Dik, ingatkah engkau dengan rumah putih di depan taman itu. Di sanalah pertama kali kita bertemu, membisu.

Dik, ingatkah engkau saat kuberanikan diri menjabat tanganmu dan menyebut namaku. “Oh paranormal itu ya”, katamu.

Dik, ingatkah engkau dengan telefon pertamaku yang tidak lebih dari satu menit itu. Keringat mengucur deras dari sekujur tubuhku.

Dik, ingatkah engkau saat pertama kali menyaksikanku bermain di stadion megah itu. Dua gol yang kubuat sore itu hanyalah untukmu.

Rasanya baru kemarin, iya baru kemarin rasanya aku menyematkan cincin itu di jari manismu. Ah waktu begitu cepat berlalu.

Dik, satu yang harus selalu engkau ingat. Nyawamu dan nyawaku dijodohkan langit, disaksikan bumi, dan direstui alam semesta. Maka menualah bersamaku.

Semoga Sang Pencipta merahmati....