Lanjutan....


Tiga minggu tlah berlalu sejak Bambang dan Bagas bertamu ke rumah Eyang Diah. Dan sejak saat itu tidak ada kabar apapun dari Eyang Diah. Nampaknya beliau memang tidak berkenan untuk membantu Bambang dan Bagas. 


Sementara itu, sambil terus berharap dan menunggu akan kemurahan hati Eyang Diah, Bambang dan Bagas tetap berusaha untuk memacahkan teka-teki yang ada di catatan Ridwan Soedjarwo. Namun sejauh ini, hasilnya jauh dari kata menggembirakan, hal tersebut dikarenakan kurangnya bukti-bukti, atau penemuan yang mendukung teori mereka berdua. 


Kesimpulan yang mereka dapatkan hingga saat ini mengenai benda yang dimaksud Ridwan dalam catatannya, adalah sebuah guci emas tua yang melambangkan sosok lelaki dan perempuan, dan guci tersebut dikirimkan dari Rio de Janeiro, Brazil. Itu saja.


Bagas berpendapat, jika benar barang tersebut adalah guci emas, maka bisa jadi guci tersebut adalah peninggalan suku Inca pra-Columbus dari lembah Urubamba, Peru. Atau masyarakat dunia sering menyebutnya dengan nama Machu Picchu. Pendapat Bagas tersebut didasari oleh simbol (Vi) pada catatan kakeknya, yang menyerupai sebuah simbol dalam bahasa suku Inca.


Sedang Bambang memiliki pendapat lain, dari penelusuran yang ia peroleh harta karun suku Inca sendiri masih menjadi misteri hingga saat ini. Peru memang dikenal sebagai wilayah yang memiliki banyak tambang emas dan perak, bahkan masih beroperasi hingga saat ini.


Lebih dari 5.000 artifak bangsa Inca telah ditemukan, artifak-artifak tersebut menjadi rebutan antara pemerintah Peru, dengan pihak Universitas Yale yang telah menemukan artifak tersebut. Tidak sedikit dari artifak yang ditemukan tersebut terbuat dari emas dan batu berharga, dengan nilai yang diperkirakan mencapai jutaan Dollar. Namun diantara artifak-artifak yang telah ditemukan tersebut, tidak ada satu penjelasanpun yang menyebut jika diantaranya terdapat guci emas.


Para ilmuwan berpendapat, jika penemuan-penemuan tersebut bukan merupakan peninggalan utama dari peradaban Inca. Mereka meyakini jika suku Inca menyimpan harta karun mereka di sebuah tempat bernama Paititi. Para ilmuwan menyebut Paititi sebagai "Inca Lost City", sebuah tempat yang hingga saat ini keberadaannya masih menjadi tanda tanya.. 


Insting Bambang malah berkata, jika barang yang dimaksud Ridwan Soedjarwo dalam catatannya bukanlah sebuah guci. Walaupun dalam nota pembayaran yang dikeluarkan bea cukai pelabuhan Tanjung Priok, tertulis jika benda tersebut adalah sebuah guci.


Mengapa demikian? Menurut Bambang guci lebih identik dengan peradaban bangsa Tiongkok, bukan Inca pra-Columbus. Sebagai contoh misalnya, di London sebuah barang antik berupa guci porselen "Qianlong" peninggalan abad ke-18 setinggi 40 CM, laku terjual seharga 51 juta euro, atau setara dengan Rp 612 Miliar. 


Namun demikian sejarah mencatat, jika tidak hanya suku Inca yang mendiami daerah Amerika bagian selatan atau Amerika Latin. Selain suku Inca, terdapat juga suku Maya yang tinggal di semenanjung Yucatan, Amerika bagian tengah, dan selatan. Kemudian ada suku Astek di daratan Meksiko bagian tengah, dan selatan. Juga suku Chibcha di pegunungan andes tepatnya di perbatasan antara Brazil, Kolombia, dan Guyana atau sekarang dikenal dengan nama Venezuela.


Artinya, jika dilihat dari letak geografis pengiriman barang yang berasal dari Rio de Janeiro, Brazil, dan jika benar barang tersebut adalah sebuah peninggalan kuno. Maka logika Bambang berkata jika benda tersebut adalah peninggalan dari suku Inca, atau suku Chibcha, yang notabene sama-sama tinggal di pegunungan andes tidak jauh dari Brazil.


Kebetulan suku Inca, dan Chibcha sama-sama dikenal memiliki kekayaan emas yang melegenda. Suku Inca dengan kisah “Paititi atau Inca Lost City”. Sedang suku Chibcha dengan legenda “El Hombre Dorado (The Golden Man) atau The Golden City (Kota Emas)”. Dua tempat yang hingga saat ini keberadaannya masih menjadi misteri. Sebagian ilmuwan bahkan berpendapat jika Paititi dan El Dorado bisa jadi adalah tempat yang sama. Kita tidak pernah tahu.


Jikalau benar yang dimaksud Ridwan dalam catatannya adalah peninggalan suku Inca atau Chibcha, maka rasa-rasanya benda tersebut bukanlah sebuah guci emas sebuah koin emas, topeng emas, senjata emas, mahkota emas atau patung emas rasanya lebih masuk akal.


Semua fakta-fakta diatas, sama sekali tidak cocok jika dihubungkan dengan catatan yang Bambang dan Bagas temukan, di buku biografi Bung Karno peninggalan Ridwan Soedjarwo. Begitupun dengan barang-barang bukti yang mereka temukan di bunker rumah Ridwan. Hal tersebut membuat Bambang, dan Bagas kehilangan arah dan prioritas untuk menelusuri keberadaan benda yang dimaksud Ridwan tersebut.


Sebenarnya mereka memiliki secercah harapan pada diri Eyang Diah, yang menurut pandangan mereka memiliki setidaknya sedikit informasi, mengenai benda yang dimaksud Ridwan dalam catatannya. Namun nampaknya Eyang Diah benar-benar enggan untuk membantu pencarian yang dilakukan Bambang dan Bagas. Ada sebuah trauma masa lalu yang terpancar dari wajah Eyang Diah, ketika melihat catatan yang ditinggalkan oleh Ridwan Soedjarwo. 


Sejujurnya sosok Ridwan Soedjarwo sendiri masih sangat misterius bagi Bambang. Dari berkas-berkas yang ia temukan di bunker rumah Ridwan, yang beberapa diantaranya berisi catatan interaksi Ridwan dengan orang-orang berpengaruh negeri ini dimasa lalu, seolah-olah menjelaskan bahwa Ridwan Soedjarwo bukanlah orang sembarangan.


Ditengah kebuntuan tersebut, tiba-tiba Bagas teringat akan sebuah alamat dalam nota pengiriman yang mereka temukan di bunker milik kakeknya. Sebuah alamat yang berlokasi di kota Rio de Janeiro, Brazil. Bagas berpendapat hanya itulah satu-satunya peluang bagi mereka, untuk mengungkap misteri dari apa yang dimaksud Ridwan Soedjarwo dalam catatannya.


Apakah Bambang dan Bagas pada akhirnya memilih untuk melanjutkan pencarian mereka ke alamat yang ada di nota pengiriman tersebut? Atau mereka memilih untuk kembali berusaha membujuk Eyang Diah, agar berbaik hati menolong mereka dengan memberikan informasi, mengenai barang apa yang dimaksud oleh Ridwan Soedjarwo. 


Menarik untuk kita tunggu bersama.


Bersambung.....