Pada suatu malam di rumah Bambang


20 Juli 1995


Anggun namun sangat kuat.


Lemah gemulai namun sangat cepat.


Mempesona dan selalu mampu memenangkan pertempuran.


Dan seluruh dunia pun mencarimu.


Vi


Au 79


Maksud, hati, berkata, ramah, apadaya, haty, takmampu.


Batu Tiga - 1245 (52)


"Apa yang ada di kepala lo melihat ini?", tanya Bambang kepada Bagas. Kalo dibaca sekilas, yang saya tau hanya baris ke enam Om, yaitu Au 79", jawab Bagas. "Emang arti Au 79 itu apa?", tanya Bambang lagi. "Au 79 itu dalam unsur kimia dalam tabel periodik berarti emas", jawab Bagas. "Darimana lo bisa yakin, kalo apa yang dimaksud kakek lo itu emas?", Bambang kembali bertanya. "Saya juga ngga yakin sih, kalo apa yang dimaksud kakek itu emas. Tapi kalo simbol Au 79 itu, dari apa yang pernah saya pelajari berarti logam mulia emas. Bisa jadi guci emas, jika dikaitkan dengan tanda pembayaran pajak yang kita temukan di bunker kakek", Bagas menjelaskan.


"Ok, lo catet dulu itu. Selanjutnya? kembali Bambang bertanya. "Hmmm, anggun namun sangat kuat. Lemah gemulai namun sangat cepat. Mempesona dan selalu mampu memenangkan pertempuran. Jika dilihat awal dari tiga kalimat pertama mengarah kepada perempuan Om", jawab Bagas yakin. "Betul, tapi di akhir setiap kalimat itu seperti kuat, cepat, dan menang identik dengan kaum lelaki", ucap Bambang dengan kening berkerut tanda berpikir.


"Ban ciiii mungkin?", ucap Bagas lirih sambil mengernyitkan dahi, tanda ragu-ragu. "Hah?", trus hubungan dengan kalimat selanjutnya apa? karena menurut gue makna dari setiap kalimat, akan menuntun ke kalimat berikutnya", sangkal Bambang.


"Dan seluruh dunia mencarimu. Nah kan di seluruh dunia banci memang selalu menarik perhatian Om", Bagas mencoba menguatkan pendapat nya. "Emang lo tertarik sama banci? kalo gue sih engga ya. Jadi kalo pendapat lo seluruh dunia tertarik, menurut gue itu kurang mendasar", ujar Bambang coba mematahkan pendapat Bagas.


"Kecuali, lo bisa membuktikan kalo almarhum kakek lo tertarik, atau minimal suka godain banci. Nah baru teori lo tadi bisa dipertimbangkan." kata Bambang lagi. "Astaughfirullah Om, ngga baik ngatain orang yang sudah ngga ada, bisa kualat", ujar Bagas mengucap. "Nah tadi kan lo yang berteori, bukan gue. Gue sekedar mencari penguat fakta doang", bela Bambang sambil tersenyum.


"Keyakinan gue mengatakan jika ini sebuah simbol, tapi simbol apa gue juga masih ngga tau. Coba kita ke kalimat selanjut nya. Maksud, hati, berkata, ramah, apadaya, haty, takmampu. Nah kalimat ini tidak wajar, sangat misterius." ujar Bambang sambil memukul-mukulkan pensil di keningnya.


"Bukannya itu kalimat biasa ya Om, yang artinya mungkin begini. Sebenarnya ingin bersikap ramah, tapi apa daya hati ngga ikhlas", Bagas kembali mengeluarkan pendapatnya. "Tapi kalo kalimat biasa, kenapa setiap katanya harus dipisah dengan koma ya?", Bagas menjadi ragu.


"Selain itu ada tiga kejanggalan dalam susunan kalimat itu. Penulisan Apa daya dan Tak mampu yang disambung, serta penggunaan huruf (y) dalam kata Haty yang seharusnya menggunakan huruf (i). Secara tata cara penulisan itu jelas salah", ujar Bambang. "Mungkin setiap kata memiliki maksud sendiri-sendiri om", ucap Bagas. "Hmmm, gue rasa juga begitu", sahut Bambang sambil menganggukkan kepala.


Kemudia Bagas melanjutkan, "Batu tiga - 1245 (52), nah apa kira-kira artinya yang ini", ucap Bagas sambil berpikir. Baris demi baris kalimat yang mereka temukan di buku peninggalan kakeknya membuat kepalanya pening. Dia betul-betul tidak memiliki petunjuk sama sekali.


Kemudian Bambang pun berdiri dan berjalan menuju ke arah jendela, pandangannya jauh menerawang dan menembus gelapnya malam. Tiba-tiba Bambang berkata, "Gas coba lo cari segala sesuatu yang berkaitan dengan kata Salatiga di internet?". "Apa hubungannya dengan Salatiga coba?", tanya Bagas sambil melakukan permintaan Bambang. "Coba saja jangan banyak tanya. Menurut guru sejarah esempe gue dulu, Salatiga itu berasal dari kata Selo Tigo, atau Batu Tiga. Bisa jadi maksud kata Batu Tiga itu kota Salatiga", jelas Bambang.


"Sebentar, sebentar. Ehhmmm, hasilnya adalah ditemukan tahun 750 masehi, kota lanjut usia, lereng gunung merbabu, sambel tumpang koyor, lapangan pancasila, ronde jago, prasasti plumpungan, bioskop reksa, tahu petis....", cerocos Bagas membacakan. Ketika Bagas masih asik membacakan fakta-fakta mengenai kota Salatiga, tiba-tiba Bambang menyela, "Kalo ditemukan tahun 750 masehi, berarti saat ini berapa umur kota Salatiga Gas?". "Hmmm, sebentar", jawab Bagas sambil kembali mengutak-atik laptopnya, "Usianya 1263 tahun", jawab Bagas lagi.


"Nah di surat tertulis angka?", tanya Bambang sambil membalikkan badan. "Di surat tertulis 1245", ujar Bambang perlahan. "Akkhh, berbeda ya. Hmmmm apa ya kira-kira penjabarannya", gumam Bambang dengan nada sedikit kecewa. "Sebentar, sebentar om, tulisan itu dibuat kakek tahun 1995, bisa jadi...", ucap Bagas sambil mengutak-atik kalkulator dalam iphone nya. Sejurus kemudian, "Nah pas om, ketemu angka 1245", ucap Bagas dengan nada puas. "Gimana ketemu nya?", tanya Bambang penasaran.


"Begini Om, di tahun ini 2013 kota Salatiga berusia 1263, sedang kakek menulis surat ini di tahun 1995. Artinya disaat kakek menulis surat ini, maka usia kota Salatiga masih 1245 Om, pas seperti yang tertera tulisan ini", jelas Bagas panjang lebar. "Nah", Ujar Bambang dengan mata berbinar. "Ok, jadi kita sepakati ya, jika arti kata Batu Tiga - 1245 itu adalah Salatiga. Kalo gitu lo catet lagi deh", ucap Bambang sambil tersenyum.


"Apakah ini yang membuat almarhum kakek lo, menyerahkan surat ini ke gue ya. Karena dia tau kalo gue berasal dari Salatiga", ujar Bambang. "Emang om berasal dari Salatiga, kalo iya sih, bisa jadi begitu." Bagas bertanya kepada Bambang. "Bukan juga sih, lebih tepatnya gue lahir di Getas, kira-kira 10 kilo arah utara dari Salatiga. Tapi kebanyakan orang menyebut asal gue dari Salatiga", terang Bambang.


"Trus apa hubungannya kota Salatiga dengan angka 52? Mungkin om pernah denger sejarah kota Salatiga dan hubungannya dengan angka 52?", Bagas bertanya kepada Bambang. "Hmmmm, ngga pernah, gue ngga pernah denger. Atau coba gue tanya temen gue di Salatiga sebentar.", jawab Bambang singkat.


"Nyo sehat. Sorry nganggu iki wengi-wengi, gek sibuk ora iki?", Bambang berbicara melalui telefon dengan seseorang dengan bahasa jawa. Entah apa jawaban dari ujung sana, namun kalimat yang kemudian keluar dari mulut Bambang adalah, "Kakeane hahahaha, ngene-ngene awakmu kan guru sejarah tho, iki aku meh takon sithik. Opo sejarah Solotigo ono hubungane karo ongko 52? tentang opo wae pokoke". Sejenak Bambang diam mendengarkan lawan bicaranya yang tengah menjelaskan sesuatu, kemudia ia berkata, "Sip-sip sesuk kabar-kabari yo nyo, salam nggo keluarga. Ok-ok, suwun". Dan Bambang pun mengakhiri pembicaraan.


"Temen gue akan cari tau, besok dia akan kasih kabar", ujar Bambang kemudian. "Jadi bagaimana kelanjutannya ini?", tanya Bagas. Ditengah suasana yang penuh tanda tanya, tiba-tiba Dewi muncul dari balik pintu sambil berkata, "Bagaimana bapak-bapak, apakah sudah ketemu harta karun peninghakam Bung Karno-nya hehehe. Nih tak buatin teh posi gula batu, siapa tau setelah ngeteh otaknya lebih encer, jadi lebih lancar mikirnya". "Waini, ngeteh poci dulu kita Gas. Matur suwun ya jeng", ucap Bambang dengan wajah berbinar-binar. "Trus ini lawannya apa?" lanjut Bambang. "Tenang Cin, itu Mpok Ati lagi ngrebus kacang", jawab Dewi.


"Wah jadi merepotkan tante, terima kasih." Bagas berkata dengan sedikit sungkan. "Ngga merepotkan lah Gas", ujar Dewi sambil duduk di sebelah Bambang. "Jadi sudah sampai mana?, tanya Dewi. "Sampai disini nih tan", jawab Bagas sambil menunjukkan coret-coretan yang ia buat.  "Boleh aku lihat?" tanya Dewi kepada Bambang dan Bagas. "Lihat aja, siapa tau kamu malah bisa memecahkan teka-tekinya. Perempuan kan paling jago kalo main tebak-tebakan." ujar Bambang sambil tersenyum menggoda Dewi..


Sejenak Dewi pun memperhatikan coretan tersebut, sesekali ia nampak berpikir. Bagas dan Bambang hanya memperhatikan, sambil menikmati teh poci yang masih mengeluarkan asap mengepul tersebut.


"Bagaimana tante, menemukan sesuatu, atau petunjuk mungkin?", tanya Bagas kepada Dewi. "Wah ngga terlintas apa-apa sama sekali. Tapi ngomong-ngomong dari mana kalian dapat kalimat Emas, dan Salatiga?" tanya Dewi. "Coba lo jelasin Gas", pinta Bambang kepada Bagas. Maka Bagas pun mulai menjelaskan asal-muasal penemuan kata-kata tersebut kepada Dewi.


"Oh begitu, wah aku jadi tertarik dengan kalimat Salatiga 52.", jawab Dewi. "Apa yang menarik? Apa arti dari kalimat itu menurutmu?", tanya Bambang penasaran. "Menurutku bisa jadi kalimat itu menunjukkan sebuat alamat, misalnya jalan Salatiga No: 52. Mungkin ngga.?" Dewi coba menjabarkan pendapatnya.


"Alamat? sesederhana itu? tapi masuk akal juga sih", ucap Bagas menanggapi. "Hmmmm,, tapi apakah semudah itu? dan kalo pun betul di kota mana kira-kira? bisa jadi di setiap kota ada jalan Salatiga No: 52", ujar Bambang ragu.


"Ya kenapa ngga dicoba dari yang dekat dulu, Jakarta. Kan keluarga besar kakek Bagas tinggal di Jakarta bukan? Siapa tahu kalian menemukan tanda-tanda atau petunjuk lain di alamat tersebut", Dewi kembali berpendapat. "Boleh juga sih. Jalan Salatiga di Jakarta itu di daerah mana ya?", tanya Bambang kepada Bagas. "Di deket Menteng Om, di sekitar jalan itu ada warung tongseng enak", jawab Bagas. "Kita nyari alamat rumah Gas, bukan mau wisata kuliner," ujar Bambang mengingatkan.


"Iya maksudnya kalo ngomongin jalan Salatiga, yang otomatis keinget tongsengnya Om, enak banget hehehe", ucap Bagas sambil tertawa ringan. "Emang beneran enak?", tanya Bambang dengan mimik serius. "Wah itu sih juara dunia Om, apalagi kalo makannya siang-siang, sambil ngadem dibawah pohon. Dijamin keringetan deh", Bagas meyakinkan.


"Ok, kalo begitu kapan kita telusuri jalan Salatiga, sekalian kita cobain itu tongseng langganan lo. Semoga ada sesuatu yang bisa kita dapat", ujar Bambang semangat. "Dasar pak kumis, ngga bisa denger makanan enak. Inget timbangan pak." seloroh Dewi mengingatkan suaminya. Mendengar ucapan Dewi tersebut, mereka bertiga pun tertawa bersama-sama.


Keesokan Harinya:


Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Cuaca kota Jakarta siang ini cukup terik. Siang itu Bambang dan Bagas sepakat untuk menjelajahi jalan Salatiga, sambil menikmati tongseng yang menurut Bagas berlabel juara dunia. 


Mereka sepakat bertemu di depan Plaza Senayan, salah satu mall yang cukup terkenal di ibukota. Kebetulan lokasi mall tersebut berdekatan dengan tempat kuliah Bagas.


Sebuah Vespa berwarna orange bertuliskan Pos Indonesia nampak di sudut halte bus di depan mall tersebut. Seorang laki-laki menggunakan jaket hitam dan helm dengan warna senada, nampak tengah duduk di atas vespa yang tengah diparkir. Orang tersebut tidak lain adalah Bambang. 


Hari itu Bambang memutuskan untuk menggunakan motor daripada mobil dengan berbagai pertimbangan, diantaranya adalah keadaan lalu lintas ibukota yang akan sangat padat menjelang sore hari, dan dengan mengendarai motor maka gerak Bambang akan menjadi jauh lebih cepat, dan fleksibel.


Telefon seluler Bambang bergetar tanda jika terdapat sebuah panggilan masuk, dan Bambang pun segera menerima panggilan tersebut, di layar tertera nama Bagas. "Yo, posisi dimana?, ucap Bambang membuka pembicaraan. "Om sudah di depan Plaza Senayan?", tanya Bagas. "Sudah", jawab Bambang singkat. "Ok ini saya baru keluar kelas, saya langsung menuju kesana", Bagas mengakhiri pembicaraan.


5 menit berselang Bagas sampai di halte tempat Bambang menunggu. Bagas datang menggunakan Vespa berwarna putih. Bagas nampak kebingungan karena ia tidak melihat penampakan Bambang di halte tersebut. Tiba-tiba "Gas", terdengar suara Bambang memanggil. Bagas pun menoleh ke arah datangnya suara. 


"Buset saya pikir tadi tukang pos Om hahahahaha", Bagas pun tertawa setelah melihat Bambang. "Hahahaha jalan kita", sahut Bambang. "Yuk", ajak Bagas. Dan mereka pun berkonvoi menuju arah jalan Salatiga di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.


15 menit berlalu, dan mereka pun mulai memasuki kawasan jalan Salatiga. Bagas yang berada di depan mendadak memberi sinyal lampu untuk menepi, Bambang pun mengikutinya, dan mereka pun berhenti di sebuah pertigaan jalan. "Ini jalan Salatiga Om, dan rumah ini nomer paling kecilnya", ujar Bagas sambil menunjuk sebuah rumah di depan mereka. "Ok sekarang kita tinggal cari nomer 52 nya", sahut Bambang. 


"Keliatannya Jalan Salatiga ini ada dua blok Om, nah saya kurang paham nomer 52 ada di blok ini, atau blok lanjutannya disana", Bagas menerangkan sambil menunjuk ke kejauhan. "Ok, kita urutin saja, toh kita ngga buru-buru, lagian kan kita mau nyibain tongseng andalan lo", ujar Bambang.


Maka Bambang dan Bagas pun perlahan-lahan menyusuri jalan Salatiga. Benar apa yang disampaikan Bagas, nomer 52 ternyata berada di blok terusannya. Akhirnya mereka berhenti satu rumah sebelum rumah yang bernomor 52. 


"Jadi ini rumahnya Gas ?", tanya Bambang kepada Bagas. "Kalo dilihat dari alamatnya sih iya Om, jalan salatiga nomer 52 ya ini", jawab Bagas memastikan. Sejenak mereka memandangi rumah berarsitektur Bali yang terletak di ujung jalan ini. "Sebentar-sebentar Om", tiba-tiba Bagas mencoba mengingat sesuatu. "Kenapa Gas?", tanya Bambang. "Keliatannya saya kenal dengan pemilik rumah ini Om", ujar Bagas sedikit ragu.


"Emang rumah siapa ini Gas?", Bambang semakin penasaran. "Iya sangat ingat, ini rumah salah satu sahabat kakek. Suatu ketika dulu saya pernah diajak kemari. Nama pemilik rumahnya kalo ngga salah Oma Diah", Bagas menceritakan apa yang ada dalam ingatannya. "Yakin lo Gas, wah jadi menarik nih, bisa jadi memang ada sangkut pautnya apa yang ditulis kakek lo dengan alamat ini", ujar Bambang.


"Jadi bagaimana sekarang? langsung masuk kita?, tanya Bagas. "Sebentar, sebentar main masuk aja lo. Sebaiknya sekarang kita ke tongseng dulu saja, gue laper nih. Sambil mikir apa kira-kira langkah selanjutnya", Bambang coba memberi ide. "Yang penting kita sudah tau rumahnya", lanjut Bambang. "Sepakat, kebetulan saya juga laper", jawab Bagas. Maka mereka pun bergerak menuju sebuah taman kecil tidak jauh dari situ, dimana terdapat sebuah warung tongseng kambing yang menurut Bagas juara dunia.


Bersambung....