Lanjutan....


Pagi ini matahari bersinar cerah, jam di dinding kamar tempat dimana Ridwan tengah dirawat menunjukkan pukul 7:38 WIB. Laras nampak tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk kakeknya, sarapan yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit tentunya.


"Ras mana adikmu?", tanya Ridwan kepada Laras. Sambil menyiapkan sarapan Laras menjawab, "Ngga tau kek mungkin sedang dalam perjalanan kemari. Tadi pagi dia pulang untuk mengambil perlengkapan kuliah", jelas Laras. "Pulang jam berapa dia, kok kakek ngga tau", tanya Ridwan lagi. "Jam berapa ya, kira-kira jam 6an lah kek. Kakek ada perlu dengan Bagas?", tanya Laras. "Iya, ada sedikit hal yang ingin kakek sampaikan ke dia", jawab Ridwan.


"Coba kamu telefon Bagas, siapa tau dia masih dirumah", pinta Ridwan kepada Laras. "Baik kek", jawab Laras sambil meraih telefon genggamnya yang berada di meja. Sejurus kemudian, "Gas, dimana?" tanya Laras kepada Bagas di ujung telefon. "Baru selesai mandi kak, habis ini Bagas langsung kesana. Ada apa?", jawab Bagas diseberang sana. "Ok, sebentar ini kakek pengen ngomong", lanjut Laras sambil menyerahkan telefon genggamnya kepada Ridwan.


"Gas, kamu masih dirumah?", tanya Ridwan kepada Bagas. "Masih, ada yang mau dibawakan dari rumah kek?", jawab Bagas. "Iya bisa tolong kakek. Coba kamu masuk ke kamar kakek, dan ambilkan buku yang berada di meja sebelah kanan tempat tidur kakek", ujar Ridwan kepada cucunya. "Baik kek, ini saya menuju kamar kakek, sebentar", jawab Bagas sambil berjalan menuju kamar kakeknya. 


Tak lama kemudian, "Di meja sebelah kanan kan kek?" tanya Bagas memastikan. "Iya sebelah kanan, ada buku apa saja disitu?" tanya Ridwan. "Hmmmm disini ada 6 buku, dan semuanya tentang Bung Karno. Kakek mau dibawakan yang mana?", Bagas menjelaskan. "Ambil buku yang berjudul Penyambung Lidah Rakyat", perintah Ridwan. 


"Hmmm kek ada 2 yang judulnya begitu, mana satu yang harus di bawa?", tanya  Bagas lagi. "Bawa yang diterjemahkan oleh Mayor Abdul Bar Salim", ujar Ridwan memberi petunjuk. "Siap komandan, buku sudah berada ditangan saya. Saya segera meluncur kesana", jawab Bagas. "Lanjutkan..!!!", Ridwan menutup pembicaraan.


Laras yang sedari tadi menyimak pembicaraan kakek dan adiknya tersebut nampak tersenyum kecil.


Tak lama berselang terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Laras pun segera berjalan menuju pintu dan membukanya. "Oh selamat pagi Dok, silakan masuk", ujar Laras mempersilahkan setelah melihat yang datang ternyata Dokter berserta tim nya. Jam menunjukkan pukul 08:15 WIB, memang jam segitulah biasa Dokter jaga mengunjungi pasien-pasien nya.


"Selamat pagi Pak, bagaimana kondisinya? wah nampaknya ceria sekali pagi ini. Sudah sarapan?", dengan nada ramah si Dokter memberi berondongan pertanyaan kepada Ridwan. Dengan tersenyum Ridwan pun menjawab, "Alhamdulillah saya baik-baik saja Dok. Dokter yang seharusnya memberi tahu bagaimana perkembangan kondisi saya hehehe". 


"Pak Ridwan bisa saja hehehe. Apakah ada keluhan Pak", tanya Dokter kembali. "Tidak ada dok, hanya kemarin sore saat buang air kecil agak sakit", jawab Ridwan. "Kurang minum air putih mungkin?" kembali Dokter bertanya. "Lumayan banyak juga sih sebenarnya Dok", Ridwan coba mengelak. "Ya mungkin sudah lumayan banyak, tapi akan lebih baik lagi dari yang lumayan banyak tadi ditambah sedikiiiittt lagi hehehe", ujar Dokter sambil bercanda. "Baik Dok", jawab Ridwan singkat.


"Kondisi Pak Ridwan cukup stabil, cuma hasil lab menunjukkan gula darahnya masih cukup tinggi nih Pak. Pola makan harus lebih dikontrol lagi pak, dan konsumsi air putihnya harus banyak. Agar ginjal nya ngga bekerja terlalu keras. Kan Pak Ridwan sudah paham kira-kira kondisi ginjal bapak kan?", jelas Dokter. "Baik dok, baik", jawab Ridwan kembali.


Setelah selesai berinteraksi dengan Ridwan, dan tim suster juga telah selesai mengecek semua hal yang perlu di cek, maka Dokter beserta tim nya pun pamit. Sejurus setelah dokter beserta tim meninggalkan kamar Laras berkatan kepada kakeknya, "Bagaimana kek, dengar sendiri kan penjelasan Dokter tadi? jadi jangan suka susah kalo dikasih tau. Makanan harus betul-betul dikontrol". "Iya, iya kakek dengar" , jawab Ridwan agak kesal.


"Makan untuk kesehatan kek, jangan makan untuk rasa", lanjut Laras lagi. "Iyaaaa kakek sudah paham. Cerewet sekalI kamu ini kayak almarhum nenekmu dulu", sahut Ridwal molai sewot. Disaat Laras yang tengah menasehati kakeknya tiba-tiba muncul Bagas dari balik pintu.


"Pagi semua", sapa Bagas kepada Ridwan dan Bagas. "Pagi, pagi", jawab Laras dan Ridwan hampir bersamaan. "Mana buku pesanan kakek Gas?", tanya Ridwan. "Sebentar", jawab Bagas sambil memasukkan tangannya kedalam tas punggungnya. "Ini kek", lanjut Bagas sambil menyerahkan sebuah buku bersampul merah darah pesanan kakeknya.


Ridwan sejenak membolak-balik buku tersebut, kemudian ia langsung menuju ke halaman belakang dari buku tersebut. Ia melihat-lihat dengan seksama sebuah halaman kosong di bagian akhir dari buku tersebut, diusap-usapnya beberapa kali halaman tersebut. Beberapa saat kemudian ia kembali menyerahkan kembali buku tersebut kepada Bagas, dan memintanya menyimpannya didalam tas.


Bagas nampak kebingungan dengan apa yang batu saja kakeknya lakukan. "Kek ngga jadi nih, kenapa bukunya dikembalikan lagi ke Bagas?", tanya Bagas. "Iya kakek hanya ingin memastikan sesuatu", jawab Ridwan. "Sesuatu apa kek?, tanya Bagas lagi. "Suatu saat nanti (mungkin) kamu akan tahu maksud kakek", jelas Ridwan.


"Ngapain tadi dibawa kesini kalo cuman diusap-usap doang kek, kek", ujar Bagas agak kesal. "Begini Gas, sebenarnya kakek mau minta tolong lagi ke kamu", Ridwan berkata dengan mimik serius. "Minta tolong apalagi kek?", tanya Bagas juga dengan mimik yang masih kesal. "Begini, kakek ingin kamu berikan buku tadi ke seseorang", lanjut Ridwan. "Seseorang siapa kek?, kembali Bagas bertanya, kali ini dengan mimik penasaran.


"Kakek ingin kamu berikan buku tadi kepada Bambang Pamungkas", ujar Ridwan. "Hah Bambang Pamungkas? kakek kenal dengan dia", Bagas nampak heran dengan apa yang baru saja ia dengar. "Ngga kakek ngga kenal dengan Bambang", Jawab Ridwan. "Trus kenapa tiba-tiba kakek ingin menyerahkan buku tadi ke dia", lanjut Bagas dengan semakin penasaran.


"Kamu ngga perlu tau, kakek cuma minta kamu serahkan buku tadi ke dia, bagaimana caranya itu terserah kamu", Ridwan menjelaskan. "Tapi saya kan ngga kenal sama dia juga kek, mau nemuin dia dimana juga saya ngga tau. Lagipula sejujurnya saya kurang suka sama orangnya kek", jelas Bagas.


"Kenapa kamu ngga suka sama dia Gas?", giliran Ridwan bertanya. "Hmmmm kenapa ya? mungkin karena kalo diperhatiin keliatannya orangnya sombong, dan ngga ngenakin aja kek", jawab Bagas. "Emang kamu kenal dia?, tanya Ridwan kembali. "Ngga juga sih, cuma kalo dilihat dari gerak-geriknya dan juga apa kata orang selama ini, keliatannya orangnya agak-agak songong gitu", jelas Bagas kembali. 


Penjelasan tersebut membuat Ridwan tertawa lebar. "Mau sedikit nasehat dari kakek?", tanya Ridwan kepada cucunya. "Apa kek", tanya Bagas. "Jangan pernah menilai seseorang dari apa kata orang, karena bisa jadi dasar dari penilaian orang tersebut tidak sama dengan kita. Begitulah pengalaman mengajarkan kepada kakek", ujar Ridwan menasehati cucunya.


"Jadi menurut kakek Bambang Pamungkas itu orangnya bagaimana?", tanya Bagas kepada kakeknya. "Sejujurnya kakek juga tidak tahu", jawab Ridwan. "Jadi bagaimana kakek bisa berkata jika pendapat saya tadi salah?", Bagas kembali bertanya. "Kakek tidak bilang Bambang Pamungkas itu orang baik, dan pendapat kamu itu salah. Kakek hanya bilang, sebisa mungkin jangan menilai seseorang hanya dari pendapat orang lain. Karena bisa jadi pendapat orang itu salah Gas", Ridwan menjelaskan.


"Artinya bisa jadi Bambang memang, apa istilah kamu tadi?", tanya Ridwan. "Songong kek", jawab Bagas. "Iya itu tadi songong, tapi bisa jadi juga sebaliknya. Maksud kakek, apapun penilaian kamu tentang seseorang adalah karena pendapat kamu sendiri, bukan karena dipengaruhi oleh pendapat orang lain. Sekali lagi kakek ngga bilang Bambang itu orang baik atau songong atau apapun itu. Kakek hanya ingin menyarankan kepadamu, jika menilai seseorang ya jangan karena apa kata orang. Itu saja", kembali Rudwan menjelaskan panjang lebar. "Baik kek", jawab Bagas singkat.


"Jadi, serius nih kasih ke Bambang Pamungkas?", kembali Bagas memastikan. "Apa kupingmu sedang bermasalah Gas?" Ridwan balik bertanya. "Ya kasihkan lah, kan tadi kakek sudah bilang", lanjut Ridwan. "Baik, baik. Tapi gimana cara ngasihnya kek", Bagas bertanya kembali. "Bagaimana eksekusinya kakek serahkan kepadamu, kapan nya juga terserah kamu. Nantinya bukunya mau diapain sama si Bambang juga bukan urusan kamu. Tugasmu hanya menyerahkan buku itu kepadanya, selesai perkara", tegas Ridwan. "Siap kek, siap", jawab Bagas menyudahi pembicaraan.


Empat bulan kemudian di Rumah Sakit yang sama Ridwan Soedjarwo menghembuskan nafas terakhir. Menurunnya fungsi ginjal secara bertahap, membuat ia tidak lagi mampu bertarung melawan kanker yang menyerang ginjalnya sejak 3 tahun terakhir. Ridwan meninggal dalam usia 74 tahun.


Bersambung....