Lanjutan....


5 dari 11 jam penerbangan dari Rio de Janeiro menuju Paris telah berlalu. Bagas yang sedari lepas landas sudah tertidur pulas, masih saja terlelap dalam mimpi indahnya. Sedang Bambang yang tadi juga sempat tertidur walau sebentar, saat ini tengah menyaksikan sebuah film yang disediakan oleh layanan hiburan di pesawat Air France ini. 


Saat Bambang tengah asik menikmati acting Idris Elba dalam "Mandela: Long Walk To Freedom", tiba-tiba Bagas bangun dari tidurnya. Setelah meregangkan otot sejenak serta melihat waktu di jam tangannya, Bagas pun berdiri dan berjalan menuju toilet. Bambang hanya memperhatikan dari kursinya, sambil terus menonton film biografi dari salah satu tokoh favoritnya, Nelson Mandela tersebut. Sepuluh menit berselang Bagas kembali ke tempat duduknya.


Sejurus kemudian, "Bagaimana, sudah liat berkas-berkas tadi?", tanya Bagas kepada Bambang. Seketika Bambang pun mem-pouse film yang tengah Ia tonton, kemudian Ia memperbaiki posisi duduknya. "Sudah. Darimana lo dapat semua berkas ini?", tanya Bambang sambil menunjukkan amplop berwarna coklat yang tadi diberikan Bagas.


"Itu punya kakek. Saya temukan di salah satu halaman di buku yang ada di bunker", jawab Bagas. "Ini penemuan luar biasa Gas. Hal yang selama ini gue pikir mitos, ternyata memang beneran ada", ujar Bambang semangat. "Maksudnya?", tanya Bagas serius. "Jalur Bima itu selama ini hanya mitos, tapi berkas-berkas ini membuktikan jika jalur itu memang beneran ada", jelas Bambang. "Sebentar, sebentar, jadi awal mula ceritanya dulu gimana sih Om?", tanya Bagas


"Begini. Dahulu saat Gelora Bung Karno dibangun sekitar tahun 1960, ada salah satu petinggi Badan Pusat Intelejen (BPI), atau sekarang disebut Badan Intelejen Negara (BIN) mengusulkan kepada Bung Karno, agar dibuat jalur evakuasi rahasia, dari dalam stadion ke lokasi penjemputan yang aman di sekitar komplek stadion. Kode sandi untuk lorong evakuasi itu adalah Jalur Bima", Bambang menjelaskan.


"Apa itu artinya Jalur Bima?" tanya Bagas. "Bima adalah kode sandi untuk kepala negara, dalam hal ini tentu saja Bung Karno. Artinya Jalur Bima adalah jalur evakuasi bagi kepala negara, atau Bung Karno. Jalur tersebut dibangun dibawah tanah.", jawab Bambang. "Dibawah tanah? maksudnya dibawah stadion Gelora Bung Karno?", tanya Bagas memperjelas. "Iya, jalur itu berada kira-kira 5 meter di bawah bangunan stadion", jawab Bambang.


"Namun, konon usulan pembangunan Jalur Bima tersebut, ditolak oleh Bung Karno. Bung Karno merasa jika tidak perlu dibuatkan jalur evakuasi rahasia. Beliau sangat yakin jika pembukaan The Games of The New Emerging Forces, atau GANEFO akan berjalan aman dan sukses", lanjut Bambang.


"Nah jika benar usulan tersebut ditolak Bung Karno, berarti berkas dan denah ini hanya rancangan doang dong Om, tanpa ada realisasi pembangunannya? Artinya Jalur Bima itu tidak pernah ada", sela Bagas. "Betul, usulan tersebut memang ditolak oleh Bung Karno. Namun, tanpa sepengetahuan Presiden, dan atas permintaan dari BPI, dan Datasemen Kawal Pribadi (DKP cikal-bakal Tjakrabirawa) atau sekarang disebut Paspampres, konon Frederich Silaban tetap membangun jalur tersebut", jelas Bambang panjang lebar.


"Siapa lagi itu Frederich Silaban Om?", tanya Bagas lagi. Sejenak Bambang menghela nafas, "Anak muda macam apa yang ngga ngerti sejarah bangsanya sendiri? Frederich Silaban adalah arsitek Gelora Bung Karno", jawab Bambang. Bagas mengangguk tanda mengerti.


Kemudian, "Jadi Om yakin, jika Jalur Bima itu beneran pernah dibuat, dan sekarang masih ada?", tanya Bagas. "Sejujurnya gue juga ngga yakin. Tapi setidaknya, denah dan beberapa surat yang ditulis petinggi BPI untuk Frederich Silaban, yang isinya mengenai seputar rencana pembangunan Jalur Bima ini, bisa menjadi bukti", ujar Bambang. 


"Bukti apa?", tanya Bagas lagi. "Bukti jika perdebatan mengenai perlu, atau tidaknya dibangun jalur untuk mengevakuasi presiden jika terjadi situasi chaos, memang benar adanya", jawab Bambang. "Dan satu-satunya cara untuk membuktikan apakah Jalur Bima tersebut pernah dibangun apa tidak, adalah dengan menemukannya", ujar Bagas. "Nah....", sambung Bambang membenarkan.


"Kalo dilihat dari denah ini, keliatannya Jalur Bima bercabang tiga Om", ujar Bagas sambil menunjuk pada denah di kertas yang nampak sudah agak samar-samar tersebut. "Betul dan titik ini adalah pintu utamanya", jawab Bambang sambil menunjuk sebuah titik berwarna merah di denah tersebut.


"Om kan udah ratusan kali keluar masuk Gelora Bung Karno, kira-kira pintu utama ini berada dimana Om?", tanya Bagas. "Sejujurnya gue belum ada gambaran. Denah ini keliatannya pernah kena air, jadi gambarnya kabur. Utara - Selatannya juga ngga begitu jelas. Tapi logikanya, karena ini adalah jalur evakuasi untuk presiden, maka seharusnya pintu itu berada di sekitar lokasi duduknya presiden yaitu di tribun VVIP, atau sekarang Royal Box", Bambang menjelaskan.


"Hmmmm, Gas kira-kira kakek lo kerjanya dulu apaan ya, kok bisa punya banyak file rahasia gini?", tanya Bambang kepada Bagas sambil mengernyitkan keningnya. "Saya juga ngga begitu paham Om, tapi almarhum ayah sih pernah bilang, kalo salah satu hobi kakek adalah mengoleksi benda-benda sejarah", jawab Bagas. 


"Ngomong-ngomong kenapa lo baru kasih tau gue tentang berkas-berkas ini sekarang?", kembali Bambang bertanya. "Hmmmm, ya kan ngga semua juga Om harus tau kan?", Bagas balik bertanya. "Hmmmm, iya juga sih", jawab Bambang perlahan. Nampak Bagas tengah coba untuk membalaskan dendamnya, atas segala sikap Bambang yang menjengkelkan selama di Brazil.


"Jadi, menurut Om apakah berkas-berkas ini ada kaitannya dengan apa yang kita cari selama ini. Maksudnya catatan kakek", tanya Bagas. "Hhmmm, I am not sure about that. Tapi ada kaitan atau ngga, menurut gue berkas-berkas ini menyingkap sebuah fakta yang luar biasa", jawab Bambang. "Gue sih penasaran pengen buktiin kebenaran Jalur Bima ini. Cepat atau lambat gue akan cari", lanjut Bambang.


"Saya boleh ikut?", tanya Bagas kemudian. "Yaaaa, ntar gue pertimbangin lah", jawab Bambang dengan nada mengejek. "Yaaaah dia baper orangnya hahahaha", ujar Bagas sambil tertawa. Bambang pun ikut tertawa. Tak lama kemudian mereka berdua pun kembali terlelap dalam tidur masing-masing.


Sebuah pengumuman membangunkan Bambang dari tidurnya. Di samping Bambang, Bagas tengah menikmati kacang panggang sambil menyaksikan sebuah konser musik, dari layar dihadapannya. Bambang segera mengembalikan posisi tempat duduk ke posisi take off dan landing. Dalam beberapa menit lagi pesawat akan mendarat di Bandara Charles de Gaulle, Paris. Waktu menunjukkan pukul 5:45 petang.


Setelah keluar dari bandara, hal pertama yang Bambang lakukan adalah menghubungi Dewi melalui telefon. "Hallo Cin, udah tidur ya?", tanya Bambang kepada Dewi. "Hallo, belum Cin, ini lagi nonton drama Korea. Ini kamu udah sampai Paris?", jawab Dewi sambil bertanya balik kepada Bambang. "Baru banget mendarat. Jam berapa disana, kok kamu belum tidur?", tanya Bambang lagi. "Jam setangah satu. Iya ini juga udah ngantuk, tapi nanggung satu episode lagi", jawab Dewi.


"Kamu di sana gimana? dari bandara mau kemana? dan udah booking hotel belum?", tanya Dewi kepada suaminya. "Rencananya dari sini mau langsung ke restoran OKA, siapa tau bisa ketemu Julio malam ini juga. Kalo semua berjalan lancar, rencananya besok sore terbang ke Jakarta. Hotel gampang lah, setelah dari OKA nanti kita pikirin. Eh anak-anak gimana, baik-baikkan?", jelas Bambang panjang lebar. "Anak-anak baik. Yaudah ati-ati, salam buat Bagas, kasih kabar gimana-gimananya ya Cin", ujar Dewi. "Ok Cin pasti, love you", jawab Bambang mengakhiri pembicaraan.


Dari bandara Charles de Gaulle, Bagas dan Bambang langsung menaiki taksi menuju ke restoran OKA, tempat Julio anak bungsu Dragao berkerja sebagai chef. Bambang dan Bagas nampak begitu menikmati perjalanan, dari bandara ke alamat yang mereka tuju. Gemerlap kota Paris di malam hari memang sangat memukau.


Paris adalah salah satu kota favorit Bambang. Bukan karena kisah-kisah romantis atau gemerlap kotanya, namun lebih karena hampir di setiap sudut kota ini, terdapat bangunan-bangunan dengan nilai sejarah yang tak ternilai harganya. 


Bagaimana tidak, berdasarkan tanda-tanda arkeolog kisah berdirinya kota Paris sendiri, dimulai pada kisaran tahun 250 sebelum masehi, oleh sebuah suku bernama Senines Kelt. Sebelum pada akhirnya kerajaan Romawi datang dan menguasai Paris, serta kemudian membangun sebuah pemukiman permanen, di daerah tepi kiri bukit Sainte-Geneviève, dan juga pulau Île de la Cité.


Ah sudahlah, mari kita tinggalkan sejarah kota Paris, dan kembali kepada petualangan Bambang dan Bagas di kota berjuluk The City of Love ini.


28 Rue de la Tour d\'Auvergne, 75009, Paris.


"Betul ini jalannya Gas?\' tanya Bambang kepada Bagas. "Hmmm, sebentar Om", sejenak Bagas mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya. "Rue deeee laaa Tour, yak betul Om ini jalannya", eja Bagas memastikan kecocokan antara catatan di kertas, dengan nama yang tertulis di papan penunjuk jalan di depan mereka.


"Nomor?", tanya Bambang kemudian. "28 ya?", lanjut Bambang sambil berjalan menelurusi jalan Rue de la Tour d\'Auvergne. "Yoi", jawab Bagas singkat. Mereka pun menyusuri jalan tersebut, mereka mencari sebuah restoran Brazil - Prancis bernama OKA, tempat Julio anak Dragao bekerja sebagai chef.


Malam itu udara Paris cukup dingin, waktu menunjukkan pukul 8:05 malam, ketika Bambang dan Bagas sampai di depan restoran yang mereka cari. Restoran ini tidak terlalu besar, tampak luar restoran ini didominasi oleh warna hitam, dengan tulisan OKA berwarna merah di sudut atas. Walau tak terlalu besar, suasana restoran ini nampak cukup cozy, dan menyenangkan. Malam itu OKA nampak cukup ramai.


"Gas reservasi kita atas nama siapa?", tanya Bambang kepada Bagas saat seorang pramusaji menyambut mereka di depan pintu restoran. "Ricky Martin", ujar Bagas santai sambil melihat sekeliling, seperti tidak ada sesuatu yang salah. "Apa?" ujar Bambang kaget. "Sinting lo!?", lanjut Bambang memaki. "Yes reservasi anda atas nama siapa?", tanya pramusaji di depan Bambang dalam bahasa Inggris logat Prancis, yang terdengar agak aneh.


Seketika Bambang panik, Ia gugup, lidahnya mendadak kelu. "Your resevation please?", ulang pramusaji tersebut. Sejurus kemudian dengan pasrah, dan sangat terpaksa, Bambang pun menjawab, "Rickyyyyy Maaaartin?". Sejenak pramusaji tersebut memandangi Bambang dan Bagas dengan seksama, tak lama kemudian Ia berkata, "Hmmmm oooookaayy. Silakan Mister Ricky Martin....". Pramusaji tersebut pun mempersilakan sambil tersenyum.


Seketika muka Bambang memerah, Bagas yang berdiri sedikit agak di belakang, memberi tanda silang, dan menujuk kepada Bambang sambil mengedipkan mata, saat pramusaji tersebut melihat kepadanya. Bagas tersenyum puas, "Rasain lo", ujar Bagas dalam hati. Pramusaji OKA pun mempersilahkan mereka duduk, dimeja yang sudah disiapkan atas nama Ricky Martin.


Bambang terdiam, Ia masih tidak habis pikir dengan apa yang ada di kepala Bagas, dengan menggunakan nama Ricky Martin untuk melakukan reservasi di restoran ini. Kemudian Bagas bertanya, "Kita mau makan, apa mau nongkrong aja nih?". Kemudian Bambang tertawa, "Hahahahaha, ide lo boleh juga ya. Ricky Martin? ngehek lo hahaha", ujar Bambang. Bagas pun turut tertawa.


Malam itu Bambang memesan Tenderloin Steak, sedang Bagas memilih Black Angus Hein. Restoran ini walaupun kecil namun suasanya sangat menyenangkan. Kualitas makanan di sini juga sangat baik, rasanya juga enak, ditambah lagi pelayanan di restoran ini sangat ramah. Pelayan disini berkeliling dari meja ke meja untuk berinteraksi dengan pengunjung, termasuk juga sang chef. 


Terdapat dua chef di restoran ini satu bernama Raphael, dan satu lagi bernama Cesar. Mereka berdua juga turut berkeliling menanyakan komentar, dan melayani pertanyaan dari para pengunjung dengan ramah. Hingga sampailah salah satu dari mereka, ke meja Bambang dan Bagas.


"Hallo, apa kabar? bagaimana makanannya. Ada komentar?", tanya chef yang ternyata bernama Cesar. "Kabar baik, terima kasih. Luar biasa, steak ini dipanggang dengan tingkat kematangan yang pas. Jika tidak salah, ini dipanggang menggunakan panci bukan arang. Hmmmm, rosmeri, bawang putih panggang, minyak olive, lada hitam, garam, oregano dan butter. Diamkan 4 menit setelah matang, agar sarinya keluar, tambah dengan perasan jeruk lemon dan jadikan sarinya sebagai saus", jawab Bambang panjang lebar mengomentari steak yang Ia makan.


"Wow, nampaknya anda cukup tau bagaimana cara memanggang steak", ujar Cesar sambil tersenyum. "Hmmmmm, amatir hehehehe", jawab Bambang singkat sambil tertawa. Bagas cukup kaget melihat Bambang yang sedikit-sebanyak, tau mengenai tehnik memasak steak. Mengingat apa yang Ia tau selama ini tentang Bambang, hanyalah seorang pesepakbola dan juga penulis.


"Hebat. selamat menikmati makanannya", ujar Cesar yang kemudian berbalik badan dan berniat untuk pergi berpindah ke meja yang lain. Kemudian Bambang berkata, "Maaf, apakah kamu mengenal Julio?". Seketika Cesar pun berbalik, kemudian Ia berkata "Sorry?". Bambang pun mengulangi pertanyaannya. Cesar kemudian menjawab, jika Ia tidak pernah mendengar ada chef bernama Julio bekerja di restoran ini. Dalam hati Bambang berkata, "Oh mungkin chef yang satu lagi". Bagas hanya mengamati.


Tak lama kemudian giliran chef satu lagi yang menghampiri meja Bambang dan Bagas. Seperti Cesar, chef kedua yang bernama Raphael pun melakukan hal yang sama. Menanyakan mengenai komentar Bambang dan Bagas, mengenai masakan dan suasana restoran ini. Bambang juga menanyakan hal yang sama kepada Raphael mengenai Julio, dan jawaban Raphael adalah, "Saya adalah kepala chef disini sejak restoran ini dibuka, dan tidak pernah ada chef bernama Julio disini". 


Mendengar jawaban tersebut, seketika Bambang dan Bagas pun lemas. Terbayang jika percarian mereka ke Paris ini akan berujung sia-sia. "Keliatannya kita dibohongi Viktor nih Om", ujar Bagas kemudian. "Mungkin", jawab Bambang singkat. "Tapi untuk tujuan apa dia bohong? ngga tau kenapa kok feeling gue mengatakan, kalo Viktor ngga bohong. Mungkin bisa jadi salah menyebut nama restoran aja", lanjut Bambang. "Apa yang membuat Om yakin?", tanya Bagas lagi. "Intuition", Bambang menjawab.


"Jadi kita harus nyamperin semua restoran Brazil yang ada di Paris?", tanya Bagas. "Jika memang harus begitu, kenapa tidak? kita ngga mungkin jauh-jauh datang ke kesini tanpa hasil apapun Gas", jawab Bambang. "Menurut saya masalahnya bukan itu Om", ujar Bagas. "Jadi apa menurut lo?", tanya Bambang. "Masalahnya adalah iya kalo Viktor ngga bohong, kalo dia bohong? jangankan di Paris, mau nyari ke restoran Brazil di seluruh Prancis pun, kita ngga akan pernah ketemu chef yang namanya Julio", jelas Bagas. 


"Lagian main percaya aja sih sama orang, kalo udah begini kan kita yang rugi. Ya rugi waktu, ya uang. Mending kita pulang ke Jakarta, lebih jelas. Lagipula Oma Diah kan udah bersedia bantu", gerutu Bagas panjang lebar. Bambang hanya diam mendengar ocehan Bagas, dalam hati Ia bergumam, "Bener juga yang dibilang Bagas". 


Kemudian Bambang dan Bagas pun meminta tagihan, mereka berniat untuk meninggalkan restoran ini, entah kemana, pikiran mereka buntu. Tak lama berselang datanglah seorang pramusaji, membawakan daftar tagihan makan malam mereka. Bambang pun mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya. 


Bagas menerima, dan memeriksa daftar tagihan tersebut. Tiba-tiba Bagas berkata, "Om lihat", Bagas memperlihatkan sebuah tulisan di kertas tagihan mereka. Seketika Bambang pun mendekatkan badannya. Terlihat sebuah tulisan "Meet me at Laduree, Champs Elysees, 23:30. Julio". Seketika mata Bambang pun berbinar.


"Apa gue bilang Gas, intuition", ujar Bambang sambil menempelkan jari telunjuknya ke kening. "Mana orangnya ya Om?", tanya Bagas sambil melihat ke sekeliling ruangan. Bambang mengikuti apa yang dilakukan Bagas. Mereka tidak melihat ada orang memberi kode atau gerakan apapun, semua berjalan normal-normal saja.


Setelah membayar, Bambang dan Bagas pun bergerak menuju Champ Elysees. Sebuah jalan yang sangat terkenal di Paris, waktu menunjukkan pukul 10:35 malam. "Macaron, Laduree dan Champs Elysees, ini baru yang namanya Paris Om", ujar Bagas dalam perjalanan. Bambang hanya tersenyum. Waktu menunjukan pukul 10:50 ketika mereka sampai di kafe Laduree. Malam ini Laduree cukup ramai, maklum sekarang malam sabtu.


Bambang dan Bagas mendapatkan meja di dekat jendela. Dari tempat mereka duduk terlihat suasana Champ Elysees yang masih menggeliat penuh gairah. Nampak juga sebuah peninggalan sejarah yang sangat terkenal yang berada diujung jalan ini, yaitu Arc de Triomphe, atau Gerbang Kemenangan.


Setelah memesan teh, beberapa kue dan Macaron tentunya, Bambang berkata sambil menunjuk sesuatu, "Lo liat itu Gas". "Ya Arc de Triomphe, kenapa Om?", Bagas bertanya. "Lo tau sejarah dibangunnya gapura itu?", tanya Bambang lagi. "Ngga Om, ngga suka sejarah, boring hehehe", jawab Bagas sambil tertawa ringan.


Akhirnya sambil menunggu kedatangan Julio, Bambang pun bercerita.


Arc de Triomphe ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte pada tahun 1806, setelah kemenangan Napoleon dan pasukannya dalam perang Austerlitz, melawan tentara Austria. Gapura ini di desain oleh Jean Chalgrin, yang betuknya terinspirasi oleh Arc of Titus, di Roma. Jean Chalgrin sendiri meninggal pada tahun 1811, saat pembangunan monumen ini belum selesai. Posisinya kemudian diambil alih, dan dilanjutkan oleh Jean-Nicolas Huyot.


Selama masa restorasi Bourbon di Perancis, pembangunan monumen ini sempat dihentikan, dan bahkan tidak dilanjutkan sama sekali. Sampai pada masa pemerintahan Raja Louis-Philippe pada tahun 1833-36 pengerjaan Arc de Triomphe dilanjutkan hingga selesai. Terdapat 4 pahatan patung utama di monumen ini, dua di bagian depan, dan dua di bagian belakang. 4 patung tersebut menggambarkan, 4 peperangan paling besar yang pernah dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Satu yang paling terkenal, adalah "Departure of the Volunteers of 1792", atau lebih dikenal dengan sebutan "La Marseillaise".


Sambil menikmati teh panas, dan macaron Bagas mendengarkan dengan seksama cerita Bambang. Setelah menyeruput teh panas tanpa gula miliknya, bambang pun lanjut bercerita.


Dibawah lengkungan gapura Arc de Triomphe, terdapat sebuah makam seorang tentara tak dikenal yang gugur dalam perang dunia pertama. Mayat tentara tak dikenal tersebut diletakkan disitu pada Armistice Day, atau hari gencatan senjata, pada tahun 1920. Diatas makam tersebut tertulis, "Ici repose un soldad Francais mort pour la patrie", yang artinya "Disini terbaring seorang tentara Prancis yang mati untuk tanah air". Bagas hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar cerita Bambang.


Diatas makam, terdapat lentera yang apinya tak pernah padam. Lentera itu dinyalakan untuk mengenang jasa tentara-tentara tak dikenal lainnya, yang gugur dalam perang dunia pertama, dan kedua. Sayang Napoleon Bonaparte sendiri tidak sempat menikmati keindahan monumen ini, karena Ia keburu meninggal tahun 1921.


Saat Bambang asik bercerita sambil memandangi Arc de Triomphe dengan penuh penghayatan, tiba-tiba Bagas berkata, "Om". Tanpa mengiraukan Bagas, Bambang masih saja memandangi monumen tersebut, nampak pikirannya tengah melayang kembali ke dua ratus tahun yang lalu, saat Arc de Triomphe mulai dibangun. "Om", ujar Bagas sekali lagi, kali ini diikuti dengan tendangan ke kaki Bambang. Seketika Bambang pun menoleh ke arah Bagas. Bagas pun memberi tanda menunjuk arah menggunakan kepala kepada Bambang. Bambang pun segera melihat kearah yang dimaksud Bagas.


Bambang segera memperbaiki posisi duduknya. Terlihat seorang lelaki berdiri di dekat meja mereka. Orang tersebut berperawakan tegap, berkumis dan berjenggot lebat, serta memiliki tatoo di kedua tangannya. Sejurus kemudian dengan tatapan mata yang tajam, orang tersebut berkata dalam bahasa inggris, "Apakah kalian menunggu seseorang?". Seketika suasanapun menjadi hening.


Bersambung....