Lanjutan....


Tiga Tahun Kemudian.


Kedai Kak Ani, Kemang, 1 April 2013.


"Udah yakin lo?" tanya Wawan dengan mimik serius kepada Bambang. "Menurut gue sih mending dipikir-pikir lagi aja dulu", sahut Adi. Mendengar komentar dua sahabatnya tersebut Bambang pun sejenak terdiam. Suasana menjadi hening.


Sebagai sahabat Wawan merasa perlu meyakinkan Bambang dengan apa yang akan ia putuskan. Di lain pihak Adi merasa tidak percaya dengan apa yang barusaja ia baca. Sebagai sahabat Wawan dan Adi tentu sangat menghargai apapun keputusan yang akan diambil Bambang, namun untuk hal yang satu ini, dia merasa Bambang masih sangat terburu-buru untuk melakukannya.


Setelah meneguk kopi tubruk dari cangkirnya Bambang pun berkata, "Begini kawan-kawan". Sejenak dia berhenti dan menarik nafas panjang, "Begini, apa yang kalian rasakan ketika aturan atau sistem yang selama ini kita yakini, dan sudah berjalan selama bertahun-tahun, tiba-tiba berubah dan disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Pihak-pihak yang hanya mementingkan kepentingan golongan mereka sendiri?".


"Hubungannya dengan keputusan lo ini apa?" tanya Wawan. Bambang pun kembali menjelaskan, "Di belahan dunia manapun, begitu juga seharusnya di negeri ini, setiap pemain berlomba-lomba untuk dapat bermain bagi negaranya, karena hal tersebut merupakan sebuah kehormatan. Bermain untuk Negara adalah prestasi tertinggi seorang atlet. Mereka datang karena ini merupakan sebuah tanggung jawab profesi, untuk membela kehormatan bangsa", terang Bambang panjang lebar.


"Nah, lo sendiri berpendapat seperti itu, tapi kenapa lo malah mengambil keputusan seperti ini?", ganti Adi bertanya. "Begini", kata Bambang kembali menjelaskan. "Ketika sekarang, datang atau tidak datangnya pemain memenuhi panggilan tim nasional, tidak lagi didasari oleh idealisme dan tanggung jawab mereka terhadap profesi, namun lebih kepada perintah atau bahkan intimidasi dari pihak-pihak tertentu. Maka sejatinya, kesakralan tim nasional itu sudah ada lagi. Dan oleh karena itu gue harus berhenti".


"Iya sih, gue juga setuju dengan hal itu, tapi apa yang bisa lo lakuin untuk merubah itu?", tanya Wawan. "Ya karena gue tidak memiliki kemampuan untuk merubahnya, dan sekaligus gue juga tidak bisa menerima pola pikir yang seperti itu, makanya gue memutuskan untuk berhenti", jawab Bambang.


"Terlebih lagi kabar terakhir gue denger, pemain sempet bikin konferensi pers menyampaikan rasa keberatan atau mosi tidak percaya kepada pelatih tim nasional, dan akhirnya terjadi pergantian pelatih. Bagi gue ini udah sangat-sangat politis", tambah Bambang.


"Politis nya dimana?", tanya Adi. "Bagi mereka yang pernah menjadi pemimpin di organisasi apapun di Republik ini, hal yang paling sulit dilakukan adalah membuat semua anggota kompak, begitu pula di sepakbola. Bukan hal mudah untuk membuat pemain di Indonesia ini kompak".


"Nah ketika hampir seluruh anggota timturun bareng-bareng untuk membuat konferensi pers secara bersama-sama, menurut gue itu aneh. Apalagi apa yang mau disampaikan adalah hal yang teramat sangat sensitif, rasa keberatan terhadap kepemimpinan seorang pelatih", ujar Bambang panjang lebar.


Bukannya itu malah bagus, artinya ada perkembang, sekarang pemain sudah bisa kompak", timpal Wawan. "Kebijakan mengenai pelatih tim nasional itu murni berada di tangan menejemen tim nasional dibawah federasi. Sejauh apa yang gue tau, tidak banyak pemain di Indonesia yang berani terang-terangan melawan kebijakan menejemen, baik menejemen klub apalagi tim nasional", jelas Bambang lagi.


"Artinya?", tanya Adi. "Artinya jika hampir semua pemain berani tampil dalam konferensi pers menentang kebijakan menejemen tim nasional, maka ada indikasi jika konferensi pers tersebut memang sudah direncanakan, dan diarahkan oleh pihak-pihak terkait".


"Apalagi semua orang tau kalo pelatih timnasional yang kemarin dipilih oleh rezim sebelumnya. Pemain hanya dijadikan alat untuk memperhalus cara memacat pelatih saja. Terlalu politis. Kejadian itu membuat gue semakin yakin untuk berhenti", kembali Bambang menjelaskan dengan panjang lebar.


Wawan dan Adi pun mengangguk tanda mengerti.  Mereka sadar betul, sebesar dan sekuat apapun usaha mereka untuk merubah keputusan Bambang, hal tersebut hanya akan berakhir sia-sia. Mereka berdua tau betul, bagaimana keteguhan hati Bambang dalam memegang sebuah prinsip.


Maka secara resmi, pada hari itu Bepe atau Bambang Pamungkas secara resmi menyatakan mundur dari tugas-tugasnya bersama tim nasional Indonesia.


Perjalanan panjang selama 14 tahun bersama tim nasional Indonesia pun resmi berhenti per tanggal 1 April 2013.


Bambang pun menulis surat pengunduran diri terbuka. Surat tersebut dimuat di dua laman online milik nya, yaitu bambangpamungkas20.com dan sportsatu.com.


Surat pengunduran diri terbuka itu pun sontak mengejutkan para pecinta sepakbola tanah air.


Bambang memang tidak lagi muda, namun banyak pihak menilai jika keputusan yang ia ambil tersebut masih terlalu dini. Banyak pihak yang menyayangkan, tidak sedikit yang tidak percaya, dan sebagian lagi menyesalkan.


Tapi Bambang Pamungkas adalah Bambang Pamungkas, sebuah pribadi yang mungkin hanya dimengerti oleh Bambang Pamungkas dan dirinya sendiri.


 


1 April 2013


"Saya Adalah Generasi Yang Gagal"


"Pada dasarnya setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka adalah cara berpikir, bersikap, bertindak serta bereaksi setiap individu terhadap segala permasalahan yang menghampiri mereka".


Malam sudah cukup larut, waktu menunjukkan pukul 23:35 malam. Dari jendela nampak jika di luar tengah turun hujan. Hanya gerimis memang, tapi cukup untuk membuat udara malam ini menjadi semakin dingin. Sebuah sosok berperawakan sedang bertelanjang dada, tengah duduk terpaku di pojok sebuah ruangan. Dalam suasana remang-remang di sebuah apartemen di jalan Rue de Caumartin, Paris.


Tatapan matanya kosong, raut wajahnya nampak beku, pikirannya jauh melambung membelah dingin dan basahnya langit malam ini. Dengan rambut acak-acakan serta kumis dan jenggot yang nampak mulai memanjang tak beraturan, membuat wajah orang ini nampak lusuh dan sedikit lebih tua dari umurnya.


Lelaki tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah Bambang Pamungkas, iya lelaki itu adalah saya sendiri. Sudah lama saya membuat keputusan ini, dan sudah lama pula sebenarnya saya ingin menulis artikel ini. Akan tetapi entah mengapa, hati saya masih merasa begitu berat untuk sekedar menyampaikannya kepada khalayak ramai.


Hinggalah tiga hari yang lalu, dimana saya menerima sebuah kabar menyedihkan dari jarak 11.574 kilometer dari sini. Sebuah "peristiwa" yang sejujurnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan diri saya. Namun kejadian tersebut membuat saya meyakini, bahwa sekarang adalah saat yang tepat untuk menyampaikan kepada masyarakat, mengenai masa depan saya.


Awalnya saya pikir semuanya akanberjalan dengan mudah. Tinggal merangkai kata, upload ke blog pribadi dan kemudian di menyebarluaskan melalui akun twitter saya. Selesai perkara. Tetapi pada kenyataannya tidak semudah yang terpikir di benak saya. Butuh waktu lama untuk pada akhirnya saya berani untuk menulisnya. Padahal keputusan ini sudah saya ambil sejak empat bulan yang lalu.Iya, sejak empat bulan yang lalu.


Bagi mereka yang memperhatikan penampilan saya di perhelatan Piala AFF 2012 lalu, maka sejatinya ada hal yang tidak biasa tersaji disana. Ketika itu pada detik-detik terakhir, saya memutuskan untuk menggunakan nama"PAMUNGKAS", daripada "BAMBANG" seperti yang biasa saya kenakan di jersey tim nasional saya.


Tentu hal tersebut bukan tanpa alasan.Dalam bahasa Indonesia, kata pamungkas memiliki arti "menjadi yang terakhir". Maka begitu pula dengan perjalanan karir saya bersama tim nasional. Saat itu saya memutuskan, jika pagelaran Piala AFF 2012 akan menjadi penampilan resmi terakhir saya, bersama tim nasional Indonesia.


Bergabungnya saya ke tim nasional Indonesia ketika itu, bukanlah menjadi sebuah pilihan yang mudah. Pilihan yang saya ambil tersebut, bertentangan dengan kebijakan klub yang saya bela Persija Jakarta. Dan juga institusi dimana klub saya berafiliasi, dalam hal ini Liga Super Indonesia dan KPSI.


Pilihan tersebut jelas bukan tanpa resiko, baik bagi saya secara pribadi maupun masa depan karir sepakbola saya. Banyak orang yang menganggap saya ingkar janji, tidak sedikit yang menganggap saya sebagai seorang penghianat. Tetapi saya adalah saya, pribadi yang selalu berusaha untuk berkata benar jika memang benar, dan mengatakan salah jika memang demikian adanya, dengan apapun resikonya.


Sesaat setelah latihan perdana bersama skuad tim nasional Indonesia, jelang AFF Cup 2012. Di sebuah pancuran air Gelora Bung Karno, saya berkata kepada salah satu sahabat saya. Keputusan saya untuk bergabung dengan tim nasional bukanlah sebuah pilihan, tetapi sebuah keharusan. Karena saya tidak akan pernah bisa memaafkan diri saya jika saya tidak melakukannya. Dan setelah itu saya akanberhenti untuk selamanya.


Hal tersebut juga telah saya sampaikan kepada staf Badan Tim Nasional Indonesia. Oleh karena itu, ketika namasaya kembali masuk dalam daftar pemain untuk Kualifikasi Piala Asia 2015, saya menolak untuk hadir.


Berani mengambil sikap dengan apapun hasil dari pilihan yang kita ambil, adalah dua hal yang berbeda. Mengambil sebuah keputusan murni berada di tangan setiap individu. Sedang hasil dari keputusan yang kita ambil acap kali tergantung dari banyak hal, termasuk kehendak dari sang Maha Pencipta.


Sebagian orang berpikir bahwa saya sudah gila, karena mengorbankan seluruh reputasi dan karir saya, demi sebuah timyang sudah diprediksi banyak orang akan mengalami kegagalan. Sebagian lagi berpikir jika saya salah melangkah, karena pada akhirnya tim nasional Indonesia harus kembali tersungkur dan bersimbah darah, di AFF Cup 2012.


Mereka berpikir jika saya telah merusak kredibilitas dan reputasi dengan menumpahkan tinta hitam diatasnya.Tetapi tidak demikian bagi saya pribadi.Saya merasa telah mengakhiri perjalanan panjang saya bersama tim nasional, dengan sebuah kebanggaan dan kehormatan, setidaknya sebagai sebuah pribadi yang merdeka.


Rasa terima kasih dan hormat saya yang setinggi-tingginya, saya ucapkan kepada seluruh komponen tim nasional Indonesia di Piala AFF 2012. Orang-orang yang dalam segala keterbatasan dan tekanan publik yang begitu hebat, tetap berdiri di garda paling depan untuk memperjuangkan harkat dan martabat bangsa Indonesia melalui sepakbola.


Dengan apapun hasilnya, menjadi sebuah kebanggaan besar bagi saya mengakhiri karir tim nasional saya, bersama rekan-rekan semua. Mati sebagai pemain timnasional (pensiun) dengan cara seperti itu, membuat saya merasa sangat bahagia. Berjuang sampai titik darah penghabisan atas nama bangsa dan negara, dengan segala kendala dan resiko yang harus dihadapi, membuat saya merasa telah mati dengan cara yang sangat terhormat.


Terima kasih yang tidak terhingga untuk seluruh pendukung tim nasional Indonesia dimanapun berada. Mereka yang dengan fanatisme luar biasa dan tak kenal lelah, selalu berdiri di belakang panji-panji timnasional Indonesia. Mereka yang selalu bernyanyi, menari dan berteriak menyemangati dalam setiap perjuangan saya bersama tim nasional Indonesia. Tidak lupa permohonan maaf saya yang sebesar-besarnya, karena selama karir saya bersama tim nasional Indonesia, tidak sekalipun saya mampu memberikan kebahagiaan untuk kalian semua.


Tanggal 23 Maret 2013, merupakan hari bersejarah bagi sepakbola Indonesia, khususnya tim nasional. Karena setelah sekian lama terbelah menjadi dua, pada hari itu tim nasional Indonesia kembali berada dibawah satu berdera. Dan untuk pertama kalinya setelah cukup lama, stadion utama Gelora Bung Karno kembali memerah dipenuhi pendukung militan timnasional Indonesia.


Dengan atau tanpa muatan tertentu, langkah penyatuan tim nasional Indonesia layak diberi apresiasi positif yang setinggi-tingginya. Setidaknya, di dalam lubuk hati mereka yang paling dalam, ternyata masih ada rasa sebangsa dan setanah air.Walaupun mungkin kesepakatan tersebut, dilandasi oleh negosiasi-negosiasi tertentu.


Sedangkan bagi saya pribadi, melihat para pemain nasional kembali bergairah untuk memenuhi panggilan negara dan bersatu kembali dalam satu bendera tim nasional Indonesia, sudahlah menjadi sebuah kebahagiaan yang luar biasa. Bukankah hal tersebut yang selama ini "kita" perjuangkan bersama-sama?


Menjadikan kembali tim nasional Indonesia sebagai representasi kekuatan terbaik sepakbola di Indonesia. Mengembalikan kesakralan sebuah timnasional, yang akhir-akhir ini disepelekan oleh orang-orang bertindak atas nama kepentingan-kepentingan tertentu. Serta menjadikan kembali


Gelora Bung Karno sebagai tempat yang angker bagi siapapun tim lawan yang hadir disana, dengan suasana riuh serta gegap gempita dari seluruh pendukung merah-putih. Itu adalah hal yang selalu kita perjuangkan, selama dua tahun terakhir.


Selamat berjuang untuk talenta-talenta terbaik sepakbola Indonesia. Kibarkanlah panji-panji kebesaran sepakbola kita setinggi-tingginya. Bermainlah untuk dirimu, orang-orang yang kamu cintai (keluarga), dan lambang Garuda di dadamu (rakyat Indonesia).


Keputusan ini mungkin mengingkari janji saya sendiri tiga belas tahun lalu, janji setia saya kepada tim nasional Indnesia. Akan tetapi dengan segala dinamika dan pergolakan yang terjadi dalam sepakbola Indonesia, selama dua tahun terakhir.Membuat saya merasa yakin, jika sekarang adalah saat yang tepat bagi saya untuk melakukannya. Lagipula dengan nama-nama mumpuni di barisan depan timnasional Indonesia saat ini, rasanya tenaga saya sudah tidak lagi terlalu dibutuhkan.


Saya mengawali tiga belas tahun karir saya bersama tim nasional dengan sebuah harapan besar, dan mengakhirinya dengan sebuah kemenangan besar. Sebuah kemenangan dari segala bentuk pemaksaan kehendak terhadap diri saya. Kemenangan diri saya atas nama sebuah kebebasan untuk mengungkapkan pendapat, menentukan sikap, serta bertindak atas nama sebuah hal yang saya yakini akan kebenarannya.


Boleh saja orang menilai saya sebagai seorang penghianat dari kelompok saya.Tetapi satu hal yang pasti, bahwa saya tidak pernah mengianati hati dan profesi saya. Sebuah profesi yang sangat saya cintai dan banggakan, sebagai pemain sepakbola.


Pada akhirnya saya memang harus menerima kenyataan, bahwa tidak ada satu gelar bergengsipun yang mampu saya berikan untuk Indonesia. Doleh karena itu seperti yang pernah saya janjikan, maka di akhir artikel ini saya akan berteriak dengan lantang, jika "Saya Adalah Generasi Yang Gagal."


Bertepatan dengan di muatnya artikel ini, maka secara resmi saya mundur dari tim nasional Indonesia..


“Cepat atau lambat, jersey merah - putih itu pasti akan tanggal dari badanku. Akan tetapi satu hal yang pasti, lambang garuda itu akan tetap melekat di dada kiriku, dan tinggal disana sampai akhir hayatku"


"Garuda Di Dadaku, Garuda Kebanggaanku"


NB: Tulisan ini saya buat tanggal 22 Maret 2013.


Bersambung....