Rumah Ridwan Soedjarwo, Menteng, Jakarta Pusat.


Waktu menunjukkan pukul 06: WIB. "Bambang Pamungkas secara resmi menyatakan pensiun dari tim nasional Indonesia. Hal tersebut di sampaikan secara resmi oleh pemain yang identik dengan nomer dua puluh tersebut, melalui laman pribadinya. Berita tersebut sontak membuat para pencinta sepakbola tanah air merasa terkejut", terdengar suara pembaca berita olahraga, di salah satu stasiun televisi swasta.


Bagas yang ketika itu tengah sarapan, sejenah mengalihkan perhatiannya ke arah televisi. Berita tersebut seketika membuat ia teringat dengan Almarhum kakeknya, Ridwan Soedjarwo. Bagas teringat peristiwa tiga tahun yang lalu, beberapa bulan sebelum kakeknya wafat. Saat sang kakek menitipkan sebuah buku kepadanya. Ketika itu kakeknya berpesan kepada Bagas untuk menyerahkan buku tersebut kepada Bambang Pamungkas.


Namun karena merasa tidak mengenal, dan tidak memiliki akses untuk berhubungan dengan Bambang Pamungkas. Ditambah lagi sejujurnya ia sedikit kurang suka dengan sosok yang bersangkutan, maka ia pun memutuskan untuk menyimpan buku tersebut. Sampai dengan saat Bagas mendengar berita pengunduran diri Bambang Pamungkas tersebut, buku dari sang kakek masih tersimpan rapi di salah satu laci di meja belajarnya.


Seketika Bagas pun merasa bersalah, ia beranjak menuju kamarnya. Di bukanya salah satu laci meja belajarnya, dimana buku tersebut tersimpan selama tiga tahun lamanya. Diperhatikannya buku berjudul "Penyambung Lidah Rakyat" yang merupakan biografi presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tersebut dengan seksama. Untuk beberapa saat Bagas pun terdiam. 


Dia membuka halaman demi halaman buku tersebut. Sebuah pertanyaan kembali muncul di kepalanya, apa kira-kira tujuan kakeknya ingin menyerahkan buku ini kapada Bambang? buku tersebut nampak biasa saja, tidak ada yang spesial. Bagas yakin jika buku tersebut juga bisa ditemukan dengan mudah di toko buku di mall-mall di Jakarta.


"Ah sudah lah, kewajibanku hanyalah menjalankan apa yang diamanahkan oleh kakek", gumam Bagas dalam hati.


Sejurus kemudian, Bagas menyalakan laptop kesayangannya. Dicarinya segala sesuatu yang berhubungan dengan nama Bambang Pamungkas, orang yang sejujurnya tidak ia sukai. Tak lama berselang ia menemukan website pribadi Bambang Pamungkas, bambangpamungkas20.com. Ia juga menemukan nomer telefon, dan alamat kantor menejemen Bambang Pamungkas (MSG Group).


Kemudian terpikir di benak Bagas untuk mengirimkan buku tersebut, namun kemana dia mau mengirimkannya, mengingat yang dia jumpai hanya alamat kantor menejemennya saja. Bagaimana dia dapat memastikan jika buku tersebut benar-benar sampai di tangan yang bersangkutan, seperti amanah sang kakek.


Bagas pun memutar otak, berusaha untuk menemukan cara agar dia dapat menjalankan amanah dari kakeknya, yaitu menyerahkan buku tersebut kepada Bambang Pamungkas. Sambil berpikir, Bagas bergegas menuju dapur. Ia membuat secangkir cappuccino, agar otaknya lebih encer dalam mencari jalan keluar.


Setengah jam berselang, timbullah sebuah ide di kepalanya. "Mengapa tidak aku antar saja buku ini ke kantor menejemennya secara langsung. Disamping itu, aku tinggalkan pesan juga di website pribadi, juga akun twitter nya. Untuk memastikan jika yang bersangkutan menerima surat tersebut", Bagas kembali bergumam dalam hati.


Bagas pun segera membungkus dengan rapi buku titipan kakeknya tersebut. Siang ini sepulang kuliah ia berniat untuk mengantarkan buku tersebut ke kantor menejemen Bambang Pamungkas di bilangan Kemang, Jakarta Selatan.


Siang itu cuaca Jakarta cukup terik. Sepulang kuliah Bagas memacu Vespa putihnya menuju ke arah Kemang, kantor MSG Group adalah tujuannya. Setelah sampai di Kemang dan mencari-cari untuk beberapa saat, akhirnya Bagas sampai juga ke alamat yang dituju. 


Yang Bagas temui ternyata bukan sebuah kantor, melaikan sebuah rumah makan, iya rumah makan khas Medan bernama Kedai Kak Ani. Bagas pun memarkir Vespanya dan masuk ke rumah makan tersebut. 


"Selamat siang Bang, untuk berapa orang?", tanya salah seorang pegawai yang bertugas untuk menerima tamu di rumah makan tersebut. "Oh iya Mba saya sendirian saja, bener Mba disini kantor MSG Group?", jawab bagas sedikit gugup. "Oh betul Bang, kantornya ada dibelakang, langsung kebelakang saja, nyambung kok", jawab pegawai tadi.


Bagas pun bergegas ke arah belakang rumah makan ini. Ruangan rumah makan ini berbentuk huruf L, dibagian depan adalah rumah makan sedang dibagian belakang adalah kantor dari MSG Group, menejemen Bambang Pamungkas.


Seorang perempuan menyambut Bagas ketika ia memasuki ruangan kantor MSG Group, perempuan tersebut bernama Lina, salah satu staf di kantor tersebut. "Selamat siang Mas, ada yang bisa dibantu?", tanya Lina ramah kepada Bagas. "Siang Mba, saya Bagas apakah benar ini kantor menejemen Bambang Pamungkas? saya ingin menitipkan sesuatu untuk Mas Bambang", jawab Bagas menjelaskan tujuannya.


"Oh betul disini kantor menejemennya, kalo boleh tau mau menitipkan apa ya?",  tanya Lina kembali. "Sebuah buku Mba, mohon untuk disampaikan kepada Mas Bambang", jelas Bagas. "Oh baik, nanti disampaikan, ngomong-ngomong titipan ini dari siapa, dan Mas nya sendiri siapa?" tanya Lina lagi.


"Oh iya maaf, sampai lupa mengenalkan diri. Nama saya Bagas Mba, buku ini dari kakek saya untuk Mas Bambang, nama kakek saya Ridwan", terang Bagas panjang lebar. "Ada nomer telefon, email atau apapun yang bisa dihubungi Mas, siapa tau nanti Mas Bambang nya mau menghubungi?" lanjut Lina. "Ada Mba, ini kartu nama saya", jawab Bagas sambil mengeluarkan kartu nama miliknya dan memberikan kepada staf kantor MSG yang bernama Lina tersebut. Setelah semuanya selesai, Bagas pun pamit pulang. 


Sebelum memacu Vespanya untuk kembali ke rumah, Bagas meninggalkan pesan di website pribadi Bambang Pamungkas serta akun twitternya @bepe20 dan @bepe20s.


Selesai sudah tugas Bagas untuk menyampaikan amanah yang diberikan oleh kakeknya, setelah tiga tahun akhirnya ia memberikan buku titipan kakeknya kepada menejemen Bambang Pamungkas. Apakah buku tersebut pada akhirnya sampai ke tangan Bambang Pamungkas, itu sudah bukan menjadi tanggung jawabnya lagi.


Bersambung....