Victory - "(nai__) - Episode 24"

Penulis: bepe, 21 July 2017

Suatu malam di daerah Kemang, Jakarta Selatan.

Bambang menghubungi salah satu sahabat lama nya. Seorang sahabat yang tidak biasa. Terdapat sebuah cerita dan peristiwa di masa lalu (tidak dapat diceritakan di sini) yang membuat dua sahabat ini tidak lagi dapat bertemu secara wajar. Mereka hanya berkomunikasi dalam keadaan-keadaan yang menurut mereka penting serta genting. Cara mereka bertemu pun tidak biasa. Mereka selalu bertemu di dalam gelap, iya benar-benar di dalam kegelapan.

"Om perlu saya tracking ngga? untuk jaga-jaga", ujar Bayu kepada Bambang. Mendengar ucapan Bayu seketika air muka Bambang berubah, ia menatap bayu. "Bay.!!", potong Bagas segera mengingatkan Bayu. "Oh ok maaf-maaf", ucap Bayu segera.

Mobil Shelby Mustang berwarna hitam yang dikendarai Bambang, Bagas, dan Bayu berhenti di sebuah perempatan. "Di mana rumahnya Om?", tanya Bagas kepada Bambang. "Itu rumahnya", jawab Bambang sambil menunjuk ke sebuah rumah yang berjarak kira-kira 50 meter dari tempat mereka berhenti. "Kenapa kita parkir di sini?", tanya Bayu menyambung. "Di sini saja", jawab Bambang singkat.

"Kalian tunggu di sini", ujar Bambang sebelum keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah yang tadi ia tunjuk. Sesekali Bambang nampak melihat ke sekitar. Beberapa saat setelah Bambang keluar dari mobil, Bayu bertanya kepada Bagas. "Ini siapa sih yang mau ditemuin, kok keliatannya misterius banget". "Gue juga ngga tau Bay, tapi siapapun dia pasti punya hubungan penting sama si Om", jawab Bagas. "Sepenting apa?", lanjut Bayu. 

"Nah itu gue ngga paham, yang gue pernah denger dari Tante Dewi, si Om sama orang ini dulu sahabat karib dan tugas bareng. Namun sejak terjadi sebuah peristiwa besar yang gue sendiri ngga tau apa itu, mereka harus pisah. Mereka hanya berkomunikasi pada saat-saat yang sangat penting saja, mereka selalu ketemu secara rahasia. Denger-denger setiap ketemuan dilakukan malam hari, dan mereka selalu matiin semua lampu di ruangan". jelas Bagas panjang lebar.

"Orang ini pemain bola juga?', tanya Bayu semakin penasaran. "Setau gue bukan", jawab Bagas. "Trus kalo bukan pemain bola apaan, bukannya setau gue si Om cuma pemain bola?", Bayu melanjutkan. "Nah itu juga yang menjadi pertanyaan gue ke Tante Dewi", jawab Bagas. "Apa jawaban dia Gas", tanya Bayu lagi. "Dia hanya tersenyum", jawab Bagas. "Misterius amat ni orang", ujar Bayu kemudian.

Sampailah Bambang di depan rumah yang ia tuju. Seorang penjaga berbadan tegap nampak menyambut Bambsng. "Malam", ujar Bambang menyapa. 

“Remember tonight…”, sapa penjaga tersebut. Sebuah kalimat yang nampaknya tidak biasa. “... for it is the beginning of always”, jawab Bambang. “Malam kapten, silakan masuk", lanjut si penjaga sambil membuka gerbang dan mempersilakan Bambang. Betul, ternyata kalimat tadi memang sebuah kata sandi. Mereka pun berjalan menuju sebuah ruangan di bagian belakang rumah ini. “Dante”, ujar Bambang lirih sambil tersenyum.

Setelah sampai si penjaga pun segera membuka pintu ruangan dan mempersilakan Bambang masuk, "Silakan kapten". "Terima kasih", jawab Bambang singkat dan kemudian memasukin ruang tersebut.

Suasana ruangan ini gelap gulita, hanya diterangi cahaya rembulan yang menyusup diantara kaca jendela. Bambang pun duduk di sebuah kursi. Suasana hening. Tak lama kemudian, "Piye kabare Nyo?", terdengar sebuah suara menyapa dalam bahasa jawa. Suara tersebut berasal dari arah depan Bambang duduk. "Alhamdulillah apik Dhul. Awake yo'opo kabare?", jawab Bambang. Mereka berdua pun berdiri saling mendekat dan berpelukan. "Wis suwe ora jagongan awake dewe hehehe", ujar orang yang dipanggil Dhul oleh Bambang tadi. "Iyo hehehe", jawab Bambang sambil tertawa ringan.

Mereka berdua pun kembali duduk saling berhadapan. Di dalam gelap di atas meja terdapat sebuah botol red wine. "Ngombe sik Nyo", ujar si Dhul sambil meraih botol, membuka dan menuangkannya ke dalam dua gelas wine. Sebuah aroma khas pun segera menyeruak ke udara. "Chateau Margaux", ujar Bambang setelah mencium aroma tersebut. "Hahahaha like the old days Nyo", jawab si Dhul sambil tertawa renyah. "Kakeane", jawab Bambang juga sambil tertawa. Suasana pun menjadi cair.

Chateau Margaux adalah jenis anggur merah berwarna sangat pekat dengan rasa yang cenderung pahit. Minuman yang sering mereka berdua minum saat masih sama-sama bertugas dahulu, iya bertugas dahulu.

"Ada apakah gerangan yang membuat kau menemuiku sahabatku?", ujar si Dhul membuka perbiacaraan sambil menyalakan sebuah cerutu. Aroma wangi cerutu pun segera memenuhi ruangan hingga menambah hangat suasana ruangan yang gelap ini. "Ada hal-hal yang aku ingin tanyakan Dhul. Mungkin kau bisa bantu", jawab Bambang. "Mengenai apa itu?", tanya Dhul kembali.

Kemudian Bambang pun menceritakan dengan singkat mengenai apa yang ia alami dan cari selama ini kepada si Dhul. Dhul sahabat Bambang nampak mendengarkan dengan sangat seksama sambil sesekali menyeruput anggur, atau menghisap cerutu di tangan kanannya.

Setelah selesai mendengar cerita Bambang hingga selesai, si Dhul pun menghela nafas panjang sambil berkata, "Interesting story, very interesting". "Jadi apa pendapatmu?", tanya Bambang kemudian. "Hmmmmm sebentar, sebentar...", si Dhul kembali menghela nafas. 

Tak lama kemudian Dhul berkata, "Lo inget Zvonimir?”. "Boban?, sahut Bambang menyebut salah satu mantan punggawan AC milan. "Hahahahaha assuuuuu, Biska tjuukk hahahahaha", ujar Dhul sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Oooohh Biska kakeane hahahahaha", Bambang pun ikut tertawa.

"Apa kabar dia, masih tugas di Moskow?" tanya Bambang kemudian. "Masih-masih, dua minggu lalu dia telefon gue", jawab Dhul. "Ada yang mau berkunjung ke Jakarta rupanya?, tebak Bambang. "No, no, no”, jawab Dhul singkat. "So?", tanya Bambang lagi dengan muka penasaran.

"So iku arane godhong mlinjo hahahaha", jawab Dhul menyucapkan guyonan lawas sambil tertawa menggida sahabatnya yang nampak penasaran. "Jancuuuukk koen, takon serius iki", jawab Bambang juga sambil tertawa. Mereka berdua nampak sangat menikmati perbincangan malam itu. Nampak jika sudah cukup lama dua sahabat ini tak bertatap muka secara langsung.

"Dua minggu lalu Biska telefon gue tanya mengenai hal yang sama seperti lo ceritain sekarang", jelas Dhul kepada Bambang. Dalam gelap air muka Bambang nampak berubah, ia nampak kaget. "Tau darimana dia mengenai hal ini Dhul", tanya Bambang. 

"Itu gue ngga tau, tapi intinya dia bilang ada sekelompok mafia Rusia yang juga lagi nyari barang yang sedang lo cari", jelas Dhul. "Mafia itu bagian dari sindikat bernama Black Hole", ujar Dhul menambahkan. "Opo iku Black Hole, bolongan silit tah?", tanya Bambang sambil tertawa, Bambang berpikir Dhul tengah mencoba mengarang cerita untuk membohongi nya.

“Masak lo ngga tau Black Hole?” ujar Dhul. “Black Hole yang mana nih?”, Bambang balik bertanya. “Venice, 1915”, lanjut Dhul. “Taaeekk, organisasi iku temenan ono tah”, jawab Bambang setengah tidak percaya. “Aku juga kaget ketika dapat informasi dari Biska, dan menanyakan hal yang sama”, ucap Dhul.

Wah berarti lumayan serius ini urusan Dhul”, Bambang melanjutkan. “As you know, kalo udah urusan sama orang Rusia berarti ngga bisa dianggep enteng Nyo”, jawab Dhul. “Hmmmmm…”, gumam Bambang. “Nyo lo masih ada kontak si Mo kan?”, tanya Dhul kepada Bambang. “Masih, udah lama ngga ngobrol sama dia Nyo, terakhir setelah kejadian di Amsterdam”, jawab Bambang. “Coba lo kontak dia, sekarang dia tugas di Moskow, siapa tau dia ada informasi tentang masalah ini”, saran Dhul. “Ok, besok gue kontak dia. Line yang biasa masih bisa dipakai kan?”, tanya Bambang menyinggung mengenai sebuah cara komunikasi mereka bertiga saat masih aktif bertugas dulu. “Masih lah”, jawab Dhul singkat.

Malam itu nostalgia dua sahabat tersebut semakin hangat. Topik pembicaraan mereka pun menjadi semakin jauh dan beragam. Tak terasa sudah satu setengah jam mereka hanyut dalam nostalgia yang menyenangkan. Setelah berpelukan dan saling mendoakan Bambang pun pamit.

Black Hole

Black Hole adalah nama sebuah organisasi yang bertujuan untuk mendata dan melindungi benda-benda bersejarah yang sebagian besar adalah hasil curian.

Organisasi ini dibentuk di Venesia, Italia. Berawal dari obrolan para bandit kelas atas yang sedang berlibur di salah satu kota di Italia bagian utara tersebut. Mereka bertanggung jawab dalam mendata dan melindungi benda-benda bersejarah di seluruh dunia. Benda-benda tersebut diantaranya adalah piala, lukisan, emas, dokumen, surat, patung, berlian, perhiasan dan masih banyak lagi. 

Black Hole sudah ada sejak tahun 1890an, namun baru resmi dikukuhkan pada tahun 1915 di Paris, Prancis. Ketakutan atau lebih tepatnya kecurigaan kepada sesama bandit, membuat mereka membuat sebuah organisasi yang bertujuan untuk mendata dan melindungi barang-barang berharga milik mereka tersebut. Black Hole memiliki agen-agen lapangan yang sangat terlatih dan sangat tangguh di bidangnya. 

Hingga saat ini Black Hole memiliki jaringan bawah tanah hampir di seluruh negara di dunia. Banyak anggotanya bahkan bekerja dalam struktur organisasi resmi sebuah negara. Seperti hal nya CIA, FBI, KBG, MI6, Mossad atau agen-agen rahasia yang lain Black Hole juga memiliki struktur dan sistem kerja yang sangat rapih.

Pertanyaan menariknya adalah mengapa sindikat Black Hole juga mengincar barang peninggalan Ridwan? Apakah Ridwan  juga salah satu anggota Black Hole? Apa barang peninggalan Ridwan jugalah barang curian? Apakah dua orang yang mengikuti Bambang dan Bagas di Rio de Janeiro dan Paris adalah agen lapangan Black Hole?

Bersambung....

Buku

Buku Bambang Pamungkas, Ketika Jemariku Menari