Lanjutan....


Sesampainya di hotel Bambang dan Bagas segera menuju ke kamar mereka, waktu menunjukkan pukul 23:37 waktu Rio. Bambang segera menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Bagas yang masih nampak kebingungan memilih untuk duduk di kursi, ia menunggu penjelasan dari Bambang mengenai apa yang tengah terjadi.


"Gas keliatannya urusan kita disini ngga akan main-main", ujar Bambang membuka pembicaraan. "Kenapa? apa yang terjadi di Plataforma tadi? kenapa kita pulang buru-buru?", berondong Bagas. Bambang pun mulai menceritakan apa yang terjadi di Plataforma tadi, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menggelandang Bagas pulang.


"Siapa nama orang yang mau kita temuin di bukit Corcovado besok?, tanya Bagas kemudian. "Namanya gue juga ngga tau, tapi dia bilang kalo mau tau mengenai O Dragao, kita disuruh ketemu dia besok sore di sebuah restoran di atas bukit", jawab Bambang. "Apakah orang itu bisa kita percaya? jangan-jangan ini jebakan Om?", ujar Bagas. "Nah itu gue juga ngga pasti", jawab Bambang.


"Kenapa kita ngga temuin aja petugas keamanan tadi? sekalian aja kita jabanin, siapa tau kita malah dapat petujuk", Bagas berpendapat. "Saat minta ditunjukin sama si tukang photo, petugas itu juga ngobrol lewat walkie-talkie sama orang. Keliatannya dia dapat perintah dari orang melalui walkie-talkie itu. Dan apapun itu keliatannya ngga bagus. Itulah kenapa gue ngga mau ambil resiko, dan ngajak lo balik", jelas Bambang.


"Siapa itu O Dragao ya?", ujar Bagas. "Gue juga ngga ngerti. Itulah kenapa gue penasaran dan pengen temuin orang yang ngajak janjian di bukit Corcovado besok. Gue pengen tau apa yang sebenarnya terjadi, dan informasi apa yang bisa kita dapat dari dia", ujar Bambang. "Siapa yang jamin kalo itu bukan jebakan?", Bagas bertanya. Sejenak Bambang berpikir.


"Hmmmm gini aja", ujar Bambang kemudian. "Bagaimana?", sahut Bagas sambil memperbaiki posisi duduknya. "Besok kita berangkat ke Cristo Redentor nya jangan barengan. "Maksudnya?", Bagas nampak belum paham. "Maksudnya dari bawah kita sudah pisah, tapi juga jangan jauh-jauh. Tugas lo ngawasin gue dari jauh, kalo ada yang ngga beres lo cari bantuan", Bambang menjelaskan. 


"Bagaimana saya tau kalo ada yang ngga beres, kan saya cuma liat dari jauh", tanya Bagas lagi. Bambang kembali berpikir, "Hmmm gimana ya, gini-gini, besok gue akan pake kacamata. Nah kalo kaca mata gue naikin keatas kepala seperti bando, berarti ada yang ngga beres. Dan lo segera cari bantuan", jelas  Bambang. "Hmmm ok-ok", jawab Bagas singkat.


Keesokan harinya:


Setelah makan siang dan merapikan barang yang akan dibawa, Bambang dan Bagas pun bergerak menuju bukit Corcovado. 


Selain pantai Copacabana, Ipanema dan bukit Sugar Love tujuan utama wisatawan yang datang ke Rio adalah patung Cristo Redentor yang berada di puncak bukit Corcovado.


Tak sulit untuk mencapai lokasi Cristo Redentor meski patung itu berada diatas bukit dengan ketinggian 710 meter. Pemerintah Brasil nampaknya telah mempersiapkan segala sesuatunya agar tempat-tempat wisata di kota Rio ini mudah dijangkau oleh para wisatawan. Bukit Corcovado sendiri berada dalam wilayah taman nasional Tijuca, atau Parque Nacional da Tijuca, salah satu urban forest di Rio de Janeiro.


Tempat pertama yang harus dicapai sebelum sampai ke puncak Corcovado adalah Largo do Machado. Largo do Machado adalah sebuah stasiun kereta "vertical cog train" yang berada di kaki bukit Corcovado. Satu tiket vertical cog train dari bawah menuju atas dijual seharga 50 Reais, atau setara dengan 270 ribu rupiah. Lumayan mahal. 


Jika arus wisatawan yang ingin mengunjungi Cristo Redentor membludak, maka loket penjualan tiket kereta ini akan ditutup lebih cepat. Beruntung hari itu Bambang dan Bagas datang lebih awal, karena pada pukul 3 sore loket penjualan sudah ditutup. Sesuai kesepakatan, mulai dari stasiun Largo do Machado Bambang dan Bagas pun memisahkan diri. Mereka hanya berkomunikasi melalui voxer dari ponsel mereka yang dihubungkan dengan earphone.


Bambang dan Bagas menaiki kereta yang sama, hanya saja gerbong yang mereka tumpangi berbeda. Perjalanan dari Largo do Machado ke puncak bukit Corcovado memakan waktu kurang lebih 30 menit. Selama pendakian para wisatawan disuguhi keindahan pemandangan kota Rio de Janeiro nan cantik dari ketinggian.


Sesampainya di puncak kami pun segera turun dari gerbong. Di depan stasiun terlihat antrian panjang, ternyata untuk benar-benar sampai ke patung Cristo Redentor, wisatawan harus menaiki anak tangga sepanjang kira-kira 100 meter. Mengingat hari itu pengunjung cukup padat, amaka antrian pun tak dapat dielakkan. Bambang dan Bagas masih saja menjaga jarak, mereka saling mengawasi. Bambangpun mulai menggunakan kacamatanya


Waktu menunjukkan pukul 14:50, artinya mereka 1 jam 10 menit lebih awal dari jadwal temu janji yang akan dilakukan. Untuk menghabiskan waktu, Bambang dan Bagas pun memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati keindahan di sekeliling patung Nabi Isa Alaihissalam tersebut. Rasa lelah selama perjalanan menuju puncak pun terbayar lunas dengan mata yang dimanjakan oleh indahnya pemandangan yang sangat menakjubkan. 


Patung ini dibangun antara tahun 1922 - 1931 oleh seorang insinyur Brazil bernama Heitor da Silva Costa. Sedang pemahat patung ini adalah seorang berkebangsaan Polandia - Prancis, bernama Paul Landowski. Patung bergaya Art Deco setinggi 38 Meter termasuk dalam Seven New Wonders of Modern World, atau 7 Keajaiban Dunia Versi Modern.


"Gas monitor", ujar Bambang melalui voxer. "Roger Om", jawab Bagas. "Merapat ke lokasi kita", ujar Bambang lagi. "86, 86", jawab Bagas lagi.


Setelah puas berkeliling, merekapun mulai merapat ke lokasi tempat pertemuan yang telah disepakati oleh Bambang, dan seseorang yang Bambang temui di Plataforma semalam. Sebuah kafe yang menyajikan berbagai makanan ringan, bagi para pengunjung yang sedikit ingin mengganjal perutnya selama mengunjungi lokasi ini. Lokasi kafe ini berada diantara stasiun pemberhentian vertical cog train, dan lokasi patung. Jika kita menaiki tangga dari arah stasiun menuju puncak, maka kita akan melewati kafe ini.


Sore ini kafe nampak penuh, setelah menunggu beberapa saat akhirnya Bambang pun mendapatkan meja. Kafe ini memiliki dua buah ruangan, indoor dan outdoor. Bambang  memilih meja di bagian outdoor, posisi meja tersebut di ujung dekat dengan pagar besi pembatas setinggu satu meter. Pemandangan dari meja Bambang sangat indah, karena menghadap ke Carioca, kata lain dari kota Rio de Janeiro. Dari kejauhan terlihat bangunan stadion Maracana yang sangat termasyur. Sempurna.


Sedang Bagas memilih untuk duduk di ruangan bagian dalam. Bagas mencari meja yang menghadap keluar, sehingga dapat melihat posisi Bambang. Agar jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Bagas dapat segera mencari bala bantuan, entah bagaimana caranya.


"Gas posisi?, tanya Bambang kembali melalui voxer. "Gas posisi", ulang Bambang karena tidak ada respon dari Bagas. Bambang pun melihat sekeliling. Sejurus kemudian, "Yess, saya sudah di posisi. Arah jam 5", jawab Bagas. "Ok, ingat jika kacamata gue taro diatas artinya lo cari bala bantuan", ujar Bambang. "Caranya?, tanya Bagas. "Gunakan imajinasi lo", jawab Bambang. "86 Om", ujar Bagas.


Beberapa saat kemudian seseorang mendekati meja Bambang. Orang tersebut adalah orang yang Bambang temui di Plataforma semalam. Bambang pun segera berdiri, dan mempersilahkan orang tersebut duduk. "Mau pesan apa?", tanya Bambang kepada orang tersebut. "Caipirinha", jawab orang tersebut. "Ok", jawab Bambang sambil memanggil salah satu pramusaji.


"Sebelum kita bicara panjang lebar, boleh saya tau namamu", tanya Bambang. "Oh iya maaf, perkenalkan namaku Viktor", jawab orang tersebut. "Ok namaku Bambang", ujar Bambang memperkenalkan diri. "Bamban?", ujar Viktor coba mengulang nama Bambang. "Bam... Bang. Bukan Bam.. Ban", Bambang coba mengeja. "Ok-ok hehehe", jawab Viktor kemudian. Tak lama berselang datanglah pramusaji membawakan pesanan Bambang dan Viktor. Dua gelas Caipirinha, satu nachoz, dan satu kentang goreng.


"Silakan diminum. Apa yang kamu ketahui tentang O Dragao?", ujar Bambang membuka percakapan. "Apa yang kamu ingin ketahui tentang O Dragao?", Viktor balik bertanya setelah melakukan seruputan pertama pada Caipirinhanya. "Siapa sebenarnya O Dragao?", tanya Bambang lagi. "O Dragao sebenarnya sebuah julukan dalam bahasa Portigis yang berarti The Dragon (Si Naga), nama aslinya adalah Rigoberto", Viktor mulai menjelaskan.


"Siapa dia?", tanya Bambang lagi. "Dia adalah salah satu dari tiga kepala mafia yang paling berkuasa di Rio antara tahun 80-an hingga 2000-an", jawab Viktor. "Bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan dia?", Bambang kembali bertanya. "O Dragao sudah tidak ada kawan. Awal tahun 2000-an Ia ditembak mati oleh kepolisian Brazil, dalam sebuah penggerebekan kartel heroin", jawab Viktor. Sejenak Bambang terdiam, Bambang menyenderkan badan ke kursi, ia menarik nafas panjang. Seketika terbayang dibenak Bambang jika pencarian yang mereka lakukan hingga ke Rio de Janeiro ini, akan berakhir sia-sia.


"Apa yang membuatmu kemari dan mencari O Dragao?", tidak banyak orang yang berani menyebut namanya lagi disini. "Mengapa demikian?", ujar Bambang sambil memperbaiki posisi duduknya. "Mereka yang menguasai kota ini (Mafia) sangat membenci O Dragao dan orang-orangnya. Sejak kematian Dragao mereka memburu semua orang yang terkait dengan jaringan O Dragao", jelas Viktor sambil menyeruput kembali Caipirinha miliknya. Bambang hanya mengangguk perlahan.


"Minum Caipirinhamu, ini minuman khas Brazil, sangat menyegarkan", ujar Viktor kemudian. "Iya, aku pernah minum minuman ini di Jakarta", jawab Bambang. "Ini beda kawan, aku pernah mencoba minum Caipirinha di beberapa negara, namun tidak ada yang seenak di Brazil. Cobalah, dan rasakan bedanya dengan yang pernah kau minum di negaramu", jelas Victor. "Baik", ujar Bambang sambil meminum Caipirinhanya. Benar saja Caipirinha disini berbeda dari yang ia pernah minum di salah satu kafe di daerah Kemang. Ini lebih keras, rasa jeruk nipisnya juga lebih tajam.


"Apa yang O Dragao lakukan hingga geng-geng yang lain sangat membencinya?", tanya Bambang kepada Victor. "Begini...", dan Viktor pun mulai bercerita dengan panjang lebar.


Pada suatu ketika di awal tahun 80-an, tiga mafia paling ditakuti di Rio yang sebenarnya masih bersaudara, melakukan sebuah kesepakatan. Mereka adalah Rigoberto (O Dragao atau Si Naga), Alemao (O Tigre atau Si Macan) dan Branco (O Aranha atau Si Laba-laba). Mereka berhasil menjual sebuah benda di pasar gelap dengan harga yang sangat mahal. Sebuah benda yang hanya diketahui oleh tiga bersaudara itu saja. 


Singkat cerita beberapa bulan kemudian, Alemao dan Branca mengetahui jika benda tersebut ternyata terjual lebih mahal dari harga yang Dragao sampaikan kepada mereka. Hal tersebut membuat Alemao dan Branco marah, maka terjadinya sebuah cek-cok besar. Dalam pertengkaran tersebut Dragao menembak kedua adiknya hingga meninggal dunia. Sejak saat itu Dragao menjadi penguasa tunggal di Carioca ini. 


Kematian Alemao dan Branca, membuat para pengikut keduanya marah besar. Mereka ingin membalas kematian bos mereka, tapi tidak berani menghadapi O Dragao dan anak buahnya yang memang terkenal kejam. Kematian O Dragao ditangan polisi saat terjadi penggrebekan, membuat anak buah O Tigre dan O Aranha bangkit kembali. Mereka bersatu memburu anak buah O Dragao, sampai bersih. Saat ini tidak ada lagi orang-orang O Dragao yang masih hidup.


Sekarang Carioca dikuasai oleh anak buah Alemao dan Branca. Mereka memberi nama kelompok mereka O Nevoa Preta do Rio atau Kabut Hitam dari Rio. Saat ini O Nevoa Preta dipimpin oleh seseorang bernama Mora, Ia dijuluki O Cobra atau Si Cobra. Mora atau O Cobra sendiri tidak pernah terlihat dimuka umum, tidak banyak orang yang tau wajah Mora yang sebenarnya. Daerah Leblon termasuk Plataforma yang kau kunjungi semalam, adalah salah satu daerah kekuasaan mereka.


Bambang mendengar cerita tersebut dengan sangat seksama. Sesekali ia membayangkan kejadian yang diceritakan Viktor. Cerita yang sejujurnya menyerupai kisah di film-film laga. Dalam hati ia bergumam, pantas saja petugas keamanan semalam terlihat ingin sekali menangkapku. Tak terasa satu gelas Caipirihna telah Bambang habiskan. Kepala Bambang mulai sedikit terasa berat.


"Bagaimana kamu bisa tau cerita sedetail ini, dan apakah kamu mengenal O Dragao", tanya Bambang menyelidik. "Dulu aku pernah bekerja sebagai tukang kebun di salah satu rumah orang tua mereka", jawab Viktor. "Hmmm ok", ujar Bambang singkat. "Mengenai barang yang mereka jual waktu itu, apakah gerangan benda itu?", tanya Bambang lagi. "Tidak pernah ada yang tau selain mereka bertiga, dan juga pembelinya", jawab Viktor. "Oh begitu", ujar Bambang.


"Mengapa kamu ingin tau benda apakah itu?", Viktor balik bertanya kepada Bambang. "Oh tidak hanya pensaran saja, benda apakah kira-kira hingga dapat membuat kekacauan sebesar itu", jawab Bambang agak kikuk. "Hmmmm sebenarnya ada satu orang lagi yang pernah melihat benda itu", ujar Viktor kemudian. "Siapa?", tanya Bambang penasaran. "Julio", jawab Viktor. "Siapa lagi itu Julio?", tanya Bambang lagi. "Julio adalah anak bungsu O Dragao, semenjak pengikut Dragao diburu Ia melarikan diri ke Paris. Kabar angin mengatakan jika Julio bekerja sebagai chef di salah satu restauran Brazil bernama O Corcovado di Paris", jelas Viktor. Bambang kembali menganggukkan kepala. 


Tak jauh dari meja Bambang, Bagas masih saja memperhatikan Bambang yang tengah berbicara dengan Viktor sambil menikmati segelas coca-cola. Minuman bersoda yang membuat perut Bagas terasa kembung. Ingin rasanya ia ke toilet, namun ia khawatir jika tiba-tiba Bambang membutuhkan bantuannya.


Desakan panggilan alam yang begitu hebat akhirnya tidak mampu lagi Bagas bendung, Bagaspun akhirnya memutuskan ke toilet. Beberapa menit kemudian Bagas kembali ke tempat duduknya. Bagas kaget bukan kepalang saat ia menoleh kearah Bambang, dan mendapati kacamata yang dikenakan Bambang sudah dalam posisi ketas seperti bando. 


Secepat kilat Bagas pun berdiri, dan menghambur keluar kearah meja tempat Bambang dan Victor duduk. Saking paniknya Bagas menabrak seorang pramusaji yang selesai mengidangkan pesanan. Suara gaduh pun tak dapat dihindarkan. Para pengunjung kafe pun sontak menoleh kearah asal suara. Petugas keamanan Cristo Redentor yang kebetulan berjaga-jaga di sekitar depan kafe pun segera masuk dan menuju kearah terjadinya keributan.


Ada apa dengan Bambang? Mengapa Ia memberikan sinyal bahaya kepada Bagas? Dan apa yang akan terjadi kemudian? 


Ikuti kisahnya di episode berikutnya.


Bersambung....