Gate E45, Bandara Charles De Gaulle, Paris


Setengah penumpang sudah memasuki pesawat. Bambang masih saja duduk di ruang tunggu, sesekali ia nampak mengamati keadaan sekitar, semua nampak normal, tidak ada yang aneh. Sementara Bagas mulai beranjak meninggalkan toko oleh-oleh dan mulai berjalan memasuki ruang tunggu.


Tiba-tiba ponsel Bagas bergetar, sebuah panggilan masuk, Bagas pun segera mengangkat panggilan tersebut. "Yes Om", ujar Bagas. "Lo masuk duluan ke pesawat ya", ucap orang di seberang yang ternyata adalah Bambang. "Ok", jawab Bagas. Bagas pun langsung mengambil posisi antrian untuk memasuki pesawat. 


Tak lama berselang Bambang juga mulai mengambil posisi antrian, kira-kira 20 orang di belakang Bagas. Antrian terjadi dalam dua baris memanjang, Bagas dan Bambang sengaja mengambil antrian jalur berbeda.


Satu per satu penumpang menyodorkan passport dan boarding pass masing-masing, dan petugas pun memeriksanya dengan seksama. Sesekali petugas nampak mencocokkan foto di passport dengan muka si penumpang, untuk memastikan jika mereka adalah orang yang sama. 


Giliran Bagas pun tiba, ia menyodorkan passport beserta boarding pass nya. Petugas yang kebetulan berjenis kelamin perempuan mengecek passport dan boarding pass Bagas. Sejurus kemudian petugas tadi mengambalikan passport dan menyobek boarding pass Bagas, dan Bagas pun lanjut memasuki garbarata menuju pesawat.


Beberapa saat kemudian giliran Bambang sampai kepada petugas pemeriksa. Berbeda dengan Bagas, petugas yang memeriksa Bambang adalah seorang laki-laki. Beberapa saat petugas tersebut melihat dokumen milik Bambang, setelah merasa yakin petugas pun mengembalikan dokumen dan mempersilahkan Bambang lewat. 


Seketika Bambang pun menarik nafas lega, "Fuuiihh, aman", ujar Bambang lirih. Namun baru beberapa langkah Bambang berjalan, tiba-tiba petugas tadi memanggil, "Excuse me Sir". Jantung Bambang seketika berhenti berdetak, perlahan-lahan ia menoleh ke arah si petugas, "Yes”, ujar Bambang lirih berusaha menutupi ketegangannya.


"Bisakah anda menunggu di sini sebentar", ujar si petugas sambil menunjuk ke sebuah sudut tidak jauh dari tempat petugas tersebut berdiri. “Why?”, tanya Bambang dengan muka setengah pucat. “Just wait sir, i’ll come back to you soon”, ujar petugas tersebut. "Matilah" ucap Bambang dalam hati. Bagas yang melihat kejadian tersebut dari kejauhan pun memutuskan keluar dari antrian memasuki lambung pesawat. 


Dari kejauhan Bagas bertanya dengan kode mendongakkan kepala kepada Bambang. Bambang memberi jawaban dengan kode menggelengkan kepala sekali yang berarti meminta Bagas untuk lanjut memasuki pesawat. Bagas tetap berdiri di tempatnya, ia nampak penasaran mengapa Bambang diberhentikan. 


Bambang kembali memberi kode agar Bagas masuk ke pesawat. Bukannya memasuki pesawat, Bagas malah keluar dari antrian dan berjalan kearah Bambang. Baru tiga langkah bagas berjalan, Bambang kembali memberi kode kali ini dengan muka marah. Seketika Bagas pun berbalik badan dan masuk kembali ke dalam antrian memasuki pesawat.


Bagas terkulai lemas di tempat duduknya, mukanya nampak pucat. 10 menit berlalu dan Bambang masih saja belum keliatan batang hidungnya. Bagas menunggu dengan harap-harap cemas, ia penasaran, apa kira-kira masalah yang dihadapi Bambang di pintu pemeriksaan tadi.


Semua kursi di pesawat sudah nampak terisi, semua penumpang sudah memasuki pesawat, hanya kursi di sebalah Bagas yang masih kosong, Bambang masih saja belum memasuki pesawat. Bagas menyalakan ponselnya dan coba menghubungi Bambang, namun nomer Bambang tidak aktif. Bagas mulai khawatir, sesekali ia melongok ke lorong ke arah pintu pesawat yang berada di depan. Bambang masih belum nampak terlihat memasuki pesawat.


Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk, "Gas gue ngga bisa terbang, sampe Jakarta lo langsung ke rumah gue, temuin Dewi. Dia tau apa yang harus dilakukan“. Bagas pun langsung menekan nomer Bambang, namun nomer Bambang tetap tidak aktif. Bagas menghentakkan kepalanya ke senderan kursi, ia marah.


Terdengar suara pengumuman di pesawat, pilot menjelaskan mengenai segala sesuatu yang perlu penumpang tahu sebelum pesawat lepas landas. Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu pesawat ditutup. “F*ck”, maki Bagas dalam hati.


Bagas merasa menyesal karena mengikuti perintah Bambang untuk memasuki pesawat terlebih dahulu. Bagas merasa bersalah. Sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa. Nampaknya pencarian benda peninggalan yang ia percaya berupa Piala Jules Rimet akan berakhir disini, Ia pasrah. Yang ada di benak Bagas adalah memberitahu Dewi ketika mendarat di Dubai nanti, sesuai dengan pesan Bambang. “Namun bagaimana cara aku bercerita kepada tante Dewi?”, tanya Bagas dalam hati.


Pesawat pun berlari dengan kencang di landasan pacu dan tak lama kemudian terbang meninggalkan Bandara Charles de Gaulle, Paris.


Selama perjalanan Bagas gelisah, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menyampaikan berita ini kepada Dewi istri Bambang. Ia juga tidak tahu bagaimana nasib Bambang di Paris. Satu yang ada dalam benaknya saat ini, pencarian benda milik kakeknya berhenti sampai disini. 


Tujuh setengah jam perjalanan dari Paris menuju Dubai menjadi perjalanan paling tidak menyenangkan yang pernah Bagas alami.


Sebuah restoran di Kemang Village


Dewi tengah berbincang-bincang dengan beberapa temannya, seperti biasa ibu-ibu yang selesai mengantar anak mereka ke sekolah kemudian melakukan janji temu untuk sarapan bersama-sama. Ketika tengah seru berbicang-bincang, tiba-tiba ponsel Dewi berbunyi, Dewi pun segera meraihnya.


"Hallo", sapa Dewi ramah. "Hallo, ini Bagas tan", jawab orang di seberang sana. "Oh Gas bagaimana, sedang dimana ini?", tanya Dewi. "Saya sedang di Dubai tan, transit menuju Jakarta", jawab Bagas. “Oh udah sampe Dubai, nah Bepe nya mana kok malah kamu yang telefon aku?", tanya Dewi lagi. "Nah itu dia tan..." tiba-tiba suara Bagas berhenti. "Itu dia bagaimana Gas? Gas, hallo, hallo", Dewi coba memanggil Bagas. Sambungan telefon terputus.


Apa yang terjadi dengan Bambang?


Satu per satu penumpang memasuki pesawat dengan tertib, melewati Bambang yang masih berdiri menunggu dengan harap-harap cemas. "Mohon tunggu sebentar ya", ujar si petugas kepada Bambang. Bambang hanya mengangguk dengan mimik muka yang tetap mencoba tenang.


Ketika penumpang sudah tinggal beberapa orang lagi, petugas lain menghampiri Bambang. "Maaf karena menunggu terlalu lama", ujar si petugas. "Tidak masalah", ujar Bambang datar. Kemudian si petugas berbicara melalui walkie talkie dengan seseorang. 


Sejurus kemudian. "Mr Bambang jadi begini, karena anda adalah anggota kelas platinum kami, dan dalam catatan kami anda pernah mengalami permasalahan kenyamanan penerbangan di penerbangan terakhir anda dengan kelas bisnis dari Dubai ke Manchester. 


Maka sebagai bentuk permohonan maaf kami, dalam penerbangan dari Paris ke Dubai ini anda akan kami upgrade ke kelas bisnis. Namun hanya dari Paris ke Dubai. Anda akan kembali ke kelas ekonomi untuk Dubai ke Jakarta", petugas tersebut menjelaskan dengan panjang lebar.


Air muka Bambang yang tadinya khawatir pun seketika berubah. Seketika Bambang teringat dengan peristiwa saat Ia mengalami gangguan pada sistem “ICE” (Information, Communication, Entertainment) selama perjalan dari Dubai ke Manchester, saat didaulat menjadi salah satu pembawa obor Olimpiade London beberapa bulan lalu.


“Baik, terima kasih", jawab Bambang. "Enjoy your flight sir", ujar si petugas sambil memberikan boarding pass yang baru kepada Bambang. "Thank you", ucap Bambang sambil menerima boarding pass dan selanjutnya berjalan memasuki pesawat.


Bambang berniat menghampiri Bagas di kelas ekonomi, namun tiba-tiba ide jahil muncul di kepalanya. Ia pun mengurungkan niatnya dan menuju kelas bisnis melalui lorong khusus untuk kelas bisnis. Sesampainya di kursi sesuai boarding pass, Bambang pun merogoh ponsel di saku jaketnya. Kemudian ia menyalakan dan menulis sebuah pesan yang ditujukan kepada Bagas. Setelah selesai ia pun kembali mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali kedalam saku. 


Bambang tersenyum membayangkan mimik Bagas ketika nantinya membaca pesan yang ia kirim. Tiba-tiba terdengar suara pramugari menawarkan sesuatu, "What do you want to drink before take off Mr Bengbeng?”. Nama Bambang memang selalu berubah sengau ketika dilafalkan oleh orang bule. Sejenak Bambang melihat deretan minuman di baki yang dibawa si pramugari. "Champagne please", jawab Bambang sambil tersenyum. "Sure”, ujar pramugari. “Ini juga ada komplemen dari kami”, lanjutnya sambil meletakkan sebuah bungkusan kecil berwarna emas yang ternyata berisi coklat.


Pesawat pun berlari dengan kencang di landasan pacu, dan tak lama kemudian terbang meninggalkan Bandara Charles de Gaulle.


Tanpa Bambang dan Bagas sadari dua orang yang membuntuti mereka ketika bertemu Claudio di Jardin des Champ-Elysee juga berada di pesawat ini. Tujuan mereka tetap sama, memata-matai setiap gerak-gerik dan apapun yang dilakukan Bambang dan Bagas.


Bersambung....