Rumah Bambang, Jakarta Selatan.


Terdengar suara pintu diketuk dari luar, dengan segera Dewi berjalan ke arah pintu dan membukanya. “Hai Cin”, sambut Dewi setelah melihat siapa yang ada di balik pintu. “Hai”, dan sebuah ciuman pun mendarat di kening Dewi. “Gimana acaranya? sukses”, tanya Dewi kemudian. “Alhamdulillah”, jawab Bambang sambil melepas sepatu, dan meletakkannya di rak sepatu yang berada di bawah tangga. 


“Ada Bagas sama Bayu tuh”, lanjut Dewi. “Hah dimana? naik apa mereka, kok ngga ada mobilnya? udah lama?”, berondongan pertanyaan meluncur dari mulut Bambang. “30 menitan lah, itu lagi pada di teras belakang. Katanya naik Vespa, trus mereka parkir di pos”, jawab Dewi sekaligus. “Oooo pantes”, Bambang pun berjalan menghampiri Bagas, dan Bayu ke teras belakang.


Bagas, dan Bayu segera bangkit dari duduknya ketika melihat Bambang muncul dari balik pintu. Mereka pun saling bersalaman. “Udah lama?”, tanya Bambang basa-basi. “Lumayan Om, tadi dari Kemang lihat-lihat kamera trus iseng mampir ke sini. Eh Om nya ngga ada”, Bagas coba menjelaskan. “Iya tadi ada ngisi seminar sebentar. Lagian ngga pada telefon dulu”, jawab Bambang. “Seminar apaan Om, biasanya apa yang dibahas?”, tanya Bayu kemudian. “Biasalah seminar tentang kepemudaan. Peran generasi muda dalam pembangunan karakter bangsa. Akhir-akhirnya juga ngomongin motivasi”, jawab Bambang sambil tersenyum. “Wah berat tuh materi hehehe”, ucap Bayu sambil nyengir.


“Om sebenarnya kami ke sini karena ada sesuatu yang kita pengen Om lihat”, ujar bagas kemudian. “Apa, ada perkembangan apa?”, tanya Bambang. “Bay”, Bagas memberi kode kepada Bayu. “Hhhmmm sebaiknya kita cari ruangan yang lebih gelap, di sini terlalu banyak sinar akan kurang jelas”, jawab Bayu. “Yaudah di ruang kerja gue aja”, ujar Bambang sambil mengajak Bayu dan Bagas menuju sebuah ruangan di lantai dua.


Sesampainya di ruangan yang dimaksud, Bayu pun segera menyambungkan sebuah alat melalui USB ke laptopnya. “Apa nih?”, tanya Bambang saat melihat sebuah benda seperti payung tanpa kain dengan panjang kira-kira 35 CM. “Lihat saja nanti”, ujar Bayu sambil membuka benda tersebut dan meletakkannya di lantai ruang kerja Bambang. Ternyata benda tersebut membentuk sebuah segi delapan berdiameter kira-kira 70 sentimeter dengan optik di setiap ujungnya. Bambang masih saja diam dan memperhatikan.


“Sudah siap?”, tanya Bayu kepada Bambang dan Bayu. “Surprise me”, ujar Bambang. “Matiin lampu Gas”, pinta Bayu kepada Bagas. Kemudian Bayu menekan tombol enter dari komputernya, seketika kilatan cahaya muncul dari delapan optik di setiap ujung segi delapan tadi. Cahaya berwarna biru kehijau-hijauan memantul membentuk pusaran yang berpusat di tengah. Seketika muncul sebuah bentuk empat dimensi sebuah benda menyerupai guci.


Bambang tidak dapat menutupi ketakjubannya. “Waaahh”, gumam Bambang tanpa sadar. Benda menyerupai guci tersebut memutari porosnya searah jarum jam dengan perlahan. Bambang masih terpaku. “Ini hasil hasil reka bentuk dari susunan pecahan guci di rumah Eyang Dyah Om”, ujar Bagas. “Iya gue tau”, jawab Bambang perlahan sambil memperhatikan detail tanda-tanda yang berada di kulit guci dengan lebih dekat. Bambang coba melihat apakah ada tanda atau tulisan tertentu di guci tersebut..


“Kira-kira segini bentuk guci aslinya Bay, atau?”, tanya Bambang kepada Bagas. “Karena beberapa bagian pecahan nampaknya hilang atau pecah terlalu kecil sehingga ada bagian yang tidak ada, maka analisa saya kalaupun lebih besar tidak akan lebih dari satu atau maksimal dua senti Om, dan tidak mungkin lebih kecil”, jawab Bayu detail. “Gas berapa tinggi piala Jules Rimet?”, tanya Bambang kepada Bagas. “Hmmm kira-kira 35 sentimeter”, jawab Bagas. “Ngga akan masuk, guci ini tingginya kira-kira hanya 30 senti. Berarti bukan ini barangnya”, sahut Bayu dengan nada sedikit kecewa. “Pas”, sahut Bambang kemudian. “Hah, bagaimana bisa?”, tanya Bayu dengan nada penasaran.


“Coba jelasin Gas”, pinta Bambang kepada Bagas. “Ok. Piala itu terdiri dari dua bagian, bagian tubuh yang terbuat dari emas, dan tatakan atau dasar yang terbuat dari lapis lazuli berwarna biru. Menurut penelusuran kita sebelumnya, kedua bagian tersebut sudah dipisahkan. Hanya bagian yang terbuat dari emas yang dimasukkan ke dalam guci dan dibawa ke Indonesia. Jadi…”, belum sempat Bagas menyelesaikan penjelasannya, tiba-tiba Bambang menimpali. “Jadi yang diperlukan hanyalah guci dengan ukuran 30 senti bukan 35 senti”. “Nah”, sambung Bagas setelah menghela nafas. Bayu menganggukkan kepala mendengar penjelasan Bambang dan Bagas, Bayu mulai mengerti.


“Eyang Diah udah lihat ini?”, tanya Bambang kemudian. “Ya belum lah”, ujar Bayu dan Bagas hampir bersamaan. “Berarti kita harus ke Menteng, siapa tau hal ini bisa membantu Eyang Diah mengingat sesuatu”, lanjut Bambang. “Setuju”, sahut Bagas. “Eh ngomong-ngomong kalian udah pada makan?”, tanya Bambang. “Ya belum lah”, jawab Bayu semangat. “Hahahaha yaudah ayo kita makan dulu”, lanjut Bambang sambil tertawa. Mereka pun bergerak menuju meja makan.


Di meja makan Dewi sudah menyiapkan sajian makan siang. Ikan gurame goreng, sambel terasi, lalapan, sayur asem, ikan asin, tempe dan tahu goreng, serta sudah barang tentu pete (pete mentah bukan goreng, rebus, atau bakar) kesukaan Bambang.


“Ayo makan, seadanya ya, beginilah makanan dia kalo di rumah”, ujar Dewi mempersilakan sambil melirik ke arah Bambang. “Lho tante ngga makan sekalian”, ucap Bagas ketika melihat Dewi tidak ikut duduk. “Duluan aja, aku bikin makan siang si ragil dulu, sudah mau diantar soalnya”, jawab Dewi meminta mereka makan terlebih dahulu.


“Ayo-ayo”, ajak Bambang. “Tuan rumah dulu lah”, jawab Bayu diikuti senyum Bagas. Bambang pun segera mengambil nasi dan lauk-pauk. Bagas dan Bayu mengikuti setelahnya. Di tengah-tengah makan tiba-tiba Bagas bertanya, “Om selama ngisi seminar atau kelas motivasi, sering dapat pertanyaan aneh-aneh ngga Om?”. “Sering lah”, jawab Bambang sambil menyuapkan nasi ke mulutnya. “Apa yang paling aneh?”, sahut Bayu. “Apa ya?”, Bambang mengerutkan dahi coba mengingat. “Yang paling susah deh, apa yang paling susah?”, lanjut Bayu.


“Oh ini, sebentar”, Bambang mengentikan ucapannya, ia meraih air putih di dalam gelas kemudian meminumnya. Sejurus kemudian mengambil tisu mengelap mulutnya dan berkata, “Apa persamaan antara pejuang dengan pecundang?”. “Gampang dong, persamaan pejuang dan pecundang adalah mereka sama-sama memperjuangkan mimpinya. Yang satu berhasil yang satu gagal, selesai perkara”, jawab Bayu dengan nada yakin. “Tidak salah, namun terlalu biasa, kurang memiliki nilai filosofis”, ujar Bambang.


“Jika bisa dipermudah kenapa harus dipersulit”, Bayu coba membela diri dengan jargon sarkasme yang biasa disampaikan oleh kebanyakan orang Indonesia. “Begini, terkadang agar kalimat motivasi itu mengena dan melekat pada ingatan seseorang, maka cobalah untuk menyampaikan dengan cara yang berbeda. Dengan bahasa yang lebih indah misalnya, dengan cerita misalnya, atau sedikit kiasan, walaupun maksud sebenarnya sama”, ujar Bambang mengawali penjelasan. 


“Emang jawaban filosofis menurut Om apa? lagipula menurut saya tidak ada persamaan antara pejuang dengan pecundang, kalo sama maka seharusnya hasilnya juga sama.”, giliran Bagas mendebat.


“Ada dong. Kita mulai dari yang paling mendasar saja. MIsalnya pejuang dan pecundang adalah sama-sama manusia.”, ujar Bambang. “Itu nenek saya yang jadi kiper juga tau”, sahut Bagas, kalimat yang disambut tawa ringan oleh Bayu. “Karena mereka sama-sama manusia maka mereka juga sama-sama memiliki ambisi dan cita-cita”, ujar Bambang lagi. “Itu kakek saya yang jadi cheerleader juga tau”, sahut Bayu tidak mau kalah dari Bagas, giliran Bagas yang tersenyum kecut.


Bambang tidak menimpali guyonan Bayu dan Bagas, ia melanjutkan, “Karena memiliki ambisi dan cita-cita, maka mereka juga akan sama-sama berusaha untuk mewujudkannya. Nah, dalam proses mewujudkan ambisi dan cita-cita tersebut, mereka juga akan sama-sama menghadapi halangan dan rintangan. Dalam proses tersebut, reaksi merekalah yang pada akhirnya membuat mereka bisa dimasukkan kedalam golongan pejuang, atau pecundang”.


Bambang menghentikan ucapannya, ia kembali meneguk air putih dari gelasnya. Bagas dan Bayu mulai tertarik dengan apa yang disampaikan Bambang. “Pada akhirnya suatu saat nanti mereka juga akan sama-sama menceritakan kisah mereka tersebut kepada orang lain. Itulah kira-kira persamaan diantara mereka”, Bambang kembali melanjutkan. 


“Trus dimana letak filosofisnya Pak guru?", Bayu nampak mulai kesal dengan penjelasan Bambang yang menurut dia bertele-tele. “Sabar nak, dengarkan bapak menjelaskan sampai selesai terlebih dahulu”, timpal Bagas sambil tersenyum.


“Nah, di cara mereka menceritakan itulah letak menariknya”, Bambang kembali berhenti, kali ini Bambang meraih garpu, menusukkan garpu ke buah pepaya, dan memasukkan kedalam mulutnya. Bambang sengaja mengulur-ulur waktu.


“Gas pantes kalo banyak orang sebel sama ni orang”, ujar Bayu jengkel. “Hahahaha lo baru sekarang kan ngerasain, gue udah lama dongkol sama dia. Gimana tante Dewi, pantes tante Dewi kurus.”, ujar Bayu tak kalah jengkel. 


Bambang tetap tenang, tidak terpengaruh sama sekali dengan keluhan dua anak muda dihadapannya. Sejurus kemudian Bambang melanjutkan kalimatnya, “Seorang pejuang akan menceritakan masa lalu nya agar dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Sedang pecundang menceritakannya dan menjadikannya alasan pembenar mengapa pada akhirnya ia gagal”.


Kalimat yang sontak membuat Bagas dan Bayu terdiam dan berpikir, mereka coba mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut manusia menjenggkelkan bernama Bambang Pamungkas tersebut.


Bersambung....