Lanjutan...


Hallo Om, posisi dimana, lagi sibuk ngga?", tanya Bagas dengan intonasi yang terburu-buru melalui telefon. "Yo, di rumah lagi motong rumput nih. Ngga-ngga lagi ngga sibuk, kenapa Gas?", jawab Bambang. "Om ngga akan percaya dengan apa yang saya temukan", ujar Bagas masih dengan intonasi yang terburu-buru. "Apaan? lo nemuin apa? coba lo atur nafas dulu, baru ngomong pelan-pelan", jawab Bambang menasehati Bagas.


Bagas pun coba mengatur nafas, sesaat kemudian ia berkata," Saya menemukan sebuah bukti transfer uang sebesar 4 Juta Dollar, dari Indonesia ke Brazil pada bulan Desember tahun 1984". "Hah 4 juta Dollar Amerika?", sahut Bambang kaget. "Lo ngga salah lihat?", tanya Bambang penasaran. "Nope. Gini saja, Om ada rencana keluar rumah ngga malam ini? kalo ngga nanti maleman dikit saya kerumah", jawab Bagas. "Ok, gue ngga kemana-mana. Gue tunggu dirumah ya", jawab Bambang memastikan.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, malam harinya Bagas bertandang ke rumah Bambang yang terletak di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pembahasan malam ini adalah apa yang baru saja ditemukan oleh Bagas sore tadi di rumahnya. Sebuah penemuan yang akan menjadi sebuah petunjuk yang sangat penting bagi pencarian mereka.


"Nih Om", ujar Bagas sambil menyerahkan sebuah kertas bukti transfer dari sebuah bank di tahun 1984 sejumlah 4 juta Dollar. "Dan entah ada kaitannya apa ngga, tapi transfer ini dilakukan 2 minggu sebelum guci itu masuk ke pelabuhan Tanjung Priok", lanjut Bagas. Bambang hanya mengangguk sambil memperhatikan bukti transfer tersebut, sesekali ia membolak-balik kertas tersebut.


"Saya juga menemukan ini Om", Bagas berkata lagi sambil menyerahkan sebuah buku kecil yang nampak seperti sebuah diary. "Apalagi ini?", tanya Bambang sambil meraih buku tersebut. "Buku ini berisi rangkuman catatan kegiatan kakek dari waktu ke waktu, ya mirip diary kegiatan kerja. Catatan ini dimulai tahun 1978 hingga 1998", Bagas menjelaskan.


"Apa yang lo temukan disini?", Bambang bertanya sambil mulai membuka buku tersebut. "Coba Om buka halaman ke-20", ujar Bagas. Bambang pun melakukan apa yang diminta oleh Bagas. Sejurus kemudian, "What the.....", ujar Bambang kaget ketika melihat catatan Ridwan di halaman tersebut.


2 Desember 1984 - Tranfer uang panjar (Vi) 50% sebesar 4 Juta USD kepada Dragão.


25 Desember 1984 - Mengeluarkan cek sebesar 4 Juta USD untuk pelunasan Victory.


"Gila..", ujar Bambang setelah membaca catatan tersebut. "Jadi apapun benda yang dimaksud kakek lo dalam catatan di buku biografi Bung Karno itu, bernilai 8 Juta Dollar", Bambang berkata dengan nada tidak percaya. "Begitulah", jawab Bagas. "Guci apa yang berharga 8 Juta Dollar? di tahun 1984 pula?", tanya Bambang lagi. "Bisa jadi benar, jika guci tersebut peninggalan suku Inca atau Chabcha Om. Harga benda-benda purbakala seperti itu kan memang ngga masuk akal", Bagas berpendapat.


"Sebagai perbandingan. Ditahun yang sama, harga Diego Armando Maradona ketika dibeli Napoli dari Barcelona, adalah sebesar 7,5 juta USD. Jadi harga benda ini lebih mahal dari harga Maradona", ujar Bambang. "Artinya benda ini lebih berharga dari Maradona", sahut Bagas.


"Benda apa yang lebih mahal dari Maradona ketika itu?", tanya Bambang. "Pertanyaan terbesar selain benda apakah itu adalah, siapa kakek lo yang bisa ngeluarin uang sebesar ini untuk membeli benda itu?", lanjut Bambang. "Nah, ini jadi menarik. Siapa dia ya?", Bagas balik bertanya. "Lah dia kan kakek lo Gas, kenapa jadi lo yang nanya?", jawab Bambang. Bagas hanya terdiam.


"Coba lo cek di internet tentang semua perdagangan benda antik, di sekitar tahun 80-an sampai tahun 90-an", pinta Bambang kepada Bagas. "Baik", jawab Bagas singkat sambil menyalakan laptopnya. "Benda apa di tahun 1984 yang berharga 8 juta Dollar, lebih mahal dari pemain sepakbola termahal dunia di tahun itu? Siapa Ridwan hingga mempunyai uang sebanyak itu?", gumam Bambang dalam hati sambil membolak-balik halaman di buku diary Ridwan Soedjarwo.


"Tidak banyak data di internet Om, kebanyakan barang yang dijual-belikan berupa lukisan. Tidak ada data yang menyebut guci emas", ujar Bagas beberapa saat kemudian. "Hmmm bagaimana dengan batu mulia, seperti berlian, atau permata? Siapa tau guci hanya sebagai sarana, didalamnya bisa jadi berisi benda lain", ujar Bambang. "Hmmm coba saya cek lagi", jawab Bagas sambil melanjutkan pencarian.


"Mungkinkah ini?", ujar Bagas beberapa saat kemudian. "Apa yang lo temuin?", tanya Bambang. "Ada dua batu permata, atau berlian yang ditemukan di Brazil antara tahun segituan Om. Pertama Dom Pedro, dan yang kedua The Moussaieff Red", jawab Bagas. "Apa itu Dom Pedro, dan apa itu The Moussaieff Red?", tanya Bambang lagi sambil terus memeriksa buku catatan milik Ridwan Soedjarwo.


Bagas pun mulai membacakan data-data yang terpampang di layar laptopnya:


Dom Pedro adalah sepotong batu permata aquamarine terbesar di dunia, ditemukan di pertambangan Pegmatite, Brasil pada tahun 1980-an. Batu tersebut berbentuk obelisk berwarna biru-hijau. Dom Pedro dirancang oleh pemotong permata terkenal Jerman Bernd Munsteiner. Berlian tersebut memiliki tinggi 35,5 sentimeter dengan berat 10.363 karat, atau 2 kilogram.


Sedang The Moussaieff Red adalah berlian merah terbesar di dunia, dengan berat 5,11 karat. Berlian ini juga ditemukan di Brasil namun pada tahun 1990-an. The Moussaieff Red memiliki potongan segitiga yang sangat presisi, dan indah. Saking brilian pemotongannya, berlian ini juga dikenal sebagai "Cut Trilliant".


"Begitu Om", ujar Bagas setelah selesai membacakan data-data dari dua batu permata yang ditemukan di Brazil tersebut. "Hmmm adakah dari dua batu permata itu yang saat ini keberadaanya tidak diketahui?", tanya Bambang kemudian sambil melihat kearah Bagas.


"Itu dia permasalahannya Om", jawab Bagas. "Why?", tanya Bambang lagi. "Kedua batu permata tersebut saat ini berada di National Museum of Natural History, bagian dari Smithsonian Institution.", jelas Bagas. "Artinya...", Bagas berniat untuk meneruskan pendapatnya, sebelum disela oleh Bambang, "Artinya salah satu dari dua permata itu bukanlah benda yang dimaksud oleh kakek lo". "Nah", timpal Bagas menegaskan.


"Ada sebuah kejanggalan disini Gas. Transaksi sebesar itu ngga mungkin ngga ada catatannya. Kecuali jika transaksi tersebut dilakukan di pasar gelap", ujar Bambang. "Maksudnya Om?", tanya Bagas. "Pasar gelap dalam artian transaksi tersebut dilakukan secara ilegal. Karena memang banyak benda-benda bersejarah yang dijual-belikan secara ilegal di pasar gelap", jelas Bambang panjang lebar. Bagas hanya mengangguk-anggukkan kepala.


Bambang menutup buku diary kakek Bagas, sejurus kemudian ia menutup mukanya dengan kedua telapak tangan. Bambang mencoba untuk berpikir. Tak lama kemudian ia berkata, "Gas apapun benda yang dimaksud kakek lo, gue yakin ada hubungannya dengan diri gue. Karena kalo ngga ada, buat apa beliau secara spesifik memberikan buku itu ke gue".


"Itu saya setuju Om, saya rasa juga demikian. Tapi kira-kita benda apakah itu?", ujar Bagas. "Itu yang gue juga belum ada gambaran. Salah satu persamaan kakek lo sama gue adalah kita sama-sama Soekarnois. Apakah benda yang dimaksud kakek lo itu berkaitan dengan hal tersebut?", ujar Bambang sambil kemudian mengangkat bahunya.


"Pertanyaan yang paling penting saat ini adalah, seserius apa kita ingin memecahkan teka-teki ini?", tanya Bagas kemudian. "Maksud lo?", Bambang balik bertanya. "Kalo kita serius pengen mecahin teka-teki ini, menurut saya ya jangan setengah-setengah", jawab Bagas. Bambang nampak belum juga menangkap apa yang dimaksud Bagas. "Artinya kalo serius ya harus total, kita harus ke Brazil Om, karena itulah satu-satunya peluang kita untuk mengetahui benda apakah yang berharga 8 Juta Dollar itu", jelas Bagas


Seketika Bambang terdiam. Dalam diam ia bergumam dalam hati, benar apa yang dikatakan Bagas, satu-satunya jalan setelah Eyang Diah memutuskan untuk tidak membantu mereka, adalah mendatangi alamat dimana benda tersebut berasal. Artinya mereka harus pergi ke Rio de Janeiro menemui Dragão, orang yang berada dalam buku catatan Ridwa kakek Bagas. 


"Bagaimana Om, berangkat ke Brazil kita?", ujar Bagas menantang Bambang. "Hmmm, berapa lama kira-kira proses pembuatan visa ke Brazil?", tanya Bambang kepada Bagas. "Saya punya kenalan yang kebetulan sering ngurusin visa ke negara-negara Amerika Latin. Nanti saya akan tanya ke dia, paling lama mungkin semingguan", jawab Bagas.


"Ok. Kalo gitu mulai besok kita urus semuanya. Lo urus segala dokumen yang kita perlukan untuk bisa berangkat ke Brazil. Gue akan urus semua yang berkaitan dengan hal-hal yang kita perlukan selama di Brazil nanti. Kalo memang harus ke Brazil, ke Brazil kita!", ujar Bambang mantap.


Bambang dan Bagas akhirnya membulatkan tekat untuk meneruskan pencarian mereka ke Rio de Janeiro, Brazil. 


Seminggu kemudian, setelah semua dokumen yang diperlukam selesai, Bambang dan Bagas pun berangkat menuju Brazil. Mereka terbang menggunakan maskapai Emirates Airline dengan rute Jakarta - Dubai, kemudian dilanjutkan dengan Dubai - Rio de Janeiro. Sebuah perjalanan panjang yang akan memakan waktu kurang lebih 26 hingga 30 jam.


Akan seperti apa percarian Bambang dan Bagas Rio de Janeiro nanti? Apakah mereka berhasil menemuka apa yang mereka cari? Siapa itu O Dragão? Dan bagaimana petualangan Bambang dan Bagas di kota yang terkenal dengan keindahan pantainya tersebut?


Menarik kita tunggu kelanjutan kisahnya.


Bersambung....