Pesawat Thai Airways bernomor penerbangan TG-433 yang membawa saya dan rombongan Timnas dari Bangkok, mendarat dengan mulusnya di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Waktu menunjukkan pukul 11:45 WIB dan udara di Cengkareng saat itu cukup panas dan gerah, sama seperti perasaan hati setiap komponen Tim Nasional Indonesia yang baru saja turun dari pesawat tersebut…


Kami berusaha untuk berjalan dengan kepala tegak saat menuju tempat bagasi. Akan tetapi, rasanya berjalan sambil menunduk dan sesekali melihat ke handphone untuk sekedar berbasa-basi, agaknya adalah hal yang paling pas dan bijaksana untuk dilakukan pada saat itu.


Perasaan hati saya sendiri saat itu sangat tidak karuan, kegagalan kali ini jujur membuat saya sangat terpukul. Hal yang paling membuat saya geregetan adalah, penampilan saya selama Piala AFF yang sangat jauh dari apa sesungguhnya saya harapkan. Saya merasa tidak memberikan andil apapun kepada Tim Nasional selama turnamen berlangsung. Rasa marah, muak, gerah, emosi serta malu berkecamuk dan bercampur aduk dalam benak saya saat itu.


Satu hal yang membuat saya sedikit tersenyum adalah, sebentar lagi saya akan bertemu dengan istri dan anak-anak saya. Satu hal yang sengat penting, saya tidak ingin terlihat sedih di depan mereka, karena saya tidak ingin anak-anak saya kebingungan, karena melihat muka saya yang akan bertambah jelek karena murung dan sedih…


Sore itu saya menyempatkan diri untuk minum teh Dilmah rasa leci tanpa gula kesukaan saya dan saya sengaja membuatnya sedikit lebih kental dan pahit, ketika itu. Sekental dan sepahit perasaan saya sore itu, seperti biasanya, teras belakang rumah adalah tempat yang saya pilih…


Rumput taman belakang rumah saya, sudah mulai tampak meninggi dan terlihat tidak teratur. Beberapa rumput liar pun sudah mulai menumpang hidup di sana. Memang sudah cukup lama saya tidak mengurus tempat ini, karena pada waktu itu, waktu saya banyak tersita di asrama Tim Nasional…


Sambil menyeruput teh pahit, mata saya menerawang jauh ke awang-awang. Banyak hal yang masih berkecamuk serta meronta-ronta di dalam kepala saya. Jujur banyaknya kritik yang saya terima, membuat saya sedikit lemah pada saat itu. Sempat juga terbesit keinginan untuk berhenti dari Tim Nasional (setelah 10 tahun). Akan tetapi apakah itu hal yang bijaksana…??


Di tengah kegalauan hati saya, tiba-tiba Dewi istri saya, muncul dari balik pintu. Melihat muka saya yang kusut, ia pun berkata, “Kenapa sih, pulang ke rumah kok malah murung..?”
“Ah ngga.. ini kenapa rumputnya panjang Cin…?? yang biasa motong rumput kemana…?? ” Jawab saya sedikit berkelit, berlagak seperti supir bajaj yang berkelit menghindari pegendara sepeda motor yang nakal.


Dan Dewi pun duduk di bangku sebelah saya, menemani saya minum teh sore ini…


Dewi: “Kenapa sih Cin, apa yang dipikirin sampai segitunya..??”


Saya: “Ah ngga ada sayang, cuman agak lelah aja..”

Dewi: “Ehm.. Udahlah ngga usah bohong, keliatan Cintaaaa..”


Saya: “Ehm.. Iya nih, sumpek aja pikiran” (jawab saya sambil menghela nafas panjang)

Dewi: “Yaah,, aku tau lah keadaannya saat ini, emang berat buat kamu, tapi kamu kan udah janji Cin..”


Saya: “Janji apa..??”


Dewi: “Seberat dan sebesar apapun masalah di kantor ngga akan dibawa ke rumah, lagian ngga bagus juga buat anak-anak liat kamu cuman melamun di rumah..”


Saya: “Iya aku tau, tapi untuk saat ini ko aku merasa ini berat banget ya Cin. Kritik orang emang berat, tapi aku sendiri merasa ngga mampu melakukan apapun selama kejuaraan ini, aku merasa seperti sekeping puzzle yang tidak melekat di tempat yang tepat…”

Dewi: “Kan seperti yang pernah kamu bilang, main bola itu ada harinya. Ada kalanya seseorang main bagus, di saat yang lain penampilannya bisa juga akan turun..”


Saya: “Iya sih, tapi…”


Dewi: “Udah lah, apapun yang terjadi, keluarga selalu mendukung. Lagian di mana Bambang Pamungkas yang dulu aku kenal Cin..??”


Saya: “Maksudnya..??”


Dewi: “Iya… mana Bambang Pamungkas yang dengan arogan selalu berkata: Aku adalah pribadi, yang selalu berusaha berpikir positif, percaya diri dan optimis” (kata Dewi sambil membusungkan dada, jujur saat itu saya mau ketawa melihatnya)


Saya: “He he..” (gumam saya sambil tersenyum simpul)


Dewi: “Apakah sudah selemah itu suamiku..?? Mana suamiku yang selalu bilang: Setiap orang berhak menilai diri saya. Akan tetapi maaf, mereka tidak berhak mengatur jalan hidup saya” (kali ini dia melakukannya dengan mulut mencibir dan kepala mengangguk-angguk)


Saya: “Iya.. iya..” (sahut saya dengan muka mulai memerah karena malu)


Dewi: “Yaudahlah Cin, kasihan itu anak-anak pada kangen malah kamunya di sini terus..”


Saya: “Iya sebentar lagi, ini teh nya belum habis (jawab saya sambil mengangkat cangkir saya).. Nah ko udah habis ini..??”


Dewi: “Kan aku minum Cin he he he.. Udah ah ayo ke dalam temenin anaknya main..” (kata dia sambil menepuk pundak saya dan berjalan masuk)…


Seketika, saya merasa malu pada Dewi dan diri saya sendiri, Dewi telah mengingatkan saya sore ini. Secara tidak langsung, dia telah menyadarkan saya, tentang tanggung jawab dan konsekuensi saya sebagai pesepak bola dan kepala rumah tangga. Dua hal yang sama-sama penting dalam hidup saya…


Dimana seberat apapun masalah dalam pekerjaan saya, saya masih mempunyai tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga, yang juga membutuhkan perhatian.  Anak-anak saya jelas tidak ingin melihat ayahnya seperti patung selamat datang, yang hanya termenung tanpa ekspresi serta kehangatan…


Satu hal yang unik sore itu adalah, selama ini saya tahu betul jika Dewi tidak pernah menyukai teh pahit. Akan tetapi sore itu dia meminumnya dan malah hampir setengah cangkir dihabiskannya…


Saya yakin, dia pasti mau muntah saat meminum teh tersebut. Seperti yang pernah dia sampainkan dulu, saat mencobanya untuk pertama kali. Saya tahu, dia melakukannya hanya untuk mendekatkan diri dengan saya dan mencairkan suasana yang membeku sore itu…


Maka setelah itu, saya pun berniat membuat tulisan di blog saya, guna menanggapi keadaan yang terjadi dengan diri saya saat itu. Tulisan yang harus dengan jujur mengaku, bahwa saya melakukan kesalahan dan telah gagal, akan tetapi juga tetap bermuatan positif, yaitu optimisme. Dan beberapa hari kemudian sayapun menulis artikel “Special treatment for a special person”.


Terima Kasih ya Cin (Tribuana Tungga Dewi)..


Selesai..