Lanjutan...


Waktu menunjukkan pukul 17:45 WIB, ketika Iwan dan Tinho pamit untuk melanjutkan aktivitas mereka. Tinggalah Bambang dan Bagas bersama beberapa pelanggan yang lain di gerai bakso tersebut. Semakin gelap, semakin ramai warga Jakarta yang datang untuk berolah raga di kawasan ini. Tak berselang lama setelah Iwan dan Tinho pergi, Bambang dan Bagas pun memutuskan untuk melanjutkan perbincangan di tempat lain yang sekiranya lebih sepi dan nyaman.


Sebuah warung kopi yang berada di parkiran sebuah hotel, tak jauh dari Gelora Bung Karno adalah pilihan mereka. "Jadi Mas Bagas ngga tau-menahu dengan tulisan ini?", tanya Bambang kepada Bagas sambil menunjukkan buku, beserta secarik kertas berisi salinan tulisan di buku. "Jangan panggil Mas lah Om, ngga enak hehehe", jawab Bagas malu-malu. "Jadi panggil apa enaknya ya?", tanya Bambang lagi. "Panggil Bagas atau cukup Gas saja lah Om", pinta Bagas. "Oh gitu ya, baik-baik", jawab Bambang.


"Jadi beneran ngga tau tentang tulisan ini?", Bambang mengulangi pertanyaannya. "Ngga tau sama sekali Om, ngga pernah ngecek-ngecek juga sih isi buku itu, kurang begitu suka baca buku soalnya hehehe", jawab Bagas sambil tertawa ringan.


"Oh begitu. Ngomong-ngomong bagaimana cerita awalnya, kok bisa kakek lo ingin memberikan buku ini ke gue?", tanya Bambang lagi. "Jadi awal mulanya begini Om.....", dan Bagas pun mulai bercerita.


Awal sekali Bagas menyampaikan kepada Bambang jika kakeknya telah berpulang ke rahmatullah, beberapa bulan setelah menitipkan buku tersebut kepada Bagas. Kemudian Bagas mulai menceritakan detail kejadian di Rumah Sakit Abdi Waluyo, saat kakeknya memberikan amanah kepada Bagas berkaitan dengan buku yang dimaksud. 


Bagas menyampaikan jika ketika itu tidak ada pesan apapun dari kakeknya mengenai apa yang harus dilakukan Bambang dengan buku titipan kakeknya tersebut. Kakeknya hanya berpesan, jika tugas Bagas hanya memberikan buku kepada Bambang, itu saja, titik.


Bambang mendengarkan cerita Bagas dengan begitu seksama, sesekali ia bertanya, namun kemudian ia khusuk mendengarkan kembali.


"Oh iya, sebelum memberikan buku ini kepada saya, kakek memang sempat memandangi dan mengusap-usap halaman ini Om", ujar Bagas sambil menunjuk halaman kosong tempat dimana Bambang menemukan deretan angka yang ditulis menggunakan tinta fosfor. "Tapi karena beliau ngga memberi tau apa-apa, saya pikir juga ngga ada sesuatu yang penting", lanjut Bagas.


"Ok, gue ngga tau sih sebenarnya ini apa, dan apakah ada kaitannya dengan mengapa kakek lo ngasih buku ini ke gue. Cuma sejujurnya gue penasaran saja,mengarah ke apa angka-angka ini", ujar Bambang antusias.


"Sama sih Om, saya juga jadi penasaran. Jadi kira-kira akan bagaimana ini Om?", tanya Bagas. "Nah gue malah yang pengen nanya sama lo nih, apakah boleh jika gue cari tau mengenai sandi-sandi ini? mengarah ke apapun itu ya?", tanya Bambang kepada Bagas. " Lah ya terserah saja, kan buku itu sudah nenjadi hak milik Om ", jawab Bagas.


"Ngga bisa begitu juga sih Gas. Apapun buku ini kan milik kakekmu, trus mengarah ke apapun sandi-sandi ini nantinya kan gue juga tetep harus ijin ke pihak keluarga. Dan lo adalah keluarga beliau", Bambang coba menerangkan. "Saya sih ok-ok aja Om, ngga ada masalah", jawab Bagas. 


"Tiga bulan lalu saya menemukan sebuah tas kakek di bunker, yang isinya file-file yang menurut saya agak-agak aneh. Malah jika Om berkenan saya ingin ikut terlibat untuk mencari tau", lanjut Bagas. "Boleh-boleh. Sebentar-sebentar, kakek lo punya bunker?", tanya Bambang dengan mimik serius. "Iya Om, ada bunker yang tidak terlalu besar di bawah garasi, lebih mirip seperti ruangan kantor sih Om", terang Bagas. "Oh gitu", ujar Bambang sambil menganggukkan kepala.


"Ok kembali ke permasalahan, jadi lo ngga keberatan ya kalo ini gue selidiki. Dan kita sepakat untuk mencari tau sama-sama apa ini sebenarnya", Bambang berkata sambil mengangkat secarik kertas hasil salinannya. "Siap Om, ngga masalah", jawab Bagas mantap.


Berawal dari komunimasi via email, yang kemudian dilanjutkan melalui telefon, dan akhirnya bertemu di warung bakso rawit itulah, akhirnya Bambang dan Bagas sepakat untuk memecahkan apa kira-kira maksud dari deretan sandi di buku biografi Bung Karno, yang diberikan Ridwan Soedjarwo kakek Bagas. Mereka berdua yakin jika apapun yang dimaksud dalam sandi tersebut berkaitan dengan isi buku itu sendiri. Namun di bagian mana? itu yang mereka berdua harus cari tahu.


Seminggu setelah pertemuan tersebut, akhirnya Bambang dan Bagas pun bertemu kembali untuk membahas dan memacahkan sandi di buku tersebut. Kali ini pertemuan dilakukan di rumah Bagas di bilangan Menteng, Jakara Pusat.


"Silakan masuk Om", sapa Bagas saat membukakan pintu untuk Bambang. "Baik, apa kabar Gas?", tanya tanya Bambang kepada Bagas. "Alhamdulillah baik. Mau minum apa nih Om.", jawab Bagas. "Teh panas tanpa gula boleh", jawab Bambang. "Teh panas tanpa gula? maksudnya teh tawar panas Om?", tanya Bagas. "Nah itu dia", jawab Bambang sambil tersenyum.


Bagas dan Bambang memilih duduk di teras samping rumah. Si tamu memilih teh tawar panas sebagai pendamping, sedang yang empunya rumah memilih minuman ringan rasa buah.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Bagas dan Bambang untuk pada akhirnya larut dalam diskusi untuk memecahkan sandi di buku tersebut. Halaman demi halaman mereka periksa dengan sangat seksama, namun mereka tidak menemukan apa-apa selain sandi yang ditulis dengan tinta fosfor yang sudah ditemukan Bambang sebelumnya. 


45 menit berlalu begitu saja, dan tidak ada perkembangan berarti yang Bambang dan Bagas dapatkan. Mereka coba menggunakan blue lamp untuk memeriksa apakah ada tanda-tanda goresan tinta lain yang dapat dijadikan petunjuk, namun hasilnya halaman lain selain halaman yang bertuliskan sandi di buku tersebut nampak bersih.


Ditengah rasa frustasi yang mulai menghinggapi mereka, tiba-tiba timbul pertanyaan sekaligus pemikiran dari Bagas, "Om, denger-denger Om kan suka sejarah, dan sosok Bung Karno. Nah bagian mana dalam buku ini yang menurut Om paling penting dalam sejarah perjalanan hidup Bung Karno?, mungkin kita bisa mulai dari sana". "Hmmmm apa ya? terlalu banyak hal menarik dalam kehidupan Bung Karno. Tapi sejarah perjalanan seorang manusia itu dimulai saat orang tersebut dilahirkan, dan akan berakhir saat orang tersebut meninggal dunia, demikian juga Bung Karno. Mungkin bisa kita coba dari sana", ujar Bambang.


"Nah kalo begitu kita coba cek-cek lagi di bagian kelahiran, atau akhir hayatnya Bung Karno Om", Bagas memberi ide. "Boleh, ngga ada salahnya kita coba dari sana", jawab Bambang setuju. Maka mereka pun coba mencocokkan urutan-urutan angka yang mereka yakini merupakan susuanan paragraf, kalimat, kata dan huruf tersebut.


Deretan angka pertama tertulis 1-1-1-2. Artinya paragraf ke-1, kalimat ke-1, kata ke-1 dan huruf ke-2. Nah di bagian yang membahas mengenai kelahiran Bung Karno, deretan angka tersebut menunjukkan ke huruf (K). 


Selanjutnya 1-1-4-4. Artinya paragraf ke-1, kalimat ke-1, kata ke-4 dan huruf ke-4, dan mereka menemukan huruf (M). Kemudian 1-1-5-4, susunan tersebut menuntun mereka pada huruf (U). 1-2-2-5, mengarah ke kuruf (P). Sedang 1-2-5-8, mengahasilkan huruf (R). Serta pada akhir deretan pertama yang tertulis 1-2-11-5, memberi mereka huruf (S). Hasil keseluruhan deret pertama menghasilkan kata KMUPRS.


"Arti nya apa ya kira-kira KMUPRS ini?", tanya Bagas kepada Bambang. "Hmmmm apa ya, keliatannya kok kata mati gini ya Om", jawab Bambang sambil mengernyitkan dahi. "Jadi menurut lo bukan di bab ini ya?", tanya Bambang kembali. "Menurut saya kok begitu ya. Ok coba kalo kita berpindah ke bagian yang membahas masa-masa akhir hayat Bung Karno", Bagas menyuarakan idenya. "Ok", jawab Bambang singkat. 


Maka mereka pun beralih ke bagian yang mereka maksud. Bambang dan Bagas mengulangi tata cara seperti saat mereka menemukan kalimat KMUPRS. Hal hasil nya adalah kata BURDUN. "Bukan ini juga keliatannya", gumam Bambang ambil mengetuk-ngetukkan pensil di kepalanya. "Kayaknya begitu", timpal Bagas.


"Sebentar, sebentar. Penampakanmu akan membuat orang menyerahkan matanya, sedang apa yang kamu lakukan dalam hidup akan membuat mereka menyerahkan hatinya." ujar Bambang lirih. "Maksudnya", tanya Bagas. "Yang kita lihat dari Bung Karno dari beliau lahir hingga wafat adalah sosok atau penampakannya", jelas Bambang. 


"Trus?", Bagas nampak tidak mengerti arah pembicaraan Bambang. "Sedang kita mencintai Bung Karno bukan dari penampakan beliau, tapi dari apa yang beliau lakukan selama beliau hidup", sambung Bambang. Bagas masih tidak memahami maksud dari apa yang disampaikan Bambang.


"Artinya?", Bagas semakin penasaran. "Artinya kita mencintai Bung Karno karena perjuangan, pengorbanan dan jasa-jasa beliau untuk negeri ini", lanjut Bambang. "Jadi, apa hubungannya dengan apa yang kita cari ini?", Bagas semakin tidak sabar, ingin rasanya ia mencekik Bambang karena berbelit-belit, tapi tentu saja dia tidak berani karena Bambang memang jauh lebih tua darinya.


"Kita mencintai Bung Karno karena dengan segala pemikiran dan tindakannya, beliau mampu memimpin perjuangan bangsa ini, hingga sampailah ke gerbang kemerdekaan. Artinya kurang tepat jika kita mencari di bagian kelahiran, atau wafatnya Bung Karno. Bung Karno, dan Bung Hatta adalah proklamator kemerdekaan. Jadi coba kita cari di bagian yamg membahas mengenai proklamasi", Bambang menjelaskan mengenai teorinya. "Hmmm, masuk akal, masuk akal", ujar Bagas sambil menganggukkan kepala.


Maka segeralah mereka mencari di bab yang membahas mengenai detik-detik proklamasi di buku ini. Bambang dan Bagas pun kembali mengulangi proses pengurutan seperti yang mereka lakukan di bab-bab sebelumnya.


Di bait pertama dari deretan angka, menuntun mereka kepada kata ANGGUN. Bait berikutnya membawa mereka ke kata NAMUN. Selanjutnya SANGAT. Dan bait terakhir di deret kotak pertama di dari kata sandi mengarah kepada kata KUAT. Jadi hasilnya adalah kata ANGGUN NAMUN SANGAT KUAT.


"Wah keliatannya memang bab ini yang dimaksud dalam surat kakek Om", ujar Bagas berbinar-binar. "Gas ada kopi ngga?", tanya Bambang. "Kopi, untuk apa Om?", tanya Bagas. "Maksudnya, kalo ada bisa kali bikin kopi kita, biar tambah semangat", ujar Bambang sambil tersenyum. "Hahaha baiklah", jawab Bagas. 


Dan Bagas pun memanggil Mbak Yem, asisten rumah tangga dirumahnya. "Mbak Yem boleh bikinin kopi dua?", pinta Bagas ke Mbak Yem. "Tumben Mas Bagas ngopi, gulanya berapa Mas?, tanya Mbak Yem ramah. "Lagi pengen nih Mbak. Sedeng aja Mbak jangan terlalu manis", pinta Bagas. "Om Bambang?", tanya Mbak Yem kepada Bambang.


Bambang yang nampak tak menghiraukan percakapan Bagas dan Mbak Yem karena sibuk melanjutnya pencarian pun sontak menyahut, "Eh maaf, saya gulanya sesendok saja Mbak, terima kasih sebelumnya". "Baik", jawab Mbak Yem dan kemudian langsung berjalan menuju arah dapur.


Bambang dan Bagas pun lanjut memecahkan kode-kode yang ada di kertas. Dan kemudian, "Nih hasil dari kolom berikutnya", ujar Bambang sambil menyodorkan kertas berisi kalimat hasil kolom kedua dari deretan sandi kepada Bagas. Hasilnya adalah "LEMAH GEMULAI NAMUN SANGAT CEPAT". "Wah, semakin menarik nih", ujar Bagas bersemangat.


"Sedang ini: 4-1-4-1 adalah huruf (B). 4-1-6-2 huruf (E). 4-1-9-12 huruf (R). 5-1-7-4 ketemu (S). 5-1-7-8 ada (A). 5-1-8-8 sama dengan (H). 5-1-9-2 ketemu huruf (A). 5-2-7-3 ada huruf (J). Dan 5-2-10-1 adalah (A). "Jadi artinya, coba tulis ya Gas, BERSAHAJA", Bambang coba mendiktekan kepada Bagas. "Siap, sudah dicatat Om", jawab Bagas.


Kemudian deretan:


5-2-14-1, 5-2-14-4, 5-2-15-12


6-1-1-4, 6-1-2-2, 6-1-3-4, 6-1-5-1, 6-2-1-5, 6-3-5-4


6-3-8-2, 6-4-1-2, 6-4-8-3, 6-5-8-6, 6-5-12-4


6-5-13-1, 6-5-13-2, 6-5-23-1, 6-5-24-2, 6-5-26-7, 6-5-26-13, 6-6-2-6, 7-1-2-4, 7-1-4-5, 7-1-6-4, 7-1-6-8


7-1-15-4, 7-1-18-4, 9-1-1-3, 9-1-3-1, 9-1-6-1, 9-2-4-3, 9-2-5-1, 9-3-2-7, 9-3-4-7, 9-4-5-4, 9-4-8-9, 9-4-8-10


Menghasilkan:


"DAN SELALU MAMPU MEMENANGKAN PERTEMPURAN".


Saat Bagas dan Bambang tengah asik memecahkan sandi-sandi tersebut, tiba-tiba Mbak Yem datang menghidangkan kopi pesanan mereka. "Ini Mas dan Om kopinya, dan ini kebetulan di belakang lagi goreng sukun, siapa tau ada yang berminat", ujar Mbak Yem. "Wah Gas kita istirahat dulu ya, kita selesaikan secara adat dulu kopi dan sukun goreng ini", ajak Bambang kepada Bagas. 

"Tapi, lagi semangat-semangatnya nih Om, masih ada beberapa kolom lagi", jawab Bagas. "Tenang Gas Belanda masih jauh, ayo kita sikat dulu yang ini mumpung masih panas", ujar Bambang meyakinkan. "Tapi Om", Bagas coba membujuk Bambang. "Sudahlah mainkan dulu yang ini, toh kita ngga buru-buru", kata Bambang lagi. "Baiklah", dan Bagas pun hanya bisa pasrah.

Bersambung....