Suatu sore di bulan Desember tahun 1984


Di sebuah rumah di pinggiran pantai Copacabana, Rio de Jeneiro, Brazil.


"Kriiinngg, Kriiinngg, Kriiinngg", sebuah telefon tua berdering, suaranya keras memekakkan telinga. Dengan sedikit tergopoh-gopoh seorang lelaki setengah baya berlari menghampiri telefon yang berada di sudut ruangan. Lelaki tersebut pun segera mengangkat gagang telefon.


"Holla", sapa lelaki tersebut. "Bagaimana?", terdengar orang bertanya dengan suara serak dan berat dari ujung sana. "Aman, sudah berada di tanganku", jawab lelaki itu. "Kapan aku bisa memilikinya?", tanya suara dari seberang sana lagi."Segera poha, segera, sekarang tinggal kau kirim sisa pembayarannya kepadaku", kata lelaki setengah baya tersebut memerintahkan.


Dragao, Dragao, Dragao, sesuai perjanjian kita sisa pembayaran hanya akan kau terima setelah barang itu berada ditanganku, aku tunggu kau di Jakarta", suara orang diujung telefon mengingatkan. "Oke poha ok, beri aku waktu seminggu untuk membawanya kepadamu", jawab lelaki setengah baya yang dipanggil Dragao tersebut memastikan. Tanpa memberi jawaban, orang diujung sanapun menutup telepon....


 


*26 Tahun Kemudian*


Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta, 2010


Kamar 321


Di televisi nampak tengah berlangsung pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Thailand, dalam lanjutan babak penyisihan Piala AFF 2010. Dua anak muda kakak beradik nampak tengah menyaksikan pertandingan, sambil menemani kakeknya yang tengah tergolek lemah di tempat tidur. Dua kaka beradik tersebut adalah Laras dan Bagas, sedang kakek mereka yang tengah tergolek sakit bernama Ridwan Soedjarwo.


"Kek mending kita nonton acara yang lain deh, daripada nonton bola ngga jelas begini", keluh Laras kepada Ridwan kakeknya. "Iya kek, mending kakek istirahat saja, tidur kek biar cepat sembuh, jangan dipake nonton bola", sambung Bagas sambil mengutak-atik iphone nya. Dengan suara lemah Ridwan menjawab, "Jangan diganti, ini pertandingan penuh gengsi, kita sudah lama kita ngga menang lawan Thailand".


"Makanya ngga usah ditonton kek, paling ntar kita juga kalah lagi", ujar Laras enteng. "Huuss jaga bicaramu, perasaan kakek mengatakan kalo kali ini kita yang akan menang", sahut Ridwan percaya diri.


Pertandingan sendiri berjalan begitu alot dan seru, hingga babak pertama berakhir skor masih sama kuat 0:0. "Ayo Riedl, masukin bepe dong", seru Ridwan bersemangat. "Ah bepe mah sudah tua kek, sudah loyo, udah ngga bisa diarepin lagi", sahut Bagas. "Emang bepe itu siapa Gas?" tanya Laras kepada Bagas. "Ada kak pemain bola Indonesia, dulu sih (lumayan) jago, tapi sekarang udah tua, loyo dan mandul pula", jawab Bagas.


"Kasihan bener si bepe, ngga bisa punya anak dong dia", tanya Laras lagi. "Hah, kok jadi ngga bisa punya anak sih?", ujar Bagas heran. "Nah barusan lo yang bilang kalo bepe itu udah tua dan mandul pula, berarti dia ngga bisa punya anak dong", cerocos Laras. "Maksudnya mandul itu udah ngga bisa ngegolin lagi kak, bukan ngga bisa punya anak", jelas Bagas. "Susah kalo ngomong sama orang yang ngga ngerti bola", lanjut Bagas sewot . "Oh gitu, ya mana gue tau Gas", jawab Laras membela diri.


Ridwan hanya tersenyum melihat percakapan dua cucunya yang sama-sama tidak menyukai sepak bola tersebut.


Pertandingan babak kedua pun dimulai. Tak lama berselang Thailand memimpin melalui sepakan volley pemain bernama Surat Sukha. "Aarrkkhhh", teriak Ridwan diikuti dengan rentetan batuk yang cukup panjang. Sontak Laras dan Bagas pun berdiri dan berkata "Kek, kek, kakek kenapa? kakek kenapa?". Laras pun segera menekan tombol emergency untuk memanggil suster jaga.


Nafas Ridwan nampak tersengal diselingi batuk-batuk, ada sesuatu yang ingin dia sampaikan namun terhalang oleh deru nafasnya yang tidak beraturan. "Kek istighfar kek, istighfar", ucap Bagas sambil memijit-mijit kaki kakeknya.


Tiga orang suster menerobos masuk ke kamar, sejurus kemudian, "Ada apa pak, bagaimana, apa yang dirasakan pak?", tanya salah satu suster sambil menaikkan tempat tidur bagian kepala ke posisi yang lebih tinggi. "Atur nafas perlahan-lahan pak, jangan buru-buru, atur nafasnya", ucap suster yang lain sembari mencotohkan.


Ridwan nampak mencoba untuk mengatakan sesuatu, matanya melotot dan nampak merah, tangannya menunjuk ke depan. Adegan tersebut membuat Laras terduduk kaku di sofa, mukanya nampak pucat ketakutan. Bagas sibuk membaca doa sembari terus memijat-mijat kaki kakek nya. "Istighfar kek, istighfar", ujar kembali.


"Atur nafas dulu pak, jangan dipaksa untuk bicara, atur nafas perlahan-lahan", ujar suster memberi komando. Suster ketiga nampak mengecek semua alat bantu yang tengah terpasang, memastikan jika semuanya berjalan baik-baik saja, dan dalam keadaan normal.


Beberapa saat kemudian nafas Ridwan pun mulai normal. Setelah meminum beberapa teguk air putih Ridwan pun berkata, "Ngga papa, saya ngga papa sus, saya baik-baik saja". "Tadi katanya bapak berteriak kesakitan disertai batuk-batuk", saut salah satu suster. "Saya berteriak bukan karena sakit sus, saya teriak karena kecewa", jawab Ridwan.


"Kecewa kenapa kek?" tanya Bagas penasaran. "Itu, kecewa karena itu", sahut Ridwan sambil menunjuk kearah televisi. "Ada apa dengan televisinya pak, bapak minta diganti dengan televisi yang lain, atau bagaimana?" tanya suster. "Bukan, bukan itu, saya kecewa karena baru saja Indonesia kebobolan", jelas Ridwan.


"Astaghfirullah kek, Laras pikir kakek kenapa-napa, sampai dingin semua badanku", ucap Laras sambil berdiri dari sofa. Bagas yang dari tadi memijat kaki kakek nya pun menarik nafas panjang dan menghempaskan diri ke sofa. Ia mengelus-elus dadanya sambil berkata, "Sabar, sabaaaaarrr, sabar Gasssss".


Ketiga suster yang tadinya juga ikut panik pun kemudian nampak menjadi tenang. Setelah memastikan jika semua baik-baik saja, maka mereka bertiga pun segera meninggalkan ruangan.


Beberapa saat kemudian di televisi nampak Bambang Pamungkas tengah berdiri di pinggir lapangan, bersiap-siap untuk masuk kelapangan. Ridwan pun segera berteriak, "Nah begitu dong, sekarang baru rame, ayo mbang bambang".


Bagas dan Laras pun segera melihat ke arah televisi, terlihat Bambang Pamungkas masuk menggantikan Irfan Bachdim. "Yaaah kenapa Irfan yang diganti, yang gantiin bepe pulak. Bakal tambah parah nih mainnya Indonesia", ucap Bagas kecewa. "Oh ini yang namanya Bambang Pamungkas", ujar Laras sambil mengangguk-anggukan kepala.


"Ras tolong buatin kakek teh manis, jangan terlalu panas ya, suam-suam saja", ucap Ridwan dari atas tempat tidur sambil memperbaiki posisi tidurnya. Laras pun segera melakukan apa yang diperintahkan kakek nya.Semenjak Bambang Pamungkas dimainkan Ridwan nampak begitu antusias. Dari raut wajahnya tersirat sebuah keyakinan, jika di sisa waktu yang ada Indonesia masih mampu membalas, atau bahkan memenangkan pertandingan.


Pertandingan pun kembali berjalan dengan alot, jual-beli serangan kembali terjadi diantara kedua tim. Hinggalah sampai pada menit ke-82, Indonesia mendapatkan sebuah tendangan bebas di sisi kiri pertahanan Thailand. Eka Ramdani yang menjadi eksekutor mengumpan bola ke arah mulut gawang Thailand. Bola memantul tepat di titik pinalti, tendangan Eka yang cukup deras tersebut luput diantisipasi oleh para pemain belakang Thailand. Bola mengarah ke tiang jauh, dan mengenai tiang gawang.


Bola memantul kembali ke mulut gawang, dan dalam posisi kalang-kabut salah satu pemain belakang Thailand melakukan pelanggaran dengan menarik baju Cristian Gonzales. Tak pelak wasit pun langsung meniup peluit, dan menunjuk titik putih. Hukuman tendangan 12 pas untuk negeri gajah putih.


Seketika seisi stadion pun bergemuruh, 88 ribu pendukung tim nasional Indonesia berteriak gembira. Begitu pula Ridwan, Laras dan Bagas yang berada di kamar 321 Rumah Sakit Abdi Waluyo, mereka berteriak antusias. Namun beberapa saat kemudian seluruh isi stadion terdiam, begitu juga Ridwan, Laras dan Bagas.


Mereka tersadar, jika hadiah pinalti tidak serta-merta membuat kedudukan menjadi imbang 1:1. Ada proses selanjutnya yang harus dijalani, yaitu eksekusi pinalti itu sendiri. Jika eksekutor gagal dalam menjalankan tugasnya, maka hadiah itu pun akan sia-sia, dan Thailand akan tetap memimpin. Suasana menjadi hening, hanya suara komentator di layar televisi yang terdengar tengah menebak-nebak siapa kira-kira yang akan menjadi eksekutor tendangan 12 pas ini.


Ditengah lapangan, nampak beberapa pemain Indonesia tengah berkumpul. Dari layar kaca nampak jika mereka tengah mendiskusikan siapa kira-kira algojo yang paling siap malam ini. Tidak mudah menjadi eksekutor sebuah tendangan pinalti, apalagi didepan 88 ribu pasang mata yang menyaksikan langsung di dalam stadion. Belum lagi saat itu tim Indonesia tengah tertinggal.


Beberapa saat kemudian pemain bernomor 20 maju ke depan, dan memungut bola dari tanah. Pemain tersebut tidak lain, dan tidak bukan adalah Bambang Pamungkas. Sejenak ia memeluk dan mencium si kulit bundar, nampak jika secara batin Bambang tengah coba untuk berkomunikasi dengan si kulit bundar, mencoba membujuk si kulit bundar agar kiranya mengikuti apa yang menjadi kehendaknya.


Penjaga gawang Thailand, Shintawecai nampak berdiri di bawah mistar gawang, tatapannya tajam penuh konsentrasi. Dari tatapannya ia coba untuk mengintimidasi Bambang sebagai eksekutor, agar ragu dalam menjalankan tugasnya.


Bambang Pamungkas meletakkan bola persis di titik 12 pas. Perlahan-lahan ia mundur lima langkah kebelakang. Tatapannya tajam kearah bola. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, hal tersebut ia lakukan beberapa kali. Bambang mencoba untuk tenang dan fokus, walau dari layar kaca nampak jika terselip perasaan khawatir.


Ini bukanlah untuk pertama kali Bambang menjadi algojo tendangan pinalti, entah sudah berapa puluh kali ia melakukannya. Menjadi eksekutor tendangan pinalti tidak pernah mudah, apalagi di depan 88 ribu pasang mata penuh harap yang memadati stadion.


Tak lama kemudian wasit pun meniup peluit tanda eksekusi sudah boleh dilakukan. Bambang nampak menarik nafas panjang untuk yang terakhir kalinya, sebelum akhirnya berlari kearah bola. Suasana pun seketika berubah menjadi mencekam. Seluruh rakyat Indonesia yang saat itu menyaksikan pertandingan, baik yang hadir di stadion maupun dari layar kaca sejenak terdiam.


Satu, dua, tiga dan empat langkah Bambang menuju bola terasa begitu lambat. Di langkah kelima ayunan kaki kanan Bambang mengenai permukaan bola, dan bola pun melaju deras kearah gawang. Semua yang menyaksikan pertandingan ini pun seketika menahan nafas. Suasana stadion Gelora Bung Karno mendadak hening, papan skor masih menunjukkan angka 0:1 untuk keunggulan Thailand.


Kosin, demikian penjaga gawang Thailand tersebut akrab disapa, menjatuhkan diri sebelah kanan, persis ke sisi dimana Bambang coba mengarahkan bola. Keadaan semakin mencekam. Sebagian menutup mata dengan tangan, sebagian nampak berdiri menghadap kebelakang, mereka tidak sanggup melihat apa yang tengah dan akan terjadi.


Kosin berhasil menebak arah bola, namun bola tendangan Bambang melaju lebih cepat sepersekian detik dari reaksi Kosin. Bola pun tanpa ampun menerjah sudut kanan jaring gawang Thailand. Seketika stadion Gelora Bung Karno pun bergemuruh. Gegap-gempita perayaan gol penyeimbang tersebut, membuat stadion ini bergetar dan seolah-olah akan runtuh.


Begitu pula suasana di kamar 321 Rumah Abdi Waluyo tempat Ridwan, Laras dan Bagas menyaksikan pertandingan ini. Ridwan berteriak bahagia seakan-akan ia tidak dalam keadaan sakit keras. Laras berpelukan dengan Bagas sambil melompat-lompat kegirangan. Dan begitupun suasana dikamar-kamar lain, ruang tunggu, kantin, maupun tempat parkir di Rumah Sakit ini.


Pertandingan itu sendiri akhirnya dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 2:1. Bambang Pamungkas kembali mencetak gol untuk Indonesia. Dan lagi-lagi dari titik putih di menit ke-88 setelah pemain belakang Thailand menyentuh bola tendangan Arif Suyono di kotak pinalti. Indonesia pun menjadi juara group dan lolos ke semifinal menghadapi Philipina. Seluruh negeri pun gembira.


Bersambung....