Lanjutan....


Rumah Eyang Diah


"Yakin ya?", tanya Bambang kepada Bagas ketika sampai di depan rumah Eyang Diah yang beralamat di jalan salatiga nomer 52. Mereka pun segera memarkir motor di pekarangan depan rumah tersebut. Sejenak mereka memandangi rumah berwarna merah bata berarsitektur bali yang terletak di ujung jalan ini.


Rumah ini berhalaman cukup luas, disana-sini dipenuhi pepohonan dan bunga-bunga yang tersusun dengan rapi, membuat rumah ini terlihat begitu nyaman dan asri. Suara kicau burung dan kokok ayam hutan memberi kesan pedesaan, walaupun rumah ini berada di jantung ibukota Jakarta.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?", terdengar suara seseorang memecah kesunyian. Seketika Bambang dan Bagas pun melihat kearah datangnya suara tersebut. Nampak seorang laki-laki muda berperawakan kurus tinggi keluar dari balik pepohonan. "Selamat siang Mas, saya Bambang dan ini teman saya Bagas. Apakah betul ini rumah Eyang Diah?", jawab Bambang. "Betul Mas, ada perlu apa ya?", tanya pemuda tersebut yang kemudian memperkenalkan diri bernama Agus, tukang kebun di rumah ini.


"Apakah Eyang ada dirumah Mas?" tanya Bagas. "Ehmmm sebentar saya lihat kedalam, kalo tidak salah sih ada. Mas-mas ini darimana ya? dan ada keperluan apa dengan Eyang?", tanya Agus memastikan. "Jika Eyang Diah berkenan, kami ingin bertemu. Sampaikan jika kami berdua dari keluarga pak Ridwan, pak Ridwan Soedjarwo", jelas Bambang. "Oh baik. Silakan menunggu di teras mas, saya akan sampaikan ke Eyang, semoga beliau tidak sedang tidur sore", ucap Agus sambil mempersilahkan Bambang, dan Bagas duduk di kursi yang berada di teras depan rumah tersebut.


10 menit kemudian, keluarlah seorang perempuan yang ternyata adalah asisten rumah tangga di rumah ini, "Silakan diminum tehnya mas, Eyang sedang berganti baju sebentar", katanya sambil menghidangkan dua gelas teh manis di atas meja. "Oh iya mba, terima kasih", jawab Bambang singkat.


Beberapa saat kemudian keluarlah seorang wanita berperawakan cukup tinggi, berkulit sawo matang dengan balutan daster batik berwarna biru. Kulitnya nampak sudah mulai berkerut dimakan usia. Namun dibalik gurat kerut wajahnya tersebut, tersirat sebuah kecantikan, dan keanggunan dimasa lalu. Dialah Eyang Diah Ayu, sahabat karib Ridwan Soedjarwo kakek Bagas.


Bambang dan Bagas pun segera berdiri menyambut kedatangan wanita tersebut. "Selamat siang, maaf sudah menunggu, saya Diah silakan duduk", sapa Eyang Diah dengan suara yang lembut penuh keramahan. "Iya Eyang, tidak apa-apa, sebelumnya mohon maaf jika kedatangan kami menggangu waktunya", jawab Bambang. "Oh iya Eyang, perkenalkan nama saya Bambang dan ini teman saya Bagas. "Oh iya-iya, jadi kalian ini kerabat Mas Ridwan? silakan diminum tehnya", ucap Eyang Diah sambil mempersilakan Bagas dan Bambang minum. "Oh iya terima kasih", sahut Bambang dan Bagas hampir bersamaan.


Setelah meneguk teh manis, Bambang pun membuka pembicaraan. "Begini Eyang, sebenarnya yang kerabat pak Ridwan adalah Bagas, saya hanya mengantarkan saja. Selebihnya biar Bagas yang akan menjelaskan secara langsung akan maksud kedatangan kami. Silakan Gas", ujar Bambang sambil melihat kearah Bagas.


Bagas yang nampak tidak siap, seketika menjadi gelagapan. Ia nampak kebingungan untuk memulai darimana, dalam menjelaskan perihal maksud kedatangan mereka kemari.


"Hmmm iya saya yang kerabat pak Ridwan Eyang, tepatnya cucu pak Ridwan dari putrinya yang bernama Sekar", Bagas coba menjelaskan tentang siapa dia, dan hubungannya dengan Ridwan Soedjarwo. "Oh iya Sekar baik-baik. Bukankah kamu punya kakak perempuan?", potong Eyang Diah. "Betul Eyang, namanya Laras", jawab Bagas. "Apa kabar kakakmu?", tanya Eyang Diah lagi. "Alhamdulillah, Laras dalam keadaan sehat Eyang", jawab Bagas. "Trus-trus, lanjutkan-lanjutkan. Maaf malah jadi memotong hehehe", ucap Ibu Diah kembali mempersilahkan.


"Begini Eyang, langsung saja pada pokok permasalahannya. 3 tahun yang lalu sebelum kakek meninggal, beliau sempat memberikan sebuah buku kepada saya. Ketika itu beliau meminta saya menyerahkan surat tersebut kepada Om Bambang", ujar Bagas sambil menunjuk Bambang. "Nah setelah sekian lama saya simpan, baru 4 bulan yang lalu amanah tersebut saya jalankan", lanjut Bagas menjelaskan.


"Buku apa itu, dan apa hubungannya dengan Eyang?", tanya Eyang Diah. "Begini Eyang, dalam buku tersebut kami menemukan sebuah catatan yang mirip seperti teka-teki. Dan selama 4 bulan terakhir ini kami berusaha keras untuk memecahkannya", ganti Bambang yang menjelaskan. "Jadi apa yang bisa Eyang bantu?", tanya Eyang Diah penasaran. "Dalam catatan tersebut kami menemukan nama Eyang, dan alamat rumah ini. Oleh karena itu kami kemari." jelas Bambang lagi.


Seketika Eyang Diah terdiam, raut mukanya nampak sedikit berubah. Beberapa saat kemudian, "Boleh Eyang lihat catatannya?", pinta Eyang Diah. Bagas pun segera melihat ke arah Bambang, Bagas nampak ragu untuk memperlihatkan surat tersebut kepada Eyang Diah. Bambang pun memberi isyarat kepala, agar Bagas menyerahkan surat tersebut. Maka dengan segera Bagas pun membuka tas ranselnya, dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat, dimana didalamnya terdapat catatan teka-teki di buku yang ditinggalkan Ridwan Soedjarwo.


"Silakan Eyang", kata Bagas sambil memberikan amplop tersebut. Wanita tersebut pun menerima amplop tersebut. Sejenak ia membolak-balik amplop berwarna coklat tersebut. Eyang Diah nampak sedikit ragu untuk membuka, dan melihat isinya.


Selang beberapa saat wanita tersebut pun membuka amplop tersebut, dan mengeluarkan secarik kertas berwana putih yang berada di dalamnya. Selanjutnya dengan seksama ia pun membaca surat tersebut.


Beberapa saat kemudian Eyang Diah kembali termenung, tersirat ia nampak tengah coba mengingat sesuatu, atau sebuah peristiwa dimasa lalu. Suasana menjadi hening. "Eyang baik-baik saja", terdengar suara Bambang memecah keheningan. "Ehhmmm iya, iya maaf, bagaimana?" jawab Eyang Diah terbata-bata.


"Bagaimana Eyang, apakah ada sesuatu yang Eyang ingat dan ketahui? apakah Eyang dapat membantu kami memecahkan teka-teki tersebut?", tanya Bambang kepada wanita tersebut. "Maaf ya, nampaknya ibu tidak dapat membantu apa-apa", jawab Diah dengan raut muka yang nampak berubah.


"Eyang yakin tidak mengingat apa-apa?", tanya Bambang lagi. Bambang sangat yakin jika ada sesuatu yang Eyang Diah sembunyikan. Hal tersebut nampak jelas dari perubahan air muka beliau saat membaca surat catatan.


"Maaf nak Eyang tidak ingat, dan tidak tahu apa-apa mengenai maksud dari isi catatan ini, sehingga Eyang tidak bisa membantu kalian", jawab Eyang Diah mencoba tenang. "Apakah ada lagi yang Eyang bisa bantu, jika tidak ada Eyang harus masuk, ada yang harus Eyang kerjakan", kata Eyang Diah melanjutkan.


"Baik Eyang, tidak ada. Sekali lagi mohon maaf jika kedatangan kami telah mengganggu waktu Eyang", ucap Bambang. "Iya tidak apa-apa, maaf ya Eyang harus kedalam, selamat sore", Eyang Diah berkata sambil berdiri tergesa-gesa, dan pamit masuk kedalam. Bambang dan Bagas pun hanya bisa berdiri melepas kepergian wanita tersebut, tanpa dapat berkata apa-apa lagi.


Sesaat kemudian Bambang berkata, "Gas lo ada pulpen?". "Oh ada om, sebentar", sahut Bagas sambil merogoh salah satu saku di tas ranselnya. Beberapa saat kemudian diapun menyerahkan sebuah pencil ke Bambang. Bambang mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya, dan menuliskan sesuatu di balik kartu nama tersebut.


"Nomer tlp lo berapa?", tanya Bambang kepada Bagas. "Lah kan Om ada", jawab Bagas singkat. "Iya tapikan di HP, ngga hafal, lo sebutin aja", pinta Bambang. Bagas pun menyebutkan nomer ponsel nya. Setelah selesai menuliskannya di kartu nama yang tadi ia ambil dari dompetnya, Bambang pun meletakkan kartu nama tersebut di meja. Dan mereka berdua pun beranjak pergi meninggalkan rumah tersebut.


Tanpa Bambang dan Bagas sadari, ternyata Eyang Diah memperhatikan mereka dari balik tirai kamarnya. Sepeninggal Bambang dan Bagas , perlahan-lahan wanita tersebut pun keluar dan memungut kartu nama yang ditinggalkan Bambang, dan menyimpannya.


"Bagaimana menurut Om tentang pertemuan tadi?", tanya Bagas kepada Bambang. "Gue rasa ada sesuatu yang Eyang Diah ketahui, atau minimal dia mengingat sesuatu. Terlihat jelas dari raut mukanya yang berubah saat membaca surat itu. Ada sesuatu di surat yang mengingatkannya pada sesuatu, entah apa itu", jawab Bambang.


"Tapi keliatannya beliau tidak mau membantu kita Om", kata Bagas lagi. "Bukan tidak mau membantu, perasaan gue mengatakan jika surat itu telah mengingatkan dia pada sebuah peristiwa yang kurang berkenan dihatinya. Raut mukanya mengatakan itu. Kita lihat saja nanti Gas, toh kita sudah meninggalkan kartu nama, dan semua kontak kita yang bisa dihubungi. Semoga beliau berubah pikiran dan menghubungi kita", ucap Bambang penuh harap.


"Jadi selanjutnya bagaimana?", kembali Bagas bertanya. "Tidak ada jalan lain, sambil berharap Eyang Diah berubah pikiran, tentu kita harus tetap berusaha memecahkan teka-teki ini sendiri", jawab Bambang. Bagas hanya mengangguk perlahan. "Gue sangat penasaran dengan simbol yang ada di surat, dan bukti pembayaran bea cukai itu. Coba lo cari-cari lagi siapa tau ada tanda-tanda lain di rumah lo", lanjut Bambang


"Baik Om", jawab Bagas. "Yasudah gue balik dulu, kabar-kabar kalo ada sesuatu yang lo temuin", ujar Bambang. Kembali Bagas mengangguk. Maka Bambang dan Bagas pun memacu vespa mereka kearah rumah masing-masing. 


Teka-teki ini menjadi semakin menarik. Apa kira-kira yang ada di benak Eyang Diah Ayu setelah melihat catatan peninggalan Ridwan Soedjarwo? mengapa raut mukanya berubah? teringat kepada sebuah peristiwakah ia? peristiwa apa? dan mengapa ia tidak memberitahu Bambang dan Bagas jika ia mengetahui sesuatu?


Ah sudah lah.


Bersambung.....