Lanjutan....


Bambang dan Bagas bergegas menaiki taksi menuju bandara internasional Galeao, Rio de Janeiro. Di dalam perjalanan. "Siapa kira-kira orang yang ngacak-acak kamar kita Om", tanya Bagas kepada Bambang. "Gue ngga tau. Tapi perasaan gue mengatakan ada hubungannya dengan orang-orang di Plataforma", jawab Bambang. 


"Sebenarnya apa yang terjadi sih Om? Saya benar-benar ngga tau apa-apa ini. Tiap ditanya ntar, tiap ditanya ntar, tapi sekarang kita dikejar-kejar orang. Keselamatan kita saat ini dipertaruhkan, tapi saya ngga tau dipertaruhkan karena apa!?", tanya Bagas kesal sambil menengok ke arah Bambang yang duduk di belakang. "Gue bukan ngga mau ngasih tau lo Gas, cuman gue baru mau cerita, kalo kita sudah ada di tempat yang aman", jawab Bambang. "Emang di sini sekarang ngga aman? di restoran tadi juga ngga aman?", tanya Bagas lagi. Bambang hanya tersenyum. Melihat Bagas yang nampak marah si supir taksi pun menengok ke arah Bagas, entah apa yang Ia pikirkan.


Kemudian Bambang berkata, "Di bandara ntar gue jelasin semuanya". Kembali Bagas harus kesal dengan jawaban Bambang yang belum juga mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bagas hanya bisa menyenderkan kepala di kursi, Ia pasrah, dalam hati Ia menggerutu, "Gila nyebelin banget ni orang. Pantes banyak orang yang ngga suka sama dia".


Waktu menunjukkan pukul 23:55 saat Bagas dan Bambang sampai di bandara Galeao. Sesaat setelah turun Bambang berkata, "Kita ngurus tiket ke Paris dulu, setelah itu baru kita cari tempat yang aman buat ngobrol, biar lo ngga mati penasaran". Bagas tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan kemudian mengikuti Bambang yang berjalan menuju konter penjualan tiket yang ada di bandara tersebut.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Luis dan beberapa anak buahnya yang juga tengah menuju ke bandara, berbicara melalui ponsel dengan seseorang dalam bahas Portugis. "Siagakan orang-orangmu sekarang juga, coba cari dua orang asia yang photonya baru saja aku kirim kepadamu. Kemungkinan saat ini mereka tengah berada di bandara", ujar Luis. "Siapa mereka? Mau kemana? Dan menggunakan pesawat apa?", tanya lawan bicara Luis. 


"Aku jelaskan nanti. Mereka masuk menggunakan pesawat Emirates dari Dubai. Jika benar mereka berada di bandara untuk meninggalkan Brazil, pasti mereka menaiki maskapai yang sama, juga dengan tujuan yang sama", ujar Luis lagi. "Ok", jawab lawan bicara Luis sambil menutup telefon.


Beberapa saat kemudian ponsel Luis berdering, Ia pun segera mengangkat panggilan tersebut, "Bagaimana?", tanya Luis. "Penerbangan pertama Emirates menuju Dubai adalah pukul 03:10 pagi ini", ujar orang di ujung telefon. "Gate?", tanya Luis lagi. "Terminal 2, gate 39", jawab lawan bicara Luis yang kemudian diketahui bernama Adrian. "Ok, fokus pada penerbangan itu. Konsentrasikan orang-orangmu di sekitar gate 39. Aku segera menyusul. Ingat jangan mengundang perhatian para penumpang yang lain, apalagi petugas keamanan bandara", Luis memerintahkan. "Baik", jawab Adrian singkat.


Sementara itu Bambang dan Bagas akhirnya berhasil mengatur penerbangan ke Paris sesuai rencana, yaitu penerbangan pertama pada pukul 04:00 pagi. Setelah menyelesaikan segala administrasinya, mereka pun menuju ke terminal 1 bandara ini, lokasi dimana Pesawat Air France dari Rio menuju Paris akan diberangkatkan. Sambil menunggu waktu boarding, berbekal sebuah kartu kredit platinum sebuah bank swasta, mereka pun memasuki sebuah VIP Lounge di terminal 1 bandara Galeao ini.


Di lounge tersebut Bambang dan Bagas memilih tempat duduk di bagian yang agak sepi. Setelah memesan kopi dan sedikit cemilan, Bambang pun menceritakan semua informasi yang Ia dapatkan kepada Bagas. Bagas menyimak cerita Bambang dengan sangat seksama. Ia tak menyangka jika ternyata ceritanya akan serumit yang Bambang sampaikan.


Kemudian, "Jadi disini pun tidak ada yang orang mengetahui benda apa yang dibeli kakek 29 tahun yang lalu itu Om?", tanya Bagas kepada Bambang. "Begitulah. Mereka yang mengetahui si Dragao, Tigre, dan Aranha sudah meninggal semua. Satu-satunya petunjuk tentang benda apakah yang dibeli kakek lo adalah Julio, anak bungsu Dragao yang diselamatkan oleh salah satu pengawal Dragao, dan dibawa lari ke Paris", jelas Bambang. "Itulah kenapa gue memutuskan untuk lanjut ke Paris, bukan pulang ke Dubai", lanjut Bambang


Bagas menganggukkan kepala. "Jadi si Julio ini sekarang jadi chef di Paris?", tanya Bagas kembali. "Info dari Viktor begitu, Ia menyembunyikan identitasnya dengan jadi chef di sebuah restoran Brazil - Prancis bernama OKA", jelas Bambang. Saat Bambang dan Bagas serius berbicara tiba-tiba ponsel Bambang bergetar, seketika Bambang melirik ke arah layar ponselnya. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomer yang tidak dikenal. 


Sejurus kemudian Bambang membukanya. Isi dari pesan dari nomer yang tidak dikenal tersebut adalah sebagai berikut:


"Selamat pagi. Apa kabar nak Bambang? jika ada waktu dan berkenan kapan kira-kira bisa datang ke rumah, ada yang ingin Ibu sampaikan. Ibu Diah".


Seketika air muka Bambang berubah, Ia seakan tidak percaya. Bambang membaca ulang pesan tersebut, setelah meyakini apa yang Ia baca, dan memastikan jika Ia tak salah membaca, Bambang pun berkata, "Gas Oma Diah WA". "Hah, yang bener Om. Ngomong apa dia?", jawab Bagas kaget. "Nih baca aja sendiri", ujar Bambang sambil menyodorkan ponselnya kepada Bagas. Secepat kilat Bagas pun menyambar ponsel tersebut.


Kemudian, "Jawab lah Om", ujar Bagas. "Jawab apa ya?", tanya Bambang. "Ya bilang aja kita lagi disini, nanti kalo sudah di Jakarta segera kerumah Oma Diah. Gitu lah", jawab Bagas berapi-api. Sebentar gue susun dulu kalimatnya. Ngomong-ngomong di Jakarta sekarang jam berapa?", tanya Bambang. "Hmmmm, Jakarta itu 9 jam lebih cepat dari Rio Om, kalo sekarang disini jam 1:24 pagi berarti di Jakarta jam 10 lebih 24 pagi", jelas Bagas. Bambang pun mengangguk.


"Selamat pagi Ibu. Alhamdulillah kabar saya baik, semoga Ibu juga dalam keadaan sehat dan tidak kurang suatu apapun. Begini Ibu, saya dan Bagas saat ini kebetulan tengah berada di Brazil. Nanti jika sudah pulang ke Jakarta kami akan segera sowan ke tempat Ibu". Begitulah jawaban yang Bambang kirim.


Tak lama kemudian masuk balasan dari Oma Diah.


"Alhamdulillah. Baik, kabar-kabarin Ibu jika sudah di Jakarta ya. Ada banyak hal yang ingin Ibu ceritakan mengenai Mas Ridwan". Dan jawaban Bambang di akhir percakapan melalui WhatsApp tersebut adalah, "Baik Ibu, pasti kami kabari. Disini kami juga mendapatkan banyak informasi yang berkaitan dengan catatan Pak Ridwan. Tidak sabar untuk mendengar cerita Ibu. Terima kasih banyak sebelumnya".


Sejurus kemudian, "Alhamdulillah akhirnya Ibu Diah mau membantu kita", ujar Bambang. "Wah saya jadi semakin semangat nih Om. Satu-persatu petunjuk mulai terkumpul", jawab Bagas dengan nada semangat. "Masih jauh Gas. Sekarang ini semua petunjuk baru mengarah ke benda apakah itu. Sedang berada dimanakah benda itu saat ini, adalah persoalan lain lagi", jelas Bambang. "Iya juga ya Om", jawab Bagas sambil menarik nafas panjang.


Sementara itu di terminal 2 bandara Galeao.


"Bagaimana, kamu menemukan mereka?", tanya Luis kepada Adrian. "Sejauh ini belum. Banyak penumpang asia di penerbangan ini, namun aku tidak melihat orang seperti yang kau maksud di photo tadi", jawab Adrian. "Jam berapa gate ditutup?, tanya Luis lagi. "40 menit lagi", jawab Adrian sambil melihat jam tangannya. "Ok, tetap awasi tempat ini, aku dan anak buahku akan menyisir seluruh kawasan terminal 2. Beri kabar jika kau melihat mereka", Luis memerintahkan. "Ok", jawab Adrian singkat. 


Maka Luis dan beberapa anak buahnya pun menyisir setiap sudut di terminal 2 keberangkatan bandara Galeao ini, tidak ada satu jengkalpun yang terlewat. Namun Luis juga tidak menemukan sosok yang mereka cari. Tiba-tiba ponsel Luis berdering. Secepat kilat Luis pun menerimanya, "Bos orang yang kita cari melakukan pemesanan kamar di hotel Copacabana Palace. Namun sampai saat ini mereka belum melakukan cek in",ujar orang di ujung sana. "Posisimu sekarang?", tanya Luis. "Di lobby hotel", jawab orang tersebut. "Ok terus awasi, jika mereka datang langsung tangkap. Aku segera kesana", perintah Luis. 


Kemudian Luis pun menghubungi Adrian, "Adrian nampaknya orang yang kita cari tidak berencana terbang malam ini. Mereka melakukan pemesanan kamar di Copacabana Palace.", ujar Luis kepada Adrian. "Nampaknya memang begitu. Baru saja gate ditutup, dan orang yang kau maksud tidak juga muncul", jelas Adrian. "Tadi aku juga sempat meminta salah satu teman untuk melihat dari sistem, dan memang tidak ada penumpang bernama Bambang dan Bagas di penerbangan ke Dubai ini", lanjut Adrian. "Ok, aku akan segera kembali ke kota. Terima kasih sudah membantu", ujar Luis mengakhiri pembicaraan. 


Luis dan anak buahnya pun segera bergegas kembali menuju daerah Copacabana, sedang Adrian dan anak buahnya juga kembali ke pos mereka. Waktu menunjukkan pukul 3 lebih 10 menit, pesawat Emirates bernomor EK 248 pun tinggal landas menuju Dubai. Sedang pesawat Air France tujuan Paris baru akan diberangkatkan 40 menit lagi. Sementara Bambang dan Bagas masih saja berbincang-bincang di sebuah VIP lounge terminal 1.


Tak lama kemudian sebuah pengumunan terdengar melalui pengeras suara, sebuah panggilan terakhir untuk pesawat Air France yang akan bertolak menuju Paris. Mendengar pengumuman tersebut, Bambang dan Bagas pun segera berdiri, dan bergegas menuju gate 11 di terminal 1 ini. Jarak dari lounge tersebut ke gate keberangkatan hanya sekita 50 meter saja, tidak jauh.


"Gas tadi bukannya lo sempet reservasi hotel ya?", tanya Bambang sambil berjalan menuju gate. "Iya Om, tadi iseng aja pesen kamar, kan kita belom tau kalo bisa terbang malam ini juga", jawab Bagas. "Di hotel mana?", tanya Bambang lagi. "Copacabana Palace", jawab Bagas santai. "Hah, gila lo. Berapa permalam harga kamar disana?", tanya Bambang lagi. "Mahal Om, 7 sampai 9 juta kalo di rupiahin, belum termasuk tax. Tapi tenang bisa di cancel kok, gratis. Lagian tadi juga iseng doang, itung-itung pernah bikin reservasi di hotel Copacabana Palace Om hehehe", jawab Bagas sambil tertawa ringan. "Ngga mungkin juga kita nginep di sana Om, bayar pake apa? Ini juga mau saya cancel", ujar Bagas melanjutkan. Bambang pun tersenyum.


Sementara itu Luis dan anak buahnya, memacu mobil yang mereka tumpangi dengan kecepatan penuh menuju Copacabana Palace. Tiba-tiba Adrian menghubungi melalui telefon. "Luis keliatan orang yang kita cari memang berada di bandara. Mereka tidak terbang ke Dubai, melainkan ke Paris. Baru saja temanku memberitahukan jika mereka berdua terdaftar sebagai penumpang pesawat Air France yang akan menuju ke Paris pagi ini". "Hah? Jam berapa pesawat ke Paris akan tinggal landas?", tanya Luis panik. "30 menit lagi", jawab Adrian. "Apa! Segera ke gate keberangkatan pesawat itu, dan tangkap mereka", Perintah Luis kepada Adrian. "Baik, ini aku sedang berlari menuju kesana", jawab Adrian. 


Tak lama berselang anak buah Luis yang berada di hotel Copacabana Palace juga memberi kabar, jika beberapa menit yang lalu reservasi kamar hotel, atas nama orang yang mereka cari telah dibatalkan. Hal tersebut pun membuat Luis semakin panik. Ia segera memerintahkan untuk memutar balik, dan kembali menuju bandara. Sedang di bandara, Adrian dan anak buahnya lari tunggang-langgang menuju gate 11 di terminal 1, dimana 30 menit lagi, pesawat Air France dengan nomer penerbangan AF 433 akan segera bertolak menuju Paris.


Di gate 11, Bambang dan Bagas akhirnya manaiki pesawat, mereka adalah penumpang terakhir yang memasuki pesawat. Beberapa saat kemudian pintu pesawatpun ditutup, dan pesawat siap untuk push-back menuju runway bandara Galeao ini.


Tepat ketika pesawat mulai bergerak mundur, Adrian dan kawan-kawan sampai di gate tersebut. Tidak ada yang dapat mereka lakukan untuk menghentikan pesawat tersebut. Mereka hanya bisa memperhatikan pesawat Air France tersebut bergerak perlahan sambil mengeluarkan sumpah-serapah.


Sejurus kemudian Adrian pun menghubungi Luis, "Bagaimana kau dapatkan mereka?", kalimat pertama yang terdengar dari Luis. "Gate sudah ditutup, dan pesawat sudah bergerak mundur, tidak ada yang bisa aku dan anak buahku lakukan. Maaf", jawab Adrian dengan nafas yang masih berderu setelah berlari. "Porra Caralho..!!!", teriak Luis di ujung sana penuh emosi. Dan telefon pun terputus.


Di dalam pesawat, Bambang dan Bagas bersiap untuk menikmati sebelas jam perjalanan mereka dari Rio de Janeiro menuju Paris. Mereka sama sekali tidak menyadari, jika sebuah bahaya besar hampir saja menerkam. Bagas memutuskan untuk tidur, sedang Bambang berniat untuk menonton film sebelum pada akhirnya Ia pun juga terlelap. Sebelum tidur Bagas sempat mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat, dan memberikan kepada Bambang.


"Apa ini Gas?", tanya Bambang. "Udah liat aja, baru komentar", jawab Bagas. Sejurus kemudian, "Gila, ini sih gila. Ternyata jalur itu memang beneran ada, bukan rumor belaka", ujar Bambang. "Lo dapet berkas-berkas pembangunan Gelora Bung Karno ini dari mana Gas?", sambung Bambang. "Udah ye, bahasnya ntar aja. Saya ngantuk, mau tidur dulu. Emang situ doang yang bisa ngeselin", jawab Bagas sambil menggeserkan duduknya menjadi sedikit miring memunggungi Bambang. "Kampreett!!!", ujar Bambang pasrah.


Sebenarnya bahaya yang mengancam Bambang dan Bags belum sepenuhnya pergi. Karena, juga tanpa sepengetahuan mereka, dua orang yang mengamati gerak-gerik Bambang dan Bagas sejak dari bukit Corcovado kemarin, masih saja mengikuti mereka. Kedua orang tersebut juga berada di dalam pesawat Air France AF 433 menuju Paris ini.


Bersambung....