Dalam temaram aku terpaku di pojok malam.


Hujan kenangan diterpa angin membekukan angan.


Tatapan basah nan gelisah siap untuk berpisah.


Bukan kesedihan, bukan, sama sekali bukan.


 


Indonesia itu sakral.


Diperjuangkan dengan pengorbanan di luar akal.


Dimerdekakan agar kita menjadi kekal.


Kemudian, pantaskah kita berbuat dajal.


 


Kucoba berdiri tegap. 


Di tengah murahnya sikap.


Ruam dimakan pengap.


Dalam lembab.


Aku terjerembab.


 


Penghormatan hanya bagi mereka yang menganggukkan kepala kepada penguasa.


Kehormatan untuk mereka yang rela mati bagi masa depan penuh asa.


Kubuka lembaran kasih dengan rasa bangga, kututup kisah dengan jiwa merdeka. 


Aku mati dengan sepenuh hati.


 


Kutitipkan seonggok harapan kepadamu.


Bermainlah untuk dirimu, orang-orang yang kamu cintai, dan lambang garuda di dadamu.


Doaku menyertai setiap perjuanganmu....