MUSIK adalah bahasa universal, maka dari itu semua orang pasti menyukai musik, akan tetapi setiap orang tentu mempunyai selera masing-masing tentang aliran musik yang mereka sukai. Di kalangan anak muda, musik R & B, Pop dan hip-hop sangat populer, sedangkan bagi kalangan yang sudah matang secara usia, aliran musik jazz, country & blues sangat digandrungi. Disamping itu ada musik Rap, Rock, alternatif, dangdut, keroncong dan masih banyak lagi.

Musik adalah sesuatu yangg sangat mudah untuk dinikmati. Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, kita bisa menikmati musik di mana saja kita berada. Serta yang paling penting, kita tidak perlu berpikir untuk menikmati musik, sehingga kita bisa menikmatinya sambil melakukan aktifitas apa saja.

Saya sendiri adalah seorang penikmat musik, saya menggunakan musik untuk mengatur emosi serta mental saya. Terkadang saya mendengarkan musik untuk membunuh ketegangan, menjaga konsentrasi bahkan untuk meningkatkan adrenalin saya. Pada dasarnya saya adalah penikmat musik keroncong, terlebih lagi keroncong zaman perjuangan. Menurut saya musik keroncong mempunyai andil yang sangat besar terhadap perjalanan panjang bangsa ini, bahkan jenis musik ini sangat populer di negeri bekas penjajah kita, seperti Belanda dan Jepang. Saya sering melihat lagu Bengawan Solo milik Bapak Gesang, menjadi lagu penutup siaran acara stasiun TV NHK saat larut malam. Dan kebetulan saya sangat mengidolakan Bapak Gesang, terutama dengan Bengawan Solo dan Tirtonadinya.

Akan tetapi semua tadi hanyalah sebuah ilustrasi, semua orang mempunyai pendangan yang sangat beragam tentang musik, tergantung dari selera dan dari sudut mana kita memandang. Apa yang ingin saya ceritakan dalam arikel saya ini, adalah pengalaman pribadi saya, ketika sebuah lagu tidak saja membuat saya bangga, akan tetapi juga mampu merubah pandangan, sikap serta kesadaran saya dalam berbangsa dan bernegara.

Bagi kita yang pernah merasakan hangatnya bangku sekolah pasti kita pernah terlibat dalam sebuah upacara bendera, baik rutinitas setiap hari Senin atau hari besar, seperti memperingati hari Kemerdekaan 17 Agustus. Dalam setiap upacara bendera, satu hal yang wajib adalah pengibaran bendera merah-putih, tentunya dengan diiringi lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Sejujurnya saya akui bahwa ketika saya masih SD atau SMP, terkadang saya tidak begitu menghiraukan atau boleh dikatakan kurang begitu hikmat dan serius dalam menyanyikan lagu ini, bahkan saya sering bercanda atau malah tidak ikut bernyanyi sama sekali. Dan saya yakin di antara Anda mungkin juga melakukan hal yang sama.

Saya sangat tidak menyangka bahwa suatu saat nanti, lagu Indonesia Raya ini mampu membuat jiwa dan raga saya bergetar. Sehingga tanpa sadar meneteslah air mata dari kedua mata saya. Saat itu terjadi, saya sangat menyesal telah menyepelekan lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman ini.

Kejadian itu terjadi pada tahun 1997, ketika itu saya masih duduk di kelas 2 SMA di SMA Negeri 1 Salatiga, pada saat itu saya juga tercatat sebagai siswa DIKLAT Sepakbola Salatiga. Pada waktu itu ,saya mendapat kehormatan untuk mewakili Indonesia dalam Tournamen Sepakbola Pelajar Asia di Patna, India. Dalam tim waktu itu ada juga Ismed Sofyan, Ellie Aiboy, Warsidi, Erol, Ngadiono dll. Sebagai pribadi tentu saya sangat bangga, karena siapa yang tidak ingin mewakili negaranya, apalagi ini adalah pertama kali saya akan naik pesawat terbang dan akan pergi ke luar negeri. Bahkan malam sebelum kami berangkat, saya sempat susah tidur karena perasaan yang bercampur aduk, antara senang dan takut naik pesawat terbang. Akan tetapi Alhamdulillah, walaupun sempat mengalami penundaan penerbangan dan harus menunggu di Singapore, serta mengalami ganguan cuaca yang sangat luar biasa dalam penerbangan New Delhi-Patna, akhirnya kami sampai dengan selamat.

Dalam tournamen itu, pertandingan pertama kami adalah menghadapi Malaysia, yang tanpa saya sadari dalam tim Malaysia terdapat beberapa pemain, yang nantinya 8 tahun kemudian akan bermain bersama saya dan Ellie di Selangor FC, Malaysia, pemain tersebut antara lain Fahmi Isa, Nazrul Erwan Makmor dan Shukor Adan. Seperti biasa dalam sebuah pertandingan international, sebelum dimulai pertandingan maka dinyanyikanlah lagu kebangsaan masing-masing negara, dan saat itulah momen itu terjadi.

Berjarak ribuan kilometer dari Indonesia, kami seluruh anggota tim yang berjumlah kurang lebih 30 orang, dengan hikmat dan sangat bangganya menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Semua yang hadir di dalam stadion berdiri dan terlihat sangat menghormati lagu kebangsaan kami ini. Seketika perasaan patriotisme saya menyeruak, sehingga tanpa saya sadari saya meneteskan air mata saat itu. Lagu itu mampu membuat kami merasa sebagai satu kesatuan, walaupun saat itu kami terdiri dari berbagai suku, mulai dari Aceh yang diwakili Ismed Sofyan, sampai ke propinsi yang paling timur Papua yang diwakili Ellie Aiboy. Saat itu tidak ada lagi Ismed yang dari Aceh, saya sebagai orang Jawa atau Ellie orang Papua, akan tetapi kami adalah Indonesia dan kami sangat bangga dengan negara kami.

Terlebih dalam pertandingan itu kami mampu memukul Malaysia 2-0, melaliu gol dari saya dan Ellie Aiboy. Dan sejak saat itu, ketika saya pulang dan kembali ke sekolah di SMAN 1 Salatiga, dalam setiap upacara bendera saya selalu berusaha untuk se-hikmat mungkin dalam menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia Raya.

Dalam skala yang lebih besar, hal itu terjadi 10 tahun kemudian, tepatnya dalam penyelenggaraan Piala Asia di Jakarta 2007 yang lalu. Saat itu saya merasakan sesuatu yang sangat luar biasa, sebuah peristiwa yang tidak akan pernah terlupakan dalam hidup saya. Ketika 100 ribu supporter memadati stadion, dan semuanya menggunakan ornamen berwarna merah, bersama dengan sang presiden Bapak Susilo Bambang Yudhoyono bersama ibu, menyanyikan lagu Indonesia Raya secara serentak dan penuh semangat.

Seketika itu juga, Stadion Utama Gelora Bung Karno serasa bergetar dan seakan-akan hampir runtuh. Supporter yang terdiri dari berbagai macam suku, mulai Cina, Jawa, Papua, Batak, Madura, dll, serta dari berbagai macam profesi, mulai dari pedagang asongan, buruh, pekerja kantoran, artis, pejabat sampai pada seorang Presiden bersatu tanpa menghiraukan semua perbedaan itu. Mereka bersatu padu sebagai sebuah kesatuan yaitu masyarakat Indonesia.

Pada saat itu, segala permasalahan kehidupan yang kita miliki serasa terpinggirkan, yang ada hanya rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Banyak orang yang menangis malam itu, mereka menangis karena rasa haru dan bahagia. Saya yakin jika Anda berada di dalam stadion malam itu, maka Anda juga akan merasakan hal yang sama seperti yang kami rasakan.

Itu adalah keajaiban dari sebuah lagu Kebangsaan Indonesia Raya, yang selama ini mungkin kita pandang sebelah mata. Terkadang pikiran saya menerawang jauh ke zaman perjuangan dahulu, tepatnya tahun 1945, ketika Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Bersama ratusan ribu masyarakat yang berkumpul di Lapangan Ikada, menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk yang pertama kali secara terang terangan. Suatu momen yang hanya ada dalam penerawangan saya, akan tetapi saya yakin dan dapat saya pastikan bahwa suasana saat itu pasti sangat luar biasa. Apalagi peristiwa itu sudah ditunggu selama 350 tahun, sejak bangsa ini terjajah. Tentu suasana yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata.

Sepulang dari stadion malam itu, istri saya Dewi dalam perjalanan pulang berbicara kepada saya melalui telepon. Dia berkata, malam ini adalah pengalaman yang tidak mungkin dia lupakan dalam hidupnya, malam ini untuk pertama kali dia menangis saat mendengarkan lagu Indonesia Raya. Saya tersenyum mendengar apa yang istri saya sampaikan saat itu, kemudian saya berkata dalam hati “Apapun baik buruknya bangsa ini tetaplah negaramu, kita adalah bangsa yang besar dan berbanggalah kita menjadi bagian dari bangsa ini”.

Sekarang bangsa kita memang tengah sedikit terpuruk, dan sebenarnya ini merupakan tanggungjawab dan kewajiban kita untuk mengembalikan kebesaran bangsa ini. Tentu melalui keahlian serta profesi kita di bidang masing-masing. Dengan bekerja serta memberikan hasil terbaik dalam setiap apapun profesi kita, maka tanpa kita sadari kita sudah turut serta dalam membangun bangsa ini, walau dalam skala yang sangat kecil.

Semoga kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab serta berdedikasi tinggi terhadap profesi kita masing-masing. Amiin.

Tetap semangat dan sukses selalu....
 
Salam,
 
Bambang Pamungkas