Lanjutan....


Sampailah Bagas dan Bambang di warung tongseng langganan Bagas. Lokasi warung tongseng yang dimaksud Bagas terletak di lokasi yang cukup asri, karena berada di sudut sebuah taman kecil tidak jauh dari jalan Salatiga. Selain tongseng warung ini juga menyediakan sate, gule dan juga nasi goreng kambing.


Setelah memarkir Vespa, mereka berdua pun mengambil posisi duduk yang sedikit agak jauh dari gerobak. Bambang dan Bagas memilih posisi duduk di bawah sebuah pohon yang tidak besar, namun cukup rindang untuk setidaknya dapat menghalangi sinar matahari yang siang ini cukup terik bersinar. Bambang memutuskan untuk mengenakan topi, pertama karena memang hari ini cukup panas, dan yang kedua agar wajahnya tidak terlalu dikenali.


Walau jam makan siang sudah lewat, namun warung ini masih saja terlihat cukup ramai, pertanda jika makanan yang mereka jajakan masuk dalam kategori enak. Terdapat 3 orang yang bekerja di warung ini mereka bergantian membakar sate, meracik bumbu, membuat minum, menyajikan makanan dan juga melayani pembayaran. Asap mengepul membumbung tinggi, semerbak wangi daging kambing yang dibakar, membuat siapapun yang berada di area sekitar akan tergugah selera makannya.


"Jadi biasanya lo mesen apa?", tanya Bambang kepada Bagas. "Tongseng sama sate daging campur hati 10 tusuk Om", jawab Bagas. "Mainkan, gue ngikut lo aja", ujar Bambang. Bagas pun segera memanggil salah satu pekerja di warung tersebut. "Pesen apa Mas?", tanya pekerja tersebut kepada Bagas. "Tongseng 2, sate daging 10 dan sate hatinya 10 tusuk Mas", pesan Bagas. "Pakai nasi atau lontong?", pekerja kembali bertanya. "Nasi satu, dan Om pake nasi apa lontong?", tanya Bagas sambil menoleh kearah Bambang, yang tengah asik mencoret-coret kertas berisi catatan yang berhasil mereka pecahkan. "Oh gue ngga pake nasi Gas, lontong juga ngga, kosongan aja", jawab Bambang.


Pekerja tadi sedikit kaget ketika menyadari jika orang bertopi yang tengah menjawab adalah Bambang Pamungkas. Komentar yang kemudian muncul adalah, "Lagi ngga main bola kept? Persija gimana Persija, payah nih kalah mulu". Bambang menoleh dan berkata, "Iya lagi ngga main bola nih, alhamdulillah Persija baik-baik saja. Ntar juga menang, sabar hehehe". "Ayo balik lah kept, mana loyalitasmu kept?", ujarnya lagi. Bambang hanya menanggapinya dengan senyuman. Dan pekerja tadi pun pergi untuk menyiapkan pesanan Bambang dan Bagas.


"Berat nih", ujar Bagas. "Apanya yang berat?", tanya Bambang. "Pembahasan yang tadi", ujar Bagas lagi. "Tadi mana?", tanya Bambang lagi. "Tadi masalah loyalitas hehehe", jelas Bagas sambil tersenyum. "Hahahahaha", Bambang pun tertawa. "Tidak semua orang tau mengenai permasalahan yang sesungguhnya Gas, dan tidak perlu juga kita menjelaskan kepada mereka semua", lanjut Bambang. 


"Tapi kan bisa jadi mereka akan salah persepsi mengenai hal ini Om. Bukan karena ketidaksukaan, tapi lebih karena ketidaktahuan", ujar Bagas. "Mereka superter dewasa Gas, mereka bisa menilai sendiri. Apapun reaksi mereka akan gue terima dan hargai, apapun itu", jawab Bambang. "Memang sebenarnya masalahnya apa sih Om?", tanya Bagas lagi. "Lo mau tau?", Bambang balik bertanya. "Ya kalo ngga keberatan sih", jawab Bagas. "Jadi begini..", Bambang sejenak menghela nafas.


Dan ketika Bambang baru saja mau memulai untuk menjelaskan, tiba-tiba datanglah pekerja warung tadi membawa pesanan mereka. "Silakan kept. Masnya mau minum apa ya? tadi belum pesen minum", tanya si pekerja kepada Bagas. "Kalo kapten saya sudah bawain, teh panas tanpa gula kan kept? seperti biasa hehehe", lanjutnya sambil mengidangkan pesanan Bambang dan Bagas.


"Kapan dia pesan Mas? seperti biasa, emang dia pernah kesini?, tanya Bagas heran. "Saya kan follow twitter kapten, jadi tau kalo dia sukanya teh panas tanpa gula, bukan begitu kept? hehehe", jawab si pekerja. "Oh gitu, saya air mineral dingin saja Mas", sahut Bagas sambil menggaruk kepalanya. "Berraattt, Berrraaaatt", ucap Bagas sambil melirik ke Bambang. Bambang hanya tertawa ringan.


Maka mereka pun menikmati pesanan mereka dengan lahapnya. Benar apa yang dikatakan Bagas, makanan di warung ini memang enak. Sambil makan Bambang berkata, "Gas siapa nama pemilik rumah tadi?". "Oma Diah Om, kenapa?," tanya Bagas. "Nama lengkapnya?", tanya Bambang lagi. "Wah saya ngga tau, Laras yang tau", jawab Bagas. "Siapa itu Laras?", Bambang kembali bertanya. "Kakak saya Om", jawab Bagas lagi. "Bisa lo tanya ke dia ngga? siapa tau namanya Diah Ayu", ujar Bambang. "Emang kenapa kalo namanya Diah Ayu?", giliran Bagas bertanya. 


"Nih", ujar Bambang sambil menunjukkan kertas yang ia coret-coret tadi. "Setiap huruf terakhir dari kalimat (Maksud, hati, berkata, ramah, apadaya, haty, takmampu), jika disusun akan menjadi nama DIAH AYU. Itulah kenapa kakek lo nulis kata hati bukan pake (i) tapi pake (y)", lanjut Bambang. 


Bagas pun seketika menghentikan makannya, dan melihat coretan tersebut dengan seksama. "Wah, bisa jadi, ngga kepikiran saya", ujar Bagas dan langsung menghubungi Laras kakaknya melalui ponsel.


Tak berselang lama, "Kak masih inget Oma Diah yang tinggal di jalan Salatiga ngga, sahabat kakek. Waktu kakek meninggal keliatannya dia juga datang kerumah", Bagas bertanya kepada kakaknya. Sejenak Bagas diam, ia nampak tengah mendengarkan. Sejurus kemudian kemudian Bagas berkata, "Oh maiii God. Hmmm ngga papa kak, ngga papa. Yasudah byeee..", ujar Bagas mengakhiri pembicaraan dengan kakaknya.


"Bagaimana?", tanya Bambang. "Betul Om, namanya Diah Ayu. Apa habis ini kita langsung kesana saja Om? saya jadi semakin penasaran", jawab Bagas dengan mata berbinar tanda semangat. "Ok", jawab Bambang sambil mengepalkan tangan tanda puas karena dapat memecahkan satu teka-teki lagi.


"Enak makanannya", lanjut Bambang. "Te O Pe kan Om? juara dunia lah pokoknya", jawab Bagas puas. "Kalo juara dunia sih belom. Hmmmm kira-kira ini masuk semifinal lah", ujar Bambang. "Jadi tongseng juara dunianya mana menurut Om?", tanya Bagas. "Ya ini masih dicari, kan baru semifinal jadi masih ada 4 warung tongseng. Tongseng ini kemungkinan akan masuk final sih, dan di final akan ketemu sama Tongseng Pak Manto pasar kembang Solo Gas hehehehe", ujar Bambang. "Bisa aja Om hahahaha", sahut Bagas sambil tertawa dan menyeka keringat yang mengucur dari keningnya dengan tisu.


Bersambung....