Victory - "(nai__) - Episode 25)

Penulis: bepe, 10 August 2017

Rumah Ibu Diah, Menteng.

Ibu Diah mengajak Bambang, Dewi, Bagas, dan Bayu ke kamar Putra anaknya. "Silakan masuk, coba saja lihat-lihat sekeliling, siapa tahu ada sesuatu yang bisa kalian jadikan petunjuk", ucap Ibu Diah mempersilahkan.

Bambang, Dewi, Bagas, dan Bayu pun memasuki bekas kamar Om Putra tersebut, dan menyisir seluruh ruangan. Kamar ini berukuran cukup besar, namun tidak terdapat banyak barang. Hanya terdapat tempat tidur, lemari, meja kerja, kursi serta beberapa lukisan yang tersusun di lantai.

15 menit berlalu begitu saja dan mereka tidak menemukan apa-apa. "Tidak ada sesuatu yang menarik", ujar Bambang sambil duduk di kursi di depan meja kerja. "Iya keliatannya tidak ada pentunjuk apapun di kamar ini", sahut Bagas. 

"Mohon maaf sebelumnya Eyang, apakah ada ruangan lain di rumah ini yang sering digunakan Om Putra?", tanya Bambang kepada Eyang Diah. "Hmmmm setahu Eyang tidak ada. Putra termasuk jarang keluar kamar kalo sudah di rumah", jawab Eyang Diah.

"Kalo begitu tambahan petunjuk yang kita dapat ya hanya pecahan guci tadi", ujar Dewi. “Keliatannya begitu Tan", sahut Bagas. "Masalahnya guci tadi udah pecah berkeping-keping, jadi kita ngga tau seberapa besar guci itu saat masih utuh. Kalo guci itu masih utuh maka kita bisa mengira-ira seberapa besar benda dalamnya", jelas Bambang.

"Om mau tau kira-kira sebesar apa guci tadi saat masih utuh?", tanya bayu tiba-tiba. "Bagaimana caranya? Ngga mungkin bongkar pigura tadi dan kita susun kan?", tanya Bambang. "Hehehe ini sudah abad ke 20 Om, sudah era digital, saya bisa buat sketsa 4D gucinya kalo Om mau?", jawab Bayu enteng. "Wah keren tuh", sahut Dewi. “Kenapa ngga bilang dari tadi?”, ujar Bambang penuh semangat. “Yeee situ ngga minta”, jawab Bayu tidak mau disalahkan.

Mereka pun segera berdiri dan bermaksud ke ruang tengah dimana pecahan guci yang sudah disusun menjadi lukisan terpaku di dinding. Namun saat Bambang berdiri dari kursi untuk beranjak pergi, tiba-tiba secara tidak sengaja ujung matanya menangkap sebuah tanda panah yang terdapat di kursi. Bambang pun segera mengurungkan niatnya.

"Sebentar-sebentar", ujar Bambang. Eyang Diah, Dewi, Bagas dan Bayu pun sontak berbalik badan. "Kenapa Cin?", tanya Dewi kepada suaminya. Bambang tidak menjawab pertanyaan Dewi, Bambang menggeser kursi dari tempatnya dan melongokkan kepalanya ke bawah kolong meja. Semua yang ada di ruangan terheran-heran dengan apa yang dilakukan Bambang. Bagas melirik ke arah Dewi, Dewi hanya menggelengkan kepala.

Sejurus kemudian Bambang mengambil posisi tidur telentang tepat di bawah meja kerja yang berada di kamar Putra. "Gas blue lamp", pinta Bambang kepada Bagas. "Hah?", jawab Bagas. "Udah kasih aja", sahut Bayu. 

Kemudian Dewi memberi isyarat kepada Bagas untuk menuruti permintaan Bambang. "Sebentar Om", ujar Bagas sambil berlari keluar mengambil lampu yang berada di tas punggung yang ia letakkan di ruang tamu. Eyang Diah hanya mengamati.

Bambang masih memeriksa sisi bawah dari meja kerja Putra, nampaknya Ia menemukan sesuatu di bawah sana. Tak lama kemudian, "Ini Om", ujar Bagas sambil menyodorkan sebuah senter kecil dengan lampu bolam berwarna biru. Bambang pun segera menerima senter tersebut. Bambang langsung menyalakan, dan mengarahkannya ke permukaan kayu di bawah meja tersebut.

Kemudian Bambang bangkit dari posisinya, "Om Putra meninggalkan petunjuk di kamar ini", ujar Bambang kemudian. "Jejak apan Om", tanya Bagas dan Bayu hampir bersamaan. "Coba lo liat kebawah meja", sahut Bambang. Secara bersamaan Bagas dan Bayu pun melongok kebawah meja, hal tersebut membuat kepala mereka berdua beradu, "Duukk".

"Aduuuhhh", ujar Bagas dan Bayu bersamaan sambil meringis menahan sakit di kepala masing-masing. Sontak hal tersebut memancing tawa Eyang Diah, Dewi dan Bambang. "Satu-satu lah hehehe", ujar Dewi sambil tertawa. "Emang ada petunjuk apaan sih Cin?", tanya Dewi kemudian.

"Di bawah meja terdapat tulisan, (Duduk dan lihatlah ke jendela). Ditulis dengan tinta fosfor, sama persis seperti di buku", jawab Bambang. Bagas yang nampak ingin memastikan pun melakukan hal seperti yang dilakukan Bambang tadi, yaitu tidur telentang di bawah meja sambil mengarahkan lampu ke arah kayu. "Iya betul ada tulisan itu di bawah sini", ujar Bagas dari bawah sana. Bayu pun turut melongok untuk memastikan.

Sejurus kemudian Bambang duduk dan melihat ke jendela, sesuai dengan perintah tulisan yang terdapat di bawah meja. "Ehmmm apa kira-kira maksudnya ya, aku kok ngga lihat apa-apa ya. Coba kamu lihat Cin", pinta Bambang kepada Dewi. Dewi pun melakukan apa yang diminta suaminya. Sama seperti Bambang, Dewi tidak melihat sesuatu yang menarik atau petunjuk baru dari arah jendela.

Dari posisi kursi yang mereka duduki, apa yang terlihat hanyalah tembok teras depan, tidak ada yang menarik dari tembok tersebut. Sambil berpikir Bambang bertanya kepada Ibu Diah, "Eyang maaf, apakah letak barang-barang disini dari dahulu seperti ini, atau sudah ditata ulang? Maksudnya mungkin sepeninggal Om Putra apakah kamar ini pernah ditempati orang lain, dan dirubah posisi barang-barangnya?".

"Tidak, kamar ini kosong sepeninggal Putra. Hanya beberapa kali saat ada tamu atau saudara yang datang, mereka tinggal di kamar ini", jawab Eyang Diah. "Eyang juga jarang masuk ke kamar ini, jadi tidak begitu paham apakah dulu letak barang-barangnya juga seperti ini", lanjut Eyang Diah. "Emmm begitu ya Eyang", jawab Bambang singkat sambil mengangguk.

Mereka pun melanjutkan pencarian di sekitar jendela, siapa tahu ada hal menarik atau petunjuk baru di darah tersebut  ini. Tiba-tiba, "Eyang ini photo siapa?", tanya Bayu kepada Eyang Diah sambil menunjuk sebuah photo di atas meja kerja. Seketika Eyang Diah pun mendekat, "Oh ini photo Putra, photo ini diambil sebelum dia berangkat ke Amerika untuk menjalani pendidikan penembak jitu”, jawab Eyang Diah.

"Gagah juga Om Putra" ujar Bayu kemudian. "Coba lihat photonya Bay", pinta Bagas. Bayu pun memberikan photo Putra yang Ia pegang kepada Bagas. Beberapa saat Bagas mengamati photo tersebut. Sejurus kemudian Bagas menghampiri Bambang yang kali ini tengah memeriksa ke bawah kolong tempat tidur. 

"Om lihat photo ini deh" kata Bagas kepada Bambang. Seketika Bambang pun keluar dari kolong dan berdiri. Ia mengambil photo dari tangan Bagas. "Oh ini yang namanya Om Putra", jawab Bambang. "Gitu doang?" tanya Bagas. "Apa lagi?", Bambang balik bertanya. 

"Om ngga lihat sesuatu di photo ini?" tanya Bagas lagi. "Iya lihat" jawab Bambang singkat. "Lihat apa coba?" tanya Bagas lagi. "Lihat lelaki berphoto mengenakan seragam di taman depan rumah sambil nenteng ransel berwarna hitam", jawab Bambang sedikit kesal dengan berondongan pertanyaan Bagas yang menurut dia tidak penting.

"Itu doang? Om ngga melihat ada petunjuk baru di photo ini", tanya Bagas. Pertanyaan yang seketika membuat Bambang tertarik untuk mencermati photo Putra anak Eyang Diah tersebut. Sejurus kemudian, "Hmmm nope, tidak ada yang menarik dari photo ini?", ujar Bambang. "Yakin?", kata Bagas. 

Dewi yang turut memperhatikan photo Putra pun kemudian berkata, "Kursi". "Nah....", ujar Bagas mengikuti kebiasaan Bambang jika tengah membenarkan sesuatu. Bambang kembali memperhatikan photo tersebut, "Kenapa dengan kursinya?", Bambang nampak masih belum paham dengan apa yang dimaksud Bagas dan Dewi.

"Dari sudut pengambilan photo ini terlihat posisi kursi ketika itu. Nah keliatannya letak kursi dan mejanya ngga sama seperti sekarang", Dewi menjelaskan. "Nah....", ujar Bagas lagi. "Coba", Bambang pun sekali lagi mengamati photo tersebut, terutama posisi kirsi yang nampak sedikit terlihat dari jendela kamar. 

Bambang pun berjalan menuju jendela dan melihat keluar, sejurus kemudian Ia melihat ke arah dalam kamar. Ia nampak tengah membayangkan sesuatu. Tiba-tiba, “Kita harus keluar", ujar Bambang sambil bergegas menuju taman depan rumah, tempat dimana photo tersebut dahulu diambil. Eyang Diah, Dewi, Bagas dan Bayu pun mengikuti dari belakang.

Bambang dan Bagas pun membuat reka adegan. Bagas sebagai Putra dan Bambang sebagai si pengambil photo, entah siapa ketika itu. Bagas dan Bambang mengambil posisi masing-masing. Kemudian Bambang meminta Bayu untuk kembali ke dalam kamar. Bayu pun menuruti perintah Bambang.

"Ke kiri sedikit Gas, maju sedikit dua langkah coba", seru Bambang memberi aba-aba mencocokkan seperti photo yang ada di tangannya. Bagas mengikuti apa yang diminta Bambang. "Ok pas, stop. Di situ dulu Om Putra berdiri", ujar Bambang. 

"Bay sekarang lo mundur ke arah tembok", perintah Bambang kepada Bayu. "Ok Om" jawab Bayu sambil mengangkat kursi yang ada di kamar Putra. "Coba ke arah kanan lo selangkah", suara Bambang kembali mengarahkan. "Sini?", sahut Bayu. Dewi dan Eyang Diah hanya memperhatikan apa yang terjadi.

"Yak, mundur sedikit kira-kira setengah langkah. "Cukup-cukup, coba lo taro kursinya di situ", lanjut Bambang. "Sip Om", jawab Bayu. Bambang dan Bagas pun segera kembali menuju kamar Putra. Saat Bambang dan Bagas sampai di kamar Bayu sudah terlebih dahulu duduk di kursi yang sudah diletakkan di posisi sesuai instruksi Bambang.

"Apa yang lo lihat Bay?", tanya Bambang penasaran. "Tidak ada, sama hanya tembok taman”, jawab Bayu perlahan. "Masak sih Bay", tanya Bagas penasaran. "Iya, coba aja lihat sendiri", jawab Bayu. Sejurus kemudian, Bambang, Bagas, Eyang Diah, dan Dewi pun bergantian duduk di kursi tersebut. Mereka pun tidak melihat ada tanda-tanda yang menarik.

Dengan sedikit putus asa Bambang berjalan menuju jendela, dia coba melihat lebih dekat tembok pembatas taman rumah Eyang Diah. Beberapa saat kemudian ia berkata, "Nampaknya tulisan di bawah meja Om Putra hanya sekedar tulisan biasa, tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang tengah kita cari. Bukan juga sebuah petunjuk".

Saat Bambang hendak berbalik, tiba-tiba pandangannya tersangkut kepada sebuah cat merah yang menempel di besi teralis jendela di kamar tersebut. Seketika Bambang memagang cat tersebut, dan memperhatikannya dengan lebih dekat. Kemudian Bambang berjalan mundur perlahan-lahan ke arah kursi bertanda panah di kamar ini.

Bagas dan Bayu saling pandang melihat apa yang dilakukan Bambang. "Gas coba lo jalan ke arah tembok sana", perintah Bambang kepada Bagas. "Mau ngapain Om?", tanya Bagas dengan nada heran. "Udah kesana aja, ntar gue arahin", jawab Bambang sambil terus melihat ke arah tembok taman.

Eyang Diah memberi tanda kepada Bagas untuk mengikuti apa yang diperintahkan Bambang. Bagas pun segera bergegas berjalan menuju tembok taman yang dimaksud Bambang. "Silakan Eyang duduk di sini", ujar Bambang mempersilahkan Eyang Diah duduk di kursi.

"Apa yang Eyang lihat", tanya Bambang kemudian. "Tidak ada, masih sama seperti yang tadi", jawab Eyang Diah datar. "Apakah Eyang melihat cat berwarna merah di besi itu?" tanya Bambang sambil menunjuk kearah jendela. "Iya Eyang lihat", jawab Eyang Diah. "Nah sekarang coba Eyang buat garis lurus dari tempat Eyang duduk, ke titik merah di teralis, dan kemudiam ke tembok taman", lanjut Bambang. Dewi dan Bayu memperhatikan.

Tampak dari tempat Eyang Diah duduk, teralis jendela yang berbentuk lingkaran dengan bagian pusat lingkarannya bertanda cat merah tersebut, menunjuk ke sebuah titik di tembok pembatas taman. "Saya kemana nih Om?", terdengar suara Bagas dari taman. "Ke tembok yang ada lumutnya Gas", jawab Bambang dari dalam kamar. "Ok", jawab Bagas singkat sambil menuruti apa yang dikatakan Bagas.

Memudian Eyang Diah, Bambang, Dewi dan Bayu pun segera bergegas menuju ke tembok tepat dimana Bagas sudah menunggu sesuai arahan Bambang dari dalam tadi. Bagas yang masih belum memahami petunjuk apa yang dimaksud pun hanya berdiri menunggu instruksi..

"Disini", ujar Bambang sesampainya di posisi Bagas sambil menunjuk ke sebuah titik tembok taman. "Apanya yang disini Om", sahut Bagas dan Abay nyaris bersamaan. "Jika ditarik garis lurus dari tembok, melalui besi teralis bertanda cat merah maka garis tersebut mengenai titik ini", jelas Bambang sambil menunjuk ke sebuah titik di tembok tersebut.

Tembok tersebut nampak lembab, dan berselimut lumut. Sejenak mereka memeriksa tembok tersebut dengan seksama. "Garis lurus tadi persis mengarah kesini", ujar Eyang Diah sambil meraba-raba susunan batu bata yang berada paling bawah dari tembok berlapis lumut tersebut. "Tidak ada tanda apa-apa", ujar Bayu. Tiba-tiba Bambang memungut sebuah ranting dan berkata, "Gas coba bersihin lumut nya".

Bagas pun segera meraih ranting yang diberikan Bambang dan membersihkan lumut yang menyelimuti tembok tersebut. Tampaklah sebuah tanda (Vi) di salah satu batu bata. Seketika mata Bambang, Dewi, Bagas dan Bayu pun berbinar gembira. 

Eyang Diah pun tak kalah bersemangat setelah melihat tanda tersebut. Seijin Eyang Diah Bagas dan Bayu pun akhirnya membongkar batu bata yang bertanda (Vi) tersebut. Di balik batu bata berlumut tersebut, mereka menemukan sebuah kotak kaleng dari kemasan sarden berukuran sedang. Mereka pun segera menarik kaleng tersebut dari tembok, dan membawanya menuju ke teras depan.

Eyang Diah, Bambang, Dewi, Bagas dan Bayu pun berkumpul di teras depan rumah. "Sekarang bagaimana?", tanya Eyang Diah bersemangat. "Kita harus membuka kotak ini Eyang", jawab Bambang. "Jadi tunggu apa lagi", ujar Dewi bersemangat. Bambang hanya mengangguk. 

Bambang mencoba membuka kotak tersebut, namun Ia nampak kesulitan. Kotak itu memang sudah mulai berkarat. Sejurus kemudian ia melihat ke arah Bagas. Mendapat tatapan tersebut Bagas nampak bingung, ia mengangkat bahu tanda bertanya. "Obeng negatif", kata Bambang, Dewi dan Bayu hampir bersamaan.

"Oh oke", sahut Bagas kemudian merogoh salah satu saku di tas punggungnya, dan memberikan apa yang Bambang minta. Sejenak Bambang terdiam ia menarik nafas panjang. Eyang Diah, Dewi, Bagas dan Bayu menatap Bambang dengan tatapan tidak sabar, mereka menunggu sesuatu. "Tunggu apa lagi?", tanya Eyang Diah memecah keheningan. "Baiklah", ujar Bambang perlahan sambil membuka kaleng sarden tersebut.

"Kréék..!!!", kalengpun terbuka. "Apa isinya?", tanya Dewi penasaran. "Kertas", jawab Bambang singkat. "Buka Om", seru Bayu tak sabar. “Iya sebentar", jawab Bambang. Eyang Diah memperhatikan dengan tatapan penuh keingintahuan. Bambang pun segera mengeluarkan kertas dari dalam kaleng, dan membukanya.

"Apa isinya", giliran Eyang Diah yang bertanya. "Nampaknya sebuah petunjuk baru lagi Eyang", jawab Bambang sambil menghela nafas, dan menyerahkan kertas tersebut ke Eyang Diah. Eyang Diah meneruskan kertas tersebut kepada Dewi, "Coba kamu bacakan, kacamata Eyang ada di dalam", pinta Eyang Diah. Dewi pun segera menerima kertas tersebut, dan membacanya.

2/2 - 10 Oktober 1997

Mata Dewa

Mahkota Bertemu Gelang

Pukul 7 RI Satu Terkapar

Menyatu Dalam Tulangku

Putra Pratama

NB: Dan Duniapun Dalam Genggamanmu

"Apa kira-kira artinya?", tanya Eyang Diah kepada Bambang sesaat setelah mendengar Dewi selesai membacakan isinya. "Saya juga kurang paham Eyang", jawab Bambang lemah. "Berarti kita harus pecahkan lagi Om", ucap Bagas. "Nampaknya begitu Gas., Sayangnya saat ini gue lagi males mikir. Kepala gue udah pusing", jawab Bambang dengan nada lemas. 

"Berapa surat lagi kira-kira ya?", ujar Bayu. "Maksud lo?", sahut Bagas. "Akan ada berapa petunjuk lagi sampai kita bisa menemukan barang itu?", Bayu menjelaskan. "Nah itu gue juga ngga tau", jawab Bagas. "Keliatannya ini yang terakhir", ujar Dewi tiba-tiba. "Iya surat ini adalah yang terakhir", Bambang menambahkan. "Darimana kalian tahu ini petunjuk yang terakhir?", giliran Eyang Diah yang bertanya. 

"Diawal tulisan tertulis 2/2, artinya ini surat kedua dari total dua surat. Coba di cek di buku, bisa jadi disana tertulis 1/2 yang berarti surat pertama dari dua surat", jelas Dewi panjang lebar. "Nah....", ujar Bambang membenarkan. Eyang Diah, Bagas dan Bayu pun mengangguk tanda mengerti.

Sebuah petunjuk baru, artinya perjalan untuk menemukan benda peninggalan Ridwan Siedjarwo masih panjang dan semakin rumit.

Rasa lelah dan kesal membuat mereka lupa melaksanakan ide Bayu untuk menyusun ulang pecahan guci yan dipercaya menjadi barang milik Ridwan Soedjarwo. 

Bersambung….

Buku

Buku Bambang Pamungkas, Ketika Jemariku Menari