Lanjutan....


Setelah hampir satu jam lamanya merunut satu-persatu deretan sandi yang ditemukan Bambang, di buku biografi Bung Karno tersebut, akhirnya semua kalimat pun berhasil tersusun dengan rapi.


Dan hasilnya adalah:


 


20 Juli 1995


Anggun namun sangat kuat.


Lemah gemulai namun sangat cepat.


Bersahaja dan selalu mampu memenangkan pertempuran.


Dan seluruh dunia pun mencarimu.


Vi (simbol)


79Au


Maksud, Hati, Berkata, Ramah, Apadaya, Haty, Takmampu.


Batu Tiga - 1245 (52)




Untuk beberapa saat Bambang memandangi bait demi bait tulisan yang ada di hadapannya, ia coba amati dan pahami dengan sangat seksama. Ia terlihat tidak memiliki petunjuk sama sekali. Tak lama kemudian ia menoleh ke arah Bagas. "Bagaimana?", tanya Bambang kepada Bagas. Bagas yang juga tengah memerhatikan, hanya menggelengkan kepala, Bagas menggaruk-garuk kepalanya tanda jika ia tidak memiliki pendapat.


Berhasil memecahkan deretan sandi yang tertulis di buku Bung Karno, ternyata tidak serta-merta membawa mereka kepada sesuatu. Yang mereka temukan hanyalah sebuah teka-teki baru, sebuah susunan kata yang menyerupai sebuah puisi. Sebuah puisi yang secara tersirat seperti menggambarkan sebuah benda. Namun benda apakah itu, Bambang dan Bagas tidak memiliki pentunjuk sama sekali.


2 jam sudah mereka bergelut dengan teka-teki yang menguras pikiran dan kesabaran tersebut. Dan hasil yang kurang menggembirakan tersebut, membuat Bambang dan Bagas tidak hanya lelah namun juga frustasi. 


Di tengah rasa hampa tersebut tiba-tiba Bambang berkata, "Gas kalo ngga salah kemarin lo sempet bilang kalo kakek lo punya bunker ya?". "Yup, bagaimana, mau lihat Om?", Bagas balik bertanya kepada Bambang. "Boleh kalo lo ngga keberatan", jawab Bambang. "Ngga sama sekali lah Om, yuk", ajak Bagas sambil berdiri dan berjalan ke arah garasi. Bambang pun segera mengikuti tepat di belakangnya.


"Wuuiihh gokil, mobil siapa ini Gas?", tanya Bambang saat melihat sebuah mobil Ford Mustang yang terparkir di garasi. "Mobil kakek Om, tapi sekarang saya yang pakai. Ini mobil favorit kakek, 1967 Ford mustang Shelby GT 500. Jarang saya pakai sih, boros nya ampun-ampunan", Bagas menjelaskan. "Keren juga selera kakek lo Gas", ujar Bambang sambil mengelus body mobil berwarna hitam dan masih sangat mulus tersebut.


"Trus mana bunkernya Gas?", lanjut Bambang. "Sebentar Om, kita harus pindahin mobil ini dulu", ujar sambil menunjuk mobil Ridwan Soedjarwo kakek Bagas. "Oh dibawah sini?", tanya Bambang sambil melongok kebawah mobil. "Yoi", jawab Bagas singkat sambil masuk ke mobil dan kemudian memindahkannya ke halaman depan.


Setelah mobil tidak lagi ditempatnya, terlihatlah sebuah lubang segi empat memanjang berukuran kira-kira lebar 1 meter dengan panjang 3 meter, mirip seperti yang terdapat di bengkel-bengkel servis mobil. Bambang bertanya dalam hati, "Mana ruangannya ya?". Sejurus kemudian Bagas pun datang. "Mana ruangan nya Gas?", tanya Bambang kepada Bagas. "Sabar Om,  sabar", jawab Bagas sambil melombat masuk ke lubang di lantai garasi tersebut.


Bagas menuju ke salah satu ujung lubang yang mengarah ke luar garasi. Dinding di sudut tersebut dilapisi dengan plat baja berwarna hitam. Bagas segera menekan kebawah sebuah tuas yang ada di bagian atas plat tersebut, dan plat pun amblas turun kebawah. Seketika terlihatlah sebuah lorong, dengan ukuran yang sama dengan lubang di bawah garasi tadi.


Bambang yang sedari tadi mengamati dari atas pun segera melombat kedalam lubang, dan mengikuti Bagas untuk masuk ke dalam lorong tersebut. Jadi bunker ini sebenarnya bukan berada di bawah garasi, namun di bawah tanah pekarangan di depan garasi. Namun pintu masuk menuju bunker ini berada di bawah garasi yang tadi tertutup mobil Shelby Mustang.


Panjang lorong tersebut kira-kira 5 meter, diujung lorong terdapat sebuah pintu kayu berwarna coklat tua. Bagas segera membuka pintu dan menyalakan lampu di dalam bunker tersebut. Bunker tersebut berada agak dibawah, sehingga kita harus menuruni beberapa anak tangga terlebih dahulu untuk mencapai lantai ruangan. Bunker ini tidak terlalu besar, namun juga tidak dapat dikatakan kecil, kira-kira berukuran 3 kalo 4 meter dengan ketinggian atap kira-kira 2,5 meter.


Di dalam ruangan ini terdapat meja dan kursi kerja, sebuah tempat tidur kecil dan sebuah rak buku. Di dinding tepat di atas meja kerja terdapat sebuah papan kerja berwarna coklat kayu. Ruangan ini juga dilengkapi dengan pendingin ruangan. Sebuah televisi layar datar berukuran 12 inci terpatri rapi di salah satu sudut atas ruangan ini. Juga terdapat sebuah toilet.


Jadi walaupun tidak terlalu besar dan berada dibawah tanah namun ruangan ini dapat dikatakan sangat nyaman. Di papan kerja yang tertempel diatas meja terdapat beberapa kertas yang ditempel, beberapa diantaranya seperti catatan, daftar nomer telefon, kartu nama dan beberapa hal yang lain. Kemudian Bagas mengambil sebuah tas kulit berukuran sedang dari bawah tempat tidur dan menaruhnya diatas meja.


"Kemarin saya menemukan ini Om", ujar Bagas. "Apa isinya Gas", tanya Bambang. "Coba Om lihat sendiri", jawab Bagas. Bambang pun segera membuka tas kulit tersebut, di dalamnya terdapat surat-surat, beberapa bukti transaksi, dan juga tanda terima. Bambang memeriksa berkas-berkas tersebut satu-persatu, Bambang cukup terkejut karena dalam berkas-berkas di tas tersebut, terdapat beberapa nama orang yang cukup populer di telinganya. Orang-orang yang selama ini dikenal sebagai pengusaha-pengusaha kelas kakap negeri ini.


"Gas kakek lo kerjanya apaan sih?", tanya Bambang. "Setau saya di rumah saja Om, tapi dulu katanya sih pengusaha", jawab Bagas. "Dari berkas-berkas ini sih kakek lo keliatannya bukan orang sembarangan Gas, keliatannya kakek lo banyak berurusan dengan orang-orang penting", jelas Bambang. "Masak sih", ujar Bagas.


Sejenak kemudian pandangan Bambang menyapu ke sekeliling ruangan, "Enak juga ya punya begini di rumah, kalo lagi ngga mau diganggu bisa ngilang ke bawah hehehe", ujar Bambang. "Wah ternyata disini juga ada sambungan telefonnya Gas", lanjut Bambang sambil menunjuk sebuah soket sambungan telefon yang berada dibawah meja kerja. "Tapi udah ngga ada pesawat telefonnya Om, berfungsi apa ngga juga ngga tau", jawab Bagas.


Bambang kemudian melihat-lihat beberapa hal yang terdapat di papan kerja yang menempel di tembok di atas meja, tak lama kemudian Bambang berkata, "Gas boleh lihat hasil catatan yang kita temukan tadi?". "Ada di atas Om", jawab Bagas. "Bisa lo ambil ngga?", tanya Bambang. "Bisa, tapi kenapa harus diambil?\', Bagas balik bertanya. "Lihat ini", jawab Bambang sambil menunjuk ke sebuah kertas berwarna kuning yang tertempel di papan kerja. "Kenapa dengan kertas itu", tanya Bagas. 


Bagas pun mendekat kearah papan kerja tersebut. "Tadi kita menemukan simbol di catatan, kalo ngga salah mirip sama simbol di kertas ini", jelas Bambang. "Oh iya-iya, coba saya ambil Om, jangan-jangan bener sama", ujar Bagas sambil bergegas kembali ke atas untuk mengambil catatan yang berada di teras samping rumahnya.


Sepeninggal Bagas, Bambang mencabut kertas kuning tersebut dan meletakkannya diatas meja. Kertas tersebut adalah sebuah bukti pembayaran bea masuk sebuah barang yang dikeluarkan oleh dinas bea dan cukai pelabuhan tanjung priok. Barang yang tertera di kertas tersebut adalah sebuah guci antik.


"Ini Om", ujar Bagas yang muncul dari pintu. Bambang pun segera mendekatkan catatan, dengan kertas bukti pembayaran bea cukai tersebut. "Cocok Gas\', ujar Bambang semangat. "Wah", sahut Bagas tak kalah semangat. "Ini adalah bukti pembayaran bea masuk sebuah guci antik, apakah barang yang dimaksud kakek lo adalah guci antik?", tanya Bambang kepada Bagas. 


"Bisa jadi Om. Di sini kita menemukan kalimat, "Dan seluruh dunia pun mencarimu". Apakah maksudnya, saking antiknya guci ini sampai seluruh dunia mencarinya?", ujar Bagas. "Hmmm di akhir puisi tertulis angka 1245 (52), bisa jadi guci itu dari tahun itu, makanya antik dan mungkin bersejarah", jawab Bambang. "Tapi kalimat "mencarimu", dari "Dan seluruh dunia mencarimu", berkesan jika barang yang dimaksud tengah dicari-cari atau hilang", lanjut Bambang berteori.


"Di sini tertulis jika barang (guci) ini dikirim dari Rio de Janeiro, Brazil. Ini ada alamat pengirimannya", ujar Bagas sambil menunjuk sebuah alamat di kertas tersebut. "Hmmm", Bambang mengecek alamat pengirim di kertas tersebut. "Jauh amat ya", ujar Bambang lirih.


"Gas begini saja, ini semakin menarik tapi juga semakin membingungkan. Karena waktu sudah cukup larut dan kita juga sudah lelah, sebaiknya sementara ini lo simpen semua barang-barang ini. Nanti sambil kita jalan memecahkan apa maksud dari puisi di kertas ini, nanti kita coba cari tau sekalian alamat ini", ujar Bambang kepada Bagas. "Baik Om, saya juga sudah capek. Besok atau lusa kita kerjakan lagi. Sambil nanti saya iseng cari-cari barang bukti pendukung di ruangan ini atau dibagian lain di rumah, siapa tau ada", jawab Bagas. 


Bambang dan Bagas pun mengakhiri pencarian mereka. Banyak sekali teori-teori yang lalu-lalang di benak mereka berdua. Namun karena malam yang sudah cukup larut, dan rasa lelah yang menggelayuti mereka berdua, akhirnya mereka pun memutuskan untuk melanjutkan pencarian di hari yang lain.


Bersambung....