Mengucapkan salam perpisahan akan selalu membuat hati kita bersedih, apalagi kepada pribadi-pribadi baik yang memiliki hati yang tulus serta iklas dalam bekerja. Namun, itulah yang dinamakan profesional. Setiap apa yang ditugaskan, akan selalu diiringi dengan tanggung jawab dan konsekuensinya masing-masing.


Pelatih dan pemain datang dan pergi kapan saja. Namun, sebuah klub beserta para pendukung setianya harus tetap tegap berdiri memegang idealisme, serta merajut mimpi yang sama.


Pada akhirnya saya, kami, atau kita hanya dapat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Paulo Camargo beserta staf, atas semua dedikasi yang telah mereka berikan kepada tim ini. Serta mendoakan yang terbaik bagi masa depan mereka, di mana pun sepak bola akan melabuhkan mereka nanti.


Di sisi lain, saya, kami, atau kita juga sudah selayaknya mengucapkan selamat, atas terpilihnya Jan Saragih sebagai caretaker pelatih Persija Jakarta, menggantikan Paulo Camargo. Seorang pelatih muda yang saya pikir memiliki ilmu dan kecakapan yang cukup memadai untuk dapat memimpin tim ini. 


Dalam masa transisi seperti saat ini, ia adalah pilihan paling ideal dan realistis. Lagi pula yang bersangkutan juga bukanlah orang baru di tim ini. Dan oleh karena itu, saya pikir seluruh komponen di dalam tim mendukung, dan berada di belakangnya.


Saat ini Persija Jakarta tengah mengalami masa-masa yang tidak dapat dikatakan ringan. Masalah demi masalah datang menghapiri hampir secara bersamaan. Tidak dapat bermain di Jakarta sehingga harus memainkan partai home di kandang lawan. Tur demi tur yang menguras tidak hanya tenaga, namun juga pikiran. Serta delapan laga dengan hasil negatif yang mengakibatkan terjadinya pergantian jajaran staf pelatih.


Sebuah situasi sulit yang hanya dapat kita lewati dengan kebersamaan tekad dan juga keyakinan dari seluruh komponen yang terkait dengan Persija Jakarta. Tidak hanya dari mereka  yang ada di dalam tim, namun juga mereka yang mengaku mencintai, memiliki, dan mendukung tim ini, di mana pun mereka berada.


Budayawan M.H Ainun Najib, atau akrab disapa Cak Nun bernah perkata, "Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah. Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang, sehingga kalah pun bukan dosa. Yang penting adalah apakah seseorang berjuang atau tak berjuang."


Jika saya boleh sedikit menambahkan. "Yang berdosa itu ketika kita berhenti berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencoba jadi pemenang. Dan itu akan membuat Tuhan marah."


Artinya, jika kita sudah berusaha dengan sekuat tenaga, mengenai menang (sukses) atau kalah (gagal), biarkan Tuhan yang menentukan, karena hal tersebut memang menjadi hak prerogatif Tuhan. Tugas kita hanyalah berjuang dengan sekuat tenaga, dan sudah barang tentu juga harus dibarengi dengan doa. Berputus asa dan menyerah bukanlah sebuah pilihan, karena hal tersebut akan membuat Tuhan marah.


"Kita boleh saja kecewa dengan apa yang tengah terjadi, namun jangan pernah hilang harapan untuk masa depan yang lebih baik."


Oleh karena itu, di tengah badai permasalahan yang tengah menimpa kita saat ini, mari kita satukan barisan, satukan tekat, dan satukan semangat untuk tetap berusaha dengan sekuat tenaga kita, guna mengembalikan kekuatan dan kedigdayaan Macan Kemayoran. 


Persija Jakarta adalah tim besar dengan sejarah yang sangat panjang, tidak selayaknya klub ini berada dalam kondisi seperti saat ini.


Bangkit bukanlah sebuah pilihan, tapi sebuah keharusan...!!!


#GuePersija #PersijaJakarta #PersijaSelamanya


Selesai....