BETUL, teh panas tanpa gula itu pahit
Sepahit lembar demi lembar kenyataan
Yang beberapa tak sesuai dengan apa yang kurencanakan
Teh panas tanpa gula itu hambar
Sehambar tatapan mataku yang nanar
Saat tak mampu memanfaatkan peluang
Padahal sudah di depan gawang
Teh panas tanpa gula itu getir
Segetir resah yang terus mengalir
Ketika aku harus kalah
Selalu menyisakan rasa bersalah
Teh panas tanpa gula itu pekat
Sepekat penantianku akan dirimu
Gelar juara pelepas rindu
Yang tak kunjung kembali kudapat
Dan,
Teh panas tanpa gula itu tak manis
Karena aku sendiri sudah manis
Setidaknya begitu kata Mba Dewi
Si kekasih hati
Tapi,
Teh panas tanpa gula itu penuh cinta
Cinta merah semburat jingga
Untuk sebuah olah raga
Orang menyebutnya sepak bola
Teh panas tanpa gula itu mengajarkan
Bahwa hidup harus terus berjalan
Dalam apa pun keadaan
Sikap tegap dengan tatapan mata ke depan
Teruslah melangkah walau pun perlahan
Hidup bukan tentang pahit, hambar, getir, pekat, atau tak manis.
Hidup itu tentang bagaimana kita memelihara prinsip, memupuk cita, dan menjaga keyakinan
Sesungguhnya,
Akan ada manis setelah berlalunya pahit
Akan ada nikmat setelah pudarnya hambar
Akan ada senang setelah perginya getir
Akan ada cerah setelah hilangnya pekat
Dan akan berakhir manis, karena sekali lagi, dari sananya aku memang sudah manis
Jadi,
Teh panas tanpa gula itu tentang harapan
Harapan akan sebuah perjalanan yang (kuyakin) berakhir bahagia
Aamiin....
Jakarta, 2014