Victory - "(nai__) - Episode 21"

Penulis: bepe, 06 January 2017

Lanjutan:

Bambang dan Bagas pun segera bergegas mengikuti apa yang disarankan oleh Claudio. Mereka menuju dapur, dan kemudian keluar melalui jendela dan melewati tangga darurat menuju menuju kebawah apartemen. Tangga darurat tersebut berada diluar gedung. Baru baru beberapa langkah mereka menuruni tangga tiba-tiba Bambang berhenti, Ia seperti mendengar sesuatu. Bagas yang berada tepat dibelakang Bambang pun sontak ikut berhenti.

Kemudian Bambang membungkukkan badannya, Bagas yang nampak sedikit kebingungan pun mengikuti apa yang dilakukan Bambang. "Ada apa Om, kenapa kita berhenti?". Sambil tetap dalam posisi menunduk Bambang menjawab, "Ssstttt..", Bambang menempelkan telunjuk di mulut. "Kenapa?", tanya Bagas lirih. "Coba lo lihat kebawah, ada beberapa orang yang tengah berjaga-jaga", jawab Bambang sambil menunjuk kebawah. Bagas pun segera melongok kebawah. Benar apa yang dikatakan Bambang, di ujung tangga terlihat dua orang berjaket hitam nampak tengah berbincang-bincang, dan mengisap rokok.

"Siapa mereka?", kembali Bagas bertanya. "Gue juga ngga tau. Ada dua kemungkinan, mereka adalah petugas keamanan apartemen ini, atau mereka adalah anggota interpol seperti tadi yang dibilang Claudio", jawab Bambang. "Ehmmm jadi kita harus bagaimana?", tanya Bagas panik. Sejenak Bambang diam, kemudian Ia melihat ke sekitar. Sementara di dalam, Claudio tengah diberondong dengan beberapa pertanyaan oleh anggota interpol, yang berkunjung di tengah malam menjelang pagi tersebut.

Sejurus kemudian, "Gas lo takut ketinggian ngga?", tanya Bambang kepada Bagas. "Kenapa emangnya Om?, Bagas balik bertanya kepada Bambang. "Lo lihat itu", ujar Bambang sambil menunjuk ke sebuah konstruksi besi yang menyambungkan apartemen Claudio dengan gedung sebelah. "Iya saya lihat", jawab Bagas. "Keliatannya kita harus ke lantai paling atas, dan nyebrang ke gedung sebelah melalui rangka besi itu", ujar Bambang.

"Matilah....", gumam Bagas dalam hati. "Ngga ada jalan lain apa?", ujar Bagas setengah memohon. "Gue ngga melihat ada kemungkinan yang lain Gas. Kecuali kita mau ambil resiko turun kebawah, semoga aja mereka petugas apartemen bukan anggota Interpol.", jawab Bambang.

Bagas pun terdiam, Ia nampak tengah berpikir. "Bagaimana?", tanya Bambang kepada Bagas yang nampak ragu. "Hhmmm yaudah lah, mau gimana lagi", jawab Bagas dengan nada pasrah.

Kemudian Bambang dan Bagas pun menaiki tangga darurat hingga ke lantai paling atas. Setelah sampai ke atap, mereka pun menyeberang melalui konstruksi besi yang menghubungkan apartemen Claudio dengan gedung di sebelahnya. Apartemen Claudio sendiri terdiri dari 7 lantai, artinya mereka harus menyeberang melewati sebuah konstruksi besi yang melintas di ketinggian kira-kira 40 meter dari atas tanah.

"Bagaimana, yakin ya?", tanya Bambang sekali lagi kepada Bagas tepat sebelum mereka menyeberang. "Hmmmm yakin", jawab Bagas sambil menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kuat melalui mulut. Mereka berduapun mulai menyeberangi rangka besi di atap gedung tersebut. Jarak antara apartemen Claudio dengan gedung sebelah ini kira-kira 7-8 meter. Berbekal penerangan cahaya rembulan mereka pun merambat perlahan-lahan.

Tiga meter berhasil mereka lalui dengan sukses, masih ada kira-kira empat meter lagi yang harus dilewati. Sesekali Bambang melirik ke arah Bagas, terlihat Bagas merambat dengan sesekali menutup mata, Ia terlihat sedikit gemetar. "Aman Gas?", tanya Bambang kemudian. "Aaaaaman Om", jawab Bagas sedikit gemetar.  Tiba-tiba permukaan besi yang basah karena embun membuat kaki kiri Bagas terpeleset

Sontak keseimbangan Bagas pun terganggu, secepat kilat Bambang menjulurkan tangannya dan meraih tangan Bagas. "Klontang...". Kejadian tersebut menimbulkan suara besi beradu yang cukup keras. Dua orang penjaga yang berada di ujung tangga bagian bawah pun menoleh keatas.

Melihat orang yang mereka cari coba melarikan diri, dua penjaga tersebut pun berteriak, "Hey berhenti.!! Kalian berhenti.!!!". Kedua petugas tersebut pun mengacungkan pistol mereka ke arah Bambang dan Bagas. Hal tersebut membuat Bambang menarik tangan Bagas, dan meminta Bagas untuk lebih bergerak lebih cepat.

Melihat Bambang dan Bagas tidak menghiraukan peringatan mereka, salah satu dari petugas tersebutpun melepaskan sebuah tembakan peringatan ke arah atas. "Cepat Gas, ayo sedikit lagi", ujar Bambang memberi semangat kepada Bagas. Tembakan tersebut membuat Bagas gugup.

Melihat tembakan peringat yang Ia lepaskan tidak dihiraukan, petugas tersebutpun melepaskan sebuah tembakan lagi, kali ini ke arah Bambang dan Bagas. Tembakan tersebut mengenai besi tepat disamping Bambang, terdengar bunyi dentingan yang cukup keras. Keliatannya orang tersebut memang sengaja mengarahkan tembakannya ke sekitar target, tujuannya untuk kembali memperingatkan.

Tembakan tersebut membuat Bambang dan bagas panik. "Stop..!! Stop.!! Stop it..!!", kembali penjaga tersebut berteriak. Bambang dan Bagas tetap tidak menghiraukan peringatan dari dua penjaga tersebut. Mereka tetap saja berusaha untuk menyeberangi rangka besi tersebut, hingga akhirnya sampai ke tepian atap gedung sebelah.

"Robert monitor Robert", ujar penjaga tersebut kepada seseorang. "Yes, Karem", jawab orang yang bernama Robert. "Kami melihat dua orang yang kita cari berada di atap gedung, mereka coba untuk melarikan diri", lanjut penjaga tersebut.

"Ok lakukan sesuatu, jangan sampai mereka lolos. Aku segera ke atas", perintah Robert yang ternyata adalah orang yang bertamu ke apartemen Claudio. "Ok", jawab Jean singkat. Robert pun segera keluar dari apartemen Claudio dan berlari menuju tangga darurat.

Penjaga yang bernama Karem tersebut kembali melepaskan tembakan, kali ini lebih serius. Tembakan tersebut mengenai tas yang dikenakan Bagas. Bagas pun oleng, Ia tidak mampu menjaga keseimbangan. Bagas terpeleset dan terjatuh. Beruntung salah satu tangan Bagas masih sempat meraih salah satu rangka besi, sehingga membuat Bagas tak terhempas kebawah, Bagas pun bergelantungan tak berdaya.

Karem pun kembali berteriak memberikan peringatan. Bambang yang sudah berada di atap gedung sebelah, coba mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Bagas, namun sebuah tembakan lagi dari Karem yang hampir mengenai tangannya, membuat Bambang mengurungkan niatnya.

Bambang tidak mampu melakukan apa-apa untuk menolong Bagas, nyawa Bagas pun berada di ujung tanduk. Jika Bambang memaksakan diri untuk menolong Bagas, maka  bisa jadi tembakan berikutnya akan mengenai dirinya, atau Bagas yang saat ini dalam posisi bergelantungan, sehingga menjadi sasaran empuk.

"Tahan Gas", ujar Bambang menguatkan Bagas. Bambang melihat ke sekitar, Ia nampak mencari-cari opsi lain untuk dapat menyelamatkan Bagas. Sedang Bagas hanya dapat memegang rangka besi dengan sekuat tenaga, agar tidak terjatuh dari ketinggian 40 meter, Ia pasrah, muka Bagas nampak pucat.

Orang yang bernama Robert pun keluar dari tangga darurat di lantai 7. Melihat orang yang tengah Ia cari tengah bergelantungan, sambil mengarahkan moncong pistolnya ke arah Bagas,  Robert pun berkata, "Hold on son, I am going up". Keadaan pun menjadi semakin genting.

Bambang bersembunyi di balik tembok, Ia tidak mampu melihat ke arah Bagas yang raut wajahnya nampak meringis, dan tangannya mulai gemetar menahan berat badannya. "Matilah', ujar Bambang dalam hati. Karem dan satu temannya berdiri tepat di bawah Bagas.

Satu pistol mengarah ke Bagas dan satu lagi mengarah ke tembok tempat Bambang bersembungi. Sedang Robert nampak mulai menaiki tangga darurat kearah atap gedung menuju kearah Bagas. Keadaan pun semakin tegang.

Di tengah keadaan yang mencekam tersebut, tiba tiba terdengar suara sebuah tembakan. Bambang yang tengah bersembunyi di balik tembok sambil berpikir untuk mencari jalan keluar pun kaget bukan kepalang, Ia segera melongok ke arah Bagas. Terpikir di benak Bambang jika tembakan tersebut di arahkan kepada Bagas.

Namun saat Bambang melongok, ternyata Bagas masih saja bergelantungan di posisi yang sama. Kemudian terdengar suara rentetan tembakan. Ternyata tembakan yang mengagetkan Bambang tadi berasal dari kelompok lain, yang diarahkan kepada Robert, Karem dan satu temannya.

Tiga orang yang mengaku interpol itu pun kaget bukan kepalang. mereka pun segera membalas tembakan dari orang tak dikenal tersebut.

Melihat tiga orang yang mengaku dari Interpol tersebut sibuk membalas tembakan, Bambang pun segera bereaksi. Ia melihat jika inilah satu-satunya peluang untuk dapat menyelamatkan Bagas. Maka secepat kilat Bambang pun segera meraih tangan Bagas.

"Ayo Gas", ujar Bambang sambil menarik tangan Bagas. Berkat bantuan Bambang, dengan susah payah Bagas pun dapat kembali mengendalikan keadaan, Ia berhasil memperbaiki posisi, dan menyusul Bambang menyeberang ke atap gedung sebelah.

Namun sayang, buku catatan Bagas yang berada di saku tas terjatuh. Padahal semua catatan petunjuk yang dapat mereka kumpulkan sejauh ini ada di buku tersebut.

"Yah bukunya jatuh Om", ujar Bagas pasrah sambil melongok ke bawah. "Udah Gas, catatan itu ngga sebanding dengan nyawa kita. Ayo kita pergi dari sini", jawab Bambang sambil terus menarik tangan Bagas.

Bambang dan Bagas pun segera menghilang di kegelapan malam. Meninggalkan tiga petugas Interpol yang tengah sibuk baku tembak dengan orang yang tidak dikenal. Tujuan Bambang dan Bagas adalah bandara internasional Charles De Goulle.

Siapakah 3 orang yang mengaku interpol tersebut? Siapa juga orang yang melepaskan tembakan ke arah 3 interpol yang membuat Bambang dan Bagas dapat melarikan diri? Berhasilkah Bambang dan Bagas meninggalkan Paris?

Hmmmm.....

Bersambung....

Buku

Buku Bambang Pamungkas, Ketika Jemariku Menari