Lanjutan....


Waktu menunjukkan pukul tiga lebih tigapuluh sembilan menit sore hari, ketika pesawat Emirates dengan nomer lambung EK 247 yang ditumpangi oleh Bambang dan Bagas mendarat dengan mulus di landasan pacu Galeao Internacional Aeroporto, atau Bandara Internasional Galeao, Rio de Janeiro, Brazil. 


Penerbangan dari Dubai menuju Rio sendiri memakan waktu 14 jam dan 29 menit. Dari jendela pesawat nampak jika di luar tengah turun hujan walaupun tidak lebat. Persis seperti informasi yang disampaikan oleh pilot pesawat dalam perjalanan tadi. Suhu di luar diperkirakan antara 18 hingga 22 derajat selsius, cukup nyaman. 


Setelah pesawat benar-benar berhenti dan sedikit meregangkan badan, Bambang dan Bagaspun bergegas menuju ke tempat imigrasi. Suasana bandara Galeao sendiri cukup padat, nampaknya banyak penerbangan yang mendarat diwaktu yang hampir bersamaan sore ini. Hal tersebut membuat proses pemeriksaan paspor di imigrasi pun memakan waktu sedikit lebih lama.


Dalam perjalanan ini baik Bagas maupun Bambang tidak membawa perbekalan yang begitu banyak. Mereka hanya membawa masing-masing sebuah tas ransel layaknya para turis. Mereka memang tidak berniat untuk tinggal terlalu lama di kota ini. Tujuan mereka adalah mencari informasi sebanyak mungkin tentang benda yang dikirim Dragao 29 tahun lalu, dan segera pulang ke Jakarta untuk melanjutkan pencarian. 


Setelah semua selesai, Bambang dan Bagas pun segera bergegas untuk memesan taksi, dan melanjutkan perjalanan mereka menuju ke sebuah penginapan yang sudah dipesan oleh Bambang. "Apa nama hotel kita ini Om?", tanya Bagas di dalam taksi. "Bukan hotel Gas tapi lebih seperti servis apartemen, jadi kita bisa masak sendiri", jawab Bambang. "Dekat dengan alamat yang mau kita datangi Om?", tanya Bagas lagi. "Dekat atau tidaknya gue ngga pasti, tapi masih sekitar-sekitar situ juga lah", jawab Bambang lagi.


Setelah kurang lebih 45 menit menyusuri jalanan Rio de Janeiro yang lumayan padat, akhirnya Bambang dan Bagas pun sampai di tempat tujuan mereka. Aparthotel Adagio, Rio de Janeiro. Sebuah servis apartemen yang berlokasi di jalan Rainha Elizabeth da Belgica, Ipanema, Rio de Janeiro. Tempat mereka menginap ini berada diantara dua pantai yang sangat termasyur, pantai Ipanema dan Copacabana.


Setelah mendapatkan kunci kamar, Bambang dan Bagas pun segera menuju kamar mereka yang berada di lantai 3. "Sekarang mau ngapain kita?", tanya Bambang kepada Bagas. "Saya capek banget Om, mau lanjut tidur", jawab Bagas dengan muka malas. "Gas ngapain kita jauh-jauh ke Brazil kalo cuma mau tidur? lagian belom puas lo tidur di pesawat segitu lama?", ujar Bambang.


"Ke pantai lah kita, mumpung cuaca lagi enak nih, ngga begitu panas. Ntar malem setelah makan malem, baru kita cari alamat itu", lanjut Bambang mengajak Bagas. "Ke pantai ya? hmmm yaudah saya mandi dulu deh", jawab Bagas masih dengan nada malas. "Lo mau ke pantai apa ke mall pake acara mandi segala. Udah pake celana pendek, sendal jepit dan kaos oblong aja", ajak Bambang lagi. Maka dengan sedikit berat hati akhirnya Bagas pun menuruti apa yang dikatakan Bambang.


Sore itu suasana pantai copacabana sendiri sangat ramai, di sepanjang bibir pantai dipenuhi oleh orang-orang yang tengah bermain sepakbola. Banyak lapangan sepakbola disepanjang pantai ini, dan semuanya penuh terisi. Siapapun, darimapun dan berjenis kelamin apapun boleh untuk ikut bermain disini. Beginilah bagaimana warga Brazil menikmati hidup mereka.


Bambang yang memang seorang pesepakbola memutuskan untuk bergabung, dan bermain sepakbola pantai bersama mereka. Bambang yang di negaranya berlabel pemain tim nasional, terlihat seperti pemain amatir di arena ini. Sedang Bagas yang memang tidak menyukai sepakbola, memilih untuk melihat-lihat pemandangan sambil menikmati air kelapa muda, di sebuah kafe di tepi pantai copacabana. Begitulan Bambang dan Bagas menghabiskan sore mereka, hingga malam datang menjelang.


Malam harinya Bambang dan Bagas memutuskan untuk santap malam di sebuah restoran asia bernama Chon Kou, tidak jauh dari tempat mereka tinggal. "Gas coba lihat alamat yang harus kita datangi", ujar Bambang sambil menikmati makan malamnya. Bagas pun segera meraih sebuah buku catatan dari tas ranselnya, sejurus kemudian, "Nih Om", ujar Bagas sambil menyodorkan sebuah buku kepada Bambang. Bambang pun segera meraih buku tersebut.


"Ok, jalan Adalberto Ferreira 32, Leblon, Rio de Janeiro (Plataforma). Hmmmm seharusnya ngga jauh dari sini sih Gas", ujar Bambang kemudian. "Kalo dilihat dari GPS sih ngga jauh Om, kita harus menyusuri pantai Ipanema dulu baru ketemu daerah Leblon", Bagas coba menjelaskan. "Ok bagus kalo lo udah cek, setelah makan kita kesana", ujar Bambang.


Malam itu setelah makan malam Bambang dan Bagas pun menuju ke alamat yang ingin mereka datangi. Menggunakan taksi mereka menyusuri jalan di tepian pantai Ipanema, pantai yang sangat terkenal itu. Dua puluh menit kemudian sampailah mereka ke tempat tujuan. Mereka terkejut karena alamat tersebut membawa mereka ke sebuah gedung pertunjukan. Iya sebuah gedung pertunjukan tari tradisional samba bernama Plataforma.


Gedung pertunjukan yang nampak sudah cukup berumur ini dihiasi lampu warna-warni. Setiap malam di tempat ini dilangsungkan pertunjukan tari samba. Brazil menang terkenal dengan festival samba nya, namun festival tersebut hanya diadakan beberapa kali dalam setahun. Sedang di Plataforma pertunjukan diadakan setiap malam, hal tersebut membuat para turis yang datang saat tidak ada jadwal festival pun, masih tetap dapat menikmati keindahan kesenian khas Brazil tersebut.


"Mulai dari mana kita Om?", tanya Bagas kepada Bambang. "Gue juga bingung Gas", jawab Bambang sambil melihat ke sekitar. "Benda itu dikirim dari tempat ini 29 tahun yang lalu. Apakah gedung ini sudah ada, atau belum gue juga ngga tau", lanjut Bambang. "Mending kita nonton pertunjukannya Om, mumpung di Brazil nih. Nanti di dalam sambil lihat-lihat kita pikirkan caranya", usul Bagas. "Ok gue setuju", jawab Bambang


Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menonton pertunjukan tari samba, kebetulan 15 menit lagi pertunjukan akan dimulai. Pertunjukan sendiri boleh dikatakan cukup menarik, pertunjukan di Plataforma ini selain menampilkan tari-tarian dengan kostum warna-warni, terdapat juga kesenian bela diri, seperti capoera dan juga kesenian-kesenian yang lain.


Ditengah pertunjukan yang sedang berjalan Bambang sempat bertanya mengenai Dragao, kepada seorang tukang photo yang berkeliling diantara penonton. Si tukang photo nampak kaget dengan pertanyaan Bambang tersebut, kemudian tukang photo tersebut menjawab jika ia tidak mengenal siapa itu Dragao. Bambang pun lanjut menikmati pertunjukan malam itu.


Tak lama kemudian, "Om saya ke toilet dulu", ujar Bagas kepada Bambang. "Ayolah gue juga pengen ke toilet", jawab Bambang. Maka mereka berdua pun berjalan menuju toilet yang berada di ujung belakang bangku penonton. Namun karena toilet tengah penuh maka merekapun harus menunggu. Sambil menunggu Bagas memutuskan untuk merekam pertunjukan yang tengah berlangsung dengan ponselnya. Sedang Bambang menyenderkan badan di sebuah tiang tidak jauh di belakang Bagas.


Saat Bagas tengah merekam, tiba-tiba terdengar suara orang berbicara dengan bahas Portugis dari arah belakang Bambang. Awalnya bambang tidak mempedulikan, namun ketika terdengar suara mereka menyebut nama Dragao, Bambang pun segera menoleh. Dalam keremangan suasana ruangan, terlihat tukang photo yang tadi ditanya oleh Bambang tengah berbicara dengan seseorang yang nampaknya adalah petugas keamanan di gedung pertunjukan ini.


Si tukang photo tersebut menunjuk ke arah tempat dimana Bambang duduk, dan bertanya mengenai Dragao tadi. Dan dengan segera si petugas keamanan tadi pun segera bergegas kearah yang ditunjuk oleh si tukang photo. Bambang menangkap gelagat yang kurang baik tengah terjadi. Bagas masih saja fokus merekam pertunjukan yang tengah berlangsung.


Saat Bambang memperhatikan petugas keamanan yang mencari-cari dirinya di tempat dimana ia duduknya tadi, tiba-tiba seseorang mendekati Bambang dan berkata. "Kamu mencari Dragao?," ujar orang tersebut dengan bahasa Inggris logat portugis. Sontak Bambang pun menoleh.


Disamping Bambang berdiri seseorang berperawakan gemuk, tidak terlalu tinggi dan menggunakan topi pet. "Siapa kamu?", tanya Bambang. Orang tersebut ternyata adalah penonton yang tadi duduk tidak jauh dari tempat Bambang dan Bagas duduk. Mungkin ia mendengar saat Bambang menanyakan Dragao kepada si tukang photo.


"Siapa aku tidak lah penting. Tapi kalo kamu ingin berbicara mengenai O Dragao, temui aku besok sore di Restorante Corcovado", ujar orang tersebut lagi. "Restorante Corcovado. Dimana itu?", Bambang kembali bertanya. "Cristo Redentor bukit Corcovado, jam 5 sore. Sekarang untuk keamanan kalian berdua, pergilah dari tempat ini", ujar orang tersebut dan kemudian pergi kembali ke tempat duduknya.


Tanpa menjawab Bambang pun segera menarik Bagas, dan mengajaknya pergi. Mereka mengendap-endap keluar dari gedung pertunjukan tersebut. Bagas yang nampak tidak paham dengan apa yang tengah terjadi nampak kebingungan. "Ada apa ini OM, kenapa kita buru-buru pulang, kita belum mendapatkan informasi apapun disini", ujar Bagas. "Udah jangan banyak tanya, ntar gue jelasin di hotel", ujar Bambang sambil bergegas mencari taksi untuk kembali ke penginapan mereka di daerah pantai Ipanema.


Apa yang tengah terjadi? Siapa sebenarnya O Dragao? Mengapa petugas keamanan tersebut ingin menangkap Bambang? Dan apa kira-kira informasi yang akan Bambang dan Bagas dapatkan di bukit Corcovado esok?


Ikuti kisahnya di episode berikutnya. 


Bersambung....