ADA pepatah klasik yang tetap up-date mengatakan seperti ini: Process most important than result. Benarkah demikian?
Bukan berarti yang punya prinsip bahwa hasil akhir jauh lebih bermakna dan penting ketimbang terjebak pada sebuah proses yang kaku dan teoritis. Lebih enak memang jika kedua hal ini disatukan. Artinya jangan mengharap hasil terbaik tanpa melalui pemikiran matang dan cerdas. Dan, tentu melalui proses berjenjang yang berorientasi pada hasil akhir.

Puluhan tahun silam, saya punya relasi yang sangat kental dengan Jenderal IGK.Manila. Setidaknya kami dipersatukan pada rel yang sama yaitu cinta olahraga dan sama-sama berimpian memajukan prestasi atlet nasional di kancah internasional. IGK. Manila bukan tong kosong. Tidak sekadar cuap-cuap mengatakan cinta olahraga tapi tidak melakukan apa-apa. Sudah terbukti bagaimana ia menggeluti olahraga di berbagai cabang. Bahkan ‘Jenderal Gajah’ ini mendapat predikat Bapak Wushu Indonesia. Hingga hari ini tercatat bahwa di tangannyalah sebagai manajer Tim Indonesia yang berhasil menggondol medali emas sepakbola SEA Games Manila 1991. Tiga puluh tahun berlalu, prestasi itu belum mampu disamai.

Banyak lagi jabatan di olahraga yang dipikul dan dipercayakan kepadanya. Hal menarik dalam ingatan saya adalah ketika IGK.Manila dikontak oleh Gubernur DKI, Sutiyoso atau Bang Yos. Karena Persija hanya finish di semifinal musim kompetisi 1998. Manila diminta untuk membangun, membangkitkan, menghidupkan dan mengangkat pamor Persija menjadi juara Indonesia. “Jakarta sebagai Ibu Kota adalah pusat perhatian seluruh penduduk Indonesia. Dalam hal apapun, Jakarta harus menjadi yang terbaik. Demikian juga dalam urusan sepakbola. Persija pantas menjadi juara!” itu pesan Bang Yos kepada Manila pada awal 1999. Dua tokoh ini saya golongkan, bukan sekadar pecinta tapi masuk kategori ‘gila’ sepakbola. Mendapat ‘kehormatan’ dari Bang Yos, maka Manila langsung pasang ancang-ancang. Butuh orang yang bisa diajak diskusi dan memiliki pandangan ke depan. Menurut Manila, saya sebagai wartawan Taboid BOLA adalah orang yang paling tepat menjadi partner berbincang mewujudkan impian Bang Yos.

Kepada Manila saya katakan bukan sesuatu yang mustahil membangun Persija menjadi kampiun. Apa sih yang kurang di Jakarta (Persija), kalau Bang Yos sebagai gubernur sudah mendukung, berarti masalah pokok urusan pendanaan tidak lagi masuk bahan bahasan. “Tapi kita jangan jumawa, jangan merasa sebagai ahli yang serba tahu semua hal. Ada sebuah proses mendasar yang harus kita susun lebih awal,” begitu ucap saya kepada Manila. Rupanya Manila tertarik pada usul saya. Karena itu, saya dipercaya untuk membuat sebuah Rencana Kerja. Membangun Persija dengan tujuan akhir menjadi Juara Indonesia, lengkap dengan (RAB) Rencana Anggaran Biaya yang efektif dan efisien. Konsep ini kami sampaikan kepada Bang Yos. Berkali-kali kami memaparkannya di Balai Kota, kantor Gubernur. Bisa juga diwaktu yang lain hingga lewat tengah malam di rumah dinas Gubernur di Taman Suropati sambil makan malam.

Jadwal rapat dan diskusi disusun rapi. Giliran orang yang mau diajak diskusi yang memiliki pemahaman tentang sepakbola harus ditentukan lebih awal. Tidak hanya mereka yang pernah menjadi bintang lapangan, tapi juga memiliki latar belakang sebagai pelatih berkualitas. Launching. Rapat perdana harus berjalan dengan penuh gaya dan berkelas di tempat kelas satu. Begitulah memang penampilan Bang Yos, orang nomor satu di Jakarta. Pilihan paling cocok adalah di Grand Hyatt Jalan Thamrin yang megah pada April 1999. Acara ini sekaligus memperkenalkan orang-orang yang kami pilih bersama Manila untuk memberi saran, pendapat dan pemikiran. Hadir Ronny Patty, Judo Hadyanto, Herry Kiswanto, Tumpak Sihite. Ada juga tokoh-tokoh seperti FH.Hutasoit, Abdul Kahfi dan yang lain.

Pertemuan berikutnya sudah langsung bicara soal teknis. TOR (Term of Reference) atau kerangka acuan yang saya siapkan adalah pembagian masing-masing expert tadi. Singkatnya, kalau mau menjadi juara maka tim harus kuat. Tim kuat bila diisi oleh pemain pilihan terbaik di masing-masing posisi. Secara khusus Judo Hadyanto mengamati calon, posisi kiper demikian juga bek, pemain tengah dan striker.Kerangka tim terbentuk. Menurut tim ahli ini, kalau pemain pilihan bisa direkrut dan diboyong ke Jakarta, maka itu sudah cukup mumpuni. Selanjutnya adalah, siapa yang akan meramu tim ini. Siapa pelatih yang memiliki kualitas dan kapasitas mumpuni. Memburu tandatangan pemain incaran Persija menjadi tanggung jawab Ahmadin Ahmad cs. Walau tidak sepenuhnya berhasil didatangkan ke Jakarta, tapi setidaknya beberapa pemain berhasil diyakinkan untuk membela Persija.

Antara Amasterdam dan Roma

Kepalangtanggung, Bang Yos melihat jangka panjang dan menyadari bahwa tim ini harus ditangani dengan pendekatan modern. Menurutnya, Persija butuh sentuhan pelatih asing yang berdaulat dan keras penuh disiplin. Dalam waktu singkat, saya pun diminta merancang perjalanan ke Eropa mencari pelatih berkualitas. Saya memilih Ronny Patty untuk berangkat ke Belanda kemudian disusul oleh FH.Hutasoit.

Korespondensi dengan KNVB (Koninklijke Nederlandse Voetbalbond) berjalan mulus. Dipimpin Hutasoit, kami bertandang ke markas KNVB. Sesuai dengan kebutuhan klub Ibu Kota, Persija, alhasil di KNVB pun menawarkan beberapa kandidat. Reputasi para kandidat ini pun mentereng. Ada juga mantan pemain nasional Belanda dan sudah memiliki pengalaman melatih klub dan tertarik melatih di Jakarta. Ada juga yang pernah melatih di Hongkong. Di sebuah ruang khusus hotel yang kami sewa di Amsterdam, kami mendengarkan pemaparan dan mewawancarai satu per satu calon pelatih. Menurut saya dan Ronny, rata-rata mereka memiliki kapasitas memadai. Beberapa hari kemudian, kami melanjutkan perjalanan ke Roma. Bersua dengan kolega saya di sana, Rayana Djakasuria dan mempertemukan kami dengan agen pemain dan pelatih bersertifikas FIFA.

Kondisi di Roma berbeda dibandingkan Amsterdam. Di Roma kami tidak bertatap muka dengan calon pelatih, cukup melalui data yang tercatat dalam curriculum vitae dan foto. Kami tertarik pada satu nama yang masih melatih tim nasional Bulgaria, U-21 bernama Ivan Venkov Kolev. Laporan perjalanan ke Amsterdam dan Roma saya sampaikan lebih dulu kepada Manila. Setelah itu baru mememaparkannya kepada Bang Yos. Awalnya ia tertarik pada pelatih asal Belanda yang memiliki rekam jejak bagus. Pilihan itu ternyata batal. Alasan yang saya sampaikan adalah masalah harga yang sangat tinggi. Seingat saya, pelatih Belanda itu minta gaji per bulan 50 ribu US dolar, di luar fasilitas pendukung seperti apartemen dan transportasi lengkap dengan supir. Atas usul saya dan Manila, pilihan mengerucut kepada Ivan Kolev dari Bulgaria.

Bulat keputusan, Kolev didatangkan dari Bulgaria dan akan diuji kemampuannya cara melatih dengan pendekatan sepakbola modern. Rombongan Kolev, manajer dan agen dari Italia tiba di Jakarta dan ditempatkan di hotel Santika. Beberapa waktu kemudian, datang lagi 4 pemain dari Bulgaria untuk dicoba. Para pemerhati sepakbola; Ronny Patty cs melakukan penilain kualitas dan cara melatih dari Kolev. Demikian juga empat pemain digabung dengan pemain

The New Persija

Ada beberapa konsep latihan yang diterapkan oleh Kolev yang tergolong baru. Kolev juga mampu mengorganisir dan menempatkan para pemain sesuai dengan keahlian masing-masing. Bang Yos sendiri hadir menyaksikan bagaimana cara Kolev melatih. Pada prinsipnya, para pemantau memberikan penilain sangat memuaskan atas kinerja Kolev. Jadilah pelatih timnas usia muda Bulgaria itu terikat kontrak dengan Persija. Walau durasi kepelatihan Kolev tidak lama di Persija, tapi ia berhasil membangun tonggak permainan yang bagus. Kolev akhirnya dipanggil kembali ke Bulgaria untuk mempersiapkan timas muda negeri bintang lawas, Hristo Stoichkov ataupun Dimitar Berbatov itu.

Pola pikir Bang Yos ternyata tidak hanya bagaimana membuat Persija juara saat itu. Jauh ke depan ia berpikir agar Persija menjadi magnet pembinaan sepakbola nasional. “Saya ingin melihat Persija sebagai kerangka utama Tim Nasional,” begitu obsesinya. Itulah sebabnya, beberapa waktu berselang, saya dan IGK.Manila diminta berangkat ke Argentina dan Cili, memantau pemain dan pelatih. Alhasil, Pemain sekaliber De Porras maupun Chena membela Persija ditangani pelatih Cambon.

Satu hal lagi yang menjadi catatan saya tentang pemikiran Bang Yos adalah bagaimana membuat Persija menjadi milik penduduk Jakarta. Suatu ketika Bang Yos bilang, ia merasa miris melihat Persija tidak didukung orang Jakarta. “Contoh, waktu Persija main lawan PSMS Medan, Stadion penuh, tapi penonton orang Medan malah mendukung PSMS,” keluhnya. Perlahan, supporter Jakarta digarap. Dibina dan diberi pengertian untuk mencintai Persija. Pemilik KTP DKI jangan malah mendukung kesebelasan daerah. Ternyata usaha itu berhasil, maka terbentuklah wadah supporter bernama Jakmania yang sangat militant.

Kembali kesoal pelatih Kolev. Dalam waktu satu tahun, tongkat estafet kepelatihan dari Kolev berpindah kepada Andi Lala dan Sofyan Hadi. Beberapa pemain muda pun mulai bersinar di Persija seperti Bambang Pamungkas yang dikenal sebagai BP-20. Pada musim kompetisi 2001, kerangka tim yang ditinggalkan Kolev ditambah pemain baru sudah mampu menyatu dan berdiri tegak. Jadilah Persija memetik hasil terbaik sebagai juara. Memang, juara adalah tujuan mulia dari sebuah konsep yang tersusun baik. Tapi, sekali lagi, hasil maksimal tidak datang begitu saja. Harus melalui proses, tahapan yang benar, bukan keberhasilan instan. Bang Yos bangga atas capaian puncak para pemain Persija. Juara!*