Salah satu keuntungan menjalani profesi sebagai pesepak bola profesional adalah memiliki kesempatan untuk mengunjungi berbagai daerah. Tidak hanya berbagai daerah di Indonesia, namun jika anda cukup beruntung, maka juga daerah-daerah di belahan dunia yang lain.

Kesempatan untuk berkeliling daerah inilah yang membuat saya kemudian terjebak untuk menyukai aktivitas perkulineran. Hal yang bagi dunia sepak bola profesional boleh dikatakan tabu. Sudah menjadi rahasia umum lah jika sebagai atlet profesional, saya termasuk yang “sembarangan” dalam hal makanan, sesuatu yang tak layak untuk ditiru sama sekali.

Nah pada tulisan kali ini, sayang ingin bercerita tentang salah satu kejadian terkait kebiasaan kulineran saya tersebut. Namun bukan tentang menu kuliner di daerah-daerah di nusantara, atau di belahan dunia yang lain. Ini tentang pengalaman sarapan di ketinggian 40 ribu kaki, yang hampir saja membuat saya memutuskan untuk menuntut ganti rugi pada sebuah maskapai penerbangan internasional.

Jika sudah berkaitan dengan masalah hukum, maka ini hal yang serius, iya ini masalah personal dan sangat serius. Maskapai yang berurusan dengan saya pun bukan maskapai sembarangan. Singapore Airlines, maskapai yang oleh Skytrax terpilih sebagai World's Best Airline Cabin Crew, Second World’s best Airlines, dan Fourth World’s Cleanest Airlines pada tahun 2019.

So sit back, relax, and let me tell you the story.

Once upon a time,

Aduh maaf jadi keterusan menggunakan bahasa Inggris. Sebentar ya, tes tes satu dua tiga, ok mari kita mulai.

Terjadi pada sekitar bulan Januari 2019, tanggalnya saya lupa. Ketika itu Persija tengah menjalani partai tandang di kompetisi AFC Cup, tujuan ke mana saya juga kurang begitu ingat. Satu yang pasti, kami harus terbang ke Singapura terlebih dahulu, sebelum berganti pesawat menuju daerah tujuan kami.

Ini penerbangan pagi hari, pesawat take off dari Soekarno-Hatta pada pukul 05:30 WIB. Lama penerbangan kurang lebih 1 jam dan 50 menit. Pesawat Singapore Airlines yang membawa kami menuju Changi pun lepas landas dengan apik.

Dalam penerbangan jarak pendek apa yang biasa saya lakukan adalah melelapkan diri. Namun pagi ini lain, saya tidak mengantuk sama sekali. Beberapa teman di sekitar bangku saya sudah mulai terlelap, beberapa bahkan sebelum pesawat lepas landas. Saya bisa memaklumi, karena jika jadwal pesawat jam 5:30 pagi maka setidaknya mereka sudah harus berada di bandara sejak 2 jam sebelumnya. Jadi bisa dibayangkan jam berapa mereka harus bangun, dan berangkat dari rumah masing-masing.

Untuk membunuh waktu saya pun memutuskan untuk menyalakan Krisworld, fasilitas hiburan yang tersedia di pesawat ini. Karena untuk menonton film waktunya tidak akan mencukupi, maka saya pun memutuskan untuk menonton acara talk show di salah satu kanal yang tersedia.

Salah satu tontonan yang saya sukai adalah talk show, interview, atau melihat sesorang sedang berpidato. Karena dari sana kita dapat belajar tentang bagaimana merepresentasikan dirinya di depan publik, cara berkomunikasi dengan baik, menjawab pertanyaan, dan juga menguasai diri (kegugupan) di depan kamera. Hal-hal yang dalam banyak kesempatan perlu dimiliki oleh seorang atlet profesional. Nampak mudah, tapi tidak demikian adanya.

Acara yang saya tonton pagi itu adalah “The Graham Norton Show”, sebuah talk show komedi dari Inggris yang dipandu oleh Graham Norton sendiri. Ketika itu Graham Norton sebagai host tengah mewawancarai Emily Blunt, Lin Manuel Miranda, Emily Mortimer, dan Ben Whishaw dalam bagian dari promo sekuel film Mary Poppins Returns.

Melihat dan mendengar seseorang berbicara dengan aksen British memang selalu menyenangkan. Saking sukanya, tanpa saya sadari bahasa Inggris saya pun jadi ikut terbawa menggunakan aksen tersebut. Bahkan karena terlalu kental aksen British nya malah jadi seperti “mumbling”, sehingga jangankan orang lain, saya sendiri pun terkadang tidak paham dengan apa yang saya bicarakan.

Di tengah menyaksikan Emily Blunt yang menjelaskan perannya, tiba-tiba seorang pramugari menyapa saya dan menanyakan sarapan apa yang saya pilih untuk pagi ini. Apakah sarapan asia (nasi goreng), atau internasional (omelet, sosis dll). Dengan bahasa Ingris aksen Britis yang mumbling tadi sayapun menjawab, “Internesyenel Pleis”. Tak lama berselang sebuah trai berisi sarapan internasional pun tersaji di meja saya.

A nice plate of hashbrown, chicken sausage, scrambled egg, and grilled tomatoes. Some fruits and a bread roll with butter. And also a cup of hot tea of course without sugar.

Aduh maaf-maaf kebawa pakai bahasa Inggris lagi.

Jadi sarapan pagi ini adalah kentang goreng olahan, sosis ayam, omelet, dan tomat pangang. Ditambah beberapa potong buah segar pilihan, dan sepotong roti dengan mentega. Dan juga secangkir teh panas yang sudah pasti tanpa gula.

Berbekal pengalaman-pengalaman sebelumnya, di mana cukup sulit menemukan menu makanan di pesawat yang cocok di lidah terutama dalam penerbangan jarak pendek, maka saya pun tidak memiliki ekspektasi yang tinggi dengan makanan yang tersaji di meja ini.

Untuk penerbangan jarak jauh, mungkin menu makanannya dapat diandalkan, terutama jika memilih maskapai yang tepat. Namun untuk penerbangan jarak pendek, hmmm rasanya cukup sulit, itu pun jika kalimat hampir mustahil dianggap terlalu pesimis.

Yang pertama saya potong adalah sosis, karena saya tidak berharap terlalu banyak maka potongannya pun kecil saja. Perlahan-lahan sambil menikmati percakapan di talk show di layar saya pun memasukkan potongan sosis tadi ke mulut. Pada gigitan pertama tiba-tiba mata saya membesar. Hmm ternyata sosis ini sangat juicy dan penuh cita rasa, hampir tidak percaya saya dibuatnya. “Kok enak?", ujar saya sedikit syok dalam hati. “Kebetulan aja kali, coba kita tes yang lain”, sangkal saya masih dalam hati.

Maka satu per satu makanan yang ada dalam trai pun saya coba. Saya malah semakin terkejut karena ternyata omelet, kentang goreng, dan tomat panggangnya pun juga very delicious. Tiba-tiba mood saya pun meningkat, tanpa saya sadari sebuah senyuman tersungging di bibir saya.

Seperti biasa ketika kita menemukan makanan yang enak, maka kita pun selalu memakannya dengan perlahan-lahan, dan yang paling enak akan kita makan di sesi paling akhir. Begitu pun saya ketika itu, sambil terus menonton “The Graham Norton Show” saya menikmati sarapan saya dengan perlahan-lahan, sesekali saya tertawa ringan karena pembahasan yang lucu. Sangat elegan.

Tiga perempat jalan sudah saya melahap sarapan internesyenel saya pagi itu. Masih ada secuil sosis ayam, dan segigit omelet yang tersisa, iya dua makanan itu memang yang paling enak, untuk penutup rencananya. Saya pun masih menikmati acaara talk show yang cukup menyenangkan. Hinggalah mereka menayangkan iklan Chicken Curry yang diperankan oleh Ben Whishaw saat berusia 17 tahun, yang membuat saya tertawa terpingkal-pinggal hingga menyeluarkan air mata.

Maka secara reflek saya pun meraih serbet yang disediakan beserta sarapan saya tadi, untuk menyeka air mata. Masih sambil tertawa sok paham saya pun menyeka kedua mata saya, butuh waktu beberapa saat hingga air mata saya mengering.

Dan ketika saya membuka mata, sesuatu yang sangat tidak menyenangkan pun terjadi. Trai makanan saya diangkat oleh pramugari. Padahal di sana masih tersisa seperempat sosis ayam, dan sesendok omelet yang rencanana akan saya gunakan untuk partai penutup.

Peristiwa pengangkatan trai tersebut, persis seperti adegan pembuka dalam film The Six Million Dollar Man, perlahan dan sangat dramatis. Anehnya saya hanya terperangah, dan tidak melakukan apa-apa.

Mungkin pramugari pikir saya sudah menyelesaikan sarapan saya. Pramugari tersebut memang masih berada di depan saya, namun lidah saya terasa kelu untuk sekadar meminta dia meletakkan kembali trai saya. Malu mungkin kata yang lebih tepat.

Maka bersamaan dengan masuknya trai ke dalam troli makanan, darah saya pun mendidih. Amarah, rasa malu, dan penyesalan pun menjadi satu. Bayangan kenikmatan mengunyah omelet yang dipadu dengan lembutnya sosis ayam pun seketika menguap, saya hanya bisa menyandarkan tubuh saya di kursi, sambil menarik dan menghembuskan nafas panjang.

Seketika timbul ide gila dalam kepala saya, ”Apa kita tuntut dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan saja maskapai ini?”. Namun seketika nurani saya menjawab, “Masak iya sih Bambang, cuma karena secuil sosis ayam dan sekunyah omelet saja urusan jadi panjang?”. “Hmmm iya juga ya”, jawab nalar saya lirih.

Pelajaran yang dapat kita petik dari cerita di atas adalah jangan suka sok tahu, apa lagi sok tahunya sampai tertawa terpingkal-pingkal dan mengeluarkan air mata. Karena walau bagaimanapun, seenak-enaknya tahu, tempe jelas lebih bergizi.

Selesai…..