Lanjutan...


Saat Bambang tengah khusuk mendengarkan cerita Viktor mengenai sejarah O Dragao, tiba-tiba salah satu pengunjung kafe menghampiri mereka. "Mas Bambang ya?", tanya orang tersebut. Seketika Bambang dan Viktor pun menoleh. Berdiri seorang lelaki berperawakan sedang yang ternyata juga berasal dari Indonesia, orang tersebut tengah berlibur ke Brazil. 


"Lagi ngapain Mas di Rio? boleh minta photo ngga?", ujar orang tersebut. Dengan sedikit kikuk Bambang pun segera berdiri dan berkata," Oh iya-iya lagi liburan saja. Boleh-boleh ayo". "Boleh lepas kacamata ngga Mas, biar keliatan wajahnya", pinta orang tersebut. Bambang pun segera memindahkan kacamatanya ke atas kepala, agar wajahnya nampak jelas saat di photo. "Terima kasih Mas, sukses selalu", ucap orang tersebut setelah selesai berphoto, dan kemudian pamit pergi. Bambang pun kembali duduk.


Kejadian tersebut membuat Victor cukup kaget, "Wow kamu terkenal di negaramu ya?", ujar Viktor sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Hhmmmm ya lumayan lah", jawab Bambang malu-malu. "Jadi apa pekerjaanmu? model, aktor, politisi, penyanyi atau?", tanya Viktor lagi. Sejenak Bambang bingung, akhirnya untuk mempersingkat waktu ia pun menjawab ,"Penyanyi". "Wow penyanyi ya, seperti Michel Telo. Ya, ya, ya, Ai Se Eu Te Pego", uja Viktor sambil menyebut nama salah satu penyanyi terkenal Brazil, dengan salah satu lagu hitnya. 


"Prannkk", tiba-tiba terdengar suara benda logam terjatuh, dari arah belakang. Sontak Bambang dan Viktor pun menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata suara tersebut berasal dari Bagas yang menabrak seorang pramusaji hingga terjatuh. Semua pengunjung kafe itu pun menoleh kearah yang sama. Terlihat Bagas tengah terlentang di lantai menahan sakit.


Seketika Bambang pun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Bagas. Bagas masih meringis menahan rasa ngilu dari tempurung lututnya yang menghantam lantai. "Are you okey?", tanya petugas keamanan yang datang menghampiri. "Ok-ok," jawab Bagas masih sambil meringis. 


Pengunjung yang tadinya sempat berdiri, karena ingin tahu apa yang tengah terjadipun, akhirnya kembali duduk. Selain menahan rasa sakit, muka Bagas juga terlihat memerah menahan malu. Sejurus kemudian, Bagaspun meminta maaf kepada pramusaji yang tadi Ia tabrak. 


Bambang segera membantu Bagas untuk bangun, "Ngapain lo tiduran di lantai?", tanya Bambang kepada Bagas. "Tiduran, gila kali tiduran di lantai", jawab Bagas sewot. "Iya lo ngapain kesini, kan kesepakatannya lo ngawasin dari jauh?", tanya Bambang lagi. "Emang kesepakatannya apa selain itu?", Bagas balik bertanya. "Kalo gue kasih kode bahaya lo cari bantuan", jawab Bambang. "Trus kodenya apa?", tanya Bagas lagi. 


"Astaghfirullah", ujar Bambang sambil memegang kacamatanya yang memang Ia taruh diatas kepala. "Sorry, sorry tadi ada yang minta photo Gas, dan gue lupa balikin ke posisi semula. Lagian udah hampir gelap juga hehehe", ujar Bambang sambil memapah Bagas menuju ke meja Bambang dan Viktor. "Yang sedeng-sedeng aja Om kalo ngerjain orang", ujar Bagas kesal.


"Viktor perkenalkan ini Bagas teman saya, Bagas ini Viktor", Bambang memperkenalkan Bagas kepada Viktor. "Ya, ya, ya. Kamu tidak apa-apa? dari suaranya keliatannya jatuhnya sakit sekali", tanya Viktor kepada Bagas. "Lumayan sih", jawab Bagas sambil bersalaman dengan Viktor.


Kemudian Bambang dan Bagas pun berbicara dalam bahasa Indonesia. "Lagian bala bantuan macam apa tadi itu Gas?", tanya Bambang kepada Bagas. "Saya juga ngga tau Om, saya panik aja liat kode dari Om", jawab Bagas. "Emang lo ngga liat tadi ada orang minta photo", tanya Bambang lagi. "Ngga, tadi saya ke toilet", jawab Bagas. Kemudian Bambang tertawa.


Senja pun datang menjelang, pemandangan matahari terbenam dari bukit Corcovado ini ternyata sangat luar biasa indah. Lokasi wisata ini memang sangat layak untuk dikunjungi. Perjalanan yang cukup melelahkan, dan juga biaya transportasi yang tidak murah, sebanding dengan keindahan pemandangan yang tersaji di bukit ini.


Sebelum berpisah, seperti biasa sebagai pemburu kuliner Bambang sempat bertanya kepada Viktor, mengenai makanan khas Brazil yang paling diburu oleh wisatawan. Menurut Viktor ternyata banyak sekali makanan khas Brazil yang enak, dan menjadi favorit wisatawan yang datang ke negeri samba ini. Namun secara spesifik Ia menyarankan untuk mencoba Churrassco.


Churrasco (baca: shoo-RAS-koo) atau disebut juga sebagai Brazilian Barbeque. Churrasco merupakan makanan tradisional gaúchos, atau koboi dari Brasil Selatan selama berabad-abad, sebelum akhirnya menyebar ke seluruh Brazil. Lebih spesifik lagi Viktor merekomendasikan sebuah restoran bernama Fogo de Chão, di daerah Botafogo.


Penjelasan Viktor tersebut membuat mata Bambang berbinar. Mereka pun akhirnya bersalaman dan berpisah. Bambang dan Viktor sempat saling bertukar kartu nama, mereka sepakat untuk saling berkabar dikemudian hari. Setelah beberapa kali mengabadikan momen di Corcovado, Bambang dan Bagas pun bergegas untuk turun. Bambang merasa cukup puas dengan informasi yang mereka dapatkan hari ini.


Sebelum pulang ke hotel, Bambang dan Bagas memutuskan untuk menikmati Brazilian Barbeque di Fogo de Chão, seperti apa yang disarankan Viktor. Kebetulan memang sudah waktunya makan malam. Mereka pun menuju ke jalan Repórter Nestor Moreira, Botafogo, Rio de Janeiro, lokasi restoran tersebut berada. 


Restoran Fogo de Chão ini ternyata berada di bibir pantai, pemandangan dari Fogo de Chão yang menghadap ke laut juga cukup indah. Setelah mendapatkan meja mereka pun segera duduk. Malam itu semerbak harum daging barbeque, alunan musik latin yang merdu, serta semilir angir laut yang berhembus perlahan menyatu membentuk sebuah harmoni yang sangat menganyutkan.


Metode makan "all you can eat" di restauran ini juga unik. Anda hanya perlu memesan minuman, selebihnya setiap pengunjung akan diberikan sebuah kartu, dengan warna yang berbeda di setiap sisinya.Warna merah dan hijau. Sepanjang kartu anda dalam posisi berwarna hijau, maka para pramusaji yang lalu-lalang membawa daging panggang, akan silih berganti mengisi piring kita dengan berbagai jenis daging panggang. Mereka tidak akan membiarkan piring pengunjung sepi tanpa isi. Ketika anda merasa cukup kenyang, yang harus dilakukan hanyalah membalikkan kartu ke warna merah, dan merekapun tak akan datang lagi


Benar apa yang dikatakan Viktor, restoran ini memang sangat layak untuk dikunjungi, baik dari segi kualitas Churrasco yang mereka sajikan, juga suasananya. Malam itu Bambang dan Bagas sepakat untuk menikmati suasana, tanpa ingin merusaknya dengan membicarakan mengenai segala hal yang berkaitan dengan pencarian mereka. 


Mereka sepakat membicarakan perkembangan pencarian di hotel. Bagas pun harus menahan rasa penasaran mengenai informasi apa yang Bambang dapatkan dari Viktor di Bukit Corcovado tadi. Karena kesepakatan tersebutlah akhirnya mereka berbicara masalah sepakbola.


"Om apa rasanya sih jadi Om?", tanya Bagas membuka pembicaraan. "Maksudnya?", jawab Bambang. "Ya jadi Bambang Pamungkas?, lanjut Bagas. "Ya maksudnya di bagian mananya, coba lebih spesifik?", tanya Bambang. "Misalnya bagaimana rasanya jadi berbeda dari yang lain, atau kalo tidak boleh disebut nyeleneh ya?", ujar Bagas. "Contohnya?", tanya Bambang.


"Misalnya apa rasanya menjadi pemain yang paling vokal dimasa-masa konflik sepakbola Indonesia? Bagaimana rasanya jadi musuh banyak orang? Seperti memutuskan untuk gabung tim nasional, sedang pemain yang lain memilih untuk ngga gabung? Pasti banyak pro dan kontra disana, dan bagaimana tanggapan temen-temen sesama pemain bola sendiri tentang Om?", tanya Bagas panjang lebar.


"Lo nyelidikin gue? setau gue kan lo ngga ngikutin bola Indonesia?", ujar Bambang balik bertanya. "Kemarin iseng Om, selama perjalanan Dubai - Rio saya searching di google tentang perjalanan karir Om hehehe", jawab Bagas sambil tertawa ringan. "Hahaha", Bambang ikut tertawa.


"Pertanyaan yang berat. Hmmm gini Gas", ujar Bambang sambil memperbaiki posisi duduknya. "Gue ngga bisa ceritakan secara detail bagaimananya, tapi kurang lebih intinya begini. Selama masa-masa itu, secara idealisme gue harus akui jika gue kehilangan banyak teman. Tapi secara persabahatan, tidak ada yang berubah sedikitpun diantara kami", jelas Bambang. "Oh gitu ya. Yakin tuh Om?", tanya Bagas lagi. "Yakin lah", jawab Bambang sambil tersenyum.


Setelah puas menghabiskan waktu menikmati Brazilian Barbeque di Fogo de Chão, Bambang dan Bagas pun bergegas pulang. Waktu menunjukkan puku 22:46 waktu Rio.


15 menit adalah waktu yang diperlukan untuk menempuh perjalanan dari restoran menuju hotel tempat Bagas dan Bambang menginap. Sesampainya di kamar hotel, Bambang dan Bagas kaget bukan kepalang, karena mendapati kamar mereka dalam keadaan berantakan. Nampaknya ada tamu tak diundang yang telah berkunjung ke kamar mereka tadi.


Bambang segera mengunci pintu rapat-rapat. "Gas coba cek barang-barang, ada yang hilang ngga?", tanya Bambang kepada Bagas. Bagas pun segera mengecek barang-barang miliknya. "Ngga ada Om, semua ada. Kebetulan semua barang-barang penting saya bawa di tas ransel", jawab Bagas. "Bagus", ujar Bambang.


"Keliatannya kita harus segera meninggalkan tempat ini Gas", lanjut Bambang. "Kemana?", tanya Bagas. "Keluar dari negara ini jika memungkinkan", jawab Bambang. "Sebentar", ujar Bagas sambil melihat tiket milik mereka. Sejurus kemudian, "Bisa Om, flight ke Dubai dari Rio jam 3:10 pagi. Kalo kita ke bandara sekarang maka kita bisa urus untuk ikut penerbangan pertama ke Dubai besok pagi", jelas Bambang.


"No, no, no. Kita ngga ke Dubai Gas", ujar Bambang. "Hah, jadi?", tanya Bagas penasaran. "Kita ke Paris."lanjut Bambang. "Ngapain kita ke Paris Om?", tanya Bagas semakin penasaran. "Nanti gue jelasin, yang penting kita harus keluar dari hotel sekarang juga, kita cari hotel baru sampai kita bisa dapat penerbangan paling cepat ke Paris", jelas Bambang.


"Coba saya cek penerbangan pertama ke Paris dari Rio", ujar Bagas kemudian. "Coba lo cek Gas", sambung Bambang. Beberapa saat kemudian, "Besok pagi ada 2 penerbangan Air France dari Rio ke Paris. Jam 04:00", ujar Bagas. "Kalo gitu kita ke bandara saja, kita coba ikut penerbangan yang jam 4 pagi", ucap Bambang.


Bagas pun mengangguk tanda setuju, walau sejuta pertanyaan masih berseliweran di kepalanya. Malam itu juga mereka keluar meninggalkan hotel menuju bandara. Tanpa Bambang dan Bagas sadari, ternyata ada dua orang yang mengamati dan mengikuti mereka semenjak mereka menuruni bukit Corcovado tadi.


Benar saja, setengah jam berselang datanglah beberapa orang dengan perawakan tegap ke hotel tempat Bambang dan Bagas menginap. Mereka rupanya orang-orang yang tadi sore sempat menyatroni kamar Bambang dan Bagas. Mereka tampak kesal ketika mendapati Bambang dan Bagas sudah pergi meninggalkan hotel ini.


Sejurus kemudian seseorang berjaket hitam yang nampaknya berposisi paling tinggi diantara mereka, berbicara melalui telefon dengan seseorang, "Bos mereka sudah meninggalkan hotel ini". "Kurang tau pasti, apakah mereka pindah hotel, atau ke bandara untuk pulang", lanjut orang tersebut beberapa saat kemudian. Setelah itu orang tersebut diam, Ia nampak tengah mendengarkan perintah dari orang yang berbicara dengannya. "Baik bos", ujarnya singkat sambil menutup telefon.


Sejurus kemudian, "Kamu, ajak beberapa anak buahmu untu mencari informasi di hotel-hotel sekitar sini, siapa tau mereka berpindah hotel", ujar orang tersebut sambil menunjuk salah satu anak buahnya.


"Sedang kamu, kamu dan kamu ikut aku ke bandara, bisa jadi mereka berniat meninggalkan negara ini. Kontak juga beberapa orang kita di bandara", lanjut orang tersebut. "Ok poha", jawab mereka hampir bersamaan kepada orang berjaket hitam yang kemudian diketahui bernama Luis, salah satu anggota kepolisian Brazil.


Ada apakah gerangan yang terjadi? Siapakah dua orang yang secara diam-diam mengikuti Bambang dan Bagas tersebut? Mengapa polisi Brazil juga turut mencari Bambang dan Bagas? Bagaimana nasib Bambang dan Bagas kemudian? Apakah Bambang dan Bagas berhasil meninggalkan Brazil? Atau...


Menarik untuk kita tunggu kisah selanjutnya di episode berikutnya.


Bersambung....