Bakso Rawit Stadion Gelora Bung Karno


Sore itu cuaca ibukota nampak kurang begitu bersahabat, awan hitam bergelantungan dimana-mana, hari pun nampak gelap sebelum waktunya. Suasana di sekitar stadion utama Gelora Bung Karno tampak lumayan ramai. Banyak warga ibukota yang memanfaatkan lingkar luar stadion kebanggaan bangsa Indonesia tersebut untuk berolah raga.


Di salah satu sudut kawasan tersebut tepatnya di depan pintu merah, begitu kebanyakan orang menyebutnya, terlihat tiga orang lelaki yang tengah menikmati jajanan di salah satu gerai kaki lima. Ketiga lelaki tersebut adalah Tinho, Iwan dan Bambang. Berdiskusi tentang sepak bola sambil menikmati bakso cabe rawit adalah hal yang sering mereka lakukan.


Sambil menunggu pesanan mereka datang, terjadilah diskusi yang hangat, santai namun juga tajam. "Apa kabar dunia persepakbolaan kita masbro?", ujar Bambang membuka percakapan, "Yah masih begini-begini aja lah, seperti yang lo tau sendiri lah, di PSSI masih banyak hal-hal yang belum beres", ujar Iwan. "Sekarang sudah bersatu bukan?", tanya Bambang lagi. "Itu kan tampak luarnya saja, tapi tetap saja kita tidak pernah tahu siapa lawan dan siapa kawan", ujar Tinho menambahkan.


"Aneh memang, mereka yang kemarin di Kuala Lumpur tinggal sekamar dan kemana-mana berdua, tiba-tiba pas pulang pecah kongsi dan akhirnya dipecat", ucap Bambang. "Sedang yang selama ini bagai anjing dan kucing, bahkan mendengar nama lawannya disebut pun haram hukumnya, tiba-tiba berpelukan dan bersekutu", lanjut Tinho. "Itulah politik masbro, azas manfaat dan kepentingan diatas segala-galanya", timpal Iwan dengan senyum kecut.


"Trus mau dibawa kemana persepakbolaan kita di tangan mereka-mereka ini masbro", tanya Bambang kepada ke dua sahabatnya tersebut. Mendengar pertanyaan tersebut Tinho dan Iwan pun hanya mengangkat bahu. "Tergantung para pemainlah mau dibawa kemana semua ini", jawab Tinho. "Betul pada akhirnya memang pemain yang harus mengambil sikap bro, kalo pemain hanya ikut arus kayak t*i gini ya ngga akan kelar-kelar masalah sepak bola kita", sahut Iwan dengan nada kesal.


"Itu gue setuju, pemain adalah pemeran utama, begitu bukan bahasa lo bro", tanya Bambang kepada Tinho. "Yak", jawab Tinho. "Tapi sayang para pemain keliatannya masih nampak malu-malu untuk bersikap. Entah malu, takut atau malah ngga paham dengan posisi mereka dalam konflik ini yang sejatinya begitu vital?", ujar Bambang.


"Gue rasa mereka takut bro, kalo malu ngga lah", Iwan berpendapat. "Masih mending mereka takut daripada ngga paham posisi mereka bro. Artinya sekarang mereka takut karena mungkin ada yang mengintimidasi, mereka diam karena ngga ada yang mulai, kalo nantinya ada yang mulai dan ternyata banyak yang merasa memiliki pemikiran yang sama, gue yakin rasa takut itu sedikit demi sedikit akan hilang. Yang gue takutkan adalah kalo mereka ngga paham akan posisi mereka, dan berpikir jika mereka ngga memiliki peran, ini yang repot. Karena artinya mereka ngga berpikir", Tinho menjelaskan panjang lebar. "Gue setuju", jawab Bambang.


"Trus perkembangan kasus para pemain di asosiasi bagaimana bro?", tanya Bambang kepada Tinho. "Semakin menyedihkan bro, klub-klub seperti PSPS Pekanbaru, PSMS Medan, Persidafon Dafonsoro, PSAP Sigli, Persiwa Wamena, Persibo Bojonegoro, Persema Malang bahkan tim kebanggaan lo Persija Jakarta semuanya menunggak gaji para pemainnya?" papar Tinho.


"Itu semua di musim yang sedang berjalan sekarang ini bro?", tanya Iwan. Tinho pun coba menjabarkan, "Begini PSPS Pekanbaru 9 bulan musim lalu, baru dibayar sebulan. Sedang musim ini 4 bulan, jadi total 13 bulan. PSMS Medan beberapa pemain lama mengalami 8 bulan musim lalu, plus musim ini 7 bulan. Sedang PSAP Sigli...". Ketika Tino tengah menerangkan, tiba-tiba Bambang memotong, "Tim ibukota gimana tim ibukota?". 


"Gue rasa lo lebih tau lah kalo itu, kan para pemainnya pada curhat ke elo bukan?", timpal Tinho sambil tertawa lirih. "Emang Persija parah juga bro?" sahut Iwan. "Enam orang pemain musim lalu masih tertunggak antara 3 sampai 5 bulan, dan semua pemain musim ini juga antara 3 sampai 4 bulan", jelas Bambang. "Termasuk lo berarti?", tanya Iwan kepada Bambang lagi. "Abis menurut lo?", seloroh Tinho. Dan mereka bertiga pun tertawa bersama.


Ditengah diskusi mereka yang semakin menarik, datanglah pak Jamal si tukang bakso membawa pesanan mereka. "Ini mas-mas pesanannya. Ini yang ngga pake mie dan bakwan gorengnya banyak, ini yang komplit, dan ini yang ngga pake mie dan ngga pake bawang goreng", ucap pak Jamal sambil menghidangkan bakso pesanan Bambang, Iwan dan Tinho. 


Tanpa menunggu lama ketiga sahabat tersebut pun langsung mengambil pesanan mereka masing-masing. Setelah meracik bumbu pelengkap ala mereka sendiri-sendiri, tiga orang tersebut pun segera memulai petualangan mereka dalam menikmati bakso dengan isi cabe rawit tersebut. Bunyi kriuk pangsit yang beradu dengan gigi, membuat pertempuran mereka dengan pedasnya bakso rawit pun bertambah meriah.


Sambil mengusap keringat yang mengalir dari keningnya, Iwan berkata. "Trus bagaimana dengan nasip para pemain PSMS yang berdemo kemarin bro? Bener mereka mau disanksi oleh komisi disiplin?. "Berita yang beredar sih begitu, tapi surat resminya sendiri belom keluar. Setau gue mereka akan dipanggil ke Jakarta, tapi bukan membahas mengenai sanksi, melainkan mengenai isu pengaturan pertandingan", jawab Tinho.


"Kalo pemain menanyakan hak-haknya yang tertunggak saja malah diancam akan dikenai sanksi, dengan alasan tidak berperilaku baik, serta dianggap menggadaikan profesionalisme sih, sudah sakit orang-orang yang ngurus sepakbola kita ini bro. Chip yang ada di otak mereka harus diganti", ucap Bambang geram. 


"Selama konflik kepentingan yang tidak menentu ini, para pemain sudah terlalu banyak berkorban bro. Jika menyuarakan hak saja di sanksi, apa harus menunggu sampai ada yang meninggal lagi? hingga mereka tau jika pemain memang benar-benar dalam keadaan yang susah dan menderita.", cerocos Bambang lagi.


Ditengah panasnya diskusi mereka, tiba-tiba seorang anak muda berperawakan sedang datang menghampiri mereka. "Selamat sore, maaf om Bambang ya?", sapa orang tersebut. Seketika mereka bertiga pun menoleh kearah datangnya suara tersebut.


"Selamat sore, iya betul saya Bambang", jawab Bambang membenarkan. "Saya Bagas Om yang waktu itu janjian lewat telefon", ujar anak muda tersebut memperkenalkan. Seketika Bambang pun berdiri, " Oh iya-iya, apa kabar? susah ngga tadi nyari tempat ini?", tanya Bambang. "Ngga sih om", ucap Bagas.


"Perkenalkan ini temen-temen ku, ini Tinho dan Iwan, bro ini Bagas. Silakan-silakan, sudah makan? mau nyobain bakso rawit ngga, enak nih", Bambang pun memperkenalkan kedua sahabatnya kepada Bagas, dan mereka pun saling berjabat tangan.


"Sebelum kita ngobrol mengenai buku itu, mending kita makan bakso dulu", ujar Bambang kepada Bagas. "Bagaimana?\', lanjut Bambang. "Boleh lah," jawab Bagas. "Cocok. Pak Jamal boleh pesan satu porsi lagi", Bambang berteriak kepada Pak Jamal si penjual Bakso.


Bersambung....