“Ehm.. Gairah itu sudah hilang.. Mungkin sudah saatnya mengundurkan diri..”


Ketika sesuatu yang biasa kita lakukan sudah tidak lagi memberikan gairah, kesenangan, kegembiraan serta kenyamanan, Apa yang akan anda lakukan…???
Semua orang tentu mempunyai pendapat yang sangat beragam, akan tetapi jika itu terjadi pada diri saya, mengundurkan diri adalah langkah yang akan saya tempuh. Karena ketika kita sudah kehilangan semua itu, terus melakukannya hanyalah akan membuang emosi, energi, waktu serta pemikiran kita..


Sejujurnya saya memang pribadi yang keras, akan tetapi sebagian orang lebih suka menilai dengan tidak tahu diri atau arogan, saya tidak pernah perduli dengan segala kritik atau cacian yang diarahkan kepada diri saya. Segala sesuatu yang saya lakukan adalah murni keluar dari diri saya melalui kenyamanan dan keyakinan hati saya…


Terkadang saya melakukan hal yang tidak popular di mata orang lain atau malah terkesan aneh, akan tetapi jika itu membuat saya merasa nyaman dan saya pikir itu yang terbaik untuk saya, kenapa tidak saya lakukan. Apapun pendapat mereka saya tidak risau, karena sejauh apa yang saya lakukan dan perbuat tidak menyakiti dan merugikan orang lain, saya rasa tidak ada yang perlu di perdebatkan di sini. Bukan berarti saya tidak menerima kritik dan saran, saya selalu membuka diri untuk hal-hal yang sifatnya baik dan positif..


Dalam hidup ini, kita harus sadar bahwa tidak semua orang menyukai kepribadian kita, itu adalah hal yang sangat wajar, hal tersebut merupakan rangkaian dari sebuah sistematika kehidupan bernama “Bermasyarakat”. Setiap orang mempunyai isi kepala yang berbeda-beda, apa yang baik menurut kepala kita belum tentu menjadi hal yang baik pula menurut kepala orang lain, begitu pula sebaliknya..


Seharusnya kita banyak bersyukur dengan itu, karena coba anda bayangkan alangkah membosankan dan tidak menantangnya dunia ini, jika semua kepala di dunia ini berisikan pemikiran yang sama. Karena pada hakekatnya kita hidup untuk mencari jati diri kita masing-masing, kita diuji sampai sejauh mana kita mampu untuk mencari serpihan-serpihan jiwa kita yang berserakan dan merekatkannya kembali menjadi sebuah kepribadian yang utuh.. “Itu adalah arti hidup di mata saya”..


Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri, tidak lebih dan tidak kurang, karena yang paling mengerti diri saya adalah saya sendiri, bukan orang lain. Setiap orang mempunyai cara pikir yang sangat beragam, dan inilah cara saya berpikir. Saya ingin mewarnai kehidupan saya dengan warna yang saya sukai, karena setiap orang mempunyai falsafah hidup masing-masing..


Setiap orang berhak menilai diri saya dengan sudut pandang mereka masing-masing (Apapun itu), akan tetapi “Maaf” mereka tidak berhak untuk menentukan jalan hidup saya. Bambang Pamungkas adalah Bambang Pamungkas, sebuah pribadi yang mungkin hanya akan dimengerti oleh Bambang Pamungkas dan dirinya sendiri..


Jika anda cermati, sejatinya saya bukanlah pribadi yang anti terhadap kritik, bahkan saya sering mengkritik diri saya sendiri secara terbuka. Dalam beberapa artikel dalam web ini, saya tidak akan sungkan mengatakan bahwa diri saya bodoh, kampungan, egois, jelek dan gagal ketika memang saya rasa demikian. Akan tetapi saya juga akan memberikan apresiasi yang baik atau bangga jika saya melakukan hal yang baik dan berhasil (Fair)..


Itu saya lakukan untuk membangun karakter pribadi diri saya, seperti apa yang pernah saya sampaikan “Tujuan saya menulis, adalah untuk memotivasi diri saya sendiri, karena melalui tulisan, saya mampu membangkitkan memori-memori yang membuat saya sampai pada titik di mana saya berdiri saat ini, dan itu mampu memotivasi saya untuk terus berusaha menjadi lebih baik”..


So apa arti judul di atas…???
Apakah saya akan mundur dari dunia persepakbolaan, dari Persija dan Tim Nas Indonesia..??
ehm.. Mungkin ada yang harus saya jelaskan di sini..


Beberapa saat yang lalu, saya sempat menuliskan status dalam 2 Facebook saya, yang isinya demikian “Ehm.. Gairah itu sudah hilang.. Mungkin sudah saatnya untuk mengundurkan diri..” saya tidak menyangka ketika dalam hitungan 1 menit, status saya sudah mendapat 5 komentar, saya berusaha untuk tidak membacanya dengan mematikan laptop saya. Keesokan harinya komentar itu sudah menjadi 50 buah, Woooww.. luar biasa.. Banyak yang menyayangkan rencana saya tersebut, akan tetapi di sisi yang lain tidak sedikit juga mendukung pengunduran diri saya.. Dari situlah timbul ide untuk membuat artikel ini..


Pada bagian yang menyayangkan terdapat antara lain:



  • Tim Nas dan Persija masih membutuhkan Anda, coba renungkan kembali..

  • Di mana slogan Anda yang selalu Anda banggakan itu “Mencoba untuk selalu berpikir positif, percaya diri dan optimis”..

  • Don’t step off.. Jika loe emang laki dan jantan serta bertanggung jawab..

  • “Anda tidak berhak menilai diri Anda sendiri, biarkan publik yang menilai, dan kami menilai Anda masih layak”..

  • Bahkan sahabat kecil saya di Salatiga menulis, masih muda ko patah semangat, mana semangat baja orang kampung yang dulu, apakah sudah setipis itu..

  • Dan lain-lain..


Di bagian yang mendukung terdapat antara lain:



  • Ada juga yang setuju dengan menyarankan saya menjadi komentator, toh saat ini permaianan saya juga sudah jauh menurun menurut pandangan mereka, sehingga sudah saatnya memberi kesempatan bagi yang lain..

  • Alhamdulillah, Akhirnya Bambang Pamungkas sadar diri juga dan dengan legowo mundur (Terkesan seperti keberhasilan mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR dan berhasil memaksa Soeharto mundur pada tragedi 1998 he he he)..

  • Setuju…!! Mundur ajalah, secara udah ngga bisa bikin gol juga kan, jadi lebih cocok jadi pemain futsal aja atau Volley..

  • Dan masih banyak lagi..


Dari sekian banyak, ada satu komentar di wall saya yang membuat saya sangat tertarik, yaitu dari salah satu sahabat saya Charis Julianto, dia menulis “Mengundurkan diri adalah jalan terbaik bagiku.. (kayak lagu aja).. ayo Semangat Lur..” komentar yang sangat bagus sobat he he he.. Matur suwun..


Akan tetapi sayang, mereka semua telah salah paham dalam menanggapi status saya di Facebook. Bukan Bambang Pamungkas namanya jika mendengarkan komentar-komentar orang. Sekali lagi “Mereka berhak menilai diri saya, akan tetapi mereka tidak berhak menentukan jalan hidup saya”.. So apapun pendapat dan komentar mereka tentang rencana saya, Bambang Pamungkas akan tetap pada pendiriannya yaitu “Mengundurkan Diri”..


Weiitttss.. Akan tetapi semua ini tidak ada hubungannya dengan profesi yang sangat saya cintai sebagai “Pesepakbola”.. Karena sebagai “Pesepakbola” saya masih sama seperti Bambang Pamungkas yang dulu dan Anda kenal selama ini, sebuah pribadi yang tetap mempunyai ambisi dan mimpi yang sangat tinggi. Satu hal yang paling penting, saya belum menemukan sebuah alasan yang tepat untuk berhenti dari profesi yang sangat saya cintai dan banggakan ini..


Judul di atas adalah ungkapan saya tentang Facebook. Gairah, kesenangan, kegembiraan dan kenyamanan itu sudah tidak dapat saya temukan lagi, terima kasih bagi semua yang telah berinteraksi dengan saya. Saya memang bukan tipe orang yang selalu membalas wall atau komentar setiap orang, akan tetapi dapat saya pastikan bahwa apapun yang anda sekalian tulis di sana, saya pasti membacanya..


Bagi teman-teman yang telah memberikan dukungan, kritik maupun saran melalui Facebook, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, saya ucapkan “Terima Kasih” karena telah memberikan apresiasi terhadap diri saya secara jujur..


Terhitung dari mulai di uploadnya artikel ini di web, maka tidak akan ada lagi Bambang Pamungkas dalam Facebook. Jika terdapat kesamaan nama, isi profil dan cerita, maka saya tegaskan di sini, hal itu di luar tanggung jawab saya. Bambang Pamungkas mungkin bisa dipastikan menghilang dari Facebook, akan tetapi akan selalu ada kemungkinan saya muncul dengan nama yang lain, So.. “Mari Kita Bermain Tebak-Tebakan”.. he he he… “Keep up the good work guys”..


Selesai…