Ferrasta Soebardi, atau kita lebih mengenalnya dengan nama Pepeng, lahir di Sumenep, 23 September 1954. Sosok yang cukup fenomenal dengan kuis jari-jari di tahun 90an tersebut, meninggal dunia pada Rabu pagi, 6 April 2015 di Cinere, Depok, setelah kurang lebih sepuluh tahun bertarung melawan Multiple Sclerosis (MS).


Multiple sclerosis (MS) merupakan penyakit autoimun yang menyerang selubung pelindung (myelin) - zat lemak yang melapisi dan melindungi serat saraf di otak dan sumsum tulang belakang. Hal tersebut yang membuat ayah empat anak ini mengalami kelumpuhan.


Mendengar kabar duka tersebut sejenak saya termenung, dalam termenung saya teringat sesuatu. Sebuah janji, atau barangkali sebuah keinginan lebih tepatnya, yang secara tidak langsung memiliki keterkaitan dengan Alm. Mas Pepeng.


Saya sendiri tidak ingat apakah saya pernah bertemu secara langsung dengan Mas Pepeng atau tidak, yang saya tahu saya cukup terinspirasi dengan kisah hidup beliau. Terutama dengan kegigihannya dalam memaknai hidup, selama perjuangannya melawan penyakit Multiple Sclerosis yang Ia derita.


Janji atau keinginan yang saya sampaikan diatas, berawal dari seorang sahabat yang kebetulan bekerja di salah satu stasiun televisi swasta. Sahabat tersebut menghubungi saya dan menyampaikan amanat dari salah seorang temannya, yang ingin mengundang saya untuk menjadi bintang tamu, di sebuah acara talk show di stasiun televisi swasta tempat sahabat saya tersebut bekerja.


Sebuah acara talk show, yang boleh dikatakan berada di jajaran papan atas acara talk show pertelevisian di Indonesia. Talk show ini bersifat "serius" (bukan mengejar rating) dengan bintang tamu tokoh-tokoh inspiratif di negeri ini, yang sangat kompeten di bidang nya masing-masing.


Singkat cerita, dengan sehalus mungkin saya menolak tawaran untuk menjadi bintang tamu di acara talk show tersebut. Seperti biasa ketidaknyamanan saya untuk tampil di televisi, selain saat bermain sepakbola menjadi alasan utamanya. 


Kepada sahabat saya tersebut saya menyampaikan, jika diundang ke acara talk show "Ketemu Pepeng" (kebetulan juga tayang di stasiun televise tempat sahabat saya bekerja) saya malah mau. Mendengar jawaban saya tersebut, sahabat sayapun segera menghubungi produser acara "Ketemu Pepeng". Namun sayang, ternyata acara tersebut telah berhenti diproduksi seiring dengan kondisi kesehatan Mas Pepeng yang semakin menurun.


Saya bahkan menitipkan pesan kepada sahabat saya tersebut, agar disampaikan kepada produser acara "Ketemu Pepeng". Jika suatu saat nanti acara tersebut diproduksi kembali, mohon kiranya untuk dapat memasukkan nama saya, dalam daftar bintang tamu di edisi pertamanya. 


Berbeda dengan acara talk show lain yang selalunya saya tolak dengan halus, untuk acara "Ketemu Pepeng" saya malah mewarkan diri. Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan, alasan terbesarnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena saya sangat terinspirasi, dengan sosok Mas Pepeng, terutama dengan bagaimana Ia merespon segala permasalahan dalam hidupnya.


Sejak saat itu sayapun menunggu penuh harap. Dalam penantian, saya selipkan sebuah doa, doa untuk membaiknya kondisi kesehatan Mas Pepeng. Namun ternyata Yang Maha Kuasa berkehendak lain, penantian saya tersebut berakhir seiring dipanggilnya Mas Pepeng oleh Sang Khalik.


Seperti yang rekan-rekan ketahui, selain sebagai pesepakbola saya jugalah seorang penulis (bloger). Sebagai penulis saya tentu banyak membaca buku, artikel, blog atau apapun yang menarik untuk dijadikan referensi dalam menulis. Dan untuk diketahui, blog Mas Pepeng adalah salah satu yang menjadi favorit saya.


Dalam blognya, pria yang pada Pemilu 2004 menjadi caleg PKS untuk daerah pemilihan Madura ini, pernah berseloroh tentang penyakit langkanya tersebut. Begini Ia menulis, “Saya bukan superhero, saya juga sering menengadah dan bertanya pada Tuhan: Why me? Tapi Tuhan kemudian melihat ke bawah dan menjawab: Why not?”. 


Sebuah joke yang mengingatkan kita tentang betapa kecil, dan tidak berdayanya kita dihadapan Sang Maha Pencipta.


Satu hal yang hampir selalu saya sampaikan dimanapun saya menjadi pembicara:


"Pada dasarnya setiap manusia itu sama, yang membedakan mereka adalah reaksi setiap individu terhadap segala permasalahan yang datang menghampiri. Hal tersebut yang akan mendiskripsikan siapa dia sebenarnya".


Kisah hidup Mas Pepeng, saya pikir dapat menjadi gambaran ideal dari apa yang saya sampaikan diatas. 


Bagaimana dalam lumpuhnya, Mas Pepeng tetap mampu untuk tetap berdiri tegak. 


Dalam lumpuhnya ide, kreatifitas dan semangat Mas Pepeng tetap mampu berjalan, berlari, bahkan bersorak untuk menyemangati orang lain. 


Serta dalam  lumpuhnya, Mas Pepeng tetap mampu memaknai hidupnya dengan hal-hal yang positif, yang mampu memprovokasi dan menginspirasi banyak orang. 


Ketegaran, dan kegigihan Mas Pepeng dalam berjuang melawan segala keterbatasannya, saya pikir membuat kita semua yang dalam kondisi lebih sehat (termasuk saya) seharusnya malu.


Mas Pepeng mampu memberikan contoh nyata bagaimana, "Hidup itu bukan mengenai seberapa berat masalah yang datang menghampiri kita, namun mengenai seberapa positif kita mampu merespon segala permasalahan tersebut".


Karena pada akhirnya, setiap orang mempunyai sisi gelap (kekurangan) dalam hidupnya. Namun hal tersebut tidak seharusnya menjadi sebuah penghalang bagi kita, untuk dapat memaknai hidup kita. 


Itulah Mas Pepang yang dalam pandangan saya mampu merespon segala permasalahan yang ia hadapi dengan begitu positif, sehingga berhasil mengejawantahkan motto hidupnya "Pantang Mati Sebelum Ajal" dengan begitu indahnya.... 


Selesai....