman musim lalu, ketika kompetisi tidak dapat digulirkan walau sudah ada jaminan secara lisan, sangat sulit untuk dikesampingkan. Sama halnya dengan saat itu, jaminan dari pihak-pihak terkait sudah ada bahkan regulasi liga juga sudah dibuat. Namun selama belum ada ijin tertulis dari Kepolisian dan Menko Marves yang juga merupakan Koordinator PPKM Jawa-Bali, maka semuanya masih dapat berubah sewaktu-waktu. Dan akhirnya memang terbukti, kompetisi harus mundur beberapa bulan dari jadwal yang sudah ditentukan:

Salah satu poin dalam regulasi yang dikeluarkan PSSI melalui PT LIB sebagai operator liga disebutkan, jika setiap klub yang berpartisipasi di Liga 1 2021 harus dinahkodai oleh pelatih dengan lisensi AFC Pro. Ini tentu menjadi perkembangan baru yang harus segera dicari solusinya. Karena pelatih kepala Persija Sudirman baru berlisensi A AFC saja. Artinya walaupun kita sangat percaya dengan kemampuan Sudirman sebagai pelatih kepala, toh aturan mengharuskan kita untuk mencari pelatih kepala baru. Pada titik ini Persija harus kembali memutar otak untuk menyiasati situasi dan kondisi. Dilema.

Begini, kepastian kompetisi yang masih kabur membuat kita harus berjaga-jaga dan sebisa mungkin mengurangi pengeluaran untuk menyeimbangkan neraca keuangan. Namun di sisi lain jika kompetisi akhirnya jadi digelar, maka kita harus memiliki seorang pelatih baru dengan lisensi AFC Pro. Mencari pelatih baru ini wajib hukumnya, karena tanpa pelatih yang lisensinya mencukupi, maka Persija tidak akan dapat berkompetisi. Mengingat stok pelatih lokal berlisensi Pro AFC hampir semua sudah menangani klub, dan sisanya belum sesuai dengan kriteria yang kita harapkan. Maka kemudian jatuhlah pilihan kepada pelatih asing.

Pada waktu yang bersamaan datanglah tawaran dari klub lain untuk 5 pemain Persija. Dalam posisi ini kemudian kita pun mulai berhitung. Ada peluang untuk mengurangi beban klub dengan melepas pemain, untuk kemudian mengalokasikan anggarannya pada rekrutmen pelatih baru. Memang tetap tidak akan cukup, namun setidaknya akan meringankan.

Maka kebijakan baru pun dijalankan. Persija memutuskan untuk berburu pelatih asing berkualitas untuk menangani tim, di lain pihak untuk mengurangi beban pengeluaran jikalau skenario terburuk terjadi dan kompetisi gagal digelar, maka kita pun memutuskan melepas 3 dari 5 pemain yang diinginkan klub tersebut. Mereka adalah Heri Susanto, Sandi Sute, dan Alfath Faathier. Sedang 2 pemain yang lain tidak kita lepas, karena seperti yang saya sampaikan di catatan sebelumnya, jika langkah melepas atau meminjamkan pemain ini dilakukan dengan sebisa mungkin tidak mengurangi kekuatan tim.

Salah satu pertimbangan dari mengapa kita melepaskan 3 pemain tersebut adalah, dari data yang kita miliki selama gelaran Piala Menpora 2021 baik Heri, Sandi, dan Alfath tidak memiliki menit bermain yang signifikan. Sedang 2 pemain yang lain adalah tulang punggung tim, oleh karena itu lah kita memutuskan untuk mempertahankan mereka.

Pertanyaannya, apakah ke-3 pemain tersebut tidak cukup berkualitas? Tentu saja tidak demikian. Justru karena mereka berkualitas maka ada tim yang tertarik untuk menggunakan jasanya.

Data (8 pertandingan) Persija di Piala Menpora 2021:

Sekadar menyegarkan ingatan kita, jika formasi inti Persija di Piala Menpora adalah: Andritani, Marco Motta, Otavio Dutra, Yann Motta, Rezaldi/Novri, Marc Klok, Rohit Chand/Tony, Ramdani/Braif, Osvaldo, Riko Simanjuntak, dan Simic.

Sedang untuk Sandi, Alfath, dan Heri. Sandi Sute tampil sebanyak 3 pertandingan, 1 diantaranya menjadi pemain inti, dengan total menit bermain selama 79 menit. Alfath Faathier tampil dalam 2 pertandingan, salah satunya menjadi pemain utama, dengan total menit bermain sebanyak 133 menit. Sedang Heri Susanto tampil sebanyak 6 pertandingan, 2 di antaranya menjadi pilihan utama, total menit bermain yang dikumpulkan adalah 159 menit.

Nah berikutnya bagaimana strategi Persija untuk menutup lubang yang ditinggalkan mereka?

Begini. Di posisi Heri Susanto (sayap), Persija masih memiliki Osvaldo Haay, Riko Simanjuntak, Novri setiawan, dan Alfrianto Nico. 4 pemain untuk 2 posisi tentu cukup, namun untuk menambah keseimbangan maka Persija memutuskan untuk manaikkan Dony Tri Pamungkas dari akademi Persija. Sehingga di posisi winger akan diisi 5 orang pemain.

Di posisi Sandi Sute (gelandang bertahan) Persija masih memiliki Marc Klok, Tony Sucipto, dan Rohit Chand. 3 pemain untuk 2 posisi gelandang bertahan tentu tidak ideal, oleh karena itu Persija memutuskan untuk mengembalikan Dwiki Arya dari Persela. Selain itu Persija juga menaikkan Resa Aditya, dan Radzky Syawal Ginting dari akademi Persija.

Sedang di posisi Alfath Faathier (bek sayap) di bek kanan Persija masih memiliki Ismed Sofyan, Marco Motta. Sedang di bek kiri bercokol Rezaldi Hehanusa, dan salman Alfarid. Di dua posisi tersebut terdapat juga Novri Setiawan atau Alfrianto Nico yang juga bisa bermain baik sebagai bek kanan maupun bek kiri. Dan untuk menopang 6 nama di atas maka Persija juga mempromosikan Ilham Rio Fahmi, dan Rangga Wildiansyah dari akademi.

Dengan penjabaran di atas maka komposisi Persija untuk menghadapi BRI Liga 1 2021 adalah sebagai berikut:

Penjaga Gawang: Andritany, Adixi, Benny, Cahya.

Pemain Belakang: Motta, Rio, Ismed, Dutra, Ferrari, Hadi, Yann, Maman, Uchida, Rezaldi, salman, Rangga.

Pemain Tengah: Rohit, Resa, ginting, Tony, Dwiki, Iman, Ramdani, Braif, Raka.

Pemain Depan: Riko, Nico, Simic, Taufik, Fajar, Osvaldo, Novri, Dony.

Partanyaan berikutnya, bagaimana dengan Marc Klok? Bukankah Klok selalu menjadi pilihan utama di Piala Menpora, dan perannya juga cukup penting. Kok dilepas? Nah ini menjadi menarik.

Harus diakui secara jujur, bahwa atas dasar apa pun tidak pernah ada sedikitpun rencana untuk melepas Marc Klok. Namun harus juga saya tegaskan, jika pada suatu titik tertentu kepentingan atau katakanlah martabat klub harus di atas segalanya.

Saya tidak akan menceritakan apa yang terjadi secara detail, karena seperti yang saya sampaikan di Manajer Menulis edisi l, jika “tidak semua rencana dan kebijakan klub, semua orang harus tau”. Apa yang bisa saya sampaikan di sini adalah, Persija sepakat untuk berpisah secara baik-baik dengan Marc Klok, dan perpisahan tersebut tidak meninggalkan permasalahan hukum apa pun. Kami saling menghormati dan mendoakan yang terbaik.

Jika kemudian yang bersangkutan menyampaikan komentar di luar dari kesepakatan di atas, maka itu menjadi tanggung jawab yang bersangkutan. Yang harus digarisbawahi adalah, “tidak ada satu pun pemain Persija (saat ini maupun di masa lalu) yang lebih besar dari klub”. Dan Persija tidak akan mempertaruhkan wibawa klub untuk kemudian menanggapi polemik tersebut. Titik.

Yang menarik adalah bagaimana Persija menyiasati kehilangan tersebut? Nah ini yang saya yakin teman-teman the Jakmania ingin tau, karena memang secara resmi Persija tidak pernah menyampaikan ke publik. Jawabannya adalah berburu pemain baru. Berburu pemain berkualitas saat hampir semua pemain di Indonesia sudah terikat kontrak dengan klub, menjadi hal yang “ngeri-ngeri sedap”.

Satu-satunya cara adalah melakukan pembelian, dan ini yang kemudian coba kita lakukan. Persoalannya membeli pemain ini tidak hanya tergantung dari pemain yang akan dibeli, namun juga apakah klub tempat pemain tersebut bernaung mau melepas atau tidak. Artinya pemainnya bisa saja sepakat, namun klubnya belum tentu mengijinkan. Dan kalau pun klub mengijinkan, maka mereka berhak melabeli pemain tersebut dengan angka yang mereka sukai. Dan ini seringkali dilakukan hanya untuk membuat klub peminat mengurungkan diri, dan itu sah untuk dilakukan.

Untuk menjadi informasi, pada periode tersebut Persija coba mendatangkan 8 pemain untuk menambah kekuatan tim. 4 dari 8 pemain tersebut berstatus sebagai pemain tim nasional (saat ini mengikuti pelatnas menuju Piala AFF), 2 pemain yang lain adalah mantan pemain nasional, dan 2 pemain sisanya berasal dari Liga 2. Persija berharap untuk dapat mendatangkan setidaknya 2 di antaranya. Namun pada akhirnya semua gagal terealisasi karena klub tempat 6 dari 8 pemain tersebut bernaung tidak melepaskan, sedang 2 di antaranya memutuskan untuk bermain di negara lain.

Ide Gila

Pilihan berikutnya adalah mendatangkan punggawa asing baru. Ini lebih memungkinkan, karena stok pemain asing di luar sana masih sangat melimpah. Persoalannya adalah slot pemain asing di Persija sudah penuh. Namun demikian toh Persija tetap melakukan pembicaraan dengan beberapa pemain asing, salah satunya gelandang asal Asia yang pernah bermain di 3 Piala Dunia. Dan bahkan dapat saya katakan jika Persija sudah 90% sepakat mengenai harga, hanya tinggal detail-detail printilan yang harus diselesaikan. Jika ini terealisasi, maka bisa hal tersebut akan menjadi berita besar di sepak bola Indonesia.

Namun sekali lagi, siapa dari 4 pemain asing kita yang harus dilepas? Kita berbicara dalam posisi setelah Piala Menpora ya, bukan saat ini. Jika saat saya menulis artikel ini, tentu situasi dan kondisinya sudah berbeda.

Jika kita menilik pada penampilan 4 pemain asing Persija di Piala Menpora, maka pemain yang katakanlah tidak atau belum tampil dalam performa terbaik adalah Marco Simic. Namun apakah menjadi hal yang bijaksana jika kemudian mengganti seorang striker dengan gelandang? Jika itu pilihannya maka masalah baru akan muncul, Persija hanya akan bertumpu kepada Taufik Hidayat, dan Fajar Firdaus di lini depan. Lagi pula kita tentu masih percaya jika Simic akan bangkit dan kembali mencetak gol demi gol bagi Persija.

Atau kita bisa saja mengganti Yann Motta. Resikonya adalah kita akan kekurangan stok pemain belakang. Apa lagi 2 dari 6 centre back kita sudah berusia di atas 35 tahun, sedang 2 yang lain masih berusia 18 tahun. Pilihan lain, kita bisa juga melepas Marco Motta. Namun dalam kondisi Ismed Sofyan masih cedera dan kita sudah terlanjur melepas Alfath Faathier, maka resikonya juga tidak kecil. Lagi pula Yann Motta dan Marco Motta boleh dikatakan tampil cukup baik di sepanjang Piala Menpora 2021.

Ide yang lebih gila adalah menukar Rohit Chand dengan galandang asia yang saya sebut di atas. Kebetulan statusnya sama-sama pemain dari asia. Namun tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapa pun, dan dengan segala kontribusi dan kesetiaan yang sudah diberikan Rohit Chand kepada Persija, maka hal tersebut terlintas dalam benak pun tidak.

Jadi pemain asing yang mana yang harus dikorbankan? Mungkin teman-teman bisa bantu berpendapat.

Apa yang ingin saya sampaikan adalah jika kemudian ada pendapat kalau Persija sama sekali tidak melakukan pergerakan untuk mendatangkan pemain, maka anggapan tersebut tidak lah tepat. Karena Persija sudah melakukan segala daya dan upaya untuk mendatangkan pemain, namun terkendala dengan hal-hal yang saya sebut di atas. Persija memang berusaha meyeimbangkan neraca keuangan klub, namun jika situasi mengharuskan kita untuk kembali melakukan pembelian pemain, maka hal tersebut pun akan kita lakukan.

Jika kemudian hal tersebut tidak disampaikan kepada khalayak ramai utamanya the Jakmania, maka itu menjadi bagian dari sebuah strategi. Maksudnya begini. Jangan sampai negosiasi membeli pemain ini menjadi semakin sulit, hanya karena rencana pembelian ini menjadi pembahasan publik. Kaitannya tentu kepada klub yang memiliki pemain tersebut. Karena bisa jadi akan ada tekanan dari pendukung mereka untuk tidak melepas pemain yang kita inginkan. Atau bisa jadi juga tekanan kepada pemain yang kita inginkan untuk tidak pindah.

Dan oleh karena itulah dengan segala dinamika yang terjadi, maka Persija mengarungi putaran pertama BRI Liga 1 2021 dengan materi yang saya sebut di atas. Namun demikian, kami juga sudah melakukan ancang-ancang untuk melakukan pembelanjaan pemain di putaran kedua. Tentu semua itu berkaca pada performa tim di putaran pertama, serta evaluasi dan kebutuhan Angelo sebagai pelatih kepala. Berkaitan dengan posisi mana saja yang diperlukan, dan apakah posisi lokal atau asing.

Baik, sampai di sini apakah sudah mulai menambah pemahaman? Semoga sedikit-demi sedikit sudah mulai ada gambaran ya.

Selanjutnya saya akan coba bahas mengenai apa penyebab penampilan kurang maksimal Persija di 2 seri awal BRI Liga 1, dan evaluasi apa yang akan dilakukan. Nah ini akan coba saya bahas di Manajer Menulis berikutnya.

Sampai jumpa.

Bersambung….