Teras Belakang Rumah, 11 Desember 2018.

Sudah menjadi kebiasaan saya sejak lama, di pagi hari jika sedang tidak ada latihan atau jadwal tur bersama Persija Jakarta, saya selalu menyempatkan diri untuk menikmati secangkir teh panas tanpa gula, atau kopi (sekarang sudah tidak ngopi lagi). Temannya bisa apa saja tergantung apa yang ada. Bisa rebusan singkong, pisang, ubi, jajan pasar, atau kalau pas lagi ada ya "apple pie".

Pagi ini disela-sela "nyamlengnya" ngeteh, sebuah tweet menyita perhatian saya. Tweet foto saya bersama beberapa pemain Persija yang tengah merayakan gol pada sebuah pertandingan. Foto itu sebenarnya biasa saja, sudah banyak juga beredar di media sosial. Yang membuat foto ini menarik adalah cuitan yang disertakan dalam foto tersebut.

Isinya adalah sebagai berikut: “Mas apakah benar maksud selebrasi ini berarti anda mendukung paslon No.2, saya tunggu jawabannya. Thanks.”

Dalam foto tersebut saya dan beberapa pemain Persija memang tengah mengacungkan jari tanda salam untuk pendukung kami. Tweet tersebut pun saya jawab, “Tidak ada kaitannya dengan politik. Itu salam jempol telunjuk untuk The Jakmania. Pilihan politik kami, ya hanya kami yang tau”, demikian jawab saya ketika itu.

Tak lama berselang masuklah tweet lain mengomentari jawaban saya tadi, isinya adalah, “Pasti Om pilih 01. Karena kalau No.02 gak akan protes akan postingan ini”. Saya pun kembali menjawab, “Tidak juga dapat dikatakan demikian, saya hanya meluruskan jika tadi itu salam The Jakmania. Mengenai pilihan politik, sekali lagi itu rahasia”.

Dan ternyata tanpa saya sadari pembahasan mengenai (beberapa) foto selebrasi saya (dan atau pemain Persija lain) yang mengacungkan salam The Jakmania yang kemudian diafiliasikan sebagai bentuk dukungan kepada salah satu paslon tersebut, sudah ramai di beberapa komunitas. Diantaranya group WhatsApp, dan Facebook.

Semua berawal ketika Persija Jakarta berhasil menjuarai Liga Indonesia 2018, prestasi yang mau tidak mau membuat nama Persija, dan seluruh personilnya menjadi buah bibir di masyarakat. Baik secara positif, maupun negatif. Moment tersebut pun dimanfaatkan oleh para buzzer politik, untuk mengais serpihan-serpihan dukungan dengan menggunakan “cocoklogi” yang sejujurnya sangat dipaksakan.

Bagi komunitas sepak bola, "cocoklogi" semacam itu jelas menjadi bahan tertawaan, mereka tau betul apa arti salam yang saya dan pemain Persija berikan tersebut. Namun bagi mereka yang bukan pemerhati sepak bola, penggiringan opini seperti di atas sedikit sebanyak bisa jadi akan berpengaruh.

Harus saya jelaskan di sini jika saya bukan alergi, buta, atau tidak mau tahu terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan politik. "Ganteng-ganteng" begini saya ini termasuk pengamat politik "lho", walaupun levelnya hanya diskusi antara keluarga, dan teman-teman dekat saja. Lagi pula bukankah penyair asal Jerman Bertolt Brecht (1898 - 1956), pernah berkata: “Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik”.

“Padahal pilpres sendiri masih 5 bulan lagi, kok udah mulai begini ya”, gumam saya dalam hati. Dan sejak peristiwa itu, saya pun mulai menata hati untuk mulai lebih siap dan membiasakan diri terhadap sentimen, trik, atau manufer-manufer politik yang terkadang membuat dahi berkernyit.

Namun akhir-akhir ini saya mengalami kembali peristiwa yang menurut saya aneh. Peristiwa sosial yang menunjukkan bahwa masalah pemilu ini ternyata sudah menjadi sesuatu yang besar bagi masyarakat. Ini menjadi indikasi bagus, karena pada akhirnya masyarakat kita mulai melek, dan sadar arti pentingnya pilihan politik guna menentukan arah tuju bangsa ini. Namun sayangnya, pemahaman tersebut disertai dengan sentimen-sentimen yang berpengaruh terhadap kehidupan sosial dalam bermasyarakat.

Menjelang pemilu presiden kali ini saya beberapa kali bertemu dengan publik figur, dan atau orang biasa yang mengajak berfoto. Seperti biasa, setiap ada ajakan foto jika situasi dan kondisinya memungkinkan, sebisa mungkin selalu saya coba untuk penuhi.

Menariknya beberapa ajakan foto tersebut disertai dengan ajakan (setengah memaksa) untuk memberi kode simbol dukungan kepada salah satu pasangan baik 01, maupun 02. Jika sudah demikian, dengan sehalus mungkin saya selalu menolaknya. "Pose" saya ya normal-normal saja seperti biasa, sedang "pose" mereka yang terserah mereka, saya tidak pernah melarang.

Akibatnya ada beberapa yang ternyata kesal dengan reaksi saya tersebut. Ada yang bertanya mengapa saya tidak mau melakukannya. Ada yang jadi berpikir bahwa saya berbeda pilihan dengan dia, padahal belum tentu. Bahkan ada yang kemudian tetap berfoto namun hanya sekadar basa-basi (mungkin juga dihapus), karena sudah terlanjur minta berfoto. Bagi saya ya monggo saja, silakan, tidak apa-apa.

Bahkan beberapa waktu lalu dalam sebuah pertandingan sepak bola, sebelum pertandingan dimulai seorang pemain yang sejujurnya tidak terlalu dekat dengan saya tiba-tiba bertanya, "Mas kosong satu apa kosong dua?". Seketika saya pun menjawab, "Waduh, ngga ikut-ikut aku", diikuti kata "Djancuk" beberapa saat kemudian dalam hati.

Sekali lagi, saya bukan anti atau buta politik apa lagi golput, tidak lah. Sejauh apa yg saya ingat dan tau, saya tidak pernah golput. Saya menolak karena saya tidak tertarik ambil bagian dalam lingkaran debat kusir yang tidak bermutu ini. Dimana semua pihak sibuk menjadi pembenaran, ketimbang kebenaran. Saya hanya tidak mau menjadi juru kampanye “amatir” bagi siapapun. Walaupun saya juga tidak anti kepada teman-teman saya yang dengan lantang menyuarakan pandangan, dan pilihan politiknya. Bebas saja "wong" memang tidak ada aturan yang melarang.

Sejatinya siapa yang bisa menjamin pilihan politik seseorang. Bukankah hanya dia dan Tuhan yang tau, ketika seseorang sudah berada di bilik pencobolosan. Bisa jadi orang yang selama ini lantang meneriakkan pilihannya di publik, akan mencoblos pasangan yang lain, demikian juga sebaliknya. Bukankah salah satu asas pemilu adalah rahasia.

Pada suatu ketika, saya pernah mendengar sebuah siaran radio yang kurang lebih berisi: (silakan koreksi jika salah) “Mengajak semua orang untuk memberikan suara dalam pemilu adalah kewajiban setiap orang. Namun mempengaruhi orang lain untuk menentukan pilihannya bukanlah kewajiban setiap orang".

Sangat disayangkan, akhir-akhir ini bangsa kita terjebak dalam situasi dimana kita melihat setiap permasalahan dari sudut perbedaan. Jika sudah demikian maka yang kemudian timbul adalah kita ini musuh, kita berseberangan, dan oleh karena itu kita harus saling menjatuhkan. Diperparah lagi dengan kebiasaan orang kita yang suka sekali berkomentar tanpa didasari dengan pemahaman yang mencukupi. Ini yang membuat semua menjadi semakin runyam, dan hoax pun merajalela.

Padahal urusan pilihan politik ini kan hanya hajatan 5 tahun sekali. Sedang ikatan darah, silaturahmi, persaudaraan, dan hidup berdampingan di tengah perbedaan sebagai sebuah bangsa adalah urusan seumur hidup.

Melalui semboyan "Bhinneka Tunggal Ika”, kita diajarkan oleh nenek moyang kita untuk melihat permasalahan dari sudut persamaan. Dimana kita semua ini sama-sama orang Indonesia. Sama-sama ingin Indonesia ini maju, dan sejahtera. Sama-sama lahir, besar, mati, dan akan dikubur di tanah Indonesia.

Artinya segala perbedaan pendapat, atau pilihan yang terjadi tidak seharusnya membuat kita terpecah belah. Indonesia ini rumah kita bersama, dan oleh karena itu harus sama-sama kita jaga. Begitulah ideologi bangsa kita sejak jaman dahulu, "Berbeda-beda tetapi tetap satu".

Jika saja kita mau kembali melihat segala permasalahan bangsa ini dari sudut persamaan, niscaya yang akan berkembang adalah diskusi berbobot nan asik dengan kepala yang dingin, untuk mencari solusi terbaik bagi setiap permasalahan yang terjadi di bangsa ini.

Bukan saling mencaci, mencari kesalahan, dan melakukan pembenaran hanya demi kepentingan-kepentingan tertentu. Karena menurut saya, ”Jika tolok ukur untuk menilai sebuah kebenaran adalah kepentingan, maka sejatinya hati kita telah berkarat”.

Jadi, Bambang Pamungkas itu 01 atau 02?

Jawaban saya adalah: Bambang Pamungkas itu lahir tanggal 10, dan nomer punggungnya 20.

Selesai….