25 Desember 2013

 

"Jangan korbankan anak buahmu untuk kariermu, tapi korbankan karirmu untuk anak buahmu." - Jenderal Besar Soedirman.

 

Pada 18 Desember 2013 permasalahan antara saya dengan Persija Jakarta akhirnya resmi selesai. Hal tersebut ditandai dengan diadakannya konferensi pers di kantor PSSI, di Gelora Bung Karno. Konferensi pers tersebut dihadiri oleh pihak Persija Jakarta, PSSI sebagai penengah, dan saya sendiri.

 

Konferensi pers tersebut adalah puncak dari proses negosiasi penyelesaian masalah, yang sudah dilakukan selama dua hari, sejak 16 Desember. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan segala permasalahan, dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati bersama. Saya menjadi orang terakhir yang menerima pelunasan gaji, setelah sebelumnya seluruh pemain, dan staf lainnya terlebih dahulu menerima hak mereka seminggu yang lalu.

 

Bagi Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) atas nama para pemain sepak bola profesional, tentu ini menjadi sebuah kemenangan besar. Mengingat kasus ini membuktikan bahwa setiap pemain profesional yang telah melaksanakan kewajibannya, namun haknya tidak dipenuhi oleh klub dapat menuntut klub yang bersangkutan, dengan mengikuti proses-proses hukum yang berlaku, selama pemain tersebut memegang draft kontrak kerjasama yang sah.

 

Persija Jakarta pada akhirnya harus mengikuti jalan penyelesaian yang kami pilih. Permasalahan tersebut memaksa PSSI dalam hal ini untuk turun tangan, dan terlibat secara langsung dalam proses merampungkan permasalahan ini.

 

Kita semua harus duduk satu meja untuk mencari jalan penyelesaian terbaik. Hingga pada akhirnya Persija Jakarta menyelesaikan semua tunggakan gaji pemain, dan seluruh komponen di dalam tim, sebelum batas waktu verifikasi yang telah ditentukan.

 

Sedang bagi saya sendiri, hal tersebut tidak serta merta dapat dikatakan sebagai sebuah kemenangan mengingat perjuangan yang saya lakukan selama kurang lebih delapan belas bulan tersebut, berujung kepada pintu keluar dari tim yang sangat saya cintai. Sesuatu yang tidak dapat saya pungkiri sangat berat bagi saya.

 

Memaksa saya untuk pada akhirnya harus angkat kaki dari markas besar Macan Kemayoran. Menanggalkan baju zirah kebesaran berwarna oranye, dan bernomor dua puluh. Serta meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota Jakarta, dengan segala problematikanya.

 

Namun lebih daripada itu, ada esensi yang jauh lebih besar dari pada hanya sekadar menang, atau kalah dalam permasalahan tersebut. Yaitu tentang bagaimana menjalankan sebuah tanggung jawab, sebagai seseorang yang dipercaya menjadi pemimpin.

 

Melihat semangat, dan kegigihan orang-orang yang berdiri di samping saya saat berjuang di atas lapangan, akan selalu mampu memberikan tambahan kekuatan dalam menjalani pertempuran. Oleh karena itu, di saat orang-orang tersebut terdzolimi, tidak ada sedikit pun niat dalam hati saya untuk meninggalkan mereka.

 

Pada suatu ketika, di tengah masa-masa sulit memperjuangkan hak para pemain, saya sempat berujar kepada salah satu sahabat saya Leo Saputra:

 

"Boy, gue ngga bisa janji kalo kita bakal menang. Yang bisa gue janjiin adalah ibarat kapal, kalau kapal ini harus karam, maka gue akan karam bersama kalian semua. Dan kalo kita punya kesempatan untuk selamat, maka gue akan jadi orang terakhir yang menyelamatkan diri.”

 

Dan saya bersyukur karena pada akhirnya dapat menunaikan tanggung jawab, sekaligus janji saya kepada rekan-rekan yang selama ini berjuang bersama saya. Saya juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mereka atas kepercayaan, kesabaran, serta keihklasan dalam menjalani semua proses sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

Pesan moral dari perjuangan tersebut adalah, "Bersama kita bisa, dan kita bisa jika bersama-sama".

 

Selesai....