Lanjutan....


Sore itu Bambang menyempatkan diri untuk menikmati teh panas tanpa gula kegemarannya di teras belakang rumah. Satu teko besar teh tubruk ia sandingkan dengan rebusan ubi, talas atau pisang, begitulah Bambang biasa mengabiskan sorenya.


Salah satu hobi Bambang adalah membaca, tidak mengherankan jika di beberapa sudut rumahnya terdapat perpustakaan-perpustakaan kecil. Di kamar, ruang keluarga, toilet tamu, dan termasuk juga teras di belakang rumahnya.


Walaupun tidak dalam jumlah banyak, namun setidaknya terdapat beberapa koleksi buku yang dapat ia baca jika sedang bersantai di ruangan-ruangan tersebut. Sore itu cuaca agak mendung, sambil menyeruput teh dari cangkir pertamanya, tiba-tiba salah satu koleksi buku menyita perhatiannya. Buku berwarna merah yang hampir terjatuh dari rak tempat dimana buku tersebut biasa tertata dengan rapi.


"Ah pasti Mpok Ati nih tadi bersih-bersih, dan balikinnya ngga bener", gumam Bambang dalam hati. Bambang pun segera berdiri dari tempat duduknya dan membetulkan posisi buku yang hampir jatuh tersebut. Setelah ia perhatikan ternyata buku tersebut adalah buku biografi Bung Karno.


Bambang memang pengagum Bung Karno. Dan di teras belakang rumahnya ini terdapat 3 buku mengenai Bung Karno, yang pertama adalah "Total Bung Karno" karya Roso Daras, dimana Bambang turut menulis salah satu pengantar di buku tersebut. Kemudian "Mereka Menodong Bung Karno" yang merupakan memoar salah satu pengawal Bung Karno bernama Soekardjo Wilardjito. Dan buku biografi Bung Karno berjudul Penyambung Lidah Rakyat karya Cindy Adams. Buku terakhir adalah buku yang hampir jatuh.


Bambang yang tadinya berniat membetulkan letak buku tersebut, tiba-tiba berubah pikiran dengan mengambil dan membawanya ke kursi tempat dimana ia tadi menikmati ritual minum sorenya. Untuk beberapa saat Ia mengamati buku tersebut, sejurus kemudian ia baru sadar jika buku ini bukanlah buku Penyambung Lidah Rakyat miliknya. Iya buku di tangannya ini berbeda dengan buku yang ia miliki selama ini. Bambang baru ingat jika buku ini adalah pemberian seseorang yang dititipkan melalui kantor menejemennya beberapa bulan lalu.


Versi asli Buku biografi Bung Karno sendiri, ditulis dalam berbahasa Inggris dengan judul "Sukarno, Autobiography as told to Cindy Adams" yang terbit tahun 1965. Sedang dalam bahasa Indonesia, buku tersebut diterjemahkan oleh Mayor Abdul Bar Salim dengan judul Penyambung Lidah Rakjat, dan terbit setahun kemudian.


Buku yang ia pegang saat ini adalah cetakan 2007 edisi revisi yang diterbitkan oleh Media Pressindo. Buku ditangan Bambang ini masih bagus dan rapih, tergambar begitu berhati-hatinya si pemilik dalam merawat buku ini. Sedang buku milik Bambang sudah terlihat agak kusam walaupun sebenarnya edisinya sama.


Sudah menjadi rahasia umum, jika cetakan terjemahan biografi Bung Karno karya Cindy Adams ini, mengalami perubahan di beberapa bagian ketika masa orde baru berkuasa. Baru setelah rezim orde baru runtuh, buku tersebut kembali dicetak dan direvisi sesuai dengan versi aslinya yang terbit pada tahun 1966. Tak butuh waktu lama bagi Bambang, untuk hanyut dalam untaian kisah perjalanan hidup Bung Karno, yang terangkai rapi di buku tersebut.


Tak terasa malam pun datang menjelang, cuaca yang tadinya terang pun berubah menjadi gelap. Di dalam rumah terlihat Dewi tengah berada di ruang tengah untuk menyalakan lampu. Terdengar suara Dewi mengingatkan Bambang, "Cin udah malem, ayo masuk ngga baik maghrib-magrib masih diluar". "Sebentar, 5 menit lagi", jawab Bambang sambil terus membaca salah satu bab di buku biografi tersebut.


Tiba-tiba listrik di rumah Bambang padam. Terdengar suara Dewi, "Mpok ada yang nyolokin apa ya? Ini listrik mati kenapa, konslet atau memang mati dari PLN?". Sayup-sayup dari arah dapur terdengar suara Mpok Ati menjawab dengan logat betawi kental, "Kagak ada yang nyolokin apa-apa Non, coba dah aku cek kedepan, siapa tau emang lagi mati semua ".


"Cin coba itu dilihat kenapa?", seru Dewi kapada Bambang. Tak ada respon dan jawaban apapun dari arah teras belakang. Dewi mulai terlihat kesal karena tidak mendapatkan respon dari suaminya. Berbekal penerangan dari ponselnya ia pun beranjak menuju teras belakang.


Kekesalan Dewi bertambah ketika mendapati suaminya tengah asik memain-mainkan lampu senter dari ponsel dan mengarahkannya ke meja dihadapannya. Posisi duduk Bambang membelakangi Dewi yang berada di pintu. "Ini apa-apaan, lagi mati lampu bukannya ngecek masalahnya apa, malah mainan senter", ujar Dewi kesal. 


Bambang tampak tak menghiraukan apa yang disampaikan istrinya, ia masih saja memain-mainkan cahaya lampu dari ponselnya kearah buku yang tengah ia baca. Sesekali ia mengarahkan cahaya ketempat lain namun kemudian mengembalikannya lagi.


"Cin iki piye tho?", nada suara Dewi mulai meninggi. Bambang yang posisi duduknya membelakangi Dewi seketika berbalik badan dan berkata, "Cin sini deh, coba liat ini". "Apaan, ini lho lampunya mati mbok dicek kedepan sana masalahnya apa? konslet kah, mati semua kah, atau apa. Masak orang belakang (Mpok Ati) yang ngecek?", jawab Dewi semakin kesal. "Lihat", jawab Bambang sambil mengangkat buku biografi Bung Karno dan menunjukkannya kepada Dewi.


"Apaan itu?", ujar Dewi penasaran dengan apa yang ia lihat. "Aku ngga tau, ini aku juga baru tau tadi ngga sengaja", jawab Bambang. Tiba-tiba lampu kembali menyala, dan Dewi pun mendekat ketempat Bambang duduk. "Loh mana tulisan tadi, kok ngga ada?", tanya Dewi dengan mimik serius kepada Bambang. "Sebentar", jawab Bambang sambil berdiri dan berjalan menuju deretan saklar lampu di dalam rumah. Ia mematikan aliran listrik kearah teras belakang, kemudian ia kembali menuju teras belakang dimana Dewi menunggu disana.


"Apa yang kamu lihat?, tanya Bambang kepada Dewi. "Oh ini ditulis pakai tinta fosfor ya?", tanya Dewi balik kepada Bambang. Betul di halaman terakhir buku biografi Bung Karno tersebut, terdapat susunan angka-angka yang menyerupai sebuah sandi yang ditulis menggunakan tinta fosfor. Tulisan yang tidak akan terlihat jika berada dibawah sinar matahari atau lampu biasa.


Tulisan tersebut baru dapat terlihat jika permukaan tulisan diberi muatan cahaya yang cukup dan kemudian dibawa ke tempat atau ruangan yang lebih gelap. Tinta fosfor akan menyimpan molekul cahaya yang diterima dari sinar lampu atau sinar matahari yang mengarah kepadanya, dan akan melepaskannya kembali saat berada ditempat yang pencahayaannya gelap.


"Tulisan siapa itu? artinya apa? trus maksudnya nulis disitu apa?", cerocos Dewi. "Ya kita kan sama-sama baru tau Cin, jadi pertanyaan yang ada di benak kita ya kurang-lebihnya sama", jawab Bambang. "Ini buku beli dimana, apakah semua buku ini ada tulisannya seperti itu?" kembali Dewi bertanya. "Ini buku pemberian seseorang lewat Muiz beberapa bulan yang lalu. Aku juga ngga tau siapa yang ngasih. Buku ini termasuk langka karena ini cetakan pertama tahun 1966", jalas Bambang panjang lebar.


"Jadi menurut kamu ini apa?", Dewi terlihat semakin penasaran. "Siapapun penulisnya, ini dibuat bukan tanpa maksud apa-apa, pasti ada artinya. Tapi apa itu aku juga belum tau. Keliatannya aku harus tanya ke orang kantor, siapa orang yang ngasih buku ini", ujar Bambang.


Malam itu juga Bambang menyalin apa yang tertera di halaman belakang  buku "Penyambung Lidak Rakjat" tersebut kedalam kertas.


 


20 Juli 1995


* 1-1-1-2, 1-1-4-4, 1-1-5-4, 1-2-2-5, 1-2-5-8, 1-2-11-5


* 1-2-13-5, 1-2-14-3, 1-2-16-3, 1-3-1-4, 1-3-4-3


* 1-4-5-4, 1-4-7-4 ,1-4-10-5, 1-4-12-10, 1-4-13-4, 1-5-1-2


* 2-1-1-2, 2-1-1-3, 2-1-5-4, 2-1-6-3


---------------------------


* 1-1-1-1, 2-1-8-2, 2-1-11-1, 2-1-11-7, 2-2-6-1


* 2-2-8-5, 2-2-11-4, 2-3-2-1, 2-3-15-5, 2-4-2-3, 2-4-3-2, 2-4-5-4


* 1-2-13-5, 1-2-14-3, 1-2-16-3, 1-3-1-4, 1-3-4-3


* 1-4-5-4, 1-4-7-4 ,1-4-10-5, 1-4-12-10, 1-4-13-4, 1-5-1-2


* 3-1-7-1, 3-1-8-1, 3-3-5-7, 3-3-8-2, 3-3-8-3


---------------------------


* 4-1-4-1, 4-1-6-2, 4-1-9-12, 5-1-7-4, 5-1-7-8, 5-1-8-8, 5-1-9-2, 5-2-7-3, 5-2-10-1


* 5-2-14-1, 5-2-14-4, 5-2-15-12* 6-1-1-4, 6-1-2-2, 6-1-3-4, 6-1-5-1, 6-2-1-5, 6-3-5-4


* 6-3-8-2, 6-4-1-2, 6-4-8-3, 6-5-8-6, 6-5-12-4


* 6-5-13-1, 6-5-13-2, 6-5-23-1, 6-5-24-2, 6-5-26-7, 6-5-26-13, 6-6-2-6, 7-1-2-4, 7-1-4-5, 7-1-6-4, 7-1-6-8


* 7-1-15-4, 7-1-18-4, 9-1-1-3, 9-1-3-1, 9-1-6-1, 9-2-4-3, 9-2-5-1, 9-3-2-7, 9-3-4-7, 9-4-5-4, 9-4-8-9, 9-4-8-10


---------------------------


* 13-2-1-1, 13-3-3-4, 13-3-3-9


* 13-5-1-1, 13-5-2-2, 13-6-3-5, 14-1-2-2, 14-1-5-5, 14-1-7-2, 14-3-2-5


* 14-4-7-1, 14-4-9-4, 14-5-6-3, 14-5-8-2, 14-5-10-6


* 14-7-1-2, 14-8-5-5, 14-8-9-8


* 14-9-10-1, 14-10-1-2, 14-10-5-12, 16-4-6-4, 16-4-9-5, 16-4-10-3,16-6-1-2,16-7-8-1, 16-7-11-2


-----------------------------


* Simbol Victory (Vi)


-----------------------------


* 79    17-1-2-4, 17-1-10-6


------------------------------


* 19-3-1-1, 19-3-2-6, 19-3-4-1, 19-3-7-4, 19-4-2-4, 19-5-2-2


* 22-1-1-1, 22-1-3-2, 23-1-4-4, 23-1-7-3


* 25-4-10-1, 25-4-15-2, 25-4-17-9, 25-4-18-5, 25-5-2-8, 25-6-4-3, 25-6-6-5


* 11-9-8-1, 11-9-9-5, 11-9-13-3, 11-9-20-4, 11-9-22-5


* 26-2-2-4, 26-2-16-5, 26-2-17-2, 27-1-4-3, 27-1-4-9, 27-2-8-11, 27-2-12-4


* 28-3-2-1, 28-3-3-2, 28-3-12-1, 28-4-8-13


* 29-1-1-1, 29-1-2-1, 29-1-3-5, 29-2-4-3, 29-2-5-5, 30-1-7-3, 30-1-11-5, 30-1-12-4


-------------------------------


* 27-8-1-1, 31-1-2-2, 31-1-4-1, 31-1-6-3, 31-2-1-4, 31-2-2-1, 28-1-3-5, 312-6-4      


* 1245 (52)


-------------------------------


 


Setelah selesai menyalin angka-angka yang ditulis menggunakan tinta fosfor tersebut, Bambang menguhungi Muiz melalui telefon. "Hallo bos", jawab Muiz diujung telefon. "Dimana bos, sibuk ngga?", tanya Bambang membuka pembicaraan. "Lagi makan sama anak-anak di Plaza Senayan, mau nyusul?", jawab Muiz mengundang Bambang. "Wah siapa yang ulang tahun nih?, tanya Bambang lagi. "Ngga ada, iseng aja sambil ngobrol-ngobrol. Gimana, gimana?", jawab Muiz. 


"Begini bos, inget ngga dulu lo pernah kasih gue buku yang katanya pemberian orang", tanya Bambang. "Yang dianter ke kantor?, Muiz balik bertanya. "Iya, iya bener", jawab Bambang. "Kenapa?" tanya Muiz lagi. "Lo masih inget sama orang yang nganter bukunya ngga? atau buku itu dari siapa sih?", tanya Bambang lagi.


"Dari siapanya gue ngga tau bos, soalnya yang nerima Lina, coba ntar gue tanya ke dia", jawab Muiz. "Ngga buru-buru kan, atau harus sekarang?", tanya Muiz lagi. "Oh ngga, ngga, ngga buru-buru kok, atau besok gue ke kantor deh", jawab Bambang.


"Ada apa sih bos?", tanya Muiz penasaran. "Besok aja gue jelasin di kantor, santai aja. Lanjut bos salam buat temen-temen disana ya. Lanjutkan..!!!", jawab Bambang mengakhiri pembicaraan. "Siiaapp", jawab Muiz dan kemudian menutup telefon.


Bersambung....