Victory - "(n a _ _ _) - Episode 20"

Penulis: bepe, 01 January 2016

Lanjutan....

Sejurus kemudian, "Maaf anda siapa?", tanya Bambang kepada orang yang berdiri di dekat meja Bambang dan Bagas tersebut. "Kalian ingin bertemu Julio?", tanya orang tersebut lagi, masih dengan tatapan tajam, dan nada yang kurang ramah. "Betul", jawab Bagas. "Untuk urusan apa kalian ungin bertemu Julio?", tanya orang tersebut lagi. "Kami tidak memiliki masalah dengan Julio, kami hanya ingin bertanya tentang sesuatu, tidak ada niat jahat sama sekali", Bambang coba menjalaskan.

"Apa yang ingin kalian tanyakan?", kembali orang tersebut bertanya. "Kami....", Bagas baru mau mulai menjelaskan, sebelum akhirnya Bambang memotong, "Maaf, kami hanya ingin bertanya kepada Julio, bukan orang lain. Saya tidak memiliki urusan dengan anda, jadi sebaiknya jangan ganggu kami".

Mendengar jawaban Bambang orang tersebut diam, sejenak Ia berpikir, sejurus kemudian Ia membalikkan badan, dan mengangkat sebuah kursi dari meja sebelah yang memang tengah tak terpakai. Hal tersebut membuat Bambang dan Bagas waspada, dalam hati Bagas berkata, "Wah bakal panjang nih urusan". Bambang pun kemudian berdiri dalam posisi siaga. Suasanapun menjadi tegang.

Kemudian orang tersebut membalikkan badan, dan meletakkan kursi di meja Bambang dan Bagas, kemudian Ia pun duduk. Melihat orang tersebut duduk Bambang pun ikut duduk, mereka bertiga sama-sama diam. Bambang dan Bagas saling pandang. Sejurus kemudian, "Aku yang bernama Julio", ujar orang tersebut sambil menyodorkan tangannya.

Beberapa detik kemudian, Bambang pun menyambut tangan Julio sambil berkata, "Oh ok, aku Bambang dan ini temanku Bagas". Bagas pun turut menjabat tangan Julio, dan memperkenalkan dirinya. Suasanapun menjadi lebih cair.

"Darimana kamu mendapat informasi mengenai keberadaanku disini?", tanya Julio kepada Bambang. "Hmmm jadi begini....", dan Bambang pun mulai menceritakan kepada Julio, dari awal permasalahan hingga ada akhirnya Ia dan Bagas memutuskan untuk terbang ke Paris mencari dirinya. Bermula dari catatan kakek Bagas, hingga mereka disarankan oleh Viktor untuk menemui Julio di Paris.

Julio mendengar cerita Bambang dengan sangat seksama, sesekali Ia nampak matanya berkaca-kaca. Apa yang Bambang sampaikan ternyata mengembalikan ingatan Julio pada masa-masa saat Ia masih di Rio de Janeiro, dan tinggal bersama seluruh keluarga besarnya, yang saat ini telah meninggal dunia semua.

Setelah Bambang selesai bercerita, Julio berkata, "Disini aku menggunakan nama Claudio. Tidak ada yang tau jika namaku yang sebenarnya adalah Julio". "Menurut Viktor kamu bekerja di OKA, oleh karena itulah kami mencarimu ke OKA. Namun mereka mengakatan jika tidak ada chef bernama Julio disana. Sekarang kita paham, yang mereka tau Claudio bukan Julio", ujar Bagas. "Betul. Aku dulu memang pernah bekerja disana, namun sejak 2 tahun lalu aku memutuskan untuk membuka restoran sendiri", jawab Julio.

"Maaf sebelum semakin jauh, sebaiknya kami memanggilmu apa, Julio atau Claudio", tanya Bambang kemudian. "Hmmmm sebaiknya Claudio saja", jawab Julio. "Baik", jawab Bambang singkat.

"Jadi apakah kamu bisa membantu kami?", tanya Bagas kepada Claudio. "Sejujurnya aku kurang begitu yakin. Karena saat itu usiaku masih sekitar 7 tahunan. Jadi aku tak begitu ingat dengan apa yang aku lihat", jawab Claudio.

"Tidak apa-apa, tidak masalah. Bisa jadi dari sedikit yang kamu ingat itu, dapat memberikan dampak yang besar bagi pencarian kami", ujar Bambang. "Jika tidak keberatan, mungkin kamu bisa menceritakan apa yang kamu tau dan ingat kepada kami", tambah Bagas.

Sejenak Claudio terdiam, kemudian Ia memejamkan mata. Claudio nampak tengah coba mengingat apa yang Ia lihat 29 tahun yang lalu, saat ayah dan dua pamannya berdiskusi mengenai sebuah benda yang akan dimasukkan kedalam sebuah guci. Sementara itu Bambang dan Bagas menunggu penuh harap.

Tak lama kemudian, Claudio membuka matanya. Setelah menarik nafas panjang Ia pun mulai bercerita. "Ketika itu.....", tiba-tiba Claudio berhenti, kemudian Ia melihat ke sekeliling ruangan kafe Laduree ini. Bambang dan Bagas yang sedari tadi menunggu penuh harap pun turut melihat sekeling, seperti apa yang dilakukan oleh Claudio. Tidak ada yang janggal di kafe ini, semua nampak normal.

"Ada apa? kenapa berhenti?", tanya Bambang kepada Claudio. "Sebaiknya kita mencari tempat lain yang lebih aman", jawab Claudio. "Memang disini kenapa?", giliran Bagas yang bertanya. Bambang dan Bagas nampak penasaran. "Bayar tagihan kalian, dan ikuti aku", jawab Claudio kemudian. Bambang dan Bagas pun saling pandang. "Bagaimana? kalian mau tau ceritanya atau tidak", tanya Claudio. Bagas pun segera memanggil pramusaji, dan membayar tagihan mereka. Setelah itu mereka bertiga pun bergegas keluar dari kafe tersebut.

"Ini kita kira-kira mau kemana Om?", tanya Bagas dengan nada yang sedikit cemas. "Pertanyaan bagus", jawab Bambang. "Claudio, mau kemana kita?", tanya Bambang kepada Claudio. "Ikut saja, kita cari tempat yang aman untuk berbicara", jawab Claudio. Mereka pun berjalan menyusuri jalanan Paris yang nampak masih ramai. Waktu menunjukkan pukul 00:25 dini hari.

Tak lama kemudian sampailah mereka ke sebuah taman yang berada diantara Champ-Elysees dan Place de la Concorde. Taman kota yang bernama Jardin des Champ-Elysees. Claudio terus berjalan menuju ke tengah taman, Bagas dan Bambang mengikuti dibelakangnya. Taman ini masih cukup ramai, walau waktu sudah sangat larut. Di kejauhan nampak menara Eiffel berdiri anggun dibalut kilauan cahaya lampu kuning keemasan.

Kemudian Claudio berhenti, Bambang dan Bagas pun ikut berhenti. Sejurus kemudian, "Kita bicara disini saja, disini lebih aman, tidak ada orang yang mendengar apa yang kita bicarakan". "Hmmmm boleh juga ide Claudio, di taman ini semua sibuk dengan urusan masing-masing, jaraknya pun juga berjauhan, mereka saling tak peduli", ujar Bambang dalam hati. Mereka pun berdiri membentuk segitiga, dan saling berhadapan.

Sementara itu di salah satu sudut di taman Jardin des Champ-Elysees, seseorang tengah menghubungi seseorang melalui telefon. 

"Hallo", ujar orang tersebut. "Bagaimana, kalian masih bersama mereka?", jawab orang diujung telefon. "Masih bos, sekarang mereka tengah bertemu dengan seseorang di sebuah taman. Apa yang harus kami lakukan?", tanya orang yang menelefon. "Ikuti terus. Jangan melakukan tindakan yang membuat mereka curiga. Tugas kalian hanya mengikuti mereka, dan melaporkan ke aku. Jika waktunya sudah tepat kalian baru boleh bertindak", perintah orang diujung sana. "Baik, kami akan ikuti terus", ujar orang tersebut dan kemudian menutup telefon.

Kembali ke Bambang, Claudio dan Bagas.

"Jadi apa yang kamu ingat?", tanya Bambang kepada Claudio. "Jadi begini. Saat itu.....", dan Claudio pun mulai menceritakan apa yang Ia ingat, dari peristiwa 29 tahun yang lalu tersebut.

Rumah Dragao, Sao Conrado, Rio de Janeiro, Brazil, 1984.

Waktu menunjukkan pukul 9:15 hari, ketika tiga orang kakak beradik tengah berbincang-bincang di paviliun depan rumah mewah milik Dragao (Rigoberto). Mereka adalah Rigoberto, Alemao, dan Branco, tiga orang pemimpin geng paling ditakuti di kawasan Rio de Janeiro dan sekitarnya. 

Sambil berbincang-bincang mereka duduk mengelilingi sebuah meja. Di atas meja terdapat dua buah benda, benda pertama adalah sebuah guci, sedang yang kedua adalah sebuah patung seorang perempuan yang terbuat dari emas. Patung perempuan tersebut berdiri di atas batu mulia berwarna biru tua, berbentuk persegi delapan.

"Bagaimana caranya memasukkan benda ini kedalam ini?", tanya Rigoberto kepada dua adiknya sambil menunjuk kedua benda tersebut. "Benda ini lebih tinggi daripada guci, tidak akan masuk", jawab Alemao berpendapat. "Hmmm  sebenarnya ada dua hal yang bisa kita lakukan", Branco. "Apa itu?", tanya Rigoberto dan Alemao hampir bersamaan.

"Pertama, kita cari guci yang lebih besar. Kedua, kita bagi patung ini menjadi dua bagian", jelas Branco. "Bagi menjadi dua bagian? bagaimana maksudmu?", tanya Alemao. "Patung ini kan terdiri dari dua bagian, atas dan bawah. Kita pisahkan saja kedua bagian tersebut. Kita kirim bagian patung tanpa dasarnya", jelas Branco. "Gila, mana mungkin dia mau. Dia pasti menginginkan patung dalam keadaan utuh", ujar Alemao. 

Rigoberto hanya memperhatikan kedua adiknya yang tengah berdebat tersebut, dalam diam Ia berpikir. "Kalo begitu kita ganti saja dengan guci yang lebih besar", kembali Branco menyampaikan usulnya. "Menurut ku itu lebih masuk akal", jawab Alemao. "Iya mungkin itu cara terbaik", ujar Branco sambil mengangguk-anggukkan kepala.

"Bagaimana?", tanya Alemao kepada Rigoberto kakaknya yang masih saja diam. Sejurus kemudian, "Tidak, tidak bisa. Orang itu memesan barang ini satu paket. Jadi tidak mungkin kita tukar", jawab Rigoberto.

"Jadi?", tanya Branco. "Sebentar aku akan menghubunginya. Aku akan berdiskusi dengan dia bagaimana baiknya", ujar Rigoberto sambil berdiri dan berjalan menghampiri pesawat telefon yang berada di ujung ruangan.

Kemudian Claudio diam, Bambang dan Bagas yang sedari tadi dengan khusuk medengarkan cerita Claudio pun, saling seketika saling pandang. "Trus?", tanya Bagas kepada Claudio. "Hmmm hanya itu yang aku ingat", jawab Claudio. "Jadi di bagian mana ayahmu memperlihatkan benda itu kepadamu?", giliran Bambang bertanya.

"Sebenarnya ayahku tidak pernah secara spesifik memperlihatkan benda itu kepadaku. Hanya saja saat mereka bertiga berbincang-bincang aku juga tengah bermain-main di ruangan tersebut. Jadi sekilas aku mendengar percakapan mereka, dan juga melihat benda yang mereka perbincangkan", jawab Claudio panjang lebar.

"Apa yang terjadi setelah ayahmu menghubungi Ridwan? Bagaimana keputusan mereka? Apakah akhirnya mereka menukar guci nya, atau malah memotong patung menjadi dua bagian?", tanya Bagas dengan antusias. "Itu aku tidak tau", jawab Claudio. "Kenapa kamu tidak tau, kan tadi kamu bilang berada di ruangan yang sama dengan mereka?", tanya Bambang. "Betul. Namun saat ayahku berbicara dengan orang melalui telefon, kakakku memanggilku dan mengajak bermain di halaman, aku pun keluar dari ruangan itu", jelas Claudio.

"Yaaah ngapain lo pake acara keluar sih?", tanya Bagas dengan nada kecewa kepada Claudio. "Lah kenapa jadi lo marah Gas?", tanya Bambang kepada Bagas. "Eh sorry, sorry terbawa suasana Om. Jadi geregetan saya", jawab Bagas. "Jadi hanya itu yang aku tau. Dan apakah itu bisa membantu kalian, aku tak tau", ujar Claudio.

"Oh sangat, sangat membantu", jawab Bambang meyakinkan Claudio. "Akan lebih membantu lagi, kalo kamu tidak meninggalkan ruang saat ayahmu menelefon. Jadi kamu tau kelanjutan kejadiannya", sambung Bagas. "Gas..!!!", Bambang memperingatkan Bagas lagi. "Eh lupa, lupa, maaf hehehe", jawab Bagas cengengesan. 

"Ok coba sekarang kita susun informasinya. Gas catat", perintah Bambang. "Siap 86", jawab Bagas sambil mengeluarkan buku kecil untuk mencatat. "Jadi benda itu berupa patung?", tanya Bambang. "Yes", jawab Claudio. "Berbentuk seorang perempuan dan terbuat dari emas?", tanya Bambang lagi. "Entah dari emas atau hanya dilapisi emas, aku tidak begitu pasti", jawab Claudio lagi. "Patung perempuan itu berdiri di atas batu alam berwarna biru tua?", Kembali Bambang bertanya. "Betul", jawab Claudio singkat.

"Sudah Gas?", giliran Bambang bertanya kepada Bagas. "Sip", jawab Bagas. "Namun bagaimana akhirnya keputusan mereka, kamu tidak tau?", Bambang memastikan. "Begitulah", jawab Claudio. "Hhmmmm tapi ngomong-ngomong kenapa kamu keluar dari ruangan ya? Padahal kan.....", tanya Bambang kembali kepada Claudio sebelum, "Om..!!!", sekarang giliran Bagas yang memperingatkan Bambang. Bambang pun kemudian menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum kecut.

"Kalian tinggal di hotel mana?", tanya Claudio kepada Bambang dan Bagas. "Hhhmmm sejujurnya kami baru mendarat di Paris sore tadi. Dan belum tau mau bermalam dimana, kami belum memesan kamar di hotel manapun", jawab Bagas. "Mungkin kamu ada rekomendasi tempat yang murah dan nyaman untuk bermalam? besok rencananya kami akan pulang ke Jakarta", sambung Bambang.

"Kalo kalian mau, kalian bisa menginap di apartemenku. Sayang hanya semalam tinggal di hotel. Tapi apartemenku tidak besar, mungkin kalian bisa tidur di sofa di ruang tamu", Claudio menawarkan bantuan. Bambang dan Bagas pun saling pandang. Bagas kemudian berbicara dengan bahasa Indonesia kepada Bambang. "Gimana Om, boleh juga tuh daripada kita bayar hotel. Lagian cadangan dana udah menipis nih, karena buat beli tiket kesini dari Rio kemarin". 

Bambang mengerutkan darinya, Ia mempertimbangkan. Sejurus memudian, "Aku hanya ingin membantu, karena kalian keliatannya orang baik. Namun jika kalian tidak bersedia, tidak apa-apa juga", ujar Claudio. "No, No, No bukan begitu Claudio jangan salah paham. Kami hanya tidak ingin merepotkan saja", Bambang coba menjelaskan.

"Yak elah, udah terima aja", kembali Bagas berbicara menggunakan bahasa Indonesia kepada Bambang. Tak lama kemudian Bambang pun berkata, "Baik jika kamu tidak keberatan, maka kami akan menginap di tempatmu. Terima kasih sebelumnya". "Tidak, sama sekali, it's ok, lets go", sahut Claudio sambil mengajak Bambang, dan Bagas meninggalkan Jardin des Champ-Elysees. Waktu menunjukkan pukul 01:15.

Apartemen Claudio tak begitu jauh dari Jardin des Champ-Elysees ini, kira-kira 10-15 menit berjalan kaki, masih di area-area Champ-Elysees juga. Apartemen Claudio memang tidak besar, namun tidak juga dapat dikatakan kecil. Apartemen ini terdiri dari 1 kamar, ruang tamu, dan juga dapur. Walaupun tidak besar namun apartemen ini sangat bersih dan nyaman. Pemandangan dari balkon apartemen Claudion juga tidak mengecewakan, menara Eiffel terlihat indah dari kejauhan.

"Jam berapa pesawat kalian besok?", tanya Claudio kepada Bambang dan Bagas. "Hmmm sejujurnya kami juga belum mendapatkan tiket, malam ini atau besok pagi kami baru akan mencarinya", jawab Bambang. "Ok, kalian memiliki waktu hanya sampai jam 8 disini, karena besok aku harus berangkat bekerja pagi-pagi. Ngga masalah kan?", ujar Claudio. "Baik. Tidak masalah sama sekali", jawab Bagas. "Iya tidak masalah besok pagi kami bisa sedikit berkeliling kota Paris, sebelum ke bandara", sambung Bambang.

"Okay, buat diri kalian nyaman. Toilet disana, dan jika ada yang haus, di kulkas ada beberapa minuman ringan, bir, dan juga jus. Air putih bisa langsung dari keran. Aku mau mandi dan tidur, hari ini perkerjaanku banyak sekali", ujar Claudio menjelaskan. "Ok-ok terima kasih banyak", jawab Bambang dan Bagas. Dan Claudio pun memasuki kamarnya.

Tak lama kemudian. "Ah akhirnya bisa ngecas handphone juga", ujar Bambang dalam hati sambil mengeluarkan charger, dan menancapkannya ke sebuah colokan yang ada di samping sofa. Sejurus kemudian, "Bagaimana menurut lo tentang informasi yang kita dapatkan sejauh ini Gas?", tanya Bambang kepada Bagas. "Sangat positif Om, saya pikir kita bergerak maju", jawab Bagas diplomatis. 

"Coba lo keluarin catatan-catatan lo, gue ke kamar mandi dulu sebentar. Habis itu kita diskusikan dan buat kesimpulan", ujar Bambang. "Ok", jawab Bagas singkat. Tak lama kemudian Bambang kembali.

"Bagaimana?", tanya Bambang. "Ini catatan dari semua informasi yang kita dapatkan hingga saat ini", jawab Bagas sambil menyodorkan sebuah buku catatan kecil berwarna coklat. "Laptop lo nyala?", tanya Bambang. "Nyala, kalo toh baterenya habis kan bisa dicolokin", jawab Bagas. "Ok coba kita cari tau melalui internet, mengarah ke apa semua informasi ini", ujar Bambang.

"Kesimpulan sampai sebelum kita berangkat ke Brazil adalah sebuah guci emas, peninggalan dari suku Inca atau Chibcha, bergambar seorang perempuan atau laki-laki", Bambang membuka pembahasan. "Betul", jawab Bagas singkat. "Namun setelah kita ke Brazil dan pada akhirnya mendapatkan informasi yang membawa kita sampai ke Paris, kesimpulan kita itu ternyata kurang pas", lanjut Bambang. Bagas menganggukkan kepala.

"Informasi tambahan yang kita dapatkan adalah guci ternyata bukan terbuat dari emas. Namun isi didalam guci yang terbuat dari emas. Yaitu sebuah patung perempuan yang tengah berdiri di atas batu berwarna biru tua", Bambang membacakan kesimpulan yang Ia tulis. "Ditambah lagi, patung itu ada kemungkinan dipisahkan antara bagian patung yang terbuat dari emas, dan dasarnya yang terbuat dari batu", sambung Bagas. "Persis", timpal Bambang.

"Nah yang harus kita cari tau adalah, patung apa yang berharga semahal itu? Walaupun terbuat dari emas, tapi perkiraan gue ngga akan semahal itu kalo itu patung biasa. Apalagi itu terjadi di tahun 80an. Pasti ada sesuatu yang spesial dari patung itu", Bambang berpendapat.

"Bisa jadi itu patung memang peninggalan dari suku-suku yang kita maksud kemarin Om? Misalnya patung salah satu Dewa atau Dewi mereka. Mungkin kan?", ujar Bagas. "Hmmmm sebentar-sebentar, diantara suku di amerika selatan tersebut salah satunya memang penyembah Dewa. Suku Chibcha dikenal menyembah Dewa Matahari, selain itu mereka juga diyakini menyembah Dewi Pengunggu Danau Suci, atau Dewi Guavita", jawab Bambang.

"Nah bisa jadi patung di dalam guci itu adalah patung Dewa Matahari, atau Dewi Guavita", ujar Bagas. "Bisa jadi, coba lo search penampakan Dewa Matahari, atau Dewi Guavita", pinta Bambang. Bagas pun melakukan apa yang diminta oleh Bambang.

Sejurus kemudian, "Tidak ada data-data mengenai dua Dewa itu Om. Rujukan yang keluar malah Dewa Matahari dari Mesir Kun yaitu Ra, atau sering diucapkan sebagai Rah, tetapi lebih tepat sebagai RE. Menurut catatan sejarah Mesir kuno, Ia dipercaya untuk memimpin langit, bumi, dan di bawah tanah", jelas Bagas. 

"Hmmm saya sih ngga yakin yang dimaksud si RE ini ya. Pertama, karena tidak pernah ada rujukan mengenai adanya sebuah patung Dewa Matahari dari emas. Kedua, kalo yang dimaksud Dewa Matahari dari mesir, kenapa itu patung berada di Brazil?", lanjut Bagas.

Bambang mendengarkan apa yang disampaikan Bagas sambil mengetuk-ngetukkan pulpen ke keningnya. Ia berpikir, mencoba merangkai semua petujuk yang mereka dapatkan. "Hmmmm patung emas, berwujud Dewa/Dewi, dasarnya batu berwarna biru, berada di Brazil, tahun 1984", gumam Bambang kemudian.

Saat Bambang dan Bagas tengah mencari segala kemungkinan yang berkaitan dengan pentunjuk dan informasi yang mereka dapatkan, tiba-tiba ponsel Bambang bergetar. Sebuah pesan masuk. "Siapa jam segini ngirim WA?", ujar Bambang sambil meraih ponselnya yang tengah di charge. Sejurus kemudian, "Wah Oma Diah Gas", ujar Bambang dengan nada semangat. "Apa isinya Om?", tanya Bagas tak kalah semangat. "Sebentar gue bacain ya", jawab Bambang

"Nak Bambang. Sekedar menyampaikan jika catatan yang ditinggalkan Mas Ridwan, sebenarnya berkaitan dengan sebuah patung seorang Dewi yang terbuat dari emas. Semoga dapat menjadi tambahan informasi".

"Wah, jangan-jangan Oma Diah pernah lihat patungnya? coba tanya Om", ujar Bagas. "Jangan-jangan begitu", ujar Bambang yang kemudian menulis balasan WA buat Oma Diah. Namun tiba-tiba Bambang mengurungkan niatnya untuk menulis. Kemudian Ia berkata kepada Bagas, "Gue telfon aja kali ya, toh sekarang di Jakarta udah jam hampir jam 9 pagi". "Setuju", jawab Bagas singkat. 

Maka Bambang pun menghubungi Oma Diah melalui telefon. Ia sengaja menggunakan speaker, agar Bagas juga dapat mendengarkan percakapan antara dirinya dengan Oma Diah.

"Selamat pagi ibu. Apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat", ujar Bambang membuka pembicaraan.

Oma Diah: "Selamat pagi. Alhamdulillah kabar Ibu baik. Ini masih di Brazil?"

Bambang: "Oh tidak Ibu, kami sekarang tengah berada di Paris. Petunjuk yang kami dapatkan selama berada di Brazil membawa kami ke Paris".

Oma Diah: "Oh begitu, baik-baik. Jadi, sejauh ini Informasi apa saja yang sudah kalian dapatkan?"

Bambang: "Sampai saat ini kesimpulan yang kami dapatkan adalah benda tersebut berkaitan dengan, sebuah patung dewa/dewi yang terbuat emas, dan ditaruh didalam guci. Patung tersebut berdiri dari dua bagian, bagian atas terbuat dari emas sedang bagian bawah dari batu pualam berwarna biru. Demikian Ibu."

Oma Diah: "Bukan-bukan, bukan begitu. Memang betul jika patung emas tersebut berbentuk seorang perempuan, lebih tepatnya seorang dewi yang tengah mengembangkan sayapnya, sambil mengangkat sebuah cawan. Namun tidak ada bagian yang terbuat dari batu pualam berwarna biru".

Bambang: "Ibu pernah melihat langsung patungnya?"

Oma Diah: "Iya Ibu pernah melihatnya. Kapan kalian pulang, nanti ibu perlihatkan juga guci yang dimaksud dalam catatan itu".

"Ibu menyimpan gucinya?", kali ini Bambang bertanya dengan nada kaget.

Oma Diah: "Ada di rumah Ibu".

"Patung nya juga?", tanya Bambang penuh harap.

Oma Diah: "Kalo patung nya tidak. Ketika itu Mas Ridwan bilang, jika dia ingin menyimpan patungnya.

Bambang: "Jadi dimana keberadaan patung tersebut Ibu?".

Oma Diah: "Ibu tidak tau. Mas Fidwan dan Putra yang menyimpannya".

Bambang: "Mohon maaf sebelumnya, siapa itu Putra Ibu?",

Oma Diah: "Kapan kalian pulang. Nanti ibu ceritakan semuanya secara gamblang mengenai apa yang Ibu tau. Termasuk juga mengenai Putra".

Bambang: "Oh baik Ibu. Rencananya besok sore kami pulang. Dan Insya Allah lusa kami sudah berada di Jakarta. Segera setelah kami mendarat kami akan ke rumah Ibu Diah".

Oma Diah: "Baik Ibu tunggu". Dan pembicaraan pun berhenti.

Informasi yang  baru saja disampaikan oleh Oma Diah membuat Bambang dan Bagas semakin bersemangat. Merekapun segera menyusun ulang data-data dalam kesimpulan yang telah mereka buat tadi. 

Tak lama kemudian. "Informasi dari Claudio adalah jika patung itu terdiri dari dua bagian. Dan terjadi perdebatan antar Dragao, Alemao dan Branco mengenai apakah perlu dipotong atau dicarikan guci baru yang baru lebih besar", ujar Bambang. "Sedang menurut Oma Diah patung emas itu hanya terdiri dari satu bagian saja. Berbentuk perempuan yang tengah mengembangkan sayapnya, sambil mengangkat sebuah cawan", lanjut Bambang sambil membuat coretan kesimpulan baru, dalam sebuah kertas.

"Jadi bisa jadi keputusan mereka adalah memotong patung tersebut menjadi dua bagian", lanjut Bambang. Bagas hanya memperhatikan, sambil bersiap mengetik sesuatu yang berkaitan dengan kesimpulan baru yang tengah dibuat oleh Bambang. Sejurus kemudian. "Coba lo cari ini Gas", ujar Bambang kepada Bagas. 

"Ok. Patung emas seorang dewi yang tengah mengembangkan sayap, sambil mengangkat sebuah cawan. Kata bantu lain mungkin bisa dicoba Brazil, suku Inca, suku Chibcha, dewa, dewi, 1980an, harta karun, hilang, dicuri ataaauuu...... Allahu Akbar...!!! jangan-jangan", tiba-tiba Bambang berhenti.

Seketika Bagas pun menghentikan pencariannya, dengan nada penasaran Ia bertanya, "Jangan-jangan kenapa Om?". "Sebentar-sebentar Gas", ujar Bambang sambil membuka halaman di buku catatan yang berisi catatan Ridwan Soedjarwo. "Yah mulai lagi kan, ada apa sih Om?", ujar Bagas sewot. Bambang hanya mengangkat telunjuk tangan kanannya, sebagai isyarat kepada Bagas untuk menunggu sebentar.

"Gila. Sekarang gue tau kenapa kakek lo memberikan buku biografi Bung Karno itu ke gue Gas. Coba sini pinjem laptop lo", ujar Bambang dengan muka yang tidak percaya, sambil meminta lapotop yang tengah digunakan Bagas. Bagas pun menyodorkan laptop nya, muka Bagas masih nampak masam menahan rasa penasaran.

Bambang pun mengetik sesuatu, tak lama kemudian. "Ini adalah patung yang kita cari", ujar Bambang sambil mengarahkan layar laptop ke Bagas. Sejenak Bagas melihat gambar yang terpampang di layar tersebut.

"Jadi ini patung yang kita cari?", komentar Bagas datar. "Iya. Dalam mitologi Yunani kuno dia adalah Dewi kekuatan, kecepatan, dan kemenangan. Itu lah kenapa, setiap kalimat awal di baris-baris pertama catatan kakek lo menggambarkan sosok seperti perempuan. Namun, di akhir kalimat selalu menggambarkan sosok laki-laki. Karena, meskipun seorang Dewi namun dia adalah simbol kekuatan, kecepatan dan kemenangan, yang identik dengan laki-laki", ujar Bambang

Kemudian Bambang melanjutkan, "Dia sering digambarkan memiliki sayap, baik dalam lukisan maupun patung. Konon katanya sebagian besar Dewa dan Dewi Yunani kuno memang memiliki sayap. Bangsa Romawi menyebutnya Dewi Victoria, itulah mengapa kakek lo meninggalkan simbol (Vi) yang berarti Victory di catatan". Bagas mendengar seluruh penjelasan Bambang sambil sesekali menganggukkan kepala.

"Dalam berbagai dongeng kuno Dewi Victoria disebut-sebut sebagai putri dari Pallas (Titan), dan Stiks (Dewi Sungai). Victoria atau Victory ini adalah saudara kandung Kratos, Bia, dan Zelos", Bambang kembali menjelaskan. "Sebentar-sebentar, sebelum saya jadi semakin ngga mudeng, satu pertanyaan dari dari saya. Mengapa patung itu begitu spesial hingga dihargai 8 Juta Dollar?", potong Bagas.

"Mengapa patung itu spesial?. Gue ngga tau harus menggunakan kalimat apa agar pas, untuk menggambarkan mengapa patung Dewi Victoria ini begitu special. Tapi intinya begini, patung ini hilang sejak tahun 1983, dan sampai saat ini tidak pernah ditemukan. Selama ini orang menduga, jika patung ini telah dilebur dan dijual oleh pencurinya dalam bentuk lempengan emas, karena memang patung tersebut terbuat dari emas murni. Tapi ternyata semua dugaan itu salah. Ternyata selama ini patung itu berada di tangan kakek lo", jelas Bambang. "Baiklah....", gumam Bagas perlahan.

"Trus siapa anak muda yang tengah mencium patung ini, apakah dia si mencuri patung Victory?", tanya Bagas kemudian. "Lo ngga tau dia?", tanya Bambang dengan nada heran kepada Bagas. Reaksi Bambang itu hanya ditanggapi Bagas, dengan mengangkat bahu dan tangan saja. 

"Dia adalah Edson Arantes d.......", belum sempat Bambang menyelesaikan penjelasannya, tiba-tiba pintu kamar Claudio dibuka dari dalam. Bagas dan Bambang pun sontak mengarahkan pandangan mereka ke pintu, nampak Claudio keluar sambil memegang ponsel nya. Sejurus kemudian Claudio berkata, "Sebaiknya kalian segera pergi dari sini". "Ada apa? Mengapa kami harus pergi?, tanya Bambang heran. 

"Baru saja aku menerima telefon dari seseorang, nampaknya dari interpol, mereka bertanya mengenai kalian. Saat ini mereka sudah berada dibawah, dan sedang menuju kesini. Sebaiknya kalian segera pergi", ujar Claudio. "Claudio kami sudah berhasil memecahkan teka-tekinya dan ternyata benda itu adalah.....", belum selesai Bagas bercerita, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar.

"Cepat pergi, keluarlah dari jendela dapur, dan gunakan tangga untuk turun kebawah. Ini kartu namaku, hubungi aku besok", ujar Claudio memerintahkan Bambang dan Bagas untuk pergi. Secepat kilat Bambang dan Bagas pun mengemas barang-barang mereka, dan pergi melalui jalan yang ditunjukkan oleh Claudio.

Seketika suasanapun menjadi tegang.

Victory Seri Satu Selesai....

Buku

Buku Bambang Pamungkas, Ketika Jemariku Menari