Victory - "(nai__) - Episode 22"

Penulis: bepe, 29 May 2017

Bandara Charles De Goulle, Paris, Prancis, beberapa jam kemudian.

Waktu menunjukkan pukul 08:15 pagi hari, ketika sebuah tepukan di pundak membangunkan Bambang dari tidurnya. "Om Bangun Om", sebuah tepukan yang berasal dari Bagas. "Hhooeemm", Bambang pun menguap sambil membuka mata perlahan-lahan, lalu ia melihat ke arah Bagas. Sejurus kemudian Ia melihat jam tangan yang berada di tangan kanannya sebelum berkata, "Sorry gue ketiduran". "Sama Om saya juga baru bangun", jawab Bagas.

"Jadi Bagaimana?", tanya Bambang kemudian. "Bagaimana apanya?", Bagas balik bertanya. "Tiket sudah aman? dapat flight jam berapa?", tanya Bambang lagi. "Wah ngigo nih, kan tadi kita sama-sama tidur, jadi ya kita belom dapet apa-apa lah", jawab Bagas. "Ooohhh..", Bambang mengusap wajahnya. "Yaudah tunggu apalagi, ayo kita cari", ajak Bambang kemudian berdiri. "Ayo lah", sahut Bagas. Mereka pun bergegas meninggalkan salah satu ruang tunggu di salah satu sudut bandara Charles De Gaulle.

Urusan tiket ternyata tidak memerlukan waktu begitu lama. Setelah selesai mengurus tiket, Bambang dan Bagas pun bergegas melakukan ceck in, dan kemudian menuju ke salah satu lounge di bandara ini. 

Seperti biasa mereka memilih tempat duduk di sudut ruangan. Mengingat sejak pagi belum menyentuh air sama sekali, maka mereka berdua pun bergantian menggunakan salah satu toilet di launge ini. Setelah lebih segar dan lebih rapi, Bagas dan bambang pun mengambil beberapa makanan dan minuman yang tersedia di launge tersebut.

"Ok kita punya waktu kurang lebih 5 jam sebelum boarding. Apa rencana kita sekarang Om?", tanya Bagas kepada Bambang. "Ada ide?", tanya Bambang balik. "Hmmm paling ya di launge ini sampai boarding", jawab Bagas agak ragu. "Keliatannya memang hanya itu", ujar Bambang. "Jadi kira-kira siapa orang-orang semalem itu?", tanya Bagas kemudian. "Gue ngga tau Gas, dari semalem gue juga lagi mikir, soalnya ini aneh", jawab Bambang.

"Anehnya? bukannya mereka Interpol. Pertanyaannya adalah kenapa kita jadi dikejar-kejar interpol ?", tanya Bagas lagi. "Itu satu pertanyaan Gas. Berikutnya, aneh ngga kalo misalnya bener mereka interpol, kenapa tiba-tiba ada sekelompok orang lagi yang malah nyerang Interpol, hingga secara tidak langsung bantuin kita untuk bisa kabur? Siapa mereka, dan untuk tujuan apa?, itu pertanyaan lain lagi", jelas Bambang. Bagas mengangguk sambil mengerutkan dahi tanda berpikir.

"Jadi maksudnya bagaimana ini Om, saya kok kurang paham ya", Bagas nampak bingung. "Begini, katakanlah saat ini kita dikejar-kejar oleh Interpol, namun disisi lain ada kelompok lain yang membantu kita dengan menyerang Interpol, sehingga kita bisa melarikan diri", jelas Bambang. "Trus?", tanya Bagas lagi.

"So, ada dua pertanyaan. Pertama, siapakah mereka yang menyerang Interpol tadi? apakah mereka sengaja ingin membantu kita, atau hanya segerompolan orang yang memang bermasalah dengan polisi?", jelas Bambang. "Kedua?", tanya Bagas. "Kedua. Apakah mereka benar-benar Interpol? karena kalo memang benar mereka interpol, maka kita tidak akan bisa keluar dari negara ini melalui jalur legal, termasuk pake pesawat gini ini Gas", kembali Bambang menjelaskan.

"Jadi kalo bukan Interpol siapa mereka Om?", tanya Bagas dengan mimik yang masih belom mengerti. "Gue ngga bilang kalo mereka bukan Interpol", jawab Bambang. "Jadi, ini maksudnya gimana sih?", Bagas semakin pusing. "Kita lihat saja nanti, apakah kita bisa menaiki pesawat atau ngga. Kalo kita bisa naik pesawat, maka kuat dugaan gue kalo orang-orang itu bukan dari Interpol", jawab Bambang. "Tapi siapapun mereka, dan siapapun yang menyerang mereka, menurut gue ini ada kaitannya dengan benda yang selama kita  cari", lanjut Bambang.

"Jadi kira-kira siapa mereka yang menyerang orang-orang yang katanya petugas Interpol tadi ya Om? kalo tujuan penyerangannya untuk menolong kita, trus tujuan mereka menolong kita untuk apa ya?", gumam Bagas perlahan kepada Bambang. "Kita pecahkan satu-persatu Gas, saat ini terlalu banyak teori. Jadi kita mulai dulu dengan apakah kita bisa terbang atau ngga, setidaknya itu bisa menjawab satu pertanyaan dulu", ujar Bambang. "Ok lah kalo begitu Om", jawab Bagas singkat.

Beberapa saat kemudian, "Gas, lo ada temen yang bisa dipercaya ngga?", tanya Bambang kepada Bagas. "Hah, dipercaya dalam hal apa nih Om?", Bagas balik bertanya. "Ya maksudnya temen deket atau sahabat yang bisa lo percaya, maksud gue dalam segala hal lah", jawab Bambang. "Hmmmm ada sih, untuk apa nih Om?", kembali Bagas bertanya. "Keliatannya kita butuh orang satu lagi untuk bantu kita. Orang yang bisa stay di Jakarta kalo misalnya kita harus traveling lagi kayak gini nih. Jadi kita bisa selalu update dengan perkembangan di Jakarta. Ya kasarnya dia jaga kandang lah", jelas Bambang.

"Hmmm sebentar, sebentar....", ujar Bagas sambil berpikir. "Emang Om ngga punya?", tanya Bagas kemudian. "Temen-temen gue punya kesibukan masing-masing, gue pengennya cari orang yang lebih fleksible. Nah anak-anak kuliahan kayak lo kan masih belom punya kegiatan tetap tuh, jadi bisa gerak lebih leluasa", Bambang menjelaskan. "Hmmm ok-ok. Ada sih tapi dia anaknya agak aneh Om", ujar Bagas. "Anehnya?", tanya Bambang. "Ya anak gadget gitu, kerjaannya maenan komputer dan tehnologi gitu lah", jelas Bagas.

"Lebih bagus lagi dong, artinya dia bisa bantu kita dari segi tehnologi, siapa tau nanti kita butuh", ujar Bambang. "Siapa namanya?", lanjut Bambang. "Hmmmm oke, namanya Bayu Om, temen main dari kecil", jawab Bagas. "Ok kalo Insya Allah kita bisa sampai Jakarta, kita ajak si Bayu ketemuan", pungkas Bambang. "Siap Om", jawab Bagas singkat.

Dan saat-saat yang paling mendebarkan pun tiba. 10 menit lagi pesawat Emirates tujuan Dubai yang rencananya akan ditumbangi Bambang dan Bagas segera boarding. Perlahan-lahan Bambang dan Bagas pun mulai merapat ke pintu tempat pesawat tersebut akan diberangkatkan. Semuanya berjalan dengan normal, tidak ada yang janggal.

"Gas kita menyebar, untuk jaga-jaga", ujar Bambang kepada Bagas. "Sip", jawab Bagas singkat. Mereka pun memisahkan diri, Bambang mengambil tempat duduk di ruang tunggu bersama penumpang lain, sedang Bagas masuk ke sebuah toko oleh-oleh tidak jauh dari pintu keberangkatan. Tak lama berselang, sebuah pengumuman terdengar dan pintu keberangkatan pun mulai dibuka. Satu demi satu penumpang mulai beratur untuk melakukan pemeriksaan boarding pass.

Bambang dan Bagas mengamati keadaan sekeliling dengan sangat seksama. Semua berjalan dengan normal, namun Bambang merasakan sesuatu yang sedikit mengganjal, entah apa....

Apa yang akan terjadi? Berhasilkan Bambang dan Bagas meninggalkan Paris? Apa kira-kira hal yang mengganjal di hati Bambang?

Ikuti kelanjutannya di episode berikutnya.

Bersambung....

Buku

Buku Bambang Pamungkas, Ketika Jemariku Menari